Chapter 1: Pertemuan Tak Terduga
Trauma itu membuatku hilang kepercayaan dan enggan jatuh cinta. Membuatku takut kehilangan. Andai waktu bisa ku-putar kembali. Aku akan kembali di masa-masa indah di mana aku berada bersama orang-orang yang kucintai dan aku tidak akan pernah mau pergi dari masa itu.
Sakitnya belati yang menghujam jantung, lebih sakit lagi kehilangan orang yang dicintai untuk selamanya.
***
"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" tanya Angela dengan ketus.
Gadis berambut sedikit kriting di kuncir tinggi berpakaian seksi itu sambil berdiri dan berkacak pinggang.
"Emm, maaf. A--aku lapar mau makan," ucap Andrea.
Gadis berparas cantik dan imut dengan rambut lurus sepinggang yang terurai mengenakan kaos berwarna putih dipadu celana pendek.
"Lapar? Mau makan?"
"I--iya."
"Kamu itu tidak pantas duduk di ruang makan dan makan bersamaku di sini!" sarkas Angela.
"Tapi ...."
"Ahh, kamu ...."
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali pagi-pagi?" tanya Audri.
Wanita tua yang baru saja keluar dari kamar bersama Adam dan melihat putrinya sedang berdebat dengan Andrea.
"Ini, Mi aku ...."
"Sudah, sudah, jangan ribut. Kita sarapan bersama. Dea, kamu juga makan, ya," ucap Adam melerai.
Dea mengangguk dan menarik kursi di hadapan Adam. Kemudian duduk dan mengambil sepotong roti selai stoberi.
"Dea, hari ini kamu berangkat bareng Angela, ya. Om buru-buru ke kantor. Nanti pulangnya juga bareng Angela," jelas Adam sambil mengunyah roti.
"Apa? aku bareng Andrea?" ulang Angela sambil sedikit mendelik.
"Iya. Sesekali, kalian pergi sekolah bersama. Lagipula, kalian kan bersaudara. Tidak ada salahnya jika selalu bersama, biar lebih akrab," jelas Adam kembali.
"Ti--tidak usah, Om. Biar aku naik bus saja sekalian olah raga pagi," tolak Andrea
Gadis itu paham, Angela tidak akan pernah mau bersama dengan dirinya, meski mereka bersaudara, tetapi, Angela tidak menyukai Andrea dan selalu berseteru saat berjumpa.
"Tidak. Jangan naik bus. Kamu bareng Angela. Lagipula dia sendiri di mobil, kamu bisa menemaninya. Kalian juga satu kampus, bukan?" ucap Adam setengah memaksa.
"Tapi, Pi ...."
"Tidak ada tapi, ayo berangkat sudah siang," ucap Adam sambil berdiri.
Angela dan Andrea ikut berdiri dan melangkah menuju parkiran. Adam pergi lebih dulu, menyisakan Angela, Audri, dan Andrea di garasi.
"Elo naik bus saja sana! Katanya tadi mau olah raga," ucap Angela ketus.
"Tapi, tadi Om minta kita berangkat bareng. Ini juga sudah siang, nanti terlambat sampai kampus," jelas Andrea pelan.
"Ahh, gue nggak peduli! Lo pikir gue mau bareng sama elo. Denger ya, Dea! Gue nggak sudi bareng sama perempuan nggak jelas kayak lo!" sarkas Angela.
"Tapi ...."
"Eh kamu nggak dengar apa kata Angela? Kamu tuh nggak pantas naik mobil mewah seperti ini. Udah sana, naik bus saja, atau tidak usah berangkat saja sekalian!" ucap Audri membela Angela.
"Ba--baik, Tante. Aku pamit," ucap Dea.
Audri menepis tangan Dea yang hendak bersalaman dengannya. Dea menunduk dan melangkah dengan gontai. Menahan air mata yang hendak menetes.
Kenapa Angela dan Tante Audri begitu membenciku? Apa salahku pada mereka? Mama, papa, Kak Abri, aku rindu kalian, batin Andrea sambil terus melangkah.
Andrea melangkah tidak memperhatikan jalan. Pikirannya kosong. tatapannya hampa. Lamunan nya membuyar, ia hampir menabrak sebuah mobil.
"Ahh!" pekik Andrea.
Gadis berparas cantik itu berjongkok sambil kedua tangannya menutupi wajah. Merasa syok dan terkejut melihat mobil yang melaju di depannya.
"Astagfirullah!" seru seseorang.
Seorang pemuda mengerem mendadak dan kepalanya hampir terbentur stir. Kemudian ia mengatur napas sejenak. Pria itu turun dari mobil dan melangkah mendekati Andrea.
"Kamu nggak papa?" tanya pemuda itu sambil mendekat ke arah Andrea.
Gadis itu menurunkan kedua tangannya perlahan. Mendongak dan netranya beradu tatap dengan manik mata pemuda di hadapannya. Andrea termangu, menatap pemuda dengan garis wajah tampan maksimal. Hidung mancung, rahang kuat, alis tebal dengan mata teduh yang tengah menatapnya.
Pemuda itu juga termangu melihat kecantikan Andrea yang begitu alami tanpa polesan make up berlebih. Hanya bedak dan sedikit gincu berwarna merah muda menghiasi wajah dan bibirnya. Rambut sepinggang yang di kuncir tinggi dan diberi sedikit poni tipis. Hidungnya mancung dengan bulu mata lentik.
Cantik sekali gadis ini, batin pemuda itu tanpa berkedip.
"A--aku tidak papa. Ma--maaf, aku tidak melihat jalan hingga hampir menabrak mobilmu," jelas Andrea dengan gugup dan takut.
Pemuda itu tersenyum, mengulurkan sebelah tangannya.
"Bangunlah," pintanya lembut.
Andrea mengulurkan sebelah tangannya dan perlahan bangkit.
"Lain kali, hati-hati dan jangan melamun saat berjalan. Kamu beneran gak papa? Tangan kamu ...."
"Oh, gak papa. Hanya luka kecil. Maaf, aku permisi," ucap Andrea hendak melangkah.
"Ehh, tunggu! Kamu mau ke mana? Aku antar, ya."
"Ke kampus. Tidak usah."
"Sudah siang, nanti kamu telat. Aku antar saja."
"Tapi ...."
"Kamu masih syok karena kejadian tadi. Nanti kalau kenapa-napa di jalan bagaimana? Aku antar saja."
Emm ...."
"Ayo."
Andrea menurut dan masuk ke dalam mobil. Pemuda itu mengantarkannya hingga ke jalan dekat kampusnya.
"Sampai sini saja. Tidak enak jika dilihat orang lain," ucap Andrea.
"Baiklah."
"Terima kasih sudah mengantarku. Aku masuk dulu," ucap Andrea sambil hendak membuka pintu mobil.
"Tunggu dulu?Aku bisa minta nomor ponsel kamu?" cegah pemuda itu.
"Maaf, aku tidak punya ponsel. Permisi."
Andrea langsung membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Pemuda itu masih termangu dengan sikap dingin Andrea.
Gadis yang menarik. Cantik, imut, tapi dingin. Aish, aku lupa tanyakan namanya lagi, batin pemuda itu.
"Tidak apa. Aku akan menemuinya lagi nanti," ucap pemuda itu sambil mengemudikan kendaraannya.
Sungguh pertemuan yang tak terduga sekali antara Andrea dan pemuda itu.
~~~
Andrea berjalan dengan tergesa menuju kelas. Dari kejauhan tampak Angela juga hendak melangkah bersama teman-temannya, ia melihat Andrea yang jalan dengan cepat.
Andrea, kok bisa dia sampai kampus duluan? Bukannya dia tadi naik bus, ya? Kayaknya nggak mungkin deh bisa secepat itu. Kalau naik taksi ... mana mungkin, dia kan nggak punya cukup uang. Apa dia ....
"Lo lagi ngelamun apa si, Ngel, sampe di panggil nggak denger gitu?"
Suara cempreng Dela membuyarkan lamunan Angela.
"Tau tuh, nggak fokus banget jalannya," sambung Stefi.
"Kalian berdua ngagetin gue aja," omel Angela.
"Ye, dia marah. Tanya doang kali," kesal Dela.
"Lo ...."
"Udah, udah. Nggak usah ribut pagi-pagi. Kita ke kelas cepet, yuk," lerai Steffi
Gadis itu tidak ingin adanya pertengkaran. Dela dan Angela berhenti berdebat dan lanjut melangkah ke kelas.
"Eh, anak kampung. Elo ke sini naik apa? Kok bisa cepet?" tanya Angela.
Saat mereka tiba di kelas. Angela duduk di depan Andrea dan sedikit menggebrak meja gadis cantik itu hingga membuatnya sedikit terperanjat.
"Na--naik, bus. Kebetulan nggak macet jadi cepet," bohong Andrea.
"Bohong! Mana mungkin secepat itu?" selidik Angela tidak percaya.
"Bener, kok," jawab Andrea membela diri.
"Ahh, udahlah. Nggak penting juga. Awas lo ya kalau ngadu sama papi. Gue bikin elo lebih menderita lagi!" ancam Angela penuh penekanan.
Andrea mengangguk sambil meremas ujung bajunya. Menahan kesal dan amarah di dada. Ingin rasanya ia menjambak rambut Angela, tetapi Andrea tidak ingin ribut apalagi di kampus.
Daftar Chapter
Chapter 1: Pertemuan Tak Terduga
1,110 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!