Chapter 2: Nanana Lalala
“Jadi, Teh Nana sore ini nggak bisa?”
Melodi mencelupkan jari jempol dan telunjuknya ke dalam segelas es batu. Matanya merem melek, menikmati sensasi dingin di kulit jemarinya yang melepuh.
"Iya, nggak bisa, Mel. Soalnya kalau sore, warung biasanya ramai. Si Akang mana bisa diandelin. Dia tahunya, mah, molor doang. Liat aja, tuh, tengah hari bolong malah kelonan guling!" Teh Nana menunjuk ke segundukan sarung kotak-kotak yang tadi dipikir Melodi buntalan cucian.
"Paling kalau Lilis pulang sekolah baru Teteh bisa," sambung Teh Nana sambil terus mengaduk-aduk segelas kopi hitam. Sesekali ia mengecek mie rebus dan gorengannya di atas kompor.
Melodi mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Sebenarnya ini sama sekali tidak mirip warung pada umumnya. Tempat sempit dan panas tersebut dibagi menjadi dua ruangan.
Bagian depan berfungsi sebagai kamar tidur dengan selembar kasur tipis terhampar, penuh baju-baju tersebar di sana-sini—makanya ia pikir onggokan besar tadi bukan si Akang, tapi cucian—bantal-bantal bersarung dekil, dan dua buah lemari rendah yang salah satunya ditumpangi TV 14 inci.
Separuh bagian ke belakang, dibatasi meja kayu yang dipenuhi dengan stoples-stoples makanan ringan dan dua nampan plastik berisi aneka gorengan buatan Teh Nana, jelas berfungsi sebagai dapur. Kompor dua tungku ada di sisi sebelah kanan, merapat ke dinding yang dicantoli dua baris tali, dengan aneka minuman sasetan saling bergelantungan di atasnya.
Tumpukan dus air mineral teronggok begitu saja di sisi pintu yang terletak di sebelah kiri meja pembatas. Cahaya matahari berlomba-lomba masuk melalui pintu tersebut ke dalam ruangan yang tak berpenerangan. Melodi duduk berimpitan dengan dua orang lelaki di ujung ruangan, dengan meja panjang yang ditanam di dinding, dan kursi berupa batangan kayu yang berderit tiap kali Melodi menggeser posisi duduk.
“Memang benar ya, kata Kak Deli, Teteh biasa dijadiin model buat latihan anak-anak baru di salon?”
Mata Melodi mengikuti gerak Teh Nana yang membawa gelas kopi tadi melewati pintu. Seorang lelaki paruh baya yang duduk di balai-balai di luar warung, tepat di samping pintu, segera menerima gelas yang diulurkan perempuan bertubuh singset berwajah glowing itu.
"Iya, Mel, tapi itu duluuu," jawab Teteh ketika berbalik masuk dan kembali menghadapi kompor. Sesekali saja ia menoleh ke Melodi yang duduk tak jauh di sebelah kanannya, “kalau sekarang juga masih suka diminta ke salon, tapi itu karena salon lagi sepi, jadi Deli bete mau ngapain. Akhirnya muka Teteh ditotoklah, rambut di-creambath-lah. Macem-macem. Pokoknya yang nggak makan waktu terlalu lama.”
Melodi mengangguk-angguk. Teh Nana mengulurkan dua mangkok mie ke dua orang lelaki di samping Melodi. Gadis itu sudah tak lagi mencelupkan jemari ke dalam es. Ia duduk bersandar pada meja di belakangnya, sambil sesekali melirik isi mangkok yang menerbitkan air liur.
Melodi sendiri lapar, tapi uang di kantongnya hanya cukup untuk sekali makan dan ongkos pulang. Jam kerjanya masih panjang. Kalau Melodi makan sekarang, bisa-bisa ia kelaparan di jam-jam malam saat kemungkinan salon ramai. Tiba-tiba salah seorang lelaki tersebut menoleh ke arah Melodi.
"Ngeliatin aja, Neng. Mau mie juga? Pesen aja sama Teteh, nanti saya yang bayar." Lelaki bertopi pet dan berkumis tebal itu menyeringai lebar.
“Kalau minta mentahnya, boleh?”
"Boleh-boleh aja kalau Neng sukanya mie mentah, sih." Si lelaki bertopi pet tertawa, teman di sebelahnya ikut tertawa sampai terbatuk-batuk.
"Syukurin keselek!" sentak Melodi kesal, merasa dikerjai.
"Cakep-cakep nggak boleh judes, Neng," celetuk si lelaki bertopi.
"Biarin aja judes, daripada mie yang situ makan, udah panas, pedes lagi!" Melodi beranjak keluar. Dua lelaki itu melongo.
"Nanti kalau Lilis bisa gantiin jaga warung, ping aja ya, Teh!" teriaknya di depan pintu.
“Siap, Mel.”
Melodi kembali ke salon yang tepat berada di samping warung, dipisahkan oleh tembok rendah sebatas dada. Begitu melewati pintu kaca dengan kusen berwarna merah muda, Monci dari seberang ruangan meliriknya judes. Seorang perempuan cantik duduk di depannya, sementara Monci tampak sedang mengencangkan ring di rambut pendek perempuan itu.
“Yey lambada amat ke sebelahnya. Eke rempong kerja sendirian. Cepet sindang bantuin.”
Melodi cengar-cengir sambil menarik salah satu bangku kulit imitasi berwarna hitam ke dekat Monci. “Bantuin apaan, Bos?”
"Pisahin ikatan rambut yang panjang-panjang. Taro situ." Monci menunjuk dengan dagu, ke kursi penuh tumpukan rambut extension di sebelahnya.
"Dipisahin dari yang pendek biar nggak berantem ya, Bos?" tanya Melodi sambil cengar-cengir.
Monci cuma bisa mendelik mendengar guyonan garing Melodi demi di depannya ada customer. Bagaimanapun image tetap harus dijaga. Itu prinsip Monci.
"Misahinnya pakai saringan aja." Si customer ikut-ikutan garing. Monci tertawa pendek dengan nada mengambang. Melodi menyebutnya ketawa toleransi, yaitu jika guyonan yang dilempar tak terlalu lucu, tapi yang mendengar mencoba menghargai.
“Ngomong-ngomong, udin lambada nggak ke sini. Ke menong aja, Kak Jules?”
“Banyak acara nge-DJ ke luar kota, Mon. Ini baru agak longgar, langsung cabut ke sini.”
“Anak-anak masih dititipin oma opanya di Yogya?”
“Masih. Orangtuaku senang, sih, dititipin cucu, jadi rumah ramai terus.”
“Kuliah yey terbengkalai, dong, sambil nge-DJ juga. Ehh, lekong yey masih di Batam, ya? Gimana kalalo hawa nepsyong datang, Cyiinn. Suami jauuhh.”
"Tinggal terbang, kan, gampang," cengir Jules Kasandra lalu mengisap rokok putihnya dengan nikmat.
"Kalau aku, sih, bingung naik pesawat, Kak." Melodi ikut nyeletuk. Monci meliriknya sebal.
"Bingung kenapa?" tanya Jules, menoleh ke arah Melodi.
“Bingung nyetopin pesawatnya gimana kalau udah sampe.”
Jules tertawa berderai-derai mendengar jawaban Melodi. Terdengar pula suara tawa tertahan Deli dari balik tirai di sudut kiri ruangan. Saat Melodi pergi ke warung tadi, dua orang customer datang. Salah satunya minta dilulur sedang yang lainnya adalah Jules Kassandra.
"Kamu polos banget, sih," katanya kemudian.
"Bukan polos, tapi oon," balas Monci.
"Ihh, Monci. Nggak boleh begitu." Jules mencubit paha Monci yang kemudian mengaduh manja.
"Kamu nemenin aku aja, yuk. Buat hiburan. Di daerah sini susah cari hiburan," ajak Jules sambil menatap Melodi dari cermin di depannya.
“Hiburan jangan dicari, Kak.”
“Loh, kenapa?”
"Kalau dicari malah dia nanti nggak mau pulang," cengir Melodi jahil. Jules kembali tertawa.
“Tuh, kan, kamu lucu.”
Monci melirik Melodi lagi. "Jangan kembang kempis, tuh, hidung. Mentang-mentang dibilang luncang, yey langsung mau sombong, ya?" dengus Monci.
“Sombong apaan sih, Bos. Yang boleh sombong itu cuma orang yang bisa bersin sambil melek.”
Jules Kassandra tertawa terpingkal-pingkal. Monci menggantung tangannya yang memegang tang di udara. Raut wajahnya tampak berpikir, berusaha mencerna kata-kata Melodi. Sementara di balik tirai merah jambu dua suara terdengar terkikik-kikik geli.
"Ya, ampun. Aku sampai mau pipis." Jules mengusap sudut-sudut matanya yang berair saking gelinya ia tertawa.
Saat akhirnya dua ratus ikat rambut extension terpasang sempurna di rambut, sebagai sentuhan akhir Monci mencatok rambut Jules yang kini panjang, berkat bantuan rambut extension human hair 70 cm yang tergerai sampai punggung. Monci memberi volume dengan ikal-ikal besar, lalu memotret hasil karyanya tersebut sebelum nanti mengunggahnya di akun Instagram salon.
Jules Kassandra berdecak puas sambil berputar-putar di depan cermin. Penampilannya yang kini feminin sangat kontras dengan tato yang memenuhi lengan kanannya. Setelah membayar di meja kasir, ia berbalik menghampiri Melodi yang sedang membereskan peralatan Monci, lalu menggengamkan sesuatu ke telapak tangan gadis itu.
"Buat kamu. Makasih sudah buat aku happy hari ini." Jules berbalik. Melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu.
Melodi yang masih terlongo-longo membuka genggamannya, menatap haru dua lembar uang lima puluh ribuan di tangannya.
“Endolita, ya. Eke yang capcay masang rambut, yey yang dapet tip gedong.”
Melodi tidak membalas sindiran Monci. Matanya berkaca-kaca. Dalam hati gadis itu berjanji, sepulang kerja ia akan mampir membeli martabak bandung kesukaan Simfoni.
Daftar Chapter
Chapter 1: Insiden Catokan
1,181 kata
Chapter 2: Nanana Lalala
1,196 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!