')">
Progress Membaca 0%

Chapter 10: DI ABAIKAN

Anfebizha 01 Nov 2025 1,336 kata
GRATIS

Acara makan malam akhirnya selesai. Piring-piring sudah dibereskan, obrolan pun perlahan mereda. Rumah yang tadi ramai kini terasa jauh lebih lengang.

Pak Dedi lalu memberi isyarat untuk pamit. "Baiklah, sudah malam. Kami pulang dulu, Pak, Bu," ucapnya sambil menyalami ayah Runa.

"Loh, langsung pulang? Nggak singgah hotel dulu?" Ayah Runa mengernyit sedikit.

Mama Tama dan suaminya sempat saling pandang. Senyum sopan muncul di wajah mereka.

"Wah, terima kasih banyak, Pak. Tapi sungkan kalau merepotkan. Dari awal memang sudah rencana cari hotel," ujar mama Tama pelan.

"Betul, Pak," timpal Pak Dedi. "Kami sudah biasa begitu. Takutnya malah ganggu."

Ayah Runa akhirnya mengangguk. “Ya sudah, kalau memang begitu maunya. Hati-hati di jalan, Pak...”

Mereka satu persatu keluar, Tama yang paling akhir. "Aku kirim pesan ke nomormu, di simpan." katanya singkat saat menyalamu Runa.

"Nomormu aku kirim pesan ya, biar disimpan,” katanya singkat, lalu menepuk pundak Kevin dengan ramah. Bahkan sempat menepuk pundak Kevin yang berdiri di samping gadis itu. “Permisi, Pak, Bu," pamitnya lagi sebelum masuk mobil.

Mobil keluarga dosen itu akhirnya melaju pelan meninggalkan gang. Mereka mengantar sampai depan gang, bahkan Bapak masih berdiri di depan menunggui mobil sampai hilang dari pandangan.

Dan Runa lebih dulu kembali ke rumah bersama ibu. Dia menahan mati-matian mulutnya untuk tidak memekik di jalan gang rumah mereka.

Tapi saat kakinya menjangkau pintu ruang tamu, suaranya melengking, sampai membuat ibu melonjak memegang dada.

"Aku nggak mau dijodohin!!" seru Runa, suaranya pecah. "Astaga, Run, bikin kaget saja kamu ini."

Tapi Runa sudah terlanjur menatap geram, wajahnya memerah. "Kenapa nggak bilang kalau mau di jodohin. Tau gitu aku nggak pulang!!"

Ibunya menahan napas, mencoba tetap tenang meski wajahnya ikut berubah. "Ssst, jangan keras-keras. Kedengeran tetangga."

Cuma Runa tak peduli, langkahnya mondar-mandir di ruang tamu, menarik ujung jilbabnya, melepaskannya. "Aku nggak mau, Bu. Baru ketemu sebentar, langsung dibilang calon ini-itu. Nggak masuk akal!"

Ibunya akhirnya menarik napas panjang, mendekat, lalu menepuk lengan putrinya. "Katanya dia dosenmu, to..."

"Kan cuma Dosen. Bukan calon suami!!"

Mata ibunya melunak, tapi tetap tegas. "Kamu jangan keras kepala. Nak Tama itu baik, sopan, jelas pekerjaannya. Orang tuanya juga bukan orang biasa. Masa depanmu terjamin sama dia, kamu nggak akan kekurangan apapu. Percaya sama ibu."

"Tapi aku nggak suka sama dia, Bu..." Runa akhirnya terduduk di kursi dengan wajah mendongkol. “Apalagi sampe dijodoh-jodohin. Jaman macam apa ini?!.”

Suasana hening sesaat. Dari luar, terdengar suara bapaknya baru masuk teras, bercakap sebentar dengan tetangga.

Ibunya menunduk, membelai pundak Runa. "Kalau memang kamu benar-benar nggak mau, bicarakan baik-baik sama bapak. Jangan teriak-teriak begini. Nanti makin runyam."

Runa menoleh, menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Bapak, mana bisa di bantah." bibirnya manyun.

Pintu ruang tamu berderit. Pak Salim masuk, meletakkan pecinya di meja, lalu menatap tajam ke arah Runa yang duduk di ruang tamu dengan wajah memerah dan mata berair.

"Apa ini ribut-ribut?" suaranya berat, dalam, membuat udara mendadak kaku.

"Pak..." Ibu sempat menengahi, tapi Runa lebih dulu bersuara. "Runa nggak mau dijodohin sama dia."

Jelas Pak salim tampan tenang, dia sudah mengira itu akan terjadi. Dia lalu duduk, pandangannya menusuk ke wajah merah putrinya, tapi tidak terburu-buru bicara. Dia menunggu sampai ruangan benar-benar hening. Hanya terdengar suara TV yang di tonton Kevin.

Akhirnya, dia berkata pelan, penuh penegasan, "Run... Perjodohan ini bukan perkara main-main. Bukan bapak atau ibumu yang sembarang memutus."

Runa menggigit bibirnya, menahan tangis.

"Itu wasiat dari kakekmu sendiri. Dari dulu, kakekmu dan kakeknya Tama sudah bersepakat. Wasiat itu jelas, hubungan dua keluarga ini harus dijaga, diteruskan, dengan ikatan yang suci. Udah di siapin cincin. Itu, yang kamu pake," bapak menunjuk jari Runa.

Mata merah itu menunduk, melihat jari manis yang kini makin manis karena terhias berlian itu. Cuma, membuat dadanya sesak, mendadak tak bisa bernapas.

"Kamu tahu sendiri, kita menghormati leluhur. Kalau kamu menolak, sama saja kamu melanggar amanat kakekmu. Apa kamu tega? Masa kamu lupa, kakekmu sayang banget sama kamu. Nggak lupa, to.." kata Bapaknya, penuh kendali.

Menusuk ke logika Runa, menarik mundur kenangannya tentang kakek yang meninggal ketika dia masih SD. Air mata Runa menetes tanpa bisa dibendung. Mulutnya bisu, tak ada sanggahan.

Ibunya hanya bisa memeluk pundak Runa, wajahnya getir tapi pasrah. Sedang Pak Salim sudah menyandarkan punggung, ke sandaran kursi. Keputusan itu sudah mutlak dan tak perlu diperdebatkan lagi.

"Tama itu Dosen Run, juga pengusaha. Kamu nggak akan kekurangan apapun jadi istrinya. Bapak jamin."

Runa menunduk, terisak tanpa suara. Sebenarnya dia sudah tahu, apa pun yang dia katakan, tidak ada ruang penolakan. Apalagi kalau berhadapan dengan Bapaknya. Segalanya sudah ditentukan jauh sebelum dia bisa memilih.

Akhirnya dia bangkir, masuk kamar dengan langkah keras, pintu ditutup agak keras hingga berbunyi. Dia menjatuhkan diri ke atas kasur, wajahnya muram. Bantal dipeluknya erat, lalu ditendang lagi, tak jelas arah emosinya.

Tak lama, pintu diketuk pelan. "Run..." suara ibunya terdengar lembut dari luar. "Boleh ibu masuk?"

Runa tak menjawab. Hanya memelototi langit-langit, lalu akhirnya memutar badan menghadap dinding. Pintu berderit terbuka, ibunya masuk membawa segelas air.

"Udah malam, jangan ngambek terus. Minum dulu." Ia menaruh gelas di meja kecil di samping kasur.

Runa mengerling sebentar, lalu mendesah. "Bu, aku tuh kayak nggak dianggap. Semua udah diputusin dari dulu. Padahal aku baru ketemu orangnya hari ini. Kenapa ibu nggak ngasi tahu dari dulu-dulu?!"

Ibunya duduk di tepi ranjang, menepuk lembut betis putrinya. "Maaf, Ibu tahu. Memang berat buat kamu. Tapi ini wasiat, Nak. Dari kakekmu sendiri. Kalau kamu lihat dari sisi lain, ini bukan sekadar jodoh. Ini amanat keluarga."

Runa menggeliat, lalu menutup wajah dengan bantal. "Aku anak ibu bukan sih?!."

"Nggak boleh ngomong gitu, kalau bukan anak ibu anak siapa. Anak gendruwo..." ibunya berusaha mencandai.

Tapi Runa malah merengek tak jelas.

**

Runa terbangun di tengah malam. Tangannya refleks mengucek mata, lalu meregangkan badan sambil berguling ke sisi kasur. Hanya beberapa detik kemudian, matanya terbuka lebar. Ingatan itu tiba-tiba menampar keras kesadarannya.

"Aku kirim pesan ke nomormu, simpan."

Spontan Dia bangkit. Dengan tergesa dia mencari HP yang entah tadi dia taruh di mana. Selimut diacak-acak, bantal disingkirkan, sampai akhirnya dia menemukan benda itu di ujung ranjang. Layar menyala begitu disentuh, menampilkan jam digital terang-benderang.

01:27

Dini hari. Pesan-pesan masuk berderet rapi. Dari teman-temannya, bahkan dari mantan yang sebulan lalu mereka putus. Tapi matanya hanya terpaku pada satu pesan.

Begitu membuka chat itu, dan nama Tama terbaca lagi, dia baru sadar.

"Udah gue simpen?" Gumamnya mengernyit. "Jelas lah, dia dosen gue." Lalu katanya.

Karena terlanjur dia buka pesan itu, dia jadi bingung sendiri membalas bagaimana. Ujung jarinya mengetuk-ngetuk layar, sampai sesaat kemudian dia mengetik cepat. Membalas saat itu juga.

"Baik, Pak."

Pesan terkirim. Dua centang. Dalam sekejap berubah biru.

Dibaca.

Dan setelah itu,

... hening.

Hanya layar yang menatapnya balik dengan kosong.

Dia menggigit bibir bawah, menunggu beberapa detik, siapa tau akan muncul tulisan "sedang mengetik..." Tapi hampa. Chat itu tetap kosong.

"Terus ngapain gue bales jam segini, anjir..." gerutunya lirih, kepala mendongak ke langit-langit. "Malu banget."

Tangannya terangkat, memijat pelipis yang tiba-tiba terasa berdenyut. Ada rasa sesal yang tak bisa dia tekan, bercampur geli pada dirinya sendiri.

Dengan kasar dia lemparkan ponsel itu ke kasur. Benda itu memantul sekali, lalu diam tak jauh dari bantal. Runa langsung berguling, menarik bantal satunya dan menutup wajahnya rapat-rapat.

"Gila lo, Run... murahan banget," suara teredam bantal. "Kayak ngarep banget dijodohin sama dia..."

Setelah lama mengumpat di balik bantal, Runa berguling sekali lagi, matanya menatap gelap langit-langit kamar. "Bodoh... bodoh banget," bisiknya, lalu mengacak rambut sendiri.

Matanya melirik sekilas ke arah ponsel yang tergeletak. Rasa penasaran menyeretnya. Perlahan, dia meraih kembali benda itu, menyalakan layar.

Masih sama. Chat berhenti di pesan terakhir darinya.

Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari seberang sana.

Runa mendesah panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke kasur. Ponsel dia letakkan di dada, jemarinya mengetuk-ngetuk casing belakang seakan berharap ada jawaban jatuh dari langit.

"Anjir... segini banget ya harga diri gue. Lagian lo juga gila, mahasiswa mana yang bales chat jam segini," gumamnya tertawa getir. Menertawakan diri sendiri.

Lama-lama matanya mulai terasa berat. HP masih tergenggam di tangan, tapi tubuhnya menyerah pada kantuk.

Sebelum terpejam penuh, ada satu pikiran yang sempat melintas. "Kenapa Pak Tama nggak nolak di jodohin,"

Daftar Chapter

Chapter 1: Tama Pratama

865 kata

GRATIS

Chapter 2: Aruna Janitra

905 kata

GRATIS

Chapter 3: Dosen Aneh

693 kata

GRATIS

Chapter 4: Alasan Keluarga

735 kata

GRATIS

Chapter 5: LELAKI ITU

750 kata

GRATIS

Chapter 6: Vian

1,041 kata

GRATIS

Chapter 7: PULANG

951 kata

GRATIS

Chapter 8: JODOH DADAKAN

1,277 kata

GRATIS

Chapter 9: TAK SEPENDAPAT

1,093 kata

GRATIS

Chapter 10: DI ABAIKAN

1,336 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin

1,436 kata

10 KOIN

Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli

1,017 kata

10 KOIN

Chapter 13: KECELAKAAN

1,520 kata

10 KOIN

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!