')">
Progress Membaca 0%

Chapter 9: TAK SEPENDAPAT

Anfebizha 01 Nov 2025 1,093 kata
GRATIS

Orang tua Runa terlihat tidak terkejut sedikit pun oleh pernyataan besar itu. Justru, bapaknya mengangguk pelan dengan wajah serius, dan ibunya malah tersenyum. Lebar.

"Alhamdulillah…” ucap bapak penuh bangga. “Kami berterima kasih sudah datang jauh-jauh ke sini. Tentu saja, ini sebuah kehormatan besar untuk keluarga kecil kami.”

Runa yang duduk agak di pinggir langsung menoleh cepat, matanya membesar. Heran. Tangannya refleks meraih lengan ibunya.

"Bu…" bisiknya lirih, ingin protes dengan jawaban bapaknya.

Alih-alih menjawab, sang ibu menepuk lengannya pelan, lalu mengusap lembut seolah menenangkan.

"Maksudnya apa, Bu?" bisik Runa lagi. Suaranya gemetar. Ucapan dua laki-laki paruh baya di ruang tamu itu sama sekali tidak masuk ke telinganya. Dia hanya ingin jawaban dari ibunya.

"Itu dengar..." sang ibu menepuknya sekali lagi, memberi kode agar Runa diam dan memperhatikan.

Dan benar saja, suara ayah Tama terdengar jelas. "Kami sangat berterima kasih, lamaran yang sederhana ini sudah diterima dengan begitu baik. Bagi kami, restu dan penerimaan ini jauh lebih berharga daripada kemewahan apa pun."

Runa sontak menoleh pada bapaknya. Wajahnya bingung, kapan ayahnya menyatakan menerima? Dia makin gelagapan.

"Bu..." bisiknya lagi, kali ini lebih mendesak, namun sang ibu tetap tersenyum lembut tanpa menoleh sedikit pun. Tangannya hanya menepuk lengan Runa sekali lagi, seperti menegaskan agar dia diam saja.

Runa makin panik. Matanya terarah ke dosennya. Tama tampak begitu sopan, penuh wibawa, menanggapi setiap ucapan para orang tua dengan bahasa yang teratur dan hormat.

Ingin sekali Runa menyela, menolak dengan tegas, lalu membatalkan semua kesalahpahaman ini. Tapi keberaniannya tak setinggi itu. Lidahnya kelu, hanya kakinya yang sibuk mengetuk-ngetuk lantai. Gelisah.

Tangannya kembali meraih lengan ibunya, kali ini lebih kuat, hampir mencengkeram. Ada protes yang ingin meledak, tapi sang ibu hanya diam, membiarkannya begitu saja. Dia tahu persis apa yang dirasakan putrinya, namun memilih bungkam.

Percakapan dua keluarga yang terasa panjang itu tiba-tiba mencapai puncaknya ketika ayah Tama mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah. Semua mata otomatis tertuju ke sana.

"Ini," ucapnya, 'cincin yang dulu sudah dipersiapkan oleh almarhum Kakek Tama. Beliau menitipkan, agar suatu hari, cincin ini dipasangkan untuk perjodohan ini."

Kotak itu dibuka. Di dalamnya tampak sebuah cincin sederhana, tidak besar, namun manik putih di tengahnya berkilau indah. Cahaya lampu ruang tamu menari di permukaan batu mungil itu.

"Silakan, Tama," kata ayah Tama, yang ternyata namanya Bapak Dedi itu, menyodorkan ke putranya.

Runa membeku. Dadanya seperti diremas. Apa? Sekarang? batinnya.

Tama yang sejak tadi duduk tenang, akhirnya berdiri membawa sebuah kotak bludru kecil di tangannya. 

Seakan sudah mengerti, ibu Runa segera menggeser duduk, memberi ruang di sisi putrinya. Ruang kosong itu dengan cepat diisi Tama. Kini mereka duduk bersebelahan.

Tak ada raut canggung di wajah pria itu. Tatapan matanya tenang, langsung tertuju pada Runa. Dan ketika Runa mencoba membalas tatapan itu, dia hampir mundur. Namun telanjur terlambat, Tama sudah menjangkau jemarinya.

Dunia seakan berputar. Runa hanya bisa menatap cincin mungil yang kini terletak di telapak tangan dosennya sendiri, Tama Pratama.

Ruang tamu mendadak hening. Semua mata terpaku pada mereka berdua. Dan tanpa ragu, Tama menyematkan cincin itu ke jari manis Runa.

Cincin itu terasa pas. Terlalu pas. Runa membeku, menyadari benda yang menempel di tangannya itu bukan sekadar perhiasan, melainkan sejarah. Cincin yang mungkin sudah berusia puluhan tahun, dibeli jauh sebelum ia cukup dewasa untuk memahami arti sebuah ikatan.

"Senyum," bisik Tama begitu selesai memasangkan cincin.

Pria itu kemudian kembali berdiri, melangkah tenang ke kursinya semula.

Sedang di tempatnya, Runa seperti dihipnotis, tetap kaku di tempat. Bibirnya terkunci rapat, meski ada protes yang mendesak ingin keluar. Matanya menyipit bingung, tak mampu menafsirkan sikap Tama.

Namun di antara mereka, hanya Vian yang diam dengan ekspresi sulit dibaca. Dari sudut tempat duduknya, dia menyaksikan langsung bagaimana cincin itu melingkar pas di jari manis Runa.

Ada senyum kecil di bibirnya, senyum sopan yang dia paksakan demi menghormati keluarga.

Jadi, Aruna itu? batinnya bergetar. Gadis yang baru saja dia temui di kereta, yang tingkah polosnya sempat membuatnya tertawa, yang senyumnya masih membekas jelas di kepalanya. Kini resmi bertunangan dengan kakaknya sendiri.

Senyum getirnya semakin menegang ketika matanya tanpa sengaja menangkap pandangan Runa yang menunduk kaku, jelas-jelas tak nyaman dengan keadaan. Sejenak dia ingin berdiri, ingin berkata sesuatu, apa pun. Tapi lidahnya kelu.

Ini bukan ruang untuknya bersuara. Semua sudah ditetapkan, semua sudah disepakati jauh sebelum dia tahu siapa Aruna sebenarnya.

Setelah suasana ruang tamu sedikit mereda oleh perbincangan panjang lebar, tentang masa kecil sang ayah masing-masing, bahkan sampai mengenang kisah kakek-kakek mereka. Ibu lalu mempersilakan para tamu untuk makan malam.

Ruang makan sederhana itu tampak penuh. Meja kayu dengan taplak bermotif bunga sudah dipenuhi lauk-pauk rumahan. Tidak ada piring mewah, hanya piring sehari-hari yang biasa dipakai keluarga. Justru kesederhanaan itu yang membuat suasana hangat, riuh, dan kental nuansa kekeluargaan.

Karena meja makan tidak cukup menampung semuanya, para orang tua memilih makan di ruang tamu. Vian langsung duduk di karpet, bersila di sebelah Kevin yang makan lahap sambil menonton film kartun di televisi.

"Bapak dulu," ucap Runa sopan, menahan diri belum mengambil. Mempersilakan Tama lebih dulu.

Dalam momen yang begitu dekat itu, ingin sekali dia protes dengan pertunangan barusan. Tapi entah kenapa mulutnya tetap diam. Ragu.

"Kamu dulu," lalu balas Tama singkat, sambil sedikit mundur memberi ruang.

Runa mengernyit, malas berdebat. Dengan mata jengah akhirnya dia mengambil nasi duluan, lalu memilih duduk di ruang tengah, menjejeri Kevin.

Tama berjalan melewati mereka bertiga, lalu mengambil tempat duduk di ruang tamu bersama orang tua. Sikapnya tetap terjaga, tenang. Runa bahkan mengikuti langkahnya yang barusan lewat, kesal. Tentu. Tapi Vian di depannya langsung menepuk lengannya.

"Makan," kata Vian. "Marahnya entaran."dia seperti bisa membaca apa yang Runa pikirkan.

Runa berdecak, padahal tadi di kereta sangat sopan ke Vian. 

"Selamat ya, Run," celetuk Vian di sela makannya.

"Buat apa?" Runa langsung berhenti menyendok, menoleh curiga.

"Udah resmi jadi calon kakak iparku," jawab Vian santai tanpa mengalihkan pandangan dari TV.

"Ck!" Runa berdecak lagi, tak suka dengan kalimat itu.

"Mbak Runa mau nikah?" tanya Kevin polos. Menatap penuh rasa ingin tahu, dan Vian hanya mengangguk.

"Sama siapa? Mas Vian?" lanjut Kevin.

"Bukan..." Vian cepat-cepat menyangkal. "Sama Abang yang barusan lewat."

"Yang judes itu?" tukas Kevin lugas.

Runa dan Vian sempat berpandangan sejenak, lalu tawa pecah dari keduanya. Ruang tengah mendadak riuh, penuh canda. Kontras sekali dengan ruang tamu, tempat orang tua dan Tama makan dengan suasana jauh lebih tenang.

Ketika suara tawa itu terdengar hingga ke ruang tamu, Tama sempat melongok. Matanya menangkap pemandangan Runa dan adiknya terlihat sudah akrab. Terlalu akrab.

"Udah akrab aja calon mantu sama adik iparnya," celetuk mamanya dari samping.

Tama menoleh, menanggapi dengan senyum kecil yang sekilas, meski dalam hati dia tak sependapat

Daftar Chapter

Chapter 1: Tama Pratama

865 kata

GRATIS

Chapter 2: Aruna Janitra

905 kata

GRATIS

Chapter 3: Dosen Aneh

693 kata

GRATIS

Chapter 4: Alasan Keluarga

735 kata

GRATIS

Chapter 5: LELAKI ITU

750 kata

GRATIS

Chapter 6: Vian

1,041 kata

GRATIS

Chapter 7: PULANG

951 kata

GRATIS

Chapter 8: JODOH DADAKAN

1,277 kata

GRATIS

Chapter 9: TAK SEPENDAPAT

1,093 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 10: DI ABAIKAN

1,336 kata

GRATIS

Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin

1,436 kata

10 KOIN

Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli

1,017 kata

10 KOIN

Chapter 13: KECELAKAAN

1,520 kata

10 KOIN

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!