')">
Progress Membaca 0%

Chapter 3: Dosen Aneh

Anfebizha 27 Oct 2025 693 kata
GRATIS

Langkah kaki Aruna terdengar pelan menuruni koridor lantai dua fakultas ekonomi. Suara sepatunya menyentuh ubin seirama dengan degup jantungnya yang belum sepenuhnya tenang. Di tangannya, HP yang belum sempat dia periksa dari tadi terasa dingin, seperti telapak tangannya sendiri.

Dia berjalan perlahan, seperti sedang mencoba menyusun ulang percakapan yang baru saja terjadi di ruangan itu. Namun kepalanya justru semakin penuh dengan tanda tanya.

Di tengah perjalanan menuju tangga, dia sempat berhenti. Menoleh ke belakang.

Pintu ruangan Tama sudah tertutup rapat. Tak ada suara. Tak ada gerakan. Hanya pantulan samar dirinya di kaca jendela kecil pintu kayu itu. Sekilas, dia melihat bayangannya sendiri, tapi merasa seperti sedang menatap orang asing.

"Kenapa nanya tempat tinggal?"

"Kenapa nanya asal daerah?"

"Dan... 'kabar aneh dari luar atau keluarga' itu maksudnya apa, sih?"

Aruna menarik napas panjang. Matanya masih tertuju pada pintu yang sama.

Satu hal yang paling mengganggunya bukan pertanyaan-pertanyaan itu, tapi ekspresi wajah Tama. Dingin, tegas, tapi ada satu garis samar di wajahnya yang tak bisa Aruna abaikan. Kesal. Bukan kesal karena tugas, atau nilai, atau pelanggaran. Tapi seperti... karena kehadirannya.

Dan itu membuatnya merasa aneh.

Dia mengerjap cepat. Lalu kembali melangkah. Tapi belum sampai lima meter, dia berhenti lagi. Matanya kembali melirik ke arah pintu ruangan yang kini terasa jauh.

"Apa gue punya salah? Padahal gue nggak pernah cari masalah sama dia."

Kantin sore itu sudah setengah penuh. Beberapa mahasiswa duduk santai sambil membuka laptop, sebagian lain sibuk menunggu pesanan. Di pojok dekat jendela, Dewi sudah duduk sambil menggulung lengan jaket jeans-nya, wajahnya tak sabar menanti.

Begitu melihat Aruna muncul dari arah tangga, dia langsung heboh.

"NA!" panggilnya setengah berteriak. "Astaga, lo ngilang kayak ditelan lantai dua. Gue kira lo disuruh nulis makalah sepuluh halaman!"

Aruna hanya tersenyum samar dan duduk perlahan. Dia menaruh tas di pangkuan dan membuka tutup botol minum dari dalamnya.

"Dia cuma nanya soal tugas kemarin," katanya pelan.

"Hah? Itu doang? Serius?" Dewi menaikkan alisnya, tak puas. "Yakin banget tuh? Soalnya kamu keluar ruangan kayak abis diajakin nikah."

Aruna tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar. "Lebay. Mana napsu dia sama gue, begini?"

"Bisa jadi. Tapi lo kelihatan aneh banget. Muka lo tuh... kayak habis nemu rahasia negara." Dewi menyipitkan matanya, berusaha membaca raut wajah Aruna. Tapi sahabatnya itu justru mengalihkan pandangan.

"Yah... mungkin gue cuma kaget aja dipanggil tiba-tiba. Kan gue bukan tipe mahasiswa yang gampang dikenal dosen. Males banget d panggil-panggil, Kayak penting aja."

"Justru itu! Lo tuh nggak pernah nyolok di kelas. Tapi tadi... Lo dua kali disebut namanya. Terus dipanggil pula. Dan itu sama Dosen Tama. Tama, Na! The one and only!"

Aruna menghela napas. Dia menggenggam botol minumnya lebih erat dari yang perlu. Dewi bersandar ke kursi, bibirnya membentuk senyum menyelidik.

"Oke, gimana kalau ini cuma tebakan gue. Jangan marah. Tapi... bisa jadi sih dosen kita itu... tertarik sama Lo?"

Aruna menoleh cepat.

"Hah? Gila. Jangan aneh-aneh, Ngawur aja." Aruna menoleh cepat.

"Lho! Bisa aja, kan? Lo beda dari mahasiswa lain. Nggak heboh, nggak ngefans buta. Bisa jadi itu bikin Lo justru menarik di mata dia. Teori psikologi bilang-"

"Ngawur. Anjir." umpat Runa "Gue nggak minat urusan sama orang-orang kayak dia."

Dewi mengerutkan kening. "Maksudnya?"

"Orang terpandang. Populer. Terlalu banyak sorotan. Dia tuh... dunia yang beda dari kita-kita.."

Dewi terdiam. Sorot mata Aruna sangat serius, seperti sedang bicara dari lubuk paling dalam dari dirinya.

"Jangan mikir aneh-aneh. Gue nggak tahu apa yang dia pikirin, dan gue juga nggak peduli. Yang jelas, gue cuma mahasiswa. Dan dia dosen. Udah cukup sampai situ aja."

Dewi mengangguk pelan, mengerti. Dia tak jadi heboh. Tapi masih menyimpan rasa penasaran yang belum terjawab.

"Oke... Paham." Dia mengaduk minumannya, lalu tersenyum kecil. "Tapi kalo suatu hari nanti lo tiba-tiba jadi headline gosip fakultas, jangan lupa bilang duluan ke gue, ya."

"Lanjutin itu. Gue putus pala lo!!"

"Nggak jadi!" Dewi langsung beringsut, mengangkat tangan.

Aruna cuma menggeleng dan menatap keluar jendela. Dari jauh, langit sudah mulai berubah warna. Dan hatinya pun, mulai diselimuti kabut samar yang belum juga hilang sejak dia keluar dari ruangan dosen itu.

Di balik tatapan diamnya, pikirannya terus berkecamuk. Dia tidak bisa berkata jujur bahkan pada Dewi, karena Aruna sendiri belum sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi.

 

.

Daftar Chapter

Chapter 1: Tama Pratama

865 kata

GRATIS

Chapter 2: Aruna Janitra

905 kata

GRATIS

Chapter 3: Dosen Aneh

693 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 4: Alasan Keluarga

735 kata

GRATIS

Chapter 5: LELAKI ITU

750 kata

GRATIS

Chapter 6: Vian

1,041 kata

GRATIS

Chapter 7: PULANG

951 kata

GRATIS

Chapter 8: JODOH DADAKAN

1,277 kata

GRATIS

Chapter 9: TAK SEPENDAPAT

1,093 kata

GRATIS

Chapter 10: DI ABAIKAN

1,336 kata

GRATIS

Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin

1,436 kata

10 KOIN

Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli

1,017 kata

10 KOIN

Chapter 13: KECELAKAAN

1,520 kata

10 KOIN

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!