Chapter 4: Alasan Keluarga
Suara notifikasi ponsel memecah hening kamar kos yang sempit itu. Aruna baru saja selesai mandi, rambutnya masih sedikit basah dan menempel di pipi. Dia melirik layar HP yang menyala di atas meja belajar.
"Ibu."
Aruna menghela napas panjang, lalu mengambi HP-nya. Dengan gerakan malas, dia menggeser layar untuk menjawab.
"Assalamualaikum, Bu." Suaranya terdengar datar, namun cukup lembut.
"Waalaikumsalam, Nduk. Lagi apa kamu? Kok jarang telpon ibu sekarang? Sibuk banget, ya?" suara ibunya terdengar, ada nada rindu yang kentara.
Aruna berdehem. "Baru balik kos, Bu. Capek kuliah."
Hening sebentar, lalu ibunya bicara lagi. "Kapan pulang? Bapakmu kangen. Semua juga kangen. Sudah lama kamu nggak kelihatan."
Aruna spontan duduk tegak. Tangannya mengusap rambut basahnya, mencoba mencari alasan. "Bu, aku libur cuma dua hari. Nggak cukup waktunya kalau dipakai pulang. Perjalanan aja udah enam jam lebih."
"Tapi bapakmu pengin kamu pulang. Ada yang perlu dibicarakan." Nada ibunya berubah lebih serius.
Aruna terdiam. Matanya menatap kosong dinding kamar yang polos. "Ada apa, Bu? Bisa lewat telpon, kan?"
"Ndak bisa, Nduk. Kamu harus pulang. Nanti kalo izin, ya izinlah dua-tiga hari. Masa kamu nggak bisa? Wong kamu juga jarng ijin kan?"
Aruna menggigit bibir bawahnya. Liburnya memang cuma sebentar. Dia sudah merencanakan waktu itu untuk sekadar istirahat, mungkin mengerjakan tugas, atau bahkan, sekadar tidak bertemu orang rumah agar pikirannya tidak semakin penuh.
"Bu, Aku lagi banyak tugas. Beneran. Nggak gampang kalo aku izin. Dosenku ketat-ketat."
"Tapi ini penting, Aruna." Ibunya menekankan. Ada sesuatu di balik suaranya yang membuat Aruna semakin gelisah.
"Penting apanya, Bu?" Aruna menegaskan, meski nadanya masih menahan diri.
Hening. Hanya suara napas di seberang. Lalu ibunya menjawab lirih, "Nanti aja kalau kamu sudah pulang. Kamu izin, ya, Nduk. Bapak juga sudah bilang. Minggu ini, hari minggu. Bisa ya?."
Gadis itu menutup mata. Rasanya dadanya semakin berat. Seolah dunia kampus yang sudah penuh pertanyaan dengan dosen itu belum cukup, kini rumah pun menariknya pulang dengan alasan yang masih misterius.
"Nanti aku coba ya bu... Tapi aku nggak janji."
"Ya, bicarakan. Ibu tunggu. Jangan bikin bapak kecewa, Nduk. Udah ada janji soalnya,"
Kalimat terakhir itu menancap dalam. Membuat Aruna kehilangan kata-kata. Ingin bertanya janji apa, tapi telepon sudah di matikan dari seberang.
HP masih digenggamnya erat-erat. Pandangannya kosong, rencananya untyk minggu ini gagal sudah. Tak ad hari santai ternyata.
Di luar jendela, suara anak-anak kos lain terdengar bercampur dengan musik dari kamar sebelah. Tapi bagi Aruna, dunia seakan menutup rapat, menyisakan dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan baru. Ada janji, kata ibunya.
Dia mendesah panjang, lalu menjatuhkan diri ke kasur. Menatap langit-langit kamar yang kusam.
**
Hari itu, selepas kuliah pagi, Aruna duduk di ruang administrasi fakultas untuk mencetak surat izin. Tangannya gemetar ketika menandatangani berkas kecil yang sudah distempel bagian akademik. Di kertas itu tertulis jelas:
Permohonan izin mahasiswa Aruna Putri, NIM …, untuk tidak mengikuti perkuliahan pada Senin dan Selasa, karena alasan keluarga.
Aruna menatapnya lama. Dua lembar kertas tipis, tapi beratnya seperti batu.
Senin pagi.
Dengan map plastik bening di tangannya, Aruna berkeliling menemui dosen pengampu. Dua dosen sudah menandatangani tanpa banyak tanya. Hanya sekilas menegur, "Semoga urusannya lancar, ya."
Namun langkahnya terasa malas saat tahu ada satu dosen lagi di daftar. Tama.
Dia berdiri di depan pintu ruang dosen itu, mengetuk pelan. Dari dalam terdengar suara khas yang sudah dia kenal. Bahkan suaranya yang kemarin, melekat jelas di telinga.
"Masuk."
Aruna membuka pintu, lalu melangkah pelan. Tama sedang duduk di kursinya, menatap layar laptop, kemejanya rapi seperti biasa. Begitu melihat Aruna, dia mengangkat pandangan.
"Kamu?"
Gadis itu menelan ludah, mendekat, mengulurkan map berisi surat izin.
"Pak, saya mau menyerahkan surat izin. Minggu depan, Senin dan Selasa, saya tidak bisa mengikuti kuliah Bapak."
Tama mengambil surat itu, matanya bergerak membaca cepat. Sunyi beberapa detik.
"Alasan keluarga?" tanyanya singkat.
"Benar, Pak."
Tama meletakkan surat itu di meja. Lalu menautkan jari-jarinya, menatap Aruna dengan serius. "Hanya dua hari?"
Aruna mengangguk lagi. "Iya, Pak. Itu pun saya sudah berusaha menyesuaikan supaya tidak banyak mengganggu kuliah."
Ada jeda. Tatapan Tama tak lepas darinya. Sesuatu di sorot mata itu membuat Aruna mengernyit sedikit. Heran.
Akhirnya, Tama menandatangani sudut kertas dengan pulpen hitamnya. "Baik. Tapi saya minta semua materi minggu itu kamu kejar sendiri. Jangan menunda."
Aruna mengangguk cepat. "Siap, Pak. Terima kasih."
Dia hendak meraih kembali mapnya, tapi suara Tama menahannya.
"Aruna."
Aruna menoleh pelan.
Tapi Tama diam, tidak bicara apapun. Cuma menatap.
"Pergi." katanya lalu.
"Permisi, Pak..." dengan banyak prtanyaan heran di kepalanya, Aruna melangkah keluar dari ruangan itu. Menutupnya hati-hati.
Daftar Chapter
Chapter 1: Tama Pratama
865 kata
Chapter 2: Aruna Janitra
905 kata
Chapter 3: Dosen Aneh
693 kata
Chapter 4: Alasan Keluarga
735 kata
Chapter 5: LELAKI ITU
750 kata
Chapter 6: Vian
1,041 kata
Chapter 7: PULANG
951 kata
Chapter 8: JODOH DADAKAN
1,277 kata
Chapter 9: TAK SEPENDAPAT
1,093 kata
Chapter 10: DI ABAIKAN
1,336 kata
Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin
1,436 kata
Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli
1,017 kata
Chapter 13: KECELAKAAN
1,520 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!