Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu
Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Daehyeon tidak pernah benar-benar sunyi. Malam itu, koridor dipenuhi lampu dingin dan langkah-langkah tergesa. Bau antiseptik bercampur aroma logam menyengat memenuhi udara. Suara roda tandu yang bergesekan dengan lantai, bunyi monitor detak jantung, dan panggilan cepat para perawat menggantung di udara seperti gema yang tak pernah benar-benar pergi. Jongdae duduk di salah satu ranjang bersekat tirai, masih mengenakan pakaian yang belum diganti—bajunya sobek, lengan dan pelipisnya dilap bersih dari darah. Ia belum benar-benar bisa fokus pada apa pun. Satu per satu luka ringan diperiksa, diperban oleh seorang petugas medis perempuan yang tenang, sementara di sisinya, Pak Noh berdiri. Tegap, tapi gelisah. Sesekali tangannya mengusap wajah, menekan pelipis seperti ingin memastikan ini semua bukan mimpi buruk.
Dari sela tirai yang setengah terbuka, Jongdae bisa melihat Yuri…
Tubuh gadis itu dikelilingi oleh tiga petugas medis. Rambutnya kusut, wajahnya pucat, dan infus sudah tertancap di lengannya. Seseorang sedang mengecek tekanan darahnya, sementara satu lainnya mencatat sesuatu sambil berbicara ke interkom. Tak jauh dari situ, Seungjo yang tampak setengah sadar mengerang pelan dari bangsal berbeda. Perawat menenangkan sambil membersihkan noda darah dari pelipisnya. Gambaran itu kabur di mata Jongdae. Bukan karena jarak, tapi karena pikirannya mulai runtuh perlahan—seperti kaca jendela yang retak sedikit demi sedikit.
Kenapa semua ini terjadi begitu cepat?
Ia tidak tahu jawabannya.
Tak tahu bagaimana bisa berada di tengah peristiwa yang begitu mengerikan.
Tangannya menggenggam besi ranjang, ujung jarinya pucat. Tangisnya sudah mereda, tetapi kelopak matanya masih memerah, dan tubuhnya tetap berguncang kecil karena syok yang belum benar-benar surut. Ketika petugas medis selesai, ia meninggalkan Jongdae setelah memberi arahan singkat. Pak Noh belum beranjak. Ia tetap berdiri di samping ranjang, memandang anak laki-laki itu seperti seseorang yang ingin meminta maaf atas sesuatu yang tak bisa diperbaiki. Akhirnya, ia duduk di kursi besi berlapis bantalan hitam di hadapan Jongdae. Wajahnya masih tegang. Sorot matanya penuh iba.
“Semua sudah baik-baik saja sekarang,” katanya perlahan.
Jongdae tahu itu hanya sebagian dari kebenaran. Ia menarik napas, menahan gemetar yang masih menguasai tubuhnya.
“Aku… tidak mengerti… semuanya terjadi begitu cepat.”
Suara Jongdae serak, berat. Pandangannya kosong.
Pak Noh mengangguk, seperti seseorang yang tak punya cara lain untuk menjelaskan sesuatu yang tak masuk akal.
“Sebenarnya… aku sedang dalam perjalanan ke tempat Yuri malam ini,” katanya pelan. “Baru tiba dari luar kota. Aku tidak berniat menginap… aku hanya… firasatku buruk soal dia.”
Jongdae mulai menatapnya perlahan.
“Karena itu… aku minta Seungjo mampir ke tempat Yuri lebih awal,” lanjut Pak Noh. “Dia juga tahu semuanya. Tentang ketakutan Yuri, tentang pria itu…”
Jongdae tidak tahu harus merespon apa.
Ia terdiam, hanya menatap Pak Noh tanpa suara.
“Aku pernah tawarkan Yuri tinggal di Dalbit untuk sementara… tempat yang kuanggap paling aman,” kata Pak Noh, suaranya parau. “Tapi Yuri menolak. Dia bilang… bahkan Dalbit sudah bukan tempat yang aman untuknya. Tidak lagi.”
Kata-kata itu menghantam Jongdae tepat di dada. Ia mencelos.
Begitu banyak yang menghilang dari hidupnya… hanya dalam dua minggu ia absen dari kehidupan mereka.
Pak Noh menunduk, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.
“Pria itu sempat tak muncul lagi… karena aku laporkan ke polisi. Tapi karena tidak terbukti melakukan kriminal… dia tak bisa ditahan.”
“Dan aku tak bisa berbuat apa-apa selain… meminta Seungjo menemaninya, untuk berjaga.”
Jongdae menunduk, wajahnya diliputi kilatan rasa bersalah. Ia menarik napas pelan, berat, seperti mencoba menelan sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung.
Dia ingin melindungi Yuri… tapi Yuri menolak. Ia bahkan tak tahu separah apa kenyataan yang sedang dialami gadis itu.
Pak Noh melanjutkan, nadanya nyaris seperti mengutuk dirinya sendiri.
“Aku tahu pria itu… ayah Yuri. Aku lihat mereka bertengkar di luar Dalbit suatu malam. Pria itu nyaris menyeretnya. Tapi aku melihat dan langsung teriak agar dia pergi.”
Jongdae menatap Pak Noh. Ngeri. Nafasnya terputus di tenggorokan.
“Tapi aku tak pernah… menyangka ini akan terjadi. Aku tak tahu dia akan… menemukan Yuri lagi. Secepat itu.”
Suasana kembali sunyi. Hanya suara monitor dan langkah perawat yang masih hilir-mudik di luar tirai. Di antara mereka, hanya keheningan yang berbicara.
Jongdae menunduk, pikirannya penuh oleh bayangan Yuri di lantai kamar mandi.
Oleh suara Seungjo yang mengerang.
Oleh pisau.
Oleh darah.
Oleh rasa bersalah yang perlahan tumbuh menjadi luka paling dalam.
Malam itu, Jongdae tidak pulang ke rumah.
Di halaman belakang Rumah Sakit Daehyeon yang mulai sepi, ia menelepon Eommanya, mencoba menenangkan suara khawatir di seberang sana. Ia bilang akan menginap di Dalbit karena Pak Noh membutuhkan bantuan. Awalnya Eomma sempat keberatan, tapi Jongdae meyakinkan bahwa ia baik-baik saja. Suaranya lembut, sedikit serak. Ia juga memastikan bahwa Naari sudah sampai rumah dengan selamat.
Setelah panggilan berakhir, Jongdae masuk ke dalam mobil Pak Noh—sebuah Kia Carnival hitam yang tampak sudah cukup tua, tetapi bersih dan terawat. Interior mobil berwarna abu gelap, dengan gantungan aroma kayu menggantung di kaca spion. Tidak ada suara yang terdengar selain desiran mesin dan bunyi roda di atas aspal. Sepanjang jalan, kota terlihat sunyi seperti menutup diri dari apa pun yang terjadi malam itu. Lampu jalan memantul di jendela mobil, menyapu wajah Jongdae yang masih pucat. Ia menatap kosong ke luar jendela, pikirannya masih terseret pada suara erangan Seungjo, tubuh Yuri yang gemetar, dan darah yang terlalu nyata untuk dilupakan. Pak Noh juga diam. Kedua tangannya menggenggam kemudi, matanya fokus ke jalan, tapi napasnya masih berat sesekali. Ia tak lagi tampak seperti pria yang panik—melainkan seseorang yang tengah menata ulang semua yang telah runtuh.
Mobil melambat ketika memasuki jalan sempit menuju Cafe Dalbit, lalu berhenti di halaman samping. Dari luar, Dalbit tampak seperti biasa—tenang, hangat, lampu fasad kuningnya menyala redup. Tapi bagi Jongdae, tempat itu tak lagi terasa sama. Saat mereka masuk ke dalam, aroma khas kayu tua dan kopi yang sudah dingin menyambut. Tanpa banyak bicara, Pak Noh menuntunnya menaiki tangga sempit di pojok belakang, ke lantai dua.
“Ini lantai atas,” ucap Pak Noh pelan, membuka pintu besi dengan kunci kecil dari saku celananya. “Jarang dipakai. Tapi aku siapkan satu kamar untuk berjaga-jaga.”
Lantai dua Dalbit ternyata jauh lebih tenang dari yang Jongdae bayangkan. Pencahayaannya temaram, dengan dinding bata ekspos dan lantai kayu tua yang sesekali berderit. Ada dua ruangan besar, satu dipenuhi rak dan dus-dus tertutup debu, sepertinya gudang. Satunya lagi… kamar kecil yang rapi dan hangat. Di dalam kamar itu, ada tempat tidur single yang bersih, meja kecil, kursi besi dengan bantalan biru di samping nakas, serta lemari kayu kecil di sudut. Ventilasi atas terbuka sebagian, membiarkan angin malam menyusup masuk. Tak banyak, tapi terasa cukup untuk bernaung.
“Ada lemari di situ,” ujar Pak Noh sambil menunjuk. “Ada beberapa baju. Pakaian ganti, laki-laki dan perempuan. Siapa tahu butuh.”
Jongdae membuka lemarinya perlahan.
Ia tertegun.
Isi lemari dipenuhi kaus-kaus oversize, jaket denim yang sudah mulai pudar, beberapa celana jeans dan celana olahraga. Gaya pakaian itu… terasa netral, tapi menyimpan karakter seseorang. Bukan stok sembarangan.
Di belakangnya, Pak Noh sedang menyapu kamar sebelah, membersihkan debu dari tumpukan kotak dengan gerakan perlahan. Keheningan kembali menggantung… hingga suara itu pecah dengan lembut.
“Baju-baju itu milik anak-anakku,” kata Pak Noh dari ambang pintu kamar.
Jongdae menoleh pelan, menatap antara lemari dan pria tua itu.
Pak Noh masuk, duduk di kursi besi dengan wajah sedikit tertunduk. Tangannya mengusap lutut, lalu diam sesaat.
“Salah satunya… milik anak perempuanku,” lanjutnya. “Dia sudah tiada. Meninggal karena sakit. Usianya hampir sama dengan Yuri waktu itu.”
Jongdae diam. Tak sanggup menyela.
“Dia tidak pernah suka gaun. Tidak suka warna merah muda. Selalu pilih pakai jaket kakaknya. Tapi hatinya… lembut. Mudah tersentuh. Seperti Yuri.”
Seketika udara di ruangan itu menjadi lebih berat.
“Makanya, waktu aku lihat Yuri pertama kali… di jalan depan Dalbit. Luntang-lantung, sembab, bajunya lusuh. Aku gak pakai pikir. Aku ajak dia masuk, kenalin ke istriku.”
Pak Noh menatap lantai. Suaranya mulai parau.
“Istriku masih berduka waktu itu. Tapi Yuri... seperti menghadirkan kembali putri kami. Rasanya, seperti anak kami kembali—atau… mungkin memang tidak pernah benar-benar pergi.”
Jongdae menunduk, menggenggam ujung lemari. Rasanya seperti ditarik terlalu banyak arah hari ini. Antara sedih, syok, dan perasaan lega karena ada tangan lain yang pernah lebih dulu menampung luka Yuri. Perasaan itu menghantam tanpa ampun.
Pak Noh berdiri perlahan. Ia menunjuk lemari itu dengan dagunya.
“Baju-baju itu gak pernah kami buang. Terlalu sayang. Bahkan Dalbit ini… dulu seharusnya miliknya. Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu.”
Jongdae mengangguk pelan. Tangannya menyentuh ujung kain jaket yang tergantung. Pikirannya berkabut.
“Kami sayangi Yuri karena kami tahu rasanya kehilangan,” bisik Pak Noh.
Ruangan itu kembali hening sejenak. Hanya suara angin malam dari ventilasi yang menggeser dedaunan kering di luar.
Pak Noh lalu menatap Jongdae.
“Aku akan tutup Dalbit untuk sementara. Sampai semuanya kembali normal. Tapi tenang saja. Kalian tetap akan menerima upah seperti biasa.”
Jongdae menoleh, menatap Pak Noh dengan mata memerah. Ia menunduk.
“Terima kasih…” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.
Dadanya sesak. Hari ini terlalu banyak yang hancur dalam diam. Tapi juga terlalu banyak yang diam-diam menyelamatkan.
Pak Noh berdiri, mengambil kunci dari saku jaket dan menyerahkannya ke tangan Jongdae.
“Istirahatlah. Jaga tempat ini sementara.”
Jongdae mengangguk lagi. Dengan pelan, ia menggenggam kunci itu erat.
Malam itu… ditutup bukan dengan ketenangan, tapi dengan penerimaan. Ada luka yang belum pulih, tapi juga ruang kecil yang memberi jeda untuk bernafas.
***
Pagi itu, Jongdae pamit dari Dalbit.
Ia berdiri di depan pintu, mengenakan jaket hitam dan celana panjang abu pudar. Perban masih membalut bagian tangannya dan ada bekas plester di pelipisnya. Wajahnya tampak lebih segar meski masih terlihat sisa kelelahan.
“Terima kasih untuk semuanya, Pak. Bu,” ucap Jongdae sembari membungkuk pelan.
Istri Pak Noh tersenyum lembut, sementara Pak Noh mengangguk dan berkata,
“Hati-hati. Jangan paksakan diri.”
Jongdae mengangguk, lalu melangkah keluar. Angin pagi menyapu wajahnya, dan ia merapatkan jaketnya. Bus datang tak lama kemudian. Ia naik, memilih duduk dekat jendela.
Perjalanan menuju Restoran Ramen milik keluarga Kinam terasa lebih sunyi dari biasanya. Jongdae bersandar pada kaca jendela, melihat lalu lintas yang mulai ramai. Sesekali ia menyentuh perbannya—terasa gatal, tapi lebih dari itu, ada sesuatu yang dalam di dadanya yang belum selesai. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi ia terus menguatkan diri.
Saat tiba di restoran, suara ceret air mendidih dan aroma kaldu menyambutnya.
Kinam yang sedang mengelap meja kasir menoleh, dan ekspresinya langsung berubah terkejut.
“Ya ampun, Jongdae… Astaga. Kau… kau baik-baik saja?”
Jongdae mengangguk.
“Masih bisa berdiri. Dan bekerja.”
Kinam memicingkan mata, seperti tak yakin, tapi mencoba bersikap biasa.
“Kalau tiba-tiba jatuh pingsan di depan penggorengan, aku gak tanggung jawab ya. Harus kukasih surat izin rumah sakit dulu baru boleh kerja di sini.”
Jongdae tersenyum kecil.
Saat ia masuk ke dapur dan mengenakan celemek, teman-teman kerja mereka yang lain pun langsung menyambut dengan ekspresi terkejut. Salah satu dari mereka bahkan menjatuhkan sumpit yang sedang ia cuci.
“Jongdae, ya Tuhan… Ada apa? Kau tabrakan motor?”
“Kecelakaan?”
“Berantem sama mafia?”
Jongdae hanya mengangkat bahu.
“Ceritanya panjang,” ujarnya pendek, lalu mulai bekerja, memotong sayuran dengan hati-hati. Tangannya masih sedikit bergetar, tapi ia berusaha menutupi itu dengan gerak cepat.
Dapur mulai ramai—bunyi sendok besi membentur panci, air mendidih yang meluap, suara panggilan dari pelayan yang menyebut nomor meja, dan aroma sedap kaldu ramen yang memenuhi ruang. Jongdae terbiasa dengan ritme ini, tapi hari ini pikirannya melayang ke mana-mana. Ia memotong daun bawang, lalu mengganti mangkuk yang akan disajikan. Semua dilakukan nyaris otomatis, seperti tubuhnya bekerja sendiri sementara pikirannya sibuk menyusun kembali kepingan-kepingan kejadian semalam.
Saat jam istirahat tiba, Kinam mendekatinya dan menyentuh bahunya pelan.
“Ayo. Makan.”
Mereka menuju sekat ruang kecil di samping dapur—ruang istirahat berpendingin udara yang sempit, tapi nyaman. Ada dua bangku plastik, meja lipat, dan dispenser di sudut. Hari ini, semua staf mendapatkan jatah makan gratis dari ayah Kinam, jadi dua mangkuk ramen hangat sudah tersedia di meja. Jongdae duduk pelan, lalu mulai menyuapkan ramen.
Tangannya… masih gemetar. Sendoknya bergetar ringan setiap kali ia angkat. Kinam melihat itu, diam sebentar, lalu memanggil.
“Jongdae.”
Jongdae menoleh, kaget.
“Hm? Ada apa?”
Raut Kinam serius. Sorot matanya tajam tapi bukan marah—melainkan cemas.
“Aku tahu kau gak mau cerita. Tapi aku mau tahu. Tentang perbanmu. Tentang kamu yang kelihatan kayak habis keluar dari film laga semalam.”
Jongdae menatapnya. Hening sejenak.
Ia menarik napas panjang. Lalu mulai bercerita. Tentang Yuri. Tentang Seungjo. Tentang pria itu. Tentang malam panjang di rumah sakit, dan kengerian yang sempat membuatnya gemetar sampai pagi. Kinam ternganga. Mulutnya terbuka tapi tak ada kata yang keluar. Baru setelah beberapa detik, ia berseru,
“Ini… Ini kayak sinetron larut malam! Kau yakin ini bukan mimpi?”
Jongdae malah tertawa kecil.
“Aku juga berharap begitu.”
Kinam menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menatapnya tajam.
“Jongdae, mungkin kamu sudah gila. Serius. Kayak… gila beneran.”
Bukannya tersinggung, Jongdae tertawa lebih lebar.
“Terima kasih ya. Sudah bantu Naari pulang.”
Kinam mengangkat bahu.
“Awalnya kupikir kamu digebukin massa karena bawa kabur Anna atau semacamnya.”
Jongdae mencebik.
“Mana mungkin. Ini gak ada hubungannya dengan Anna.”
Mereka tertawa bersama. Suara mereka memantul di dinding ruang sempit itu. Tawa yang singkat, tapi hangat. Sejenak, Jongdae merasa ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan kembali ke tempatnya. Hari itu, makan siang mereka bukan hanya sekadar istirahat, tapi juga semacam pengingat bahwa di tengah segala kekacauan, selalu ada sahabat yang bisa membuatmu merasa manusia lagi.
Sambil mengaduk kuah ramen dengan sumpit, Kinam tiba-tiba memutar badan, mencondongkan tubuh ke arah Jongdae. Matanya bersinar dengan semangat seperti anak kecil yang hendak menceritakan kejailan.
“Oh, kau harus dengar ini,” katanya. “Kemarin ada ibu-ibu yang salah pesan ramen. Dia bilang mau yang pedas, tapi ternyata dia nggak tahan pedas. Baru sendok pertama langsung batuk-batuk. Tapi kau tahu lucunya? Dia yang marah-marah ke pelayan kita.”
Jongdae langsung terkekeh, menutup mulutnya agar kuah di sendok tidak tumpah.
Kinam melanjutkan,
“Dan si Gita—kau ingat Gita, yang kerja di dapur sore—dia malah masukin lobak ke ramen orang yang gak suka lobak. Pelanggannya sih diem aja, tapi koki senior kita langsung bentak, ‘Kau mau bikin restoran ini tutup?’” Kinam menirukan suara berat si koki dengan dramatis.
Jongdae tertawa terbahak-bahak sekarang. Pundaknya berguncang, wajahnya memerah sedikit karena menahan tawa terlalu keras.
“Serius. Hari itu ramen house kita kayak kapal pecah,” ujar Kinam bangga, “tapi tetap laku keras!”
Ia meneguk minumannya santai, sementara Jongdae masih tergelak.
Namun di antara canda tawa itu, tiba-tiba Kinam memanggilnya pelan.
“Eh, Jongdae…”
Jongdae menoleh, masih dengan senyum lebar. Tapi senyumnya pelan-pelan menghilang saat Kinam bertanya,
“Kau dan Anna… sudah sejauh mana, sih?”
Sendok di tangan Jongdae berhenti setengah jalan. Ia menatap Kinam sebentar, sebelum menunduk.
“Nggak sejauh apa-apa. Gak ada yang berubah.”
Kinam menaikkan satu alis.
“Jadi kau belum bilang ke dia? Tentang perasaanmu?”
Jongdae tak menjawab. Hanya diam. Sesaat, ruang istirahat kecil itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Bunyi AC terdengar jelas.
Kinam menyandarkan punggung ke dinding, menatap Jongdae dengan kepala miring.
“Kalau gitu, aku mau bilang satu hal lagi. Tapi jangan marah.”
Jongdae menatapnya, curiga.
“Apa?”
Kinam menatap mata Jongdae lekat-lekat, lalu berkata,
“Aku rasa… Seowon suka padamu.”
Kalimat itu seperti riak yang dilempar ke tengah kolam tenang. Hati Jongdae kembali bergejolak. Napasnya terasa berat. Ia menatap meja, lalu menarik napas pelan.
Kinam menunggu respon. Tapi tak ada satu kata pun yang keluar dari Jongdae.
“Woi,” Kinam mencoleknya, “kau denger gak?”
Jongdae mengangkat bahu.
“Aku denger. Aku cuma… gak tahu. Aku bahkan gak ngerti Seowon. Atau Anna. Atau diriku sendiri.”
Ia menatap Kinam, mencoba tersenyum.
“Kau enak. Cintamu jelas. Semua orang tahu betapa cintanya kau sama Jangmi. Kalau tubuhmu dibedah pun, orang bakal nemu Jangmi di setiap sudutnya.”
Kinam langsung mengacungkan sendok dengan gaya dramatis.
“Itu benar! Kalau kau buka hatiku, Jangmi ada di sana, duduk sambil makan tteokbokki. Kalau kau lihat jantungku… dia berdetak karena Jangmi. Aku ini Jangmiholic, bung.”
Jongdae tertawa kecil. Tapi tawanya terdengar berbeda. Ada kehampaan di situ. Ia menyendok kuah terakhir ramen, mencoba menepis perasaan yang mulai kembali memenuhi dadanya.
Kinam memperhatikannya lama. Lalu tiba-tiba bertanya,
“Jongdae…”
Jongdae menoleh.
“Selama ini… ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?”
Mata mereka bertemu. Dan Jongdae langsung mengerjap cepat. Pundaknya sedikit tegang. Bibirnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.
Ia bingung harus menjawab apa.
Ada yang terasa perih saat Jongdae duduk dalam diam, membiarkan pertanyaan Kinam menggantung di antara mereka seperti awan berat yang tak kunjung pecah. Dalam hati, Jongdae tahu betul bahwa ada sesuatu yang tak pernah benar-benar selesai di dalam dirinya. Ia memikirkan Seowon—bagaimana tatapan gadis itu meneduhkan dan kata-katanya selalu terukur, seperti mata air yang mengalir di padang gersang. Tapi Seowon begitu jauh, bahkan ketika ia berada di dekatnya. Hubungan mereka seperti benang bening yang rapuh, menghubungkan dua titik yang sibuk saling menjauh. Jongdae selalu merasa ia sedang berpegangan pada sesuatu yang nyaris tak kasatmata.
Lalu ada Anna. Kehadirannya seperti matahari yang muncul di sela awan mendung, hangat dan ringan. Tapi mungkin justru terlalu ringan. Jongdae menyukai Anna, itu tak bisa ia sangkal, tapi perasaan itu tak tahu harus berlabuh ke mana. Mungkin hanya rasa kagum yang tumbuh di tanah yang salah. Dan Kinam… sahabatnya sejak lama. Sosok yang membuatnya merasa masih punya rumah, bahkan di saat dunia terasa runtuh. Tapi betapa berat menyimpan kebenaran dari orang yang paling percaya padamu. Jongdae ingin jujur, ingin bicara, tapi bibirnya seperti terkunci oleh ketakutan yang belum selesai ia beri nama.
Ia beranjak pelan, mengambil air dari dispenser. Suara tetesannya menenangkan, tapi tak cukup untuk menjernihkan pikirannya.
Di belakangnya, Kinam masih duduk. Menunggu. Tak bersuara, tapi hadirnya terasa penuh. Pandangannya tak meninggalkan Jongdae sedikit pun, seolah mencoba membaca isi hati sahabatnya dari gerak tubuh yang ia kenal luar kepala. Jongdae kembali duduk, tidak untuk menjawab, hanya untuk meraih piring-piring bekas makan dan mulai membereskannya satu per satu. Tangannya bergerak tenang, seakan dengan membereskan sisa makan siang mereka, ia bisa membereskan juga segala yang berantakan di dalam dirinya. Tapi Kinam tahu. Ia tahu Jongdae belum sampai pada sebuah keputusan apa pun.
Setelah meja kembali kosong, Jongdae berdiri.
“Kita harus lanjut kerja,” katanya pelan.
Kinam tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Jongdae dengan mata yang mengerti—mata yang ingin mengerti lebih dalam lagi, tapi tahu kapan harus berhenti bertanya. Diamnya bukan menyerah, melainkan penghormatan terhadap kebingungan yang tak bisa dipaksakan untuk segera selesai.
Jongdae berjalan menuju ambang pintu. Tapi sebelum ia melangkah keluar, suara Kinam menghentikannya.
“Dae…”
Jongdae menoleh perlahan.
Kinam berdiri, mendekat, lalu menepuk pelan bahu Jongdae. Tatapannya lembut, tapi penuh ketegasan.
“Cepat atau lambat, kau harus memutuskan. Aku nggak tahu apa yang kau rasakan, aku juga nggak punya solusinya. Tapi jangan sampai karena kau ingin memiliki keduanya… kau justru kehilangan semuanya.”
Sentuhan di bahu itu ringan, tapi beratnya menembus sampai tulang.
Jongdae diam. Kata-kata itu masuk begitu dalam, seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Ia tidak tahu harus berkata apa. Yang ia tahu hanyalah—ia masih belum punya waktu. Bukan waktu untuk berkata jujur, tapi waktu untuk mengerti isi hatinya sendiri.
Mungkin memang bukan soal waktu yang tak pernah cukup. Mungkin justru waktunya sudah lewat, dan ia sedang menata ulang sesuatu yang bahkan ia tak tahu harus mulai dari mana.
Dan barangkali, ia memang akan kehabisan waktu.
***
Bus malam itu tidak penuh. Lampu kabin redup, memantulkan bayangan samar penumpang yang tertidur dengan kepala bersandar pada jendela. Jongdae duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar sembari mengumpulkan sisa tenaga. Jalanan Jeonsa terlihat tenang, lampu toko-toko mulai dipadamkan satu per satu, hanya menyisakan deretan lampu jalan yang menyala kekuningan. Udara masih dingin, menggigit kulit meski ia sudah mengenakan jaket.Bus melewati jembatan kecil yang mengarah ke jalan utama di kawasan barat Jeonsa. Jongdae mulai mengantuk, kepalanya sempat terangguk sebelum ia buru-buru menegakkan tubuh. Beberapa halte berlalu hingga akhirnya ia berdiri dan turun di halte dekat gang menuju apartemennya—sekitar dua ratus meter dari Café Dalbit. Ia menyelipkan kedua tangan ke dalam saku jaket dan melangkah perlahan.
Angin malam menyapa kulitnya, namun pikirannya masih tertinggal di dapur restoran ramen. Ia ingat bagaimana Kinam menceritakan ibu-ibu yang salah pesan dan staf yang dimarahi koki gara-gara lobak. Senyum tipis muncul di wajahnya, tapi segera memudar ketika pikirannya mengarah pada Kinam yang menepuk bahunya siang tadi. Kata-kata sahabatnya masih menempel di dada seperti tempelan catatan yang belum sempat disingkirkan: Jangan sampai hanya karena ingin memiliki keduanya, kamu harus berakhir pada kehilangan. Di tengah langkahnya yang melambat, Jongdae berhenti di depan sebuah convenience store. Lampunya masih terang. Pintu kaca itu mengembalikan ingatan—tentang malam ketika ia dan Yuri duduk di sana, menyantap bento sambil berbagi keheningan dan sesekali obrolan ringan. Sebelum ia melangkah masuk, ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor rumah sakit.
Han Yuri dan Seungjo sudah siuman. Seungjo sudah bisa duduk pelan-pelan. Dokter akan mengamati perkembangannya malam ini.
Jongdae menghela napas, hangat dan lega. Jari-jarinya cepat membalas:
Terima kasih. Mungkin aku akan menjenguk mereka besok atau lusa.
Ia masuk dan langsung menuju rak makanan instan. Tangannya sudah meraih salah satu bento ketika mendadak terdengar gumaman pelan di sebelahnya. Jongdae membeku.
Suara itu… ia tahu suara itu.
Pelan-pelan, ia menoleh. Sosok yang berdiri di sebelahnya sedang memandangi barisan bento dengan dahi sedikit berkerut, tampak bingung memilih. Seowon.
Rambut Seowon digerai malam itu, hitam dan panjang, jatuh lembut di sisi bahunya. Ia mengenakan mantel panjang berwarna gading di atas seragam sekolah yang rapi, padanan rok plaid dengan kaus kaki gelap dan sepatu pantofel bersih. Jongdae menatapnya lama, menyadari betapa wajah itu selalu memberi efek aneh di dadanya, bahkan sekarang.
Ia memanggil, pelan, “Seowon.”
Seowon menoleh, pelan juga, dan mata mereka bertemu. Tidak ada ketegangan seperti semalam. Yang tersisa hanya kehangatan tipis yang muncul seperti asap dari cangkir teh di hari dingin.
Seowon tersenyum kecil. “Jongdae?”
Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Baru pulang kerja?”
Jongdae mengangguk. “Iya, dari restoran Kinam.”
Tatapan Seowon turun sebentar, menatap jaket Jongdae yang kusut, lalu kembali menatap wajahnya. “Mau makan bersama?” tanyanya.
Jongdae mengangguk pelan.
Beberapa menit kemudian mereka duduk di sudut ruang bebas rokok convenience store. Mereka duduk berdampingan, di meja kecil menghadap ke jendela besar yang memperlihatkan jalan raya yang mulai lengang. Lampu kendaraan sesekali melintas, memantul di panel kaca. Di luar, angin dingin menerpa dedaunan kering di trotoar, menari tanpa irama.
Isi bento mereka sederhana—satu porsi ayam goreng tepung dengan saus asam manis, nasi putih, potongan kimchi, dan telur rebus setengah. Di sisi lainnya ada selembar rumput laut kering dan salad kol kecil. Makanan biasa yang malam ini terasa berarti. Seowon membuka sumpitnya. Tapi sebelum menyuap apa pun, ia melihat tangan Jongdae. Tatapannya berhenti pada perban di pergelangan dan luka samar di sekitar jari.
Jongdae tahu ia diperhatikan. Ia langsung membuka suara.
“Ini nggak apa-apa. Luka ringan.” Suaranya lirih tapi tegas. “Akan cepat sembuh.”
Seowon tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk kecil, lalu mulai makan.
Mereka makan perlahan, tidak terburu-buru, tapi juga tidak bicara apa-apa. Pikiran mereka sibuk di kepala masing-masing. Sampai akhirnya Jongdae bertanya, “Kamu habis dari mana?”
Seowon menoleh, lalu mengangguk. “Baru pulang dari pameran buku, di sebelah timur Jeonsa.”
Ia membuka kantung belanja di sisi kakinya dan menunjukkan isinya. Ada dua buku novel baru, tiga notes dengan sampul motif sederhana, dan beberapa alat tulis baru. Pensil mekanik, satu set pena warna, dan penggaris lipat.
Jongdae melihatnya, lalu tersenyum kecil. “Kebiasaanmu nggak berubah.”
Seowon juga tersenyum. “Buku-buku itu tetap menyelamatkanku dari hari yang berat.”
Seowon beranjak dari kursinya, menggumam bahwa ia lupa membeli minum. Padahal Jongdae jelas melihat botol minuman Seowon masih setengah penuh di atas meja, dibiarkan begitu saja seperti sesuatu yang belum selesai. Namun ia tak berkata apa-apa. Hanya mengangguk pelan, membiarkan gadis itu pergi menyusuri lorong lorong rak convenience store yang diterangi lampu putih kelelahan. Saat Seowon menjauh, keheningan mengambil alih. Jongdae bersandar sebentar, menatap cermin kaca besar di depannya yang memantulkan siluet tubuhnya sendiri, duduk di tengah malam yang nyaris membeku. Pandangannya kosong, tetapi pikirannya penuh.
Pikiran yang pelan-pelan membawanya ke masa lalu. Kenangan samar tentang Seowon yang duduk di sebelahnya saat mereka masih SMP—berdua menyantap bekal dalam diam, di pojok sekolah yang tak terlihat siapa-siapa. Saat itu Seowon masih bersama Min Sechan, seorang pemuda satu sekolah yang mudah sekali marah jika pesannya tak dibalas tepat waktu. Seowon bercerita, suaranya selalu lirih, tentang bagaimana ia merasa tak bebas—waktunya dikurung, pergaulannya dibatasi, bahkan dirinya sendiri perlahan terasa seperti milik orang lain. Dan saat bersamanya, bersama Jongdae, Seowon tertawa. Bebas. Tenang.
Namun bahkan saat itu, Jongdae belum sepenuhnya tahu apa itu cinta. Ia tak menjawab pesan Seowon bukan karena tak peduli, melainkan karena ia merasa tak berhak. Seowon belum sepenuhnya miliknya—dan ia terlalu menghargai setengah bagian itu, bagian yang masih milik Sechan. Sekarang, waktu telah berjalan jauh. Tapi keadaan seakan tak berubah. Jongdae masih merasa seperti rahasia. Seperti bayang-bayang. Dulu ia disembunyikan. Dan sekarang pun, mereka masih bersembunyi dari dunia yang sama, hanya saja caranya berbeda. Seowon kini tampak seperti ingin menunjukkan sesuatu, membuktikan keberadaan mereka—namun tetap dalam diam. Dan ironisnya, Jongdae tidak merasa sakit memikirkan Sechan. Tidak merasa cemburu, atau iri. Yang menyakitinya adalah kesadaran bahwa mereka berdua seperti hologram. Ada, tapi tidak bisa disentuh. Terlihat nyata, tapi tak pernah utuh. Sebuah kebersamaan yang lebih banyak diisi diam dan tanya, daripada jawaban dan suara.
Tangannya bergerak membuka tutup botol soda limun di hadapannya, mencoba mengalihkan kekacauan di dalam dadanya. Tapi suara gemerisik dan kehadiran yang tiba-tiba membuatnya terkejut.
Seowon sudah kembali dan duduk di tempatnya, tanpa suara. Jongdae tersedak kecil karena kaget, membuatnya terbatuk. Seowon segera menepuk pelan punggungnya—tenang, tidak panik, seperti seseorang yang sudah tahu caranya meredakan badai kecil. Lalu Seowon mengeluarkan sesuatu dari kantung plastik yang dibawanya. Perban. Plester. Alkohol kecil. Kain kasa. Jongdae mengerutkan kening. Namun Seowon tak melihatnya. Ia sibuk mengatur benda-benda itu di atas meja, seolah mereka memang ada di ruang UKS dan bukan di sebuah convenience store jam sembilan malam.
“Hari ini harus diganti,” gumam Seowon, lirih. “Plester sama perbanmu. Beberapa mulai longgar.”
Jongdae melongok ke arah tangannya sendiri. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali mengganti perban itu. Tapi yang lebih membuat dadanya berdentum adalah fakta bahwa Seowon tidak bertanya satu pun tentang apa yang terjadi padanya. Tidak menuntut cerita. Tidak memaksa jawaban.
“Jongdae,” panggil Seowon pelan, “duduknya agak dekat. Biar aku bisa lihat lukanya.”
Tanpa protes, Jongdae bergeser. Mendekat. Membiarkan Seowon menyentuhnya dengan tangan yang hati-hati, dingin dan hangat dalam waktu bersamaan.
Dan ketika tangan itu menyibak perban lama dan menggantinya dengan yang baru—ketika sentuhan itu membasuh luka yang belum mengering dengan alkohol yang perih—Jongdae hanya bisa diam. Bukan karena sakit. Tapi karena dadanya sudah penuh oleh rasa yang tak bisa dijelaskan.
Ia menatap Seowon dalam diam. Menatap rambut hitam panjang yang tergerai rapi, leher yang kadang memerah oleh dingin, mata yang penuh konsentrasi seperti paramedis yang sudah terlatih. Ia tak bisa mendengar isi pikirannya sendiri, karena semuanya tertutup oleh gemuruh yang ditimbulkan oleh keberadaan gadis ini.
Seowon.
Yang dulu diam-diam mengisi ruang di hidupnya dan sekarang, tanpa suara, mulai merawat luka yang bahkan belum sempat ia ceritakan.
Mereka beranjak dari convenience store, berjalan berdampingan dalam diam. Malam akhir pekan ini sedikit lebih sibuk dari biasanya. Lalu lintas ringan tetap menyala, suara langkah kaki orang-orang yang baru keluar dari restoran terdengar sayup. Lampu-lampu jalan berpendar kekuningan, memantul pada aspal yang dingin oleh embun. Meskipun esok adalah hari Senin dan awal musim dingin, kota masih menggeliat, belum sepenuhnya mengantuk. Seowon membawa kantung belanja berisi buku-buku, notes, dan beberapa alat tulis baru yang tadi ditunjukkannya. Sesekali ia menatap jalan di depan tanpa ekspresi jelas. Jongdae yang berjalan di sampingnya melirik, lalu membuka suara dengan pelan,
“Biar aku saja yang bawa.”
Langkah Seowon melambat. Tangannya yang menggenggam tali kantung belanja itu mengencang sejenak, seperti sedang mempertimbangkan. Kemudian ia menoleh singkat ke arah Jongdae dan mengangguk pelan, menyerahkannya tanpa kata. Sentuhan tangan mereka nyaris tak bersentuhan, tapi Jongdae bisa merasakan betapa dinginnya kulit Seowon malam itu.
Mereka kembali berjalan. Namun langkah itu menyeret Jongdae kembali ke dalam pikirannya sendiri. Empat tahun. Tentu bukan waktu yang sebentar. Mereka bersama dalam cara yang tak pernah utuh, dalam bentuk yang sulit dijelaskan. Tidak pernah benar-benar terang, tapi juga tidak sepenuhnya gelap. Jongdae selama ini tidak mempermasalahkan jika dirinya adalah bayangan, atau sosok yang disembunyikan, karena rasanya cukup hanya dengan tahu Seowon ada.
Tapi ketiadaan yang terasa nyata itu mulai tergeser. Sesuatu hadir. Jo Anna.
Padahal dulu pun ada Sechan. Pemuda yang mengisi hari-hari Seowon ketika mereka masih SMP. Mungkin... mungkin saja selama ini bukan hanya Seowon yang menyembunyikan Jongdae, tapi juga Jongdae yang tak berani menunjukkan Seowon. Mungkin selama ini mereka hanyalah catatan kaki dalam hidup satu sama lain—sebuah sinopsis yang tak pernah menjadi cerita penuh. Tapi jika begitu, bagaimana dengan Anna? Itu akan tidak adil.
Lalu suara itu datang. Lembut, tapi seolah menembus lapisan lamunan Jongdae.
“Aku sudah tidak bersama Sechan.”
Langkah Seowon terhenti. Matanya lurus ke depan, bibirnya sedikit bergetar saat mengucapkannya, seperti kata itu sudah lama mengendap di dasar dadanya. Tidak ada emosi berlebihan, hanya tenang yang keliru. Suaranya ringan, tapi menyimpan retakan yang tidak terlihat.
Jongdae menghentikan langkah, menoleh cepat. Suara itu terlalu tiba-tiba. Tatapannya menemukan wajah Seowon yang setengah tenggelam dalam cahaya lampu jalan. Ia tidak menangis, tidak tersenyum, hanya berdiri diam seperti baru saja melepaskan sesuatu yang berat dari pundaknya.
“Kamu tidak tanya sejak kapan?” ucap Seowon lagi. Kali ini ia menoleh, mata hitamnya menatap Jongdae, tapi seperti tak melihatnya.
Ekspresinya datar, tapi matanya menyimpan sesuatu. Ada letih yang tak bisa dijelaskan. Ada gugup yang ditahan keras-keras. Jongdae membalas tatapan itu dengan kebingungan. Dadanya sesak, tapi tidak tahu oleh apa.
Kemudian terdengar helaan napas berat dari Seowon. Jongdae tidak tahu kenapa Seowon tiba-tiba memberitahunya ini. Bukan setelah empat tahun. Bukan setelah mereka terbiasa saling diam untuk menjaga keutuhan yang mereka sendiri tak pahami.
“Aku harus... apa?” suara Jongdae keluar pelan, nyaris seperti bergumam. Ia sendiri tak yakin sedang bertanya atau menjawab sesuatu. Tapi kalimat Seowon tadi seperti memanggil badai dari dalam dirinya. Angin gelisah mulai berputar.
Namun Seowon tak menjawab. Ia hanya berbalik dan mulai melangkah lagi, mendahului Jongdae. Punggungnya menjauh dalam diam yang terasa jauh lebih keras dari kemarahan.
Jongdae langsung menyusul. Ia mensejajarkan langkahnya dengan mudah, lalu bertanya, “Apa kamu marah?”
Seowon masih diam. Pandangannya lurus ke depan, tidak ada getar di wajahnya tapi juga tidak ada ketenangan. Ia terus melangkah, hingga Jongdae akhirnya meraih tangan gadis itu, menahan pelan tapi mengeras karena gugup yang tidak terbendung.
Seowon berhenti. Mereka bersitatap. Mata mereka bertemu, dan Jongdae melihat kabut lain di mata itu. Kabut yang baru, yang tak bisa dia baca, tak bisa dia mengerti. Seowon tampak seperti menyimpan jawaban, tapi membiarkannya terkunci.
“Harusnya aku merasa menang setelah ini?” tanya Jongdae lagi. Suaranya rendah, nyaris pecah.
Seowon seperti tertikam pelan-pelan. Mulutnya terbuka sedikit, tapi tak ada kata yang keluar. Hanya embusan napas yang berat, seperti tubuhnya menahan sesuatu yang terlalu penuh.
Jongdae menatapnya lama. “Tapi menang untuk apa?” lanjutnya. “Aku bahkan tak pernah berada dalam pertarungan apa pun.”
Seowon mencelos. Matanya jatuh ke tanah, seperti enggan menatap kenyataan yang ditawarkan oleh kalimat itu. Malam itu turun badai yang pekat—bukan hujan, tapi badai yang hanya terdengar dalam hati. Pekat dan menggulung. Tapi Seowon mencoba memahami. Mungkin ia juga salah. Mungkin selama ini ia tak benar-benar jujur pada Jongdae. Atau mungkin... mungkin ini adalah karma. Dan Jongdae hanya sedang memantulkan luka yang pernah dia tanam tanpa sadar.
Seowon tetap diam. Namun ketika Jongdae menyadari bahwa genggamannya pada pergelangan tangan Seowon sedikit mengeras, ia buru-buru melepasnya. Seowon meringis pelan—bukan karena sakit, tapi karena getir yang menyelinap begitu cepat.
Malam itu terasa jauh dan mereka berdua seperti dua titik yang hampir bertemu, tapi ditarik mundur oleh sesuatu yang tak terlihat.
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Seperti waktu yang enggan berjalan maju, dan justru bergerak mundur pelan-pelan, membawa Jongdae kembali ke tempat-tempat yang tak ingin ia kenang terlalu lama. Ia tidak sepenuhnya mengerti Seowon. Tidak bisa membaca diamnya. Tidak tahu harus mencemaskan emosi gadis itu atau justru membiarkannya meledak jika memang ingin Tapi entah kenapa, kegelisahan itu tidak datang. Bukan seperti kemarin, bukan seperti malam sebelumnya, bukan seperti saat ia mencuri waktu untuk berpikir apakah Anna bisa menggantikan segalanya. Tidak.
Malam ini seperti perasaan yang letih. Seperti tubuh yang sudah terbakar habis, dan hanya menyisakan napas panjang yang hampa. Ia dan Seowon tetap berjalan berdampingan, seperti dua garis sejajar yang tidak saling menyentuh tapi belum juga berpisah. Ada dan tiada. Bersama tanpa berpegangan. Tidak tahu harus ke mana. Lalu Seowon menoleh, untuk pertama kalinya sejak lama. Getir tergambar di matanya, kali ini pancaran emosinya benar-benar menyala.
“Apakah ini karmaku?” tanyanya.
Suara itu lirih, tapi pecah di udara seperti retakan es yang akhirnya patah.
Jongdae tertegun. Lama. Sangat lama, hingga hanya suara kota yang menjawab pertanyaan Seowon—klakson jauh di ujung jalan, angin yang mengayun spanduk, langkah kaki pejalan kaki lain yang tidak peduli pada dunia kecil yang retak di antara mereka.
Jongdae tidak menjawab. Ia tidak tahu jawabannya. Ia hanya merasa sedikit sakit di tempat yang tidak terlihat, di sisi dirinya yang tidak pernah dikenalnya dengan baik. Dan untuk malam ini, ia terlalu lelah untuk terkejut lagi oleh semesta.
Ia melangkah, berdiri tepat di hadapan Seowon.
Gadis itu kecil sekali sekarang. Dulu pun memang begitu, tapi kini terasa lebih jauh, lebih tipis dari udara. Tingginya hanya sampai dagunya, namun ada sesuatu yang lebih rendah lagi dari itu: jarak yang tidak bisa dijembatani oleh tangan.
“Ayo pulang,” kata Jongdae akhirnya. “Aku akan menemanimu sampai rumah.”
Ia nyaris meraih tangan Seowon, nyaris. Tapi gadis itu lebih dulu melangkah. Satu langkah kecil yang membuat Jongdae menarik napas panjang, pelan, seperti mencoba meredakan sesuatu yang belum bernama.
Langkah mereka menyatu kembali, tapi rasa di antara mereka tidak.
Perjalanan menuju rumah Seowon terasa seperti jalan pulang yang salah arah. Di sisi kiri dan kanan, lampu-lampu toko mulai meredup, dan suara kendaraan mulai berkurang. Semakin dekat ke arah rumah Seowon, semakin senyap pula kota malam itu.
Rumah itu masih sama. Rumah kecil khas Korea, berdinding batu bata dengan jendela kayu tua yang ditutup tirai krem. Bukan rumah bertingkat, tapi memiliki loteng mezzanine di dalamnya. Jongdae masih ingat. Dulu ia pernah ke sana, di tahun pertama SMP, saat diminta Seowon datang untuk belajar memperbaiki pemanggang roti yang rusak.
Waktu itu Seowon hanya duduk di lantai, memerhatikan sambil memakan jelly. Ayahnya seorang mekanik. Dari lelaki itu Jongdae belajar membongkar kabel, menyambung saklar, membaca arus. Ia belajar agar bisa memperbaiki sendiri barang-barang di rumahnya. Supaya Eomma bisa berhemat. Supaya beban mereka tidak bertambah lagi.
Taman kecil di depan rumah itu masih ada. Tempat Ibu Seowon biasa menanam daun bawang dan bunga zinnia. Jongdae masih bisa mengingat bau tanah lembap dan suara radio kecil dari dapur yang memutar lagu-lagu lama. Rumah ini tenang. Tidak bising seperti apartemennya sendiri.
Mereka berhenti di depan pagar. Seowon belum bicara. Sepanjang jalan hanya diam dan langkah kaki.
Jongdae tidak berusaha menyela. Ia diam saja. Tubuhnya letih, matanya berat, dan kepalanya terasa seperti diisi awan mendung yang tak kunjung pecah.
Ia menyerahkan kantung belanja pada Seowon.
“Sudah sampai,” ucapnya. Suaranya rendah, nyaris habis. “Terima kasih... karena sudah mengganti perban dan plesternya.”
Seowon tak menjawab. Tangan kecilnya mengambil kantung itu, lalu menunduk sedikit. Diam yang sangat lama. Seperti kata-kata menumpuk di ujung lidahnya tapi tak berani melompat ke dunia.
Saat Jongdae hendak berbalik pergi, ia mendengar langkah Seowon menggeser kerikil kecil di depan gerbang.
“Jongdae.”
Suaranya pelan sekali. Tapi cukup kuat untuk menghentikan langkah siapa pun yang ingin pergi.
Jongdae berhenti. Helaan napas berat keluar dari bibirnya.
Seowon menatapnya. Mata itu kembali basah tapi belum benar-benar menangis. Di dalamnya ada tanya, ada luka, ada cinta yang tersisa dan tak tahu harus ke mana.
“Bisakah kita memperbaiki segalanya?”
Itu bukan pertanyaan biasa. Itu adalah permintaan, harapan, juga luka dalam satu waktu.
Jongdae merasa terhempas. Punggungnya terasa lebih dingin dari sebelumnya. Kata-kata itu seperti kabut yang membelit lehernya, membuatnya sulit bernapas.
Ia menarik napas panjang. Hari ini terlalu panjang. Terlalu berat. Tapi Seowon sudah meletakkan sesuatu di tangannya yang kosong. Maka ia menjawab, dengan suara yang tidak terlalu lantang, tapi cukup untuk menyentuh dasar hati.
“Aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana,” ucapnya. “Kalau memang bisa.”
Keheningan kembali mengunci mereka. Tapi kali ini, heningnya menyakitkan. Seperti luka yang dibuka lagi. Seperti jurang yang menganga di antara dua hati.
Satu sisi ingin menarik. Satu sisi ingin berlari. Satu sisi ingin tinggal, tapi semua sisi takut untuk kehilangan.
Mereka tidak ingin pergi. Tapi mereka juga tidak tahu bagaimana caranya tinggal tanpa terus saling melukai.
Rumit.
Begitu rumit sampai dunia pun enggan ikut campur.
Daftar Chapter
Chapter 1: Prolog
173 kata
Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...
7,102 kata
Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...
5,276 kata
Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu
6,005 kata
Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi
6,094 kata
Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...
7,734 kata
Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama
8,481 kata
Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah
11,467 kata
Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti
6,238 kata
Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup
5,144 kata
Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu
5,994 kata
Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan
6,065 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!