')">
Progress Membaca 0%

Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan

Alvianti Purnamasari 30 Mar 2026 6,065 kata
GRATIS

Langit kota Jeonsa siang itu bergelayut kelabu pucat, kota itu mulai menurunkan salju di awal musim dinginnya. Jejak-jejak putih di pinggiran trotoar mulai terbentuk, menyisakan sedikit warna aspal dibalik lapisan es tipis yang mengilat diterpa cahaya matahari musim dingin. Udara tetap dingin, menusuk sampai tulang, tetapi tak sekejam November yang baru berlalu.

Di dalam Chenchun Dak, kehangatan membaur bersama aroma harum ayam goreng yang menguar dari dapur. Restoran itu tidak ramai, hanya beberapa meja terisi. Di belakang, dari balik pintu dapur, terdengar suara gorengan minyak yang sesekali pecah, lalu sunyi lagi. Pukul dua siang—waktu yang tenang di antara gelombang makan siang dan sore hari.

Geum Jongdae mengganti jaketnya di ruang staf. Jaket parka warna arang yang agak lusuh tapi masih cukup menghalau dingin. Di dalamnya, ia mengenakan sweater rajut biru tua dengan kerah putih yang sedikit terlihat, celana jeans hitam, dan sepatu sneakers yang warnanya sudah tak sepenuhnya putih. Tangannya membawa ransel kecil dan dua kotak ayam goreng. Salah satunya bonus dari Jaewoo karena memasuki musim dingin awal, satunya lagi—dengan porsi khusus untuknya—karena Jaewoo bersikeras, "Kau makin kurus, seperti anak ayam kurang makan, Dae-ya."

Areum menyerahkan kotak itu sambil terkekeh, dan Jongdae hanya tersenyum kecil. Ia sudah bersiap pulang, langkahnya ringan karena tahu hari ini tak ada jadwal tambahan. Saat hendak keluar dari ruang staf—baru saja melewati dapur—ia berpapasan dengan seseorang yang tak ia duga.

Jo Anna.

Areum, yang berada di antara mereka, tampak membaca situasi sekejap sebelum berlalu tanpa berkata apa-apa, menyisakan udara yang hening selama dua detik.

Anna akhirnya membuka suara duluan, “Kamu kerja di sini?”

Jongdae mengangguk, suaranya tenang, “Iya. Shift pagi, karena ini hari libur bagi sebagian orang, tapi tidak untuk pekerja paruh waktu seperti aku.”

Anna tampak mengerti, lalu menatap sekeliling, “Aku sendirian, tadi habis makan siang. Kakakku bilang ayam goreng di sini enak, jadi aku coba.”

“Sendirian?” tanya Jongdae.

Anna mengangguk ringan. “Iya.”

Kemudian ia bertanya, “Dalbit tutup ya?”

“Masih bagian dari Dalbit,” ujar Jongdae sambil menyandarkan tubuh pada kusen pintu. “Tapi Dalbit memang tutup sementara.”

Anna kembali mengangguk, lalu beranjak ke wastafel untuk mencuci tangan. Jongdae berjalan perlahan ke arah pintu, sempat menoleh dan melambaikan tangan pada Jaewoo, Areum, dan Honyun yang sedang memulai shift mereka. Tapi sebelum ia benar-benar menekan pintu keluar, suara itu memanggilnya lagi.

“Jongdae.”

Ia berhenti. Menoleh. Anna sedang menghampirinya dengan langkah pelan.

“Ada apa?” tanyanya, nada suaranya datar, tetapi tidak dingin.

Anna berdiri di hadapannya, agak canggung, kedua tangannya meremas ujung mantelnya. “Aku… boleh jalan pulang bareng?”

Jongdae menatapnya sejenak. Tidak ada desiran tajam di dadanya, tidak ada gelombang perasaan yang mendesak keluar seperti dulu. Tapi anehnya, ia tidak merasa hampa. Justru ada ketenangan, seperti air danau yang membeku di pagi hari—diam, tapi ada.

Ia mengangguk.

“Boleh.”

Dan saat mereka mulai melangkah keluar dari Chenchun Dak, udara musim dingin menyambut dengan sunyi. Jongdae menatap jalanan yang memantulkan sinar matahari pucat, lalu mencuri pandang ke arah Anna. Gadis itu berjalan di sampingnya dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh.

Ia tidak mengerti kenapa, tapi hari itu hatinya lebih tenang. Lebih ringan. Bukan karena Anna mengisi kekosongan, tapi karena ia mulai melihat, bahwa hatinya memang tidak kosong sejak awal—hanya belum tahu di mana letak penuhnya.

“Sejak kapan Dalbit tutup?” tanya Anna, memecah keheningan dengan suara ringan yang terpantul di antara gedung-gedung toko yang berbaris tenang.

Jongdae menjawab tanpa banyak jeda, “Akhir November kemarin, sebelum musim dingin. Aku lupa tanggal pastinya.”

Sebenarnya, ia tidak lupa. Ia hanya memilih tidak mengingat. Malam-malam itu terlalu sunyi, terlalu penuh napas yang berat dan kantuk yang tak datang. Dalbit yang tertutup bukan cuma tempat, tapi juga serpihan kenangan yang ingin ia benamkan dalam diam.

Anna berseloroh pelan, suaranya disertai sedikit cemberut manja, “Sayang sekali. Aku suka cokelat panas Dalbit… dan pastry-nya. Sekarang harus cari tempat lain.”

Jongdae hanya menanggapinya dengan senyum. Ringan, tapi tidak terlalu panjang. Ia lalu mengalihkan pandangan ke arah jalan yang membentang di hadapan mereka, dan membuka pertanyaan, “Kamu liburan musim dingin nanti mau ke mana?”

Anna tampak berpikir sejenak, lalu menjawab, “Liburan nanti, aku akan pergi bareng keluarga. Mungkin ke Yangpyeong. Ayah bilang ada pemandian air hangat di sana, jauh dari Jeonsa. Katanya bagus untuk musim dingin.”

Suaranya terdengar ceria, seperti anak kecil yang menantikan hal menyenangkan. Ia kemudian menatap Jongdae dengan sedikit ragu, “Kalau kamu? Gak ada rencana liburan nanti?”

Jongdae menggeleng perlahan. “Kerja saja,” katanya singkat. “Tidak ada rencana.”

Anna mengangguk, seolah mengerti. Tetapi setelahnya, tidak ada percakapan lanjutan. Mereka kembali diam.

Jalanan Jeonsa siang itu tampak lengang, hanya beberapa pejalan kaki melintas dengan mantel tebal dan kantung belanja di tangan. Sisa salju menempel di atap toko-toko dan sela-sela pepohonan yang meranggas. Angin meniup halus, membuat daun-daun kering terangkat sejenak lalu jatuh kembali ke aspal basah yang mulai menghitam.

Langkah mereka berdua bergema pelan di trotoar. Jongdae menarik napas panjang. Udara terasa bersih tapi hampa.

Dalam pikirannya, Jongdae kembali mengukur jarak yang tak kasat mata—jarak antara dirinya dan Anna.

Ia mengingat bagaimana beberapa waktu terakhir Anna sering muncul dalam hidupnya seperti bulan yang terus mengorbit pada satu titik. Perhatian yang semula jauh, perlahan jadi dekat. Perubahan yang Jongdae sadari, tetapi tak pernah tahu harus bagaimana menanggapinya. Ia terus saja membiarkannya, mengikuti alur seperti arus sungai yang tenang, padahal seharusnya ia tahu apakah dia harus berenang atau menepi.

Dan ketika ia membandingkan Anna dengan Seowon—semuanya terasa kabur. Sejak malam itu, sejak kata-kata Seowon menggantung di antara jarak dan diam, Jongdae merasa ada yang berubah.

Seowon menunduk setiap kali berpapasan, diam seperti menyimpan suara yang tak sanggup dikeluarkan. Ada sesuatu dalam diam itu yang justru mengganggunya, membuat dadanya sesak, seperti ada pintu yang tertutup separuh tapi tak bisa ia buka sepenuhnya.

Sementara bersama Anna… tidak ada degup seperti sebelumnya. Tidak ada desakan yang membuatnya ingin lebih dekat. Yang ada hanyalah ketenangan, dan ketenangan itu terasa ganjil. Seperti ada yang hilang, sesuatu yang dulu pernah muncul tapi kini lenyap begitu saja.

Ia bertanya dalam hati: bukankah jika seseorang menyukai orang lain, ia akan merasa bergetar? Tapi mengapa yang ia rasakan kini justru datar, tenang, kosong?

Padahal Anna tidak melakukan apa-apa kepadanya. Tidak pernah menyakitinya. Tapi… mengapa hatinya diam saja?

Dan pertanyaan itu menggantung di dadanya saat mereka terus berjalan—berdua, tapi seolah masing-masing berada di lintasan pikirannya sendiri.

 

 

Mereka berjalan melewati taman kecil di pusat kota. Salju yang setengah menumpuk membentuk kilau tipis di atas tanah. Anak-anak berlarian melempar bola salju, seorang ayah membetulkan syal putrinya, dan di salah satu bangku taman, sepasang muda-mudi duduk rapat, membagi hangat lewat satu pasang earphone. Suasana damai yang seolah tidak pernah diusik dunia. Anna menatap mereka lalu bergumam, "Dulu aku pikir dunia isinya orang jahat semua."

Jongdae menoleh. Matanya mencari kebenaran di balik kalimat itu.

"Aku ikut Taekwondo bukan cuma karena kakakku," lanjut Anna. Suaranya seperti benang yang ditarik pelan dari gulungan. "Waktu SMP... aku dibully. Difitnah. Dibilang mukul orang, padahal aku bahkan nggak ngerti kenapa. Sejak itu, teman-teman mulai menjauh, bahkan ada yang iseng dorong aku dari tangga. Aku nggak bisa ngelawan."

Langkah Jongdae melambat. Ia menatap Anna yang menunduk. Selubung jarak yang dulu membungkus gadis itu, sekarang perlahan tersingkap. Tapi ia tetap diam. Membiarkan angin musim dingin mendampingi cerita itu.

"Aku sampai merengek ke orang tuaku, minta homeschooling. Tapi mereka nggak bisa. Aku cuma masuk saat ujian. Sisanya bolos. Rasanya kayak neraka setiap masuk sekolah." Wajah Anna menegang saat bercerita, meski senyum tipis tetap bertahan seperti garis pertahanan terakhir.

"Makanya... waktu pertama kali lihat kamu, aku langsung waspada. Aku takut, bukan karena kamu aneh... tapi karena aku selalu pikir semua orang itu jahat. Dunia kayak musuh yang nggak pernah habis."

Jongdae tercekat. Ia tidak tahu, gadis cerah yang ia lihat sekarang pernah hidup dalam lorong sesak dan gelap seperti itu.

Anna menatapnya, menyesal. "Maaf kalau dulu aku seperti menghakimi kamu. Aku cuma... belum bisa percaya siapa-siapa."

Sunyi. Lalu Jongdae berkata, "Jadi... wajahku ini seperti maling, ya? Seperti kriminal?"

Anna terdiam, lalu tertawa lembut. "Bukan gitu. Aku tahu kamu baik. Aku bisa rasa itu."

Dan kalimat itu menghantam Jongdae, tepat di dadanya. Ia menunduk. Takut. Takut merasakan debar halus itu kembali. Tapi saat ia hitung... kosong. Tak ada apa-apa. Hanya sunyi yang menetap.

Dan saat mereka sampai di persimpangan, Anna menatapnya.

"Aku senang ketemu kamu hari ini."

Jongdae ingin menjawab sesuatu. Tapi hanya anggukan yang keluar.

Anna menatap matanya pelan-pelan. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Apa?"

"Kamu... sedang menyukai orang lain?"

Hening. Salju turun lagi. Satu per satu, pelan, seolah tahu bahwa waktu tak bisa selamanya berhenti.

Dan dalam hatinya, Jongdae tahu: jawabannya adalah iya. Tapi rasa itu tak bisa dijawab sembarangan. Karena perasaan bukan tentang memilih siapa yang paling indah, tapi siapa yang tetap tinggal saat dunia ambruk.

 

 

Ketika pertanyaan itu bergaung, menyatu dengan angin yang menyisir daun-daun kecil di atas kepala mereka, Jongdae terdiam. Badai itu datang kembali. Lebih hebat dari yang lalu, lebih diamuk, lebih dalam. Ia seolah jatuh ke dalam lubang yang hitam dan tak berdasar—namun jauh di dasar sana, samar sekali, ia merasa ada cahaya yang masih menunggu. Entah di mana.

Taman kota senyap dalam kilau senja yang sebentar lagi habis. Cahaya matahari terakhir mengendap di ujung bangku, memantul pada riak air di kolam kecil yang nyaris beku oleh ketenangan. Pepohonan menggeliat pelan ditiup angin, menebar aroma tanah yang lembap. Di kejauhan, suara tawa anak kecil memudar, digantikan dengan cicit burung yang akan pulang. Segalanya terasa ringan, seolah dunia sedang menahan napas. Hening yang tidak menakutkan, tapi mengundang untuk menyelam lebih dalam.

Anna tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di sisi Jongdae, menunggu. Wajahnya seperti biasa—tenang, hampir datar. Tak ada dorongan untuk mendesak jawaban. Ia tidak menaruh harapan di antara kalimat-kalimatnya. Tapi justru di situlah letak kehadirannya yang paling nyata.

Alih-alih menjawab, Jongdae memutar kepalanya perlahan. “Kenapa kamu nanya begitu?” suaranya pelan, hampir tertelan angin.

Anna tidak perlu waktu lama. “Karena kamu kelihatan seperti lagi bingung sama seseorang.” Suaranya halus, tidak menusuk, tapi jujur. Kalimat itu meluncur lembut, tapi masuk seperti air yang membasahi sisi-sisi tergelap dalam dirinya.

Jongdae terdiam. Kali ini yang bergema adalah suaranya sendiri—dalam batin, memaki dirinya habis-habisan. Payah. Bahkan untuk menyembunyikan, aku tidak cukup baik.

Ia mengutuk caranya duduk, caranya diam, caranya berpura-pura. Tapi dari semua hal yang ia benci, yang paling ia takuti adalah hatinya sendiri—yang kini tak bisa diam.

Dalam diam, ia memanggil satu nama, lalu nama yang lain. Ia mencoba menimbang rasa—pada Anna yang duduk di sampingnya, dan pada Seowon yang kini terasa seperti nama asing yang tetap melekat di kulitnya. Ia mencoba menghadirkan kembali momen-momen kecil, senyum yang tertangkap dari jauh, kalimat yang terucap separuh, genggaman tangan yang terlalu cepat dilepaskan.

Lalu, seperti angin yang menerobos celah ingatan, terdengar suara Kinam. Kalimatnya tentang kehilangan. Tentang ketidaksanggupan melihat seseorang hilang tanpa sempat dimengerti. Dada Jongdae terasa terhimpit, seperti diikat tali tak kasat mata. Ia tak bisa bernapas. Hati kecilnya berbisik—tidak keras, tapi cukup untuk mengusik—bahwa ia tahu sesuatu yang belum sanggup diakui.

Ia menatap jauh ke depan. Tapi yang ia lihat bukanlah taman. Bukan kolam atau pohon atau langit. Pandangannya menembus semua itu, menuju ruang yang tak bernama.

Kenyataan itu sederhana, dan oleh karena itu, menyakitkan:

Ryu Seowon tidak berada di dekatnya.

Tidak di bangku ini. Tidak di antara mereka.

Tidak di tempat manapun yang bisa ia jangkau.

Jongdae menunduk. Menatap ujung sepatunya yang tak lagi putih, lalu sepatu Anna—yang rapi dan bersih, seperti dirinya. Lalu ia menyapu pandangan pada pemandangan sekitar, seolah mencoba mengingat bahwa dunia masih ada, meskipun seseorang telah pergi.

“Aku mungkin bukan suka,” ucapnya akhirnya. Suaranya berat, tapi stabil. “Aku cuma… menunggu.”

Anna mengerutkan dahi. Matanya bergetar, bingung. “Menunggu?” gumamnya. “Menunggu apa…? Menunggu siapa?”

Ia menatap Jongdae, mencoba menangkap sesuatu dalam sorot mata itu. Tapi seperti bayangan di permukaan air, semua tampak tenang. Tidak ada yang bisa ditangkap. Tak satu pun isyarat terbaca.

Jongdae menampilkan senyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai kelapangan hati, seperti seseorang yang akhirnya tahu ke mana harus melangkah. Seperti melihat jalan panjang yang sunyi, namun tahu bahwa di ujung sana… ada yang menanti.

Ryu Seowon.

Nama itu, sosok itu, seperti berdiri jauh di sana, tak nampak… tapi nyata. Hanya ia yang tahu.

Anna menggumam pelan, nyaris tak terdengar, “Menunggu apa? Menunggu siapa?”

Jongdae menoleh.

Ia menatap Anna penuh arti—bukan sebagai jawaban, bukan sebagai permintaan maaf, tapi sebagai bentuk pengakuan yang paling jujur yang bisa ia berikan sore itu.

 

 

***

 

Langit musim dingin telah berubah warna ketika Jongdae berpisah dengan Anna. Sinar matahari yang tadi hangat mulai memudar di balik langit kelabu, menyisakan bias keemasan yang menggantung lelah di ujung pohon-pohon kering. Jam menunjukkan pukul empat lewat sedikit. Suasana taman mulai lengang, angin berhembus lebih dingin dibanding sebelumnya.

Percakapan mereka berhenti secara alami, seperti daun yang melayang turun dan memilih diam di tanah. Anna dijemput oleh kakaknya—lelaki tinggi dengan mobil buatan Jerman yang berhenti tepat di depan gerbang taman. Ia hanya melambai pelan sebelum masuk ke mobil, meninggalkan Jongdae yang masih duduk di bangku yang sama, seolah terpaku di antara yang telah berlalu dan yang belum sempat terucap.

Langkahnya ringan tapi pikirannya penuh.

"Mungkin bukan suka, tapi menunggu..."

Kalimat itu terdengar jelas dalam pikirannya sendiri. Ia tak tahu apa yang Anna tangkap darinya, tapi baginya, itu adalah pengakuan. Pengakuan tak langsung yang justru terasa paling jujur. Ia tidak sedang memilih—ia hanya menunggu. Menunggu sesuatu yang tidak ingin ditinggalkan. Menunggu seseorang yang tak bisa digantikan.

Dan nama itu masih sama: Ryu Seowon.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya. Angin sore mulai menggigit tulang, tapi Jongdae membiarkan wajahnya terbuka. Ia melewati jalan kecil menuju kompleks apartment tua yang berdiri rapat di sisi barat kota—bangunan kusam berlantai empat tanpa lift, dengan cat dinding yang mengelupas dan angka unit yang mulai pudar.

Lobby gedung itu sunyi. Cahaya lampunya redup dan kekuningan, menciptakan bayangan panjang di lantai ubin yang dingin. Aroma tua dan lembap dari dinding bercampur bau tanah beku yang terbawa masuk dari luar. Ada papan pengumuman tua di dekat tangga, dipenuhi kertas-kertas kusut yang tidak lagi dibaca orang. Jongdae melangkah naik, menyusuri tangga sempit yang gemetar setiap kali diinjak.

Unit mereka berada di lantai dua. Begitu sampai di depan pintu, Jongdae meraih gagang dan baru saja hendak membukanya ketika matanya menangkap sesuatu—sepasang sepatu perempuan. Bukan milik Eomma. Bukan milik Naari. Warnanya lembut, bersih, dan terasa asing.

Ia masuk pelan. Dari dalam terdengar suara tawa yang samar—suara Naari. “Aku tetap gak bisa petik senar G-nya, padahal udah ganti kunci!”

“Aku bilang juga, jangan terlalu tegang. Coba pakai jari tengah, bukan telunjuk,” sahut suara perempuan lain, tenang dan agak tertawa pelan.

Jongdae berdiri mematung sejenak di lorong masuk. Apartemen itu sempit. Dapur dan ruang mencuci menyatu, berada di ujung lorong kecil yang hanya cukup dilewati satu orang dewasa. Suasana rumah hangat, ada aroma labu rebus yang pelan-pelan merayap dari dapur.

Baru saja ia akan melangkah, sebuah suara memanggilnya.

“Jongdae-ya! Udah pulang?” Suara Eomma datang dari arah dapur, disusul tubuh rampingnya yang muncul sambil membawa panci besar, “Aku masak hobak-juk, kamu pasti belum makan, kan?”

Jongdae mengangguk cepat, agak kikuk. “Ah… ya. Terima kasih.”

Dari balik sekat ruang tengah yang tipis, Naari menyembul sambil melambaikan tangan.

“Oppa!”

Jongdae tersenyum, mendekat ke adiknya yang kini berdiri dengan rambut dikuncir asal, wajahnya cerah. Tapi langkahnya terhenti seketika saat seseorang muncul di belakang Naari.

Ryu Seowon.

Ia berdiri di sana. Tak banyak berubah, dan justru karena itu, dunia seperti ikut berhenti sebentar. Rambutnya dikuncir setengah ke belakang, memperlihatkan leher jenjang dan wajah tenangnya. Ia mengenakan mantel panjang berwarna oat dengan sweater putih tipis di dalamnya, dan celana denim gelap yang jatuh anggun di pergelangan kakinya. Penampilannya sederhana tapi bersih, rapi, seperti musim semi yang salah datang lebih awal.

Jongdae membeku.

Ada degup yang datang—tajam dan tak bisa disangkal.

Aneh. Karena degup itu sama seperti yang ia rasakan saat bersama Anna.

Tapi kali ini, lebih dalam. Lebih menyayat.

Seowon menyapa pelan, “Hai…”

Senyumnya ragu, sedikit gugup.

Tatapan mereka bertaut, saling diam. Saling bicara tanpa kata-kata.

Dari dapur, Eomma berseru, “Naari, bantu Ibu, tolong ambil sendok besar, ya.”

Naari berbalik cepat, berlari kecil sambil menggumam, “Iyaaa~!”

Ia meninggalkan ruang tengah, dan mendadak hanya Jongdae dan Seowon yang tersisa. Kesunyian itu berbeda dari sebelumnya—bukan hening, tapi penuh gema. Seowon berdiri canggung, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut.

“Aku… dipanggil Naari,” katanya akhirnya, agak gelagapan. “Dia minta bantuin matematika. Terus… katanya kamu bilang aku pintar sejarah juga.”

Jongdae mengangguk. Tak ada kata lain yang keluar. Hanya isyarat itu, pelan tapi cukup.

Ia hendak memutar badan, pergi ke kamarnya, tapi tiba-tiba terasa tarikan halus di jaketnya.

Seowon.

Gadis itu menggapai lengan jaketnya. Bukan menarik, hanya menyentuh cukup untuk menghentikan langkah. Jongdae menoleh.

Mereka saling memandang.

Bibirmu diam, Seowon, tapi matamu bicara.

Ada sesuatu yang ingin kamu katakan. Sesuatu yang belum selesai.

Tapi sebelum kata-kata sempat lahir, terdengar suara Naari dari arah dapur, ceria dan bersemangat.

“Oppa! Eonni! Ayo makan bareng~!”

Seowon melepaskan jaket Jongdae pelan-pelan. Mereka masih saling tatap—ada jeda yang menyimpan ribuan hal tak terucap. Tapi langkah mereka akhirnya bergeser menuju meja makan.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang terasa begitu panjang, mereka duduk dalam satu ruang yang sama, dengan jarak yang lebih nyata daripada sekadar waktu.

 

 

Meja makan malam itu penuh aroma nyaman yang membawa pulang kenangan. Di atas meja kayu yang menghangat oleh lampu gantung temaram, terhidang sup labu lembut yang mengepul pelan, tumis bayam wijen, telur dadar gulung, dan sepiring kecil kimchi rumahan. Ada juga potongan tofu goreng renyah yang baru diangkat, dengan saus cocolan berwarna merah bata di sampingnya. Makanan sederhana, tapi tak satu pun terasa seadanya.

Di tengah aroma kaldu dan suara sendok yang bersentuhan, tawa kecil Naari menjadi latar yang akrab. Jongdae duduk di sisi kanan meja, Seowon di seberangnya, dan Eomma di ujung, memandang dua remaja itu seperti melihat musim semi yang datang diam-diam.

"Sudah lama sekali, Seowon. Kamu nggak main ke rumah," ujar Eomma sambil menyendokkan labu ke mangkuk Naari.

Seowon tersenyum, tangannya tertahan sebentar di atas sendok. "Iya, maaf, Bibi. Aku belakangan ini sibuk sekali sama kegiatan Student Council."

Naari, yang mulutnya baru saja penuh, langsung menyambar, "Pasti sibuknya kayak Jongdae juga, ya? Oppa, kamu juga sibuk, kan?"

Jongdae tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap sup labu yang mengepul, lalu menyendoknya perlahan, seolah jawabannya tersembunyi di dasar mangkuk itu.

Seowon menoleh ke arahnya, masih dengan senyum tipis. “Kayaknya, Jongdae malah lebih sibuk dari aku, deh.”

Naari mengangguk semangat, “Iya! Oppa sibuk banget sampe ninggalin aku pulang bareng Kinam. Ih, itu menyebalkan!”

Tatapan Seowon jatuh pada wajah Jongdae yang tenggelam dalam makannya. Tak ada pembelaan di sana, hanya kesunyian yang menumpuk di sela-sela nasi dan sendok.

Eomma meletakkan sendoknya, nadanya ringan tapi ada sesuatu yang menggantung. “Hari itu bahkan Jongdae nggak pulang ke rumah.”

Seowon mendongak, sedikit terkejut, tapi tidak bertanya.

“Aku memang ada urusan, itu bukan hal besar,” ucap Jongdae pelan, akhirnya membuka suara.

Eomma menghela napas kecil. “Tapi kamu pulang luka-luka, Jongdae. Satu rumah khawatir.”

“Oppa kayak zombie!” seru Naari menambahkan, suaranya mengambang di udara yang mulai beriak.

Jongdae akhirnya mengangkat wajah, matanya mengarah ke adiknya. “Kalau pun aku jadi zombie, aku pasti ngejar kamu duluan.”

Naari menjerit dramatis sambil mendorong kursinya ke belakang. "Aaaa jangan kejar aku, zombie ramen!"

Tawa meletup. Bahkan Seowon tersenyum lebar, dan Eomma tak tahan ikut menggeleng sambil tertawa kecil. Suasana mendadak berubah—seperti uap hangat yang melunakkan sesuatu di dalam dinding hati.

Namun di balik tawa, ada sesuatu yang belum pergi dari mata Seowon. Ia menatap Jongdae dengan diam. Hari itu—yang tidak diceritakan, yang hanya disebut sebagai “urusan”—membuatnya bertanya. Jongdae terluka, tidak pulang, dan sekarang diam seolah tak terjadi apa pun. Hatinya mendesak ingin tahu, tapi lisannya tetap patuh pada ruang yang belum terbuka.

Sementara itu, Jongdae hanya menyuap potongan terakhir tofu ke mulutnya. Tawa masih terpantul-pantul di dinding ruang makan, tapi dalam dirinya, suara itu cepat memudar. Ia tahu Seowon menatap, tahu Eomma menyimpan khawatir, dan tahu Naari belum benar-benar memaafkan. Tapi malam ini, biarlah semua tetap tertawa.

Karena terkadang, menjadi bagian dari tawa adalah satu-satunya cara untuk tidak tenggelam dalam sunyi.

Malam itu, aroma sisa makan malam masih melayang-layang di udara, bercampur suara gemericik air dari wastafel yang sibuk. Eomma berdiri di sana dengan tangan terbenam dalam sabun, sementara Naari masih tekun menatap buku pelajarannya bersama Seowon di ruang tengah, wajah mereka bersinar lembut dalam cahaya lampu hangat.

Jongdae ikut membantu membawa piring-piring kosong ke dapur. Sambil mengelap meja, ia mendengar suara lembut Eomma yang berkata pelan, seolah hanya ditujukan untuknya,

"Antarkan Seowon pulang nanti, ya."

Jongdae mengangguk kecil, tak menjawab dengan kata-kata. Hanya gerakan tubuh yang bicara.

Ia lalu menyeduh teh hangat dan menyajikannya di atas nampan kecil untuk Seowon dan Naari. Letupan aroma melati dari uap teh membungkus ruangan dengan ketenangan yang nyaris rapuh. Setelah itu, ia melangkah menuju kamarnya.

Sunyi menyambutnya di dalam. Sunyi, dan pikirannya yang kembali riuh.

Seowon duduk di luar sana—dalam cahaya, dalam ketenangan—seolah tak pernah ada badai yang menimpa mereka. Tapi Jongdae tahu, luka mereka tidak mudah sembuh. Jarak dan waktu telah menyelipkan jeda yang terlalu panjang. Dan selama itu, ia selalu memilih diam. Selalu merasa ia bisa menanggung semuanya sendiri.

Padahal, Seowon tetap ada. Duduk tak jauh darinya, mengisi ruang di rumah yang terasa terlalu sempit untuk perasaan yang tak pernah selesai.

Tak lama, suara kursi digeser terdengar. Seowon berdiri dan menyapa Eomma dengan senyum yang tak pernah kehilangan keanggunannya.

"Terima kasih makan malamnya, Bibi. Maaf sudah merepotkan."

"Ah, tidak sama sekali. Datanglah kapan pun, Seowon-ah." Naari ikut berdiri, mengerjapkan mata yang mulai lelah.

"Unnie Seowon, besok kita lanjut belajar lagi, ya?"

"Tentu. Sampai ketemu, Naari."

Jongdae keluar dari kamarnya tepat saat Seowon mengenakan jaketnya. Mereka bertukar pandang singkat, seperti saling mengeja keheningan yang tak bisa diterjemahkan siapa pun.

Pintu ditutup pelan. Lalu dunia di luar menyambut mereka dengan langit gelap dan angin yang berhembus lembut. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan kota kecil Jeonsa tengah larut dalam waktu istirahatnya. Lampu-lampu jalan menyala redup, membentuk pola cahaya temaram di aspal yang basah karena hujan salju sore tadi. Jejak langkah mereka berpadu pelan, menyusuri trotoar sepi yang basah, hanya sesekali terdengar suara mobil melintas jauh.

Jongdae berjalan di sisi kiri, sedikit menjauh dari Seowon. Bukan karena ingin, tetapi karena ragu. Namun langkah mereka tetap seirama.

Lalu, Seowon membuka suara, suaranya nyaris lebih lembut dari angin yang lewat.

"Jongdae… luka kemarin, itu ada hubungannya dengan Dalbit, ya?"

Jongdae menoleh pelan. Wajahnya sedikit menegang. Lidahnya terasa kelu. Ia ingin menjawab, tetapi rasa takut menyeruak—takut luka itu akan berubah jadi nyata saat ia menamainya.

Tapi Seowon tidak memaksa. Ia ikut diam, pandangannya lurus ke depan, seolah berkata “tak apa jika belum siap”.

Akhirnya Jongdae bicara, suaranya serak menahan emosi, "Itu… sesuatu yang nggak ingin aku ingat."

Seowon mengangguk kecil. Tangannya yang mungil merapatkan kerah jaketnya, lalu matanya melirik Jongdae sebentar sebelum kembali ke jalan. "Aku nggak akan maksa. Nggak pernah ingin maksa apapun darimu."

Gerak-geriknya penuh kehati-hatian, seolah ia tahu betapa rapuhnya dunia Jongdae sekarang. Bahunya yang kecil bergerak tenang, namun penuh kasih yang sunyi.

Jongdae menunduk.

Rasa bersalah menggerogoti dada.

Ia tahu perjalanan ini tidak mudah untuk Seowon. Ia tahu, dan tetap saja memilih menyembunyikan semuanya. Seowon berkata lirih, nyaris seperti gumaman yang jatuh dari langit-langit hati,

"Sejak dulu… kamu selalu menyimpan semuanya sendiri."

Jongdae terdiam.

Ia menelan kata-kata yang terasa seperti batu di kerongkongan. Ia sadar, dirinya tidak hanya tertutup, tapi juga egois—menuntut pengertian tanpa memberi ruang untuk dibagi.

Seowon melanjutkan, kali ini suaranya lebih lembut dari sebelumnya,

"Nggak semua hal harus direguk sendirian, Jongdae. Kadang kita butuh orang lain untuk hidup… bukan untuk menyusahkan, tapi untuk bertahan."

Kalimat itu menghantam sunyi di dalam dada Jongdae.

Seperti hujan yang jatuh tepat di tanah gersang.

Ia menghela napas panjang, menghentikan langkah saat mereka sampai di tikungan jalan tak jauh dari rumah Seowon.

"Dari semua hal… Dalbit yang paling kacau." Suaranya nyaris seperti gumaman.

"Mereka… butuh sembuh, meski cuma sementara." Seowon menoleh. Matanya lembut, tapi menyimpan pertanyaan.

"Lalu… kamu? Lukamu?"

Jongdae memejamkan mata sejenak.

"Entah harus mulai dari mana…"

Seowon hanya tersenyum kecil. "Pelan-pelan saja. Ceritakan yang kamu ingat."

Lalu Jongdae bicara.

Tentang malam itu.

Tentang suara. Tentang bayangan.

Tentang napas yang menggantung dan kebenaran yang terlalu kelam untuk ditelan.

Seowon mendengarkan. Tidak menyela, tidak bertanya. Hanya menatap Jongdae dengan penuh perhatian—penuh perasaan—dengan kekhawatiran yang tak ingin terlihat seperti beban. Saat cerita itu berakhir, Jongdae sadar ia masih gemetar. Tangannya bahkan tak terasa hangat. Tapi kemudian, Seowon meraih jemarinya.

Lembut.

Tulus.

Tak menghakimi.

"Semua akan baik-baik saja," bisik Seowon. "Setidaknya… untuk sekarang. Kamu juga berhak istirahat dari semua kekacauan itu."

Jongdae menggeleng pelan, bibirnya sedikit bergetar. "Tapi masih ada yang terasa… kacau." Namun langkah mereka terus berjalan. Ia tak sadar tangannya masih menggenggam jemari mungil itu dan untuk pertama kalinya malam itu, Jongdae merasa tidak berjalan sendirian.

***

Setelah dua minggu dilanda diamnya salju dan suara televisi di ruang keluarga, Jeonsa High School kembali hidup dengan langkah-langkah terburu siswa yang membawa napas musim baru dalam seragam musim dingin mereka. Hari itu, hari Senin pertama di bulan Desember, langit Jeonsa menyambut siswa-siswi dengan warna abu pucat dan kabut tipis yang mengambang di sela pepohonan sekolah. Bel berbunyi lambat, seperti membangunkan bangunan tua yang sempat beristirahat. Bendera sekolah berkibar lemas, dan halaman depan dipenuhi suara obrolan yang saling tumpang tindih—tentang tugas liburan, drama yang sedang tayang, hingga rumor siapa yang putus dan siapa yang baru jadian selama akhir musim gugur kemarin.

Gedung utama tampak tidak berubah, tetapi rasanya seperti dunia baru bagi sebagian besar murid yang kembali membawa cerita berbeda dari jeda musim dingin.

Jongdae menarik napas dalam-dalam saat melangkah ke gerbang sekolah, jemarinya membenarkan tali ransel yang tergantung di satu bahu. Langkahnya tidak terlalu terburu-buru. Ada sesuatu yang lebih ringan dari biasanya di dalam dadanya—entah karena udara pagi yang bersih, atau karena mimpi aneh yang membekas sejak subuh tadi.

Atau mungkin... karena seseorang akan ada di sekolah hari ini.

"Jam masuknya kayak nggak rela hari minggu selesai, ya," komentar Kinam dari sebelahnya, menyodorkan kopi kaleng setengah dingin yang baru dibelinya di minimarket depan sekolah.

Jongdae menerimanya sambil tersenyum tipis. "Setidaknya nggak ada tugas hari pertama."

"Jangan terlalu percaya. Guru Seong pasti bawa kejutan," balas Kinam tanpa kehilangan nada lesunya.

Mereka berdua melangkah melewati gerbang, menyatu dengan kerumunan, hingga suara langkah sepatu yang lembut menghampiri dari sisi lain.

“Pagi, Kinam. Jongdae.”

Seowon berdiri dengan mantel krem yang menyatu dengan warna kulitnya yang terang, rambutnya dikuncir rendah. Ia hanya menyapa singkat, namun pandangannya menahan sesuatu saat tertuju pada Jongdae. Sekilas—sepersekian detik yang hampir tak bisa ditangkap oleh siapa pun—ada senyum kecil yang hanya mereka berdua mengerti.

Jongdae membalasnya dengan anggukan pelan. "Pagi."

Lalu Seowon melangkah masuk ke ruang Student Council, meninggalkan aroma tipis citrus dari pelembap bibir yang biasa ia pakai.

Kinam sempat menoleh, tapi tak berkata apa-apa.

Tak lama, dari arah koridor kelas satu, muncul sosok yang tak kalah dikenal: Jo Anna. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan scarf biru muda menggantung di lehernya. Ia tampak baru saja datang—masih memegang botol minum dan buku catatan yang digenggam erat.

Begitu pandangannya bertemu dengan Jongdae, langkah Anna melambat. Ada keraguan singkat, lalu senyuman kecil menghiasi wajahnya.

“Selamat pagi, Jongdae,” ucapnya pelan, nyaris setengah berbisik. Hanya untuknya.

Ia segera berjalan lagi menuju kelasnya, menyisakan keheningan sesaat dan bau sampo yang tertinggal samar di udara.

Kinam langsung menyenggol lengan Jongdae. "Itu... sinyal, kan?"

Jongdae hanya mengangkat bahu. “Mungkin cuma sopan santun.”

“Tapi cuma kamu yang disapa.”

“Karena cuma aku yang berdiri di situ.”

Kinam melirik sahabatnya lama, seakan ingin menembus lapisan tenang yang Jongdae kenakan pagi ini. Tapi seperti biasa, Jongdae tak memberinya ruang untuk menebak lebih dalam. Mereka berjalan masuk ke dalam sekolah, membiarkan dunia kembali berjalan dengan segala yang disembunyikannya.

Jam pelajaran pertama berlalu perlahan seperti uap yang mengembun di kaca jendela. Di dalam kelas, suara penghapus papan tulis dan langkah sepatu guru silih berganti dengan desahan pelajar yang masih setengah sadar karena sisa libur akhir minggu kemarin. Jongdae duduk di bangku kedua dari belakang, kursi favoritnya yang menghadap langsung ke jendela. Tirai digulung setengah, membiarkan cahaya kelabu masuk dan menciptakan siluet samar di permukaan meja. Di luar, pohon cemara di pinggir lapangan sekolah berdiri pucat tertutup embun. Langit belum benar-benar biru.

Pelajaran hari itu diawali dengan Bahasa Korea—tentang puisi musim dingin dari penyair abad ke-20 yang tak sempat Jongdae hafal namanya. Dilanjutkan Matematika yang berjalan lambat, dengan suara guru seperti gema lembut yang nyaris membuat murid terlelap. Lalu Fisika. Entah kenapa, setiap kali musim dingin, pelajaran Fisika selalu terasa lebih dingin.

Namun, perhatian Jongdae tidak sepenuhnya ada di papan tulis.

Tatapan Anna yang malu-malu tadi terus membayang, seperti bayang-bayang cahaya lampu jalan yang enggan hilang saat pagi. Caranya mengucap "selamat pagi" hanya padanya, tanpa melihat Kinam yang berdiri tepat di sebelah, seperti sebuah keputusan yang telah ia pikirkan matang-matang.

Apa maksudnya?

Dan mengapa hatinya tak kunjung tenang padahal semua itu—Anna, Seowon, bahkan perasaan itu sendiri—sudah terlalu lama ia tunda untuk dihadapi?

Lalu Seowon. Dengan sapaan singkat namun pandangan yang tak bisa disangkal. Jongdae tahu, Seowon menunggu. Bukan sekadar jawaban, tapi keberanian untuk menunjukkan siapa yang ia pilih. Namun Jongdae belum siap. Belum cukup berani. Masih ada nama yang belum selesai ia benarkan dalam hatinya sendiri.

Saat bel istirahat berbunyi, suasana kelas berubah seperti biasa. Suara gesekan kursi, tawa pelan, dan denting kotak makan mulai menggantikan keheningan. Beberapa siswa buru-buru keluar kelas, takut kehabisan roti isi tuna yang selalu ludes dalam sepuluh menit pertama.

Kinam mencondongkan tubuhnya ke meja Jongdae, senyumnya seperti biasa—setengah jenaka, setengah serius.

“Aku ke kelas Jangmi dulu, ya. Siapa tahu hari ini dia menyapa duluan sebelum aku sempat buka suara.”

Jongdae mengangkat alis malas tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya. “Kalau dia malah tanya ‘kamu siapa ya?’ jangan kaget.”

Kinam tertawa pelan. “Setidaknya aku berusaha. Kamu juga seharusnya tadi menghampiri Anna, lho. Kelihatan jelas dia nunggu balasan.”

Jongdae tak memberi reaksi apa pun selain menyelipkan selembar kertas tugas ke binder terakhir. Hanya keheningan tenang yang menjawab.

Saat Kinam beranjak menuju pintu kelas, ia hampir bertabrakan dengan seseorang yang muncul tiba-tiba dari koridor.

“Ah, maaf—” suara Seowon terdengar pelan dan cepat, matanya sedikit membesar karena terkejut. “Aku tidak melihat ke arah dalam.”

Kinam menghentikan langkahnya seketika. Dadanya sempat tercekat. “Tidak apa-apa... sungguh, tidak masalah,” jawabnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

Seowon menundukkan kepala sebentar, sopan seperti biasa. Jemarinya menggenggam tali tas di depan tubuhnya, ragu apakah ia sebaiknya tetap berdiri di sana atau melangkah masuk.

Dari bangkunya, Jongdae belum menyadari kejadian itu. Ia masih menata buku-bukunya satu per satu, seolah tak ada yang berubah. Tapi diam-diam, dunia di sekitarnya mulai membentuk simpul-simpul yang pelan-pelan mengarah pada sesuatu yang lebih dari sekadar kebetulan.

Seowon melangkah masuk pelan, membiarkan suara-suara ramai di kelas berlalu di belakangnya. Ia berdiri di sisi meja Jongdae, memperhatikan dengan diam bagaimana pemuda itu sibuk merapikan buku-buku catatannya, satu per satu, seolah sedang menyusun ulang sesuatu yang lebih dari sekadar kertas—mungkin pikirannya sendiri.

Ketika akhirnya Jongdae selesai, ia menutup ritsleting tas dengan satu gerakan tenang, lalu menoleh.

Matanya sedikit membesar saat melihat Seowon berdiri begitu dekat.

“Oh… Seowon?” ucapnya pelan, sedikit terkejut. “Kamu… ngapain di sini?”

Nada suaranya tak setegas biasanya—ada gugup yang berusaha ditutupi dalam nada bertanya itu. Jongdae jarang terlihat begini, tapi untuk Seowon, rasa tak siapnya hampir selalu muncul tanpa aba-aba.

Seowon ikut terkejut, mungkin tidak menyangka Jongdae akan seketika defensif. Tapi ia tetap tenang.

“Aku pikir… kita bisa makan siang bareng,” ucapnya pelan, seolah tak ingin membuat suara itu terdengar sebagai tuntutan.

Jongdae menatapnya sebentar. Sekilas ia tampak ragu, seperti ingin berkata bahwa ini bukan waktu yang tepat—atau tempat yang tepat. Tapi kemudian, matanya melunak. Ia mengangguk perlahan.

“Oke.”

Mereka berjalan keluar kelas bersama. Langkah mereka tak terlalu cepat, tapi cukup untuk menarik pandangan beberapa teman sekelas yang mengenali sosok Seowon. Sebagian berbisik, sebagian hanya menoleh sekilas. Tapi Jongdae tetap berjalan, menunduk sedikit, tak memedulikan.

Ketika mereka melewati koridor sayap timur, tanpa sadar langkah mereka melintasi kelas 11-1—kelas Moon Jangmi. Di depan pintu terbuka, berdiri Kinam yang masih belum beranjak masuk. Ia menoleh karena suara langkah kaki, lalu membeku ketika melihat Jongdae dan Seowon berjalan berdampingan.

Alis Kinam sedikit berkerut. Dalam pikirannya, Jongdae seharusnya ke kantin bersama Anna—itu yang tadi ia bayangkan. Tapi nyatanya, pemandangan ini sungguh berbeda. Dan entah mengapa, terasa asing.

“…Apa yang sebenarnya sedang terjadi?” pikirnya.

Namun lamunannya tidak bertahan lama.

“Lee Kinam!” suara lantang dan tajam memanggil namanya dari dalam kelas.

Ia tersentak.

“Y-ya! Aku di sini!” jawabnya panik sambil segera masuk ke kelas. Suaranya terdengar nyaris bergetar.

Moon Jangmi berdiri di depan mejanya dengan ekspresi kesal, tangan terlipat dan alis terangkat tinggi. “Kamu yang bilang tadi mau bantu bawa dokumen ke ruang guru, kan? Terus malah melamun di luar? Sungguh menyebalkan.”

“Maaf… aku tadi, eh, cuma—” Kinam tidak melanjutkan. Ia terlalu bingung untuk menyusun alasan.

Jangmi mendengus dan menyerahkan map tebal ke tangannya. “Lain kali, fokus sedikit. Dunia nggak akan berhenti buat nunggu kamu sadar.”

Kinam menerima map itu dengan patuh, lalu duduk. Tapi pikirannya jauh dari halaman dokumen. Gambaran Seowon dan Jongdae yang berjalan berdampingan tadi terus mengambang di benaknya, menyisakan pertanyaan yang belum punya tempat untuk ditanyakan. Bukan karena ia marah. Tapi karena ia merasa… seperti ada bagian dari sahabatnya yang tidak ia kenal sama sekali.

Kantin sekolah siang itu masih riuh dengan suara baki beradu dan obrolan murid-murid yang berlarian mencari kursi. Namun, di pojok kanan belakang—dekat jendela yang sedikit berkabut karena uap dari dapur—dua anak duduk dalam sunyi yang justru terasa lebih nyaman dari keramaian.

Jongdae dan Seowon memilih duduk di sana. Bukan karena mereka harus bersembunyi, tapi mungkin karena keduanya tahu, diam-diam dunia akan selalu punya mata yang tajam pada sesuatu yang tidak dijelaskan. Di hadapan mereka, dua nampan tersaji dengan kontras yang mencolok. Porsi makan Jongdae tampak seperti bekal tiga pekerja konstruksi yang digabung jadi satu. Sementara di seberangnya, Seowon dengan tenang menyendok suapan dari porsi makan yang rapi dan seimbang.

Seowon menatap tumpukan nasi dan lauk Jongdae cukup lama sebelum akhirnya bersuara, nada suaranya ringan.

“Bagaimana ceritanya kamu bisa makan sebanyak itu… tapi nggak gemuk sama sekali?”

Jongdae, dengan mulut masih mengunyah, hanya mengangkat bahu. “Aku juga nggak tahu. Kayaknya makanan-makanan ini masuk ke dimensi lain begitu sampai di tubuhku.”

Seowon tertawa kecil, suaranya jernih seperti air. “Dimensi lain, ya?”

“Iya. Mungkin ada lumbung rahasia di dalam perutku.”

Tawa mereka menyatu di tengah riuhnya kantin. Sesaat dunia menjadi ringan—dan Jongdae merasa, mungkin seperti inilah makan siang seharusnya terasa.

Namun setelah beberapa menit makan dalam diam yang tidak kikuk, Seowon meletakkan sumpitnya dan menatap ke arah Jongdae.

“Aku lagi mikirin sesuatu.”

Jongdae tidak langsung menoleh. Ia hanya bergumam singkat, “Hm?” tanpa menyela, tahu benar bahwa Seowon selalu merangkai kalimat dengan hati-hati.

“Aku mau kerja part-time… di restoran ramen milik keluarga Kinam.”

Suapan Jongdae berhenti di tengah jalan. Sendoknya goyah, dan sebagian nasinya hampir jatuh ke nampan.

“Kamu… apa?” tanyanya, tidak berhasil menyembunyikan keterkejutannya.

Seowon mengangguk pelan, wajahnya tenang, tapi matanya awas menangkap reaksi Jongdae. “Aku mau kerja di sana. Mulai minggu depan, mungkin.”

Jongdae meletakkan sendoknya. “Tunggu. Kenapa? Kamu… kamu lagi kesulitan uang atau gimana?”

Seowon menggeleng, pelan dan tegas. “Bukan karena itu. Aku cuma ingin mulai mandiri. Nyobain hal yang belum pernah aku lakuin sebelumnya.”

Narasi internal mengalir di kepala Jongdae seperti air yang tiba-tiba keruh.

Dia ingin kerja di restoran tempat aku kerja. Restoran milik ayah Kinam. Tempat yang selama ini aku sembunyikan dari semua… termasuk dia. Apa dia tahu? Apa dia sengaja?

Keduanya melanjutkan makan, tapi irama suapan mereka tidak lagi sama. Seperti dua lagu yang diputar berbarengan tapi nadanya tidak bertemu.

Setelah jeda yang terasa terlalu panjang, Jongdae membuka suara.

“…Kenapa harus restoran Kinam?”

Seowon menoleh, tak terlihat ragu. “Karena itu yang paling mudah. Kinam pasti akan senang kalau aku bantu. Dia pasti langsung setuju.”

Jongdae mendadak tersedak.

Ia buru-buru meraih gelas air dan meneguknya, nyaris membasahi kerah seragamnya sendiri.

“Jongdae?” tanya Seowon, setengah khawatir.

Jongdae mengangkat tangan, memberi isyarat kalau dirinya baik-baik saja, meski wajahnya jelas menyimpan kepanikan. Seowon kembali menatap makanannya, lalu berkata pelan, “Aku akan cari Kinam nanti. Aku mau bilang langsung kalau aku berniat kerja di sana.”

Jongdae menatapnya lekat-lekat kali ini. Tapi tidak dengan tatapan yang lembut. Ada semacam kengerian samar di sana. Bukan karena ia takut Seowon tidak mampu bekerja, tapi karena dunia yang selama ini ia tata dalam diam, perlahan runtuh satu sisi. Seowon sedang melangkah masuk ke sisi hidup Jongdae yang belum siap terbuka dan kali ini… Seowon melangkah dengan mantap. Jongdae tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya duduk, diam, dengan pikiran yang memadat seperti langit mendung di atas Jeonsa.

Chapter Sebelumnya
Chapter 12 dari 12
Chapter Selanjutnya

Daftar Chapter

Chapter 1: Prolog

173 kata

GRATIS

Chapter 2: Jeonsa – Pagi yang Setengah Di...

7,102 kata

GRATIS

Chapter 3: Di Bawah Langit Yang Terlalu B...

5,276 kata

GRATIS

Chapter 4: Langit Tak Pernah Menunggu

6,005 kata

GRATIS

Chapter 5: Rahasia yang Tak Pernah Dibagi

6,094 kata

GRATIS

Chapter 6: Seutas Benang yang Tak Pernah...

7,734 kata

GRATIS

Chapter 7: Rasa yang Tak Bernama

8,481 kata

GRATIS

Chapter 8: Dalbit dan Jam Pulang Sekolah

11,467 kata

GRATIS

Chapter 9: Tempat Yang Tak Pernah Pasti

6,238 kata

GRATIS

Chapter 10: Waktu Yang Tak Pernah Cukup

5,144 kata

GRATIS

Chapter 11: Setengah Langkah Menuju Kamu

5,994 kata

GRATIS

Chapter 12: Yang Tak Pernah Kita Namakan

6,065 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!