Chapter 7: NIAT BAIK
Gang dari perempatan bakso menuju ke rumah Kinan memang tidak begitu jauh. Jalanan masih juga basah oleh hujan yang terus merintik, meski rinainya tak sederas tadi.
Selama perjalanan pulang, keduanya memilih untuk diam, tak membuka pembicaraan. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Kinan terlalu defensif atas sikap Dana yang dinilainya terlalu berani. Sementara Dana bertanya-tanya apakah kata-katanya sudah membuat Kinan tersinggung sehingga gadis itu diam sejak tadi.
“Rumah kamu yang mana, Kinan?” tanya Dana memecah kebisuan.
“Rumah paling ujung, Mas.”
Dana mengangguk lantas menghentikan mobilnya ketika sampai di rumah paling ujung jalan kecil itu. Pemandangan pertama yang Dana lihat adalah sebuah rumah tembok sederhana, dengan halaman yang tak begitu luas. Kiri, kanan dan belakang yang merupakan area persawahan menimbulkan kesejukan tersendiri di hati Dana.
Entah mengapa hatinya mendadak merasa nyaman, sejuk dan merasakan ketenangan yang medadak menyempurnakan.
Kinan sudah hendak membuka pintu begitu mesin mobil dimatikan oleh Dana.
“Terima kasih sudah mengantar dan membelikan bakso saya, Mas.” Kinan berkata santun.
Namun tak disangka, Dana ikut membuka pintu dan turun. Tangannya sigap meraih payung yang tadi diletakkan di belakang jok kemudi. “Boleh saya singgah, Kinan?”
Kinan canggung, tak tahu harus mengizinkan atau tidak. Bagaimanapun mereka baru kenal. Tetapi juga tidak etis jika dia menolak permintaan itu sementara Dana sudah mengantarnya pulang.
“Eh, oh, boleh, Mas. Monggo, silahkan.” Kinan akhirnya menyetujui.
Dengan hati mengembang, Dana keluar dan menghampiri Kinan untuk kemudian berjalan bersama masuk ke rumah. Kesan pertama yang Dana dapatkan ketika kakinya memasuki teras rumah Kinan adalah sebuah kesederhanaan.
Sebuah pohon yang tidak begitu besar berada di halaman sebelah kanan. Kursi kayu sederhana yang diletakkan di teras membuat rumah ini terasa wellcome terhadap siapapun yang datang atau sekedar singgah. Tanpa disuruh, Dana malah duduk di kursi itu dengan santai sementara Kinan membuka pintu dengan kunci yang dibawanya.
“Monggo masuk, Mas.” Kinan berucap ramah meskipun sebenarnya dia canggung menerima tamu laki-laki yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu. Tapi membiarkan Dana duduk di teras juga akan terkesan kurang sopan.
“Di sini saja, Kinan. Nggak enak sama tetangga kalau saya masuk ke rumah seorang gadis.”
Kinan tersenyum lega karena Dana paham dengan etika yang sejak tadi dipikirkan Kinan.
“Sebentar saya ganti pakaian dulu, Mas. Baju ini kurang nyaman kalau dipakai di rumah,” ujar Kinan mengacu pada kebaya modern yang tadi dipakainya saat manggung.
“Silahkan. Saya menunggu di luar saja.”
Kinan bergegas masuk sementara Dana berdiri melihat-lihat sekeliling rumah yang rasanya begitu asri dan nyaman. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya untuk menghalau sedikit rasa dingin yang terhembus dari suasana hujan sore ini.
Berjalan mondar-mandir, Dana terus mencari kalimat yang tepat untuk mengungkapkan keinginannya atas Kinanthi. Mungkin saja dia akan terkejut dengan langkah cepatnya, tetapi Dana tak ingin menunda keinginan baiknya kali ini.
“Mau saya buatkan kopi, Mas?” Suara Kinan membuat Dana menoleh.
Dan lagi-lagi Dana terpesona untuk yang kesekian kalinya, hari ini. Bagaimana tidak? Meski sudah mengganti kebaya modern yang tadi dikenakannya dan menghapus riasan wajahnya yang minimalis, nyatanya gadis di depannya ini tetap saja cantik, bahkan wajahnya yang kuning bersih semakin terlihat semakin smooth.
Rambutnya yang dicepol pendek tak diubahnya sama sekali. Dan itu menjadi poin kesederhanannya semakin mencuat. Dana tak bisa menghalau rasa terpesonanya kali ini.
‘Sepertinya Arya adalah laki-laki bodoh karena sudah meninggalkan kembang seindah ini,’ batin Dana.
“Mas? Mau saya buatkan kopi?” Kinan mengulang tawarannya.
“Eh, tidak perlu, Kinan. Saya hanya ingin ngobrol sedikit serius sama kamu.” Dana mendahului duduk di kursi panjang di teras rumah sederhana ini.
Jantung Kinan berdetak kencang. Apa yang akan dibicarakan laki-laki itu? Bukankah mereka tak punya urusan yang seharusnya dibahas?
“Soal apa ya, Mas?” tanya Kinan penasaran dan mimik wajah yang serius. Gadis itu lantas duduk di sisi lain kursi itu.
Dana berdehem sejenak untuk meredakan jantungnya yang juga tak kalah menggelepar dibanding Kinan. Barangkali apa yang dia lakukan kali ini saru karena terkesan buru-buru, tapi sejak semula memang Dana tak ingin menunda keinginan baiknya atas debaran hati yang berdenyar indah di dadanya itu.
“Maaf, Kinan. Sebelumnya, izinkan saya memperkenal-kan diri secara resmi. Nama saya Asmarandana, putra sulung Ibu Purwa Asih dan almarhum Bapak Hartono. Usia saya dua puluh sembilan tahun bulan depan. Masih lajang dan belum pernah menikah. Saya bekerja di sebuah bank swasta nasional. Mengenai ucapan saya tadi di warung bakso, dengan ketulusan hati, saya ingin melamar Kinan untuk menjadi istri saya, menjadi satu-satunya wanita dalam hidup saya, menjadi ibu dari anak-anak kelak. Jika Kinan berkenan, saya akan melamar secepatnya dan menikah secepat yang bisa saya usahakan.”
Jeder!!! Seharusnya Kinan tertawa karena laki-laki tampan di depannya itu terlalu lengkap memperkenalkan dirinya. tetapi petir kali ini tak bisa untuk dijadikan bahan tertawaan.
Ini juga bukan suara petir yang terdengar di atas langit mereka, tapi ini ucapan yang membuat Kinan bagai terhipnotis hingga dia kehilangan orientasinya beberapa saat.
‘Melamar? Untuk kemudian menikah? Tidakkah laki-laki tampan di depannya itu salah ucap? Bagaimana mungkin tiba-tiba ingin melamar sementara mereka baru kenal beberapa jam yang lalu?’
“Kinan? Kamu mendengar saya, kan?” tanya Dana yang melihat Kinan terbengong tanpa jawaban.
“Eh, maaf, Mas. Ini … pernikahan bukan hal yang bisa untuk dijadikan bahan candaan, Mas.” Kinan tersenyum gamang. Yang pertama muncul di hatinya adalah rasa marah karena dia mengira bahwa Dana hanya akan mentertawakan kegagalan hubungannya dengan Arya yang sekarang sudah menjadi sepupu Dana. “Sedikit banyaknya mungkin njenengan sudah tahu kisah saya sama mas Arya. Jadi, kalau ucapan njenengan ini disebabkan karena njenengan kasihan sama saya yang gagal menjalin hubungan dengan mas Arya, mungkin njenengan salah alamat,” lanjut Kinan dengan wajah mendung.
Sungguh, dia tak ingin dikasihani. Memang menyedihkan dan menyakitkan apa yang Kinan alami, tapi itu bukan alasan untuk membuat dirinya menjadi orang yang menyedihkan bukan? Dia baik-baik saja meski putus dari Arya.
“Maaf, Kinan. Saya nggak bercanda. Saya serius. Niat saya kali ini jelas bukan karena kasihan karena kamu putus dengan Arya, saya toh nggak peduli dengan kisah cintamu.” Dana mencoba meyakinkan Kinan bahwa dia serius.
“Tapi, Mas … bagaimana mungkin njenengan tiba-tiba melamar saya sementara kita kenal juga belum genap dua jam, Mas.” Kinan tak habis pikir.
Dana tersenyum menunduk.
“Sejak pertama melihat kamu tadi, saya sudah yakin dengan perasaan saya, Kinan.”
“Tapi, Mas ….” Kinan bingung harus menjawab apa. Perempuan itu terlihat canggung dan kikuk. Udara yang dingin mendadak terasa pengap bagi Kinan. Tubuhnya berkeringat seketika.
“Saya tahu ini mendadak. Saya juga tidak minta jawaban kamu sekarang. Besok saya akan datang, sekalian ingin meminta langsung pada ibumu kalau kamu memang setuju. Bagaimanapun, saya serius. Jadi harus meminta izin pada ibu.”
Kinan masih termangu. Membatu seolah tak punya ruang gerak. Bahkan hingga Dana pamit pulang, Kinan masih belum yakin ada laki-laki yang —mungkin setengah gila— tiba-tiba melamarnya untuk dijadikan istri.
“Boleh saya minta nomor kontak kamu, Kinan?”
***
Malam masih belum larut ketika Kinan keluar dari kamarnya karena panggilan ibunya. Sejak Dana pulang tadi, dia merebahkan dirinya di kamar. Rasa lelah dan kantuk yang seharusnya bisa membuatnya istirahat dengan baik, harus terganggu oleh lamaran dadakan yang diungkapkan oleh Dana.
Selama beberapa jam, Kinan hanya membolak-balikkan badannya dengan pikiran yang tak nyaman. Mata yang dia pejamkan tak membuatnya bisa nyenyak tidur.
“Bagaimana resepsi tadi? Sepertinya meriah.” Bu ratmi bertanya sambil menyesap secangkir kopi untuk menghalau rasa dingin malam itu.
“Meriah, Bu. Semua berjalan lancar.” Kinan mengambil kembali tumpukan kertas ujian anak-anak murid yang kemarin belum selesai dikoreksinya.
“Dan kamu baik-baik saja, kan?”
Kinan tersenyum. “Ibu lihat saya masih baik-baik saja, kan?”
“Ya, kita doakan saja Arya bahagia,” ucap Bu Ratmi dengan santai. Sekarang, dia merasa jauh lebih ringan saat melihat Kinan baik-baik saja setelah pulang dari resepsi Arya.
Bu Ratmi tertawa kecil, meneruskan menyesap kopinya, sementara Kinan tetap berusaha konsentrasi dengan kertas ujian itu. Tapi kalimat-kalimat yang Dana ucapkan tadi sore masih saja terngiang di telinganya, membuyarkan konsentrasinya. Hingga ketika dia tak sanggup lagi menanggung beban pikiran itu, Kinan menatap ibunya.
“Bu, ada sesuatu yang ingin Kinan katakan sama Ibu.” Kinan menatap ibunya dengan mimik yang serius.
Bu Ratmi berdesir dengan keseriusan wajah Kinan. Dia menatap Kinan dengan serius juga. Berbagai dugaan buruk timbul dalam pikiran Bu Ratmi.
“Ada apa, Kinan? Tidak terjadi apa-apa sama kamu, kan? Kamu … kamu nggak hamil, kan?” tanya Bu Ratmi membuat Kinan mendadak cemberut.
“Hamil? Ibu ini bagaimana to? Bagaimana mungkin saya hamil, orang saya belum menikah.”
“Jadi ada apa, Kinan? Kamu jangan bikin Ibu deg-degan.” Bu Ratmi kelihatan tegang. Bagaimanapun, dia punya anak perempuan yang belakangan menjadi buah bibir karena kegagalannya menjalin hubungan, terlebih mantan kekasihnya malah menikah lebih dulu.
Kinan menghentikan mengurus kertas ujian anak sekolah. Dia menghadap ke arah ibunya yang masih menatapnya.
“Bagaimana kalau ada yang melamar saya?”
Bu Ratmi terdiam, tertegun tak yakin.
“Melamar?” Bu Ratmi menatap Kinan, ambigu.
Daftar Chapter
Chapter 1: PROLOG
307 kata
Chapter 2: UCAPAN ADALAH DOA
1,170 kata
Chapter 3: ADA APA DENGAN HARI INI?
1,299 kata
Chapter 4: LOVE AT FIRST SIGHT
1,643 kata
Chapter 5: SECUIL KISAH
1,585 kata
Chapter 6: CALON SUAMI
1,812 kata
Chapter 7: NIAT BAIK
1,429 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!