Chapter 6: CALON SUAMI
Resepsi pernikahan berlangsung lancar. Setidaknya tidak ada hal drama yang terjadi selain tangisan Arya yang tiba-tiba pecah usai ijab qabul tadi. Arya dan Astuti melanjutkan setiap sesi dengan baik, sementara Kinan juga tetap menyanyi dengan baik tanpa terganggu oleh pernikahan Arya.
Beberapa kali Dana melihat Arya dan Astuti yang diam-diam mencuri pandang pada Kina yang menyanyi dengan riang di atas panggung.
Sebagai laki-laki, Dana tahu apa yang dirasakan oeh Arya. Sementara Astuti, kalau dari sorot matanya, Dana menyimpulkan bahwa dia masih saja cemburu dengan Kinan.
Dana tersenyum membayangkan bahwa pasti akan ada kontroversi dari pihak keluarganya jika nanti dia nekat mendekati Kinan. Tapi apapun itu, Dana tak peduli. Dia sudah membulatkan tekad untuk mendekati Kinan apapun resikonya. Karena jujur, hanya ketika bertemu dengan Kinan dia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang, dengan dunia yang seperti berhenti beberapa jenak dalam hening yang indah.
Hujan rintik turun ketika resepsi selesai. Untung saja tamu sudah pulang ke rumah masing-masing, menyisakan para sanak saudara dan tetangga yang masih rewang.
Dari tempatnya duduk, Dana mengamati setiap gerakan Kinan. Satu yang tak luput dari pengamatan Dana adalah dia tak melihat Kinan makan, padahal semua orang menikmati hidangan yang disediakan oleh keluarga bulik Purwanti. Tak terkecuali dua gadis rekan Kinan yang sepertinya juga sedang menikmati hidangan. Tapi tidak dengan Kinan.
Sekelebat, Dana melihat Kinan berkemas. Tak ingin kehilangan kesempatan, Dana bergerak mendekat.
“Maaf, Dik … apa sampean mau pulang?” tanya Dana nekat ketika dia sampai di dekat Kinan.
Beberapa orang yang ada di sekitar mereka melihat dengan senyum, sebagian ada yang khawatir.
Kinan mengangguk dengan senyum canggung. “Iya, Mas. Ada yang harus saya kejar untuk dikerjakan,” jawab Kinan berbohong karena sejujurnya dia hanya ingin segera pergi dari tempat ini. Sudah cukup pandangan mata orang-orang yang mengasihani dirinya.
“Hujan masih cukup deras. Apa tidak sebaiknya menunggu hujan reda? Atau menikmati hidangan dulu mungkin?”
Kinan tersenyum ramah. “Terima kasih, Mas. Saya sudah kenyang. Saya nanti pulang nebeng mas Damar kok.” Kinan celingukan mencari keberadaan Damar. Tapi sayangnya, Damar tak kelihatan. Padahal tadi dia sudah bilang akan mengantar pulang secepatnya begitu resepsi selesai.
“Sepertinya semua sedang sibuk. Kalau adik berkenan, saya bisa mengantar pulang. Kebetulan saya sedang longgar. Sebelumnya, bolek kita kenalan? Nama saya Dana. Asmarandana,” ujar Dana nekat mengulurkan tangan tanda perkenalan mereka.
Dengan kikuk Kinan menerima uluran tangan lelaki necis berwajah tampan penuh kesantunan itu. “Nama saya Kinanthi. Teman-teman biasa manggil dengan Kinan saja.”
Seketika hati Dana runtuh oleh senyum Kinan yang lembut dan penuh pesona.
Gila! Bagaimana mungkin dia bisa senekat ini mendekati perempuan? Padahal selama ini dia selalu menghindar jika ada perempuan yang mencoba mendekatinya.
“Baiklah. Berarti saya bisa memanggil dengan Kinan saja?” tanya Dana masih dengan senyum lembut.
“Boleh, Mas. Silajkan saja.”
“Oke, Kinan. Bagaimana? Masih bersedia saya antar pulang?” desak Dana.
Kinan mengerutkan keningnya.
“Maaf, Mas, saya ndak mau merepotkan njenengan[1].” Kinan masih mencoba menghindar. Dia tak ingin orang lain menilai dirinya buruk karena begitu mudah didekati laki-laki. Sudah cukup citranya buruk sebagai anak orang miskin yang ditinggal kekasihnya menikahi gadis kaya.
Banyak pasang mata yang mengawasi interaksi kedua orang ini, terutama orang-orang terdekat Astuti dan Arya. Tentu saja mereka tak suka dengan Kinan yang entah mengapa justru didekati oleh Dana, cucu paling elegan di trah keluarga Marto Wijoyo, kakek Dana dari garis Bu Asih.
“Tentu saja tidak repot. Bagaimana? ”
“Aduh, bagaimana ya? Eh, itu Mas Damar sudah datang, saya akan nebeng mas Damar saja.” Kinan merasa lega ketika melihat Damar berjalan ke arah mereka.
Sesaat Dana kecewa.
“Mau pulang sekarang, Kinan?” tanya Damar sambil mengibas rambutnya yang sedikit basah.
“Iya, Mas. Saya bisa nebeng, kan?” tanya Kinan penuh harap.
“Bisa. Tentu saja bisa. Tapi mobilnya masih dipakai sama Agus tadi.” Damar terlihat menyesal karena tak bisa mengantar Kinan sekarang juga padahal dia tahu bahwa Kinan mulai tak nyaman berlama-lama di lokasi resepsi ini. Pandangan beberapa orang jelas menatap Kinan penuh rasa kasihan. Padahal Kinan tak ingin dikasihani.
Dana lantas bagai mendapat angin segar atas situasi ini. Maka dengan penuh keyakinan, dia menawarkan diri.
“Nah, kebetulan saya sedang longgar, Mas. Saya bersedia mengantar adik ini pulang.” Dana menatap Damar dengan senyum ramah.
Sesaat Damar menatap Dana, mengamati dan menilai.
“Anda ….”
“Perkenalkan saya Dana, Mas. Keponakan bulik Purwanti.” Laki-laki berkaca mata itu mengulurkan tangannya pada Damar.
Damar menerima dengan senang hati. “Saya Damar. Rekan mengamen Kinanthi.” Damar juga memperkenalkan diri dengan senyum lebar.
“Jadi bagaimana, Kinan? Bersedia saya antar?” Dana terus mengejar, padahal jantungnya berdentam penuh spekulasi. Antara diterima atau ditolak.
Kinan menatap Damar, seolah ragu dan meminta pertimbangan.
“Kalau kamu memang terburu-buru, mungkin tawaran Mas Dana bisa kamu terima.” Damar memberikan solusi karena dari raut wajah dan gesture-nya, Dana bukan laki-laki berandalan. Terlihat dari caranya berpakaian dan bertutur kata juga sangat sopan.
“Tapi, Mas … apa nggak merepotkan?” Kinan ingin menolak dengan halus.
“Sama sekali tidak.” Dana menyahut cepat.
Kinan kehabisan akal untuk menolak. Pun dia juga tak ingin dinilai sombong dengan menolak tawaran pertolongan orang lain. Gadis itu akhirnya mengangguk setuju.
“Tunggu sebentar, saya ambil kunci mobil dulu,” pamit Dana dengan cepat pergi dari hadapan Kinan dan Damar untuk mengambil kunci mobil di tas yang tadi diberikannya pada Dewi.
“Mas? Pripun ini? Saya nggak enak diantar sama dia,” keluh Kinan sedikit sungkan.
Damar tersenyum, memahami kekhawatiran Kinan.
“Mengapa harus sungkan? Toh bukan kamu yang minta, kan? dari pada kamu berlama-lama di sini malah makin nggak nyaman, kan?” Damar sedikit menenangkan.
“Tapi apa kata orang nanti, Mas?”
“Cukup, Kinan. Selama ini kamu terlalu peduli dengan komentar dan penilaian orang lain hingga kamu lupa untuk menjadi dirimu sendiri. Mulai sekarang, abaikan apapun kata orang. Jadilah dirimu sendiri, jadi Kinan yang Mas Damar kenal. Oke?” Damar yang sudah menganggap Kinan sebagai adik itu memberikan semangat.
Kinan mengangguk ragu, bersamaan dengan kedatangan Dana yang sudah memegang payung. Bajunya terlihat sedikit basah, mungkin terkena air pas mengambil payung tadi.
‘Hei, kapan dia mengambil payungnya?’ batin Kinan.
“Sudah siap pulang, Kinan?” tanya Dana dengan senyum ramah.
Kinan menatap Damar sesaat dan mengangguk setelah Damar menyetujui dia pulang diantar oleh laki-laki yang mengaku bernama Dana itu.
“Mari.” Dana mengembangkan payung hitan lebar yanhg dibawanya kemudian memayungi Kinan untuk dibawanya menuju ke mobil yang terparkir beberapa puluh meter dari tempat resepsi.
Beberapa pasang mata menatap mereka penuh tanya. Sebagian ada yang senang karena Kinan mungkin saja sudah menemukan hati yang baru, namun tak sedikit yang melihat rendah karena dengan mudahnya diantar laki-laki baru.
Sampai di mobil Dana memastikan Kinan sudah duduk dengan baik sebelum dia berjalan ke sisi yang lain. Kinan masih canggung dan sungkan karena melihat Dana yang bahkan sedikit kebasahan.
“Padahal tadi cuaca cerah, mengapa tiba-tba mendung dan turun hujan, ya?” gumam Dana.
“Sudah mulai musim hujan sepertinya, Mas.”
“Iya, berkah untuk pengantin baru.” Dana berbasa-basi, namun kemudian dia menyesali ucapannya karena sepertinya doa ini melukai hati Kinan.
“Aamiinn, mudah-mudahan begitu.” Kinan menimpali dengan senyum hambar.
“Eh, maaf, Dik, bukan maksud saya untuk menyinggung sampean.” Dana menoleh sesaat ke arah Kinan dengan kikuk.
Tak disangka Kinan hanya tersenyum meskipun hambar.
“Nggak apa-apa, Mas. Doa untuk kebaikan juga akan kembali kepada kita dalam bentuk kebaikan. Jadi njenengan nggak perlu minta maaf. Tapi sepertinya njenengan tahu mengenai saya sehingga merasa telah menyinggung saya?” Kinan menoleh ke arah Dana dengan pandangan berani. Namun Kinan tetap menampilkan senyumnya agar tidak terkesan bahwa dialah perempuan paling tersakiti hari ini.
Dana tersenyum manis setengah kikuk. “Maaf, Dik. Tadi adik-adik bergosip tentang sampean. Maaf kalau saya nggak sengaja ikut mendengar.”
‘Lihatlah, bahkan kisah cintaku saja menjadi bahan gosip orang sekampung,’ Kinan membatin dengan hati yang berdarah.
“Nggak apa-apa, Mas. Nggak perlu minta maaf. Toh orang sekampung juga sudah tahu,” ujar Kinan menunduk.
Dana menoleh sesaat dan hatinya perih melihat Kinan yang menoleh ke arah jalanan yang terus membasah oleh derai hujan yang terus merintik.
“Rumahnya masih jauh, Dik?” tanya Dana mengalihkan pembicaraan.
“Tidak, Mas. Perempatan depan itu belok kiri.” Kinan menunjuk ke arah depan.
Dana mengangguk dan terus melajukan mobilnya. Namun, ketika tiba di perempatan dan hendak membelok, Dana melihat ada sebuah warung bakso. Spontan Dana menghentikan mobilnya. Dia tahu betul bahwa seharian ini Kinan belum banyak makan. Mungkin hanya minum dan beberapa kue ringan yang disuguhkan.
“Rumah saya masih di depan sana, Mas. Paling ujung dekat sawah,” ujar Kinan seakan mengingatkan bahwa ini bukan rumahnya.
Dana hanya tersenyum.
“Kita makan bakso dulu. Hujan-hujan begini sepertinya enak makan bakso. Saya lihat sampean dari tadi juga belum makan, kan?” tanya Dana nekat.
Lihatlah, betapa noraknya cara Dana menarik perhatian Kinan. Dia tak lagi menggunakan cara-cara elegan demi menjaga citra dirinya di depan perempuan. Di hadapan Kinan, Dana hanya ingin tampil biasa, sebagai laki-laki yang ingin mendekati wanita, mengabaikan sikap defensifnya setiap kali didekati perempuan.
Dana benar-benar lengah kali ini. Sementara itu, Kinan mendadak merak mukanya karena ketahuan belum makan, padahal tadi biang sudah kenyang.
“Tapi, Mas?” Kinan merasa ragu dan tak enak hati, Mereka baru saja bertemu dan bahkan belum kenal betul, tetapi laki-laki itu sudah bersikap seolah mereka sudah berteman lama.
“Sudahlah. Nggak perlu sungkan[2]. Bukankah kita sudah menjadi teman sekarang?” Dana tiba-tiba membuka pintu di samping Kinan sambil mengembangkan payung yang tadi dibawanya.
Kinan kikuk. Tapi menolak ajakan Dana tentu tidak pantas dia lakukan. Dengan sikap yang sungkan, Kinan turun dan bergabung dengan Dana di bawah payung.
“Lho, Mbak Kinan? Pulang manggung, Mbak?” tanya mas Tono, pemilik warung bakso yang menyambut kedatangan Kinan dan Dana.
“Iya, Mas. Malah kehujanan ini,” jawab Kinan sambil berjalan menuju ke kursi sementara Dana meletakkan payung. Sepintas laki-laki itu mengibas bajunya yang basah dan mengambil beberapa lembar tisu untuk mengusap wajahnya yang terkena tempias air hujan.
Jujur, sesaat Kinan terpesona oleh ketampanan Dana. Tapi di saat yang sama, dia segera menepis perasaan apapun yang kini dirasakannya. Sudah cukup dia terluka dan menjadi bahan tertawaan orang sekampung hanya karena menjalin kasih kemudian putus dan ditinggal menikah.
“Ngersakne[3] bakso, Mbak? Mas?” Mas Tono bertanya pada Kinan kemudian juga pada Dana.
Dana menatap Kinan dan senyum tampannya muncul, dan rasa terpesona itu kembali mencuat. Tak hanya di hati Kinan tapi juga di pikiran mas Tono.
“Ya, Mas. Saya bakso. Kinan bakso juga, kan?” tanya Dana menatap Kinan dengan intens dan senyum tipis yang mempesona.
“Ya.” Kinan mengangguk kikuk dengan tatapan Dana. Untuk menghilangkan kecanggungannya, Kinan memainkan ponselnya, sementara Dana tersenyum simpul. Dia tahu gadis di depannya itu kikuk.
Dan jantung Dana semakin tak bisa dikendalikan detaknya. Berdegup lebih kencang dari biasanya.
Tak lama mas Tono datang kembali menghidangkan dua mangkuk bakso pesanan mereka.
“Monggo, Mbak, Mas.”
“Terima kasih, Mas.” ucap Kinan menyudahi ponselnya.
“Mas ini pacarnya mbak Kinan ya?” Entah mengapa tiba-tiba saja mas Tono nyeletuk dengan pertanyaan konyol itu.
Kinan terkesiap dan spontan menggeleng dengan canggung. “Bukan, Mas,” jawabnya cepat.
Seharusnya Dana kecewa dengan jawaban Kinan, tetapi dia punya jurus yang jauh lebih ampuh untuk mengunci kedua orang itu.
“Bukan, Mas. Saya calon suami Kinan.”
Glek!!
***
[1] anda (bhs. Jawa, kromo halus)
[2] segan, tidak enak hati
[3] minat, mau, menginginkan (bahasa Jawa kromo halus)
Daftar Chapter
Chapter 1: PROLOG
307 kata
Chapter 2: UCAPAN ADALAH DOA
1,170 kata
Chapter 3: ADA APA DENGAN HARI INI?
1,299 kata
Chapter 4: LOVE AT FIRST SIGHT
1,643 kata
Chapter 5: SECUIL KISAH
1,585 kata
Chapter 6: CALON SUAMI
1,812 kata
Chapter 7: NIAT BAIK
1,429 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!