Chapter 1: PROLOG
Kota ini selalu sibuk mengulang cerita yang sama: lampu jalan menyala terlalu cepat, dan matahari terbenam terlalu pelan. Marion berdiri di antara keduanya, di sebuah trotoar sempit yang basah oleh gerimis sisa hujan sore. Jaketnya terlalu tipis untuk udara bulan Maret, tapi ia tak bergerak. Seolah tubuhnya telah terbiasa berdiri di persimpangan yang dingin dan tak pasti.
Di tangannya ada selembar surat—kertas tua yang pinggirnya sudah mulai robek. Ia tahu setiap kalimat di dalamnya di luar kepala, karena surat itu bukan hanya pernah ia baca, tapi juga pernah ia abaikan. Surat itu tak pernah sampai pada siapa pun, tak pernah dikirimkan ke alamat yang dituju. Ia menyimpannya di antara halaman buku puisi yang nyaris terlupakan, seolah berharap kata-kata itu akan membusuk perlahan seperti janji yang gagal ditepati.
Beberapa kenangan tak bisa dibuang begitu saja. Beberapa nama tinggal lebih lama daripada yang diharapkan. Dan Marion… ia tak pernah benar-benar tahu siapa yang ia rindukan: dirinya yang dulu, atau seseorang yang datang terlambat.
Mereka bilang waktu akan menyembuhkan semuanya, tapi Marion belajar bahwa waktu hanya membuat luka tumbuh akar. Ia bertanya-tanya, jika saja keputusan hari itu berbeda, jika langkah kakinya menoleh sekali lagi… apakah ia akan tiba di tempat yang sama, dengan kehilangan yang serupa?
Angin malam membawa bau lavender dari taman yang entah sudah ditutup atau belum. Marion menengadah, mencoba membaca langit. Tapi bintang tak muncul malam itu. Mungkin karena mereka tahu: ini bukan malam untuk menemukan arah. Ini malam untuk menerima bahwa beberapa musim memang tak pernah selesai. Dan mungkin, tak seharusnya diselesaikan.
Daftar Chapter
Chapter 1: PROLOG
254 kata
Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...
4,844 kata
Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki
5,523 kata
Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai
5,590 kata
Chapter 5: Yang Belum Usai
5,736 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!