')">
Progress Membaca 0%

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terdengar

Alvianti Purnamasari 30 Mar 2026 4,844 kata
GRATIS

Musim panas di London adalah musim yang lembut dan tipis, seperti selembar tirai linen yang melayang di antara angin dan cahaya. Hari itu, Langford School of English dipenuhi suara tawa beraksen asing, bahasa-bahasa yang saling menabrak di udara, dan aroma kopi dari bar kecil di lobby lantai satu. Di balik semua itu, Marion Lancewood berjalan melewati lorong dengan kemeja lengan panjang biru pucat, celana bahan, dan sepatu berhak rendah yang nyaris tak bersuara di lantai kayu. 

Matanya yang hijau zamrud menangkap bayangan dirinya di kaca jendela kantor: rambut cokelat-kemerahannya digerai, jatuh rapi sampai pinggang. Ia tampak seperti gadis dalam iklan majalah lawas—rapi, tenang, dan seolah tak pernah tergesa-gesa. Tapi wajahnya… tetap sama: teduh dan tak terbaca. Banyak siswa baru merasa segan ketika pertama kali bertemu dengannya. "Kamu terlihat seperti akan membacaku habis-habisan," kata salah satu murid dari Istanbul minggu lalu, bercanda sambil memegangi map pendaftaran. Marion hanya tertawa kecil, lalu membantu anak itu mengisi formulir dengan sabar.

Mereka tak pernah tahu, Marion selalu membawa pulang semua cerita itu dalam dadanya. Semua keluhan kecil, semua ketakutan, semua pertanyaan yang menggantung di udara kelas. Ia bukan hanya mendengar, ia menyimpan.

Seperti hari itu.

Ia duduk di ruangannya yang kecil, di lantai dua gedung tua yang dindingnya sering mengelupas cat. Meja kerjanya dipenuhi berkas dan kotak kertas teh, dan foto ibunya terselip rapi di bawah monitor komputer. Jari-jarinya menggenggam cangkir teh yang sudah dingin sejak dua jam lalu. Tapi yang membuatnya diam bukan teh, bukan kerjaan.

Tapi layar ponsel yang tidak berkedip.

Sudah delapan hari. Tidak ada pesan. Tidak ada tanya. Tidak ada "hey love" yang biasanya muncul setiap pagi. Yuri Starkweather menghilang seperti embun di cermin—tidak secara tiba-tiba, tapi perlahan-lahan, hingga Marion tak sadar bahwa ia telah terbiasa dengan kehilangan yang kecil-kecil. Sampai kehilangan itu terasa besar dan tidak bisa diabaikan lagi.

"Dia mungkin sibuk."

"Mungkin lagi banyak proyek."

"Mungkin… aku yang terlalu berharap?"

Marion mengusap pipinya yang mulai terasa panas. Ia tahu Juno pasti akan menelepon malam ini. Pria itu punya semacam radar untuk mendeteksi perubahan dalam suaranya—dan akhir-akhir ini, Marion tak pandai menyembunyikan nada-nada retak.

Juno Benedictus.

Ia seperti bayangan sore yang panjang di belakangnya. Tak pernah memaksa, tapi selalu ada. Juno tahu bagaimana membuatnya tertawa hanya dengan komentar bodoh tentang kereta yang selalu telat, tahu makanan kesukaannya saat PMS, tahu cara memarahi Marion tanpa menyakiti.

Tapi malam itu, suara Juno di telepon terdengar sedikit berbeda.

“Aku ke tempatmu setelah pukul 7 malam,” katanya singkat.

“Kenapa? Aku nggak apa-apa.”

“Aku tahu kamu nggak apa-apa. Tapi kamu juga tahu, aku nggak percaya kata-kata itu dari kamu.” Dan Marion diam. Ia menatap cermin kecil di mejanya. Senyumnya manis, seperti buah peach di musim panas. Tapi senyum itu tidak sampai ke mata. Di sana hanya ada kelelahan yang tak sempat diistirahatkan.

 

Saat matahari mulai tenggelam di balik atap-atap kota tua, dan lampu-lampu jendela mulai menyala satu per satu, Marion berjalan pulang dengan langkah perlahan. Camden terasa hangat, penuh dengan suara sepeda, anak-anak yang tertawa, dan aroma dari restoran Turki di ujung blok.

Tapi di dalam dadanya, Marion membawa keheningan yang berbeda.

Ketika ia sampai di depan apartemen, seseorang sudah duduk di tangga batu.

London mungkin tidak mengenal musim panas seperti ini. Tapi Juno—dengan jaket kulit hitamnya, rokok yang belum dinyalakan, dan tatapan yang gelap tapi tenang—selalu membawa kehangatan yang entah bagaimana lebih nyata dari matahari.

“Kamu keliatan capek,” katanya.

Marion hanya mengangguk. “Kamu juga.”

Mereka masuk tanpa banyak bicara. Hanya suara pintu yang ditutup perlahan, dan langkah kaki yang menggema di lantai kayu apartemen kecil itu dan untuk sesaat, dunia terasa tidak begitu kejam.

 

Setelah menyimpan dua cangkir teh yang tinggal setengah, Marion berdiri. Ia mengucapkan terima kasih lirih pada Juno, lalu masuk ke kamar yang pintunya selalu dibiarkan terbuka sebagian. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang kecil dekat dinding bata, menyelipkan tubuh ke balik selimut tipis. Lampu dibiarkan menyala redup.

Tapi malam di Camden jarang benar-benar sunyi.

Dan Marion tahu, pikirannya pun begitu.

Ia menutup mata, membiarkan tubuhnya hanyut dalam rasa lelah. Namun yang datang bukan tidur, melainkan sosok yang sejak lama ia coba kubur pelan-pelan.

Yuri.

Semua berawal dari auditorium kecil di Westminster, tahun pertamanya sebagai mahasiswa internasional. Ia duduk rapi, menyimak presentasi dengan pena dan buku catatan di pangkuan. Saat itulah Yuri memperkenalkan diri—senior di jurusan yang sama, berdiri di depan dengan kemeja putih yang lengan atasnya tergulung, rambut ikalnya berantakan tapi seperti punya arah. Ia tersenyum santai, suaranya jelas, dan Marion tak ingat satu pun yang ia katakan hari itu.

Karena saat itu, ia belum peduli.

Justru Juno yang lebih dulu datang mengisi harinya. Mahasiswa transfer dari Rotterdam yang duduk di sebelahnya saat kelas Bahasa Inggris Akademik dimulai. Mereka sering satu tim, sering makan siang bersama. Juno selalu menjaga jarak yang sopan, tapi hangat. Seperti pagar besi yang tidak pernah berkarat.

Yuri datang belakangan, saat acara kewirausahaan yang membuat Marion sibuk dengan laporan dan rapat larut. Ia ingat betul, malam itu udara mulai dingin. Marion memeluk map rapat di dada, menunggu bus yang tak kunjung datang.

“Kamu tinggal di arah mana?” tanya Yuri dari balik asap rokoknya.

“Barons Court.”

“Busnya udah berhenti jam segini. Aku antar.”

Ia tidak banyak bicara selama perjalanan. Mobil Yuri bau tembakau dan parfum kayu, tapi anehnya, tidak membuat Marion risih. Ia justru merasa... aman. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ada seseorang yang mengantar sampai pintu, memastikan ia membuka kunci dengan benar, lalu berkata:

“Jangan lupa makan. Jangan nulis sambil duduk di lantai. Dan jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri, Marion.”

Ia tak tahu kenapa Yuri tahu nama lengkapnya.

Tapi kalimat itu terekam, seperti stempel yang tak bisa dilarutkan oleh musim.

Setelah itu, Yuri muncul makin sering. Menyapa setiap lewat lorong kampus. Membantu Marion mencetak dokumen yang printer-nya rusak. Membelikan sandwich saat rapat terlalu panjang. Ia bukan orang yang banyak janji, tapi selalu muncul ketika Marion tidak sanggup bilang ia butuh teman.

Dan Marion, dengan cara yang sederhana dan tanpa suara, mulai membuka pintunya untuk seseorang yang bermulut manis tapi sorot matanya seperti batu yang basah—tak pernah benar-benar bisa kau genggam.

Namun seiring waktu, senyum Yuri berubah menjadi pertanyaan. Sapanya menjadi perintah. Perhatiannya menjadi kabut tebal yang membuat Marion kesulitan melihat dirinya sendiri.

Malam itu, di ranjang kecil yang sama, Marion terbangun karena bulir air menetes dari sudut matanya sendiri. Ia tak tahu kapan tepatnya air itu jatuh. Yang ia tahu, nama itu masih hidup dalam ingatannya.

Yuri.

Dan seberapa pun Marion mencoba membenahi hidupnya, lelaki itu tetap tinggal sebagai sisa luka yang belum selesai dijahit.

 

Ruang apartemen kecil itu masih menyimpan aroma teh hangat dan sisa embun malam. Marion berdiri di dapur, sendirian, dengan secangkir kopi yang belum ia teguk. Matanya masih sedikit sembap meskipun wajahnya telah dibersihkan berkali-kali dengan air dingin.

Di ruang tengah, Juno masih tertidur di sofa, satu lengan menjulur ke sisi lantai, dan selimut tipis hanya menutupi sebagian tubuhnya. Nafasnya teratur. Tenang. Suara televisi yang dibiarkan menyala semalaman telah berganti menjadi tayangan pagi yang nyaris tak bersuara.

Marion menatap Juno dalam diam.

Ada bagian dari dirinya yang ingin membangunkan lelaki itu, sekadar mengucap terima kasih karena telah diam semalam, karena telah duduk di sana dan tidak mencoba apa-apa kecuali hadir. Tapi ada juga bagian dari dirinya yang enggan mengganggu—karena kehadiran Juno yang sunyi itu justru menyelamatkan. Ia membawa kopi itu ke jendela, berdiri di sana. Sinar matahari menelusup melalui kaca jendela yang berembun. Dari lantai dua ini, Marion bisa melihat deretan mobil yang mulai bergerak, dan suara samar burung camar yang sesekali melintasi langit Camden..

Juno bergumam pelan, suaranya berat, sedikit serak. "Kopi itu untukku?"

Marion menoleh setengah, separuh bibirnya terangkat dalam senyum kecil. “Buatku. Tapi kamu boleh rebus air sendiri.”

“Pemilik rumah macam apa ini…” gumam Juno sambil duduk perlahan, menggosok matanya yang masih berat. Rambutnya berantakan, kemeja hitamnya kusut, tapi ia tetap terlihat seperti dirinya—nyaman dalam ketidakteraturan.

Marion tidak menjawab. Ia hanya kembali menatap jendela, menyesap kopi yang kini mulai mendingin. Beberapa detik kemudian, suara langkah pelan mendekatinya. Juno berdiri di belakangnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk membuat bayangan mereka menyatu di kaca.

“Pagi ini kamu kelihatan seperti... seseorang yang sedang mencoba melupakan,” ucap Juno pelan. Marion tertawa kecil. Tertawa yang tidak benar-benar berarti bahagia. “Aku hanya tidak ingin mengingat, itu saja.” Juno mengangguk, mengerti. Ia tahu, dalam hidup Marion, tidak semua kesedihan perlu diberi nama. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lalu, suara Marion muncul lagi, nyaris seperti bisikan:

“Aku mimpi tentang dia tadi malam.” Juno tidak bertanya siapa. Ia tahu.

Marion melanjutkan, “Saat pertama kali aku melihatnya… itu di aula Westminster. Tahun pertama. Tapi aku bahkan nggak memperhatikannya. Saat itu aku justru duduk di sebelah kamu. Kamu ingat?”

“Iya. Kamu bawa ransel yang tiga kali lebih besar dari badanmu,” ujar Juno sambil terkekeh.

“Kamu yang bilang begitu dulu,” balas Marion, tersenyum, menahan air mata yang hampir kembali menyusup. “Aku ingat kamu bilang... ‘Kamu kuliah atau kabur dari rumah?’”

“Itu kalimat pembuka paling brilian yang pernah kubuat,” kata Juno, lalu meneguk teh dari cangkir yang entah sejak kapan muncul di tangannya.

Marion menyandarkan tubuhnya pada kusen jendela. Mata hijau zamrudnya menerawang ke luar. “Waktu aku jadi panitia acara itu… Yuri mulai sering muncul. Aku pikir awalnya cuma karena dia ketua panitia. Tapi ternyata dia lebih sering muncul karena... aku.”

Juno tidak bicara. Ia hanya menatap Marion, membiarkannya membuka lipatan-lipatan kecil yang mungkin telah lama ia rapikan rapi di dalam hatinya.

“Aku kira aku satu-satunya,” ujar Marion pelan. “Padahal mungkin aku cuma satu dari banyak.”

Nada suaranya tidak getir, tapi ada kehampaan yang menusuk.

“Bukan kamu yang salah,” ujar Juno. Kalimatnya sederhana, tapi nadanya penuh bobot. “Kalau seseorang memutuskan menjadi kabur, itu bukan tanggung jawabmu.” Marion menutup mata sejenak, membiarkan kalimat itu meresap, lalu membuka lagi dengan senyum tipis. “Tapi kamu tahu, Juno… bahkan sekarang, setelah semua ini, aku masih belum bisa membenci dia.”

“Karena kamu manusia.”

Dan Juno, meskipun tidak menyentuhnya secara langsung, menempatkan dirinya di sisi Marion seperti jangkar kecil di tengah laut yang tenang—cukup untuk membuatnya tidak hanyut.

Pukul tujuh lebih tiga puluh lima. Marion meneguk habis kopinya, menaruh cangkir ke wastafel, dan mengambil tas kerja dari gantungan. Ia kembali ke arah jendela, merapikan sedikit rambutnya, lalu berkata, “Aku harus ke Longford.”

“Pakai sepatu yang nyaman,” ujar Juno, “hari ini kelihatannya akan panjang.”

Marion menoleh sekali lagi, tersenyum, lalu membuka pintu.

Langit London pagi itu cerah. Tapi tidak lebih terang dari keberanian Marion yang tak pernah ia pamerkan.

 

Sementara itu, langkah Marion menuruni tangga apartemen pelan-pelan, seperti seseorang yang sedang memilih antara menjejak atau melayang. Sepatu flat-nya sedikit bergesek dengan anak tangga kayu yang mengelupas, mengeluarkan suara kecil seperti bisikan cerita yang tak selesai. Pintu masuk gedung terbuka dengan derit lirih, dan dunia menyambutnya dengan angin kering yang membawa bau roti panggang dari kafe pojok jalan.

Ia berjalan menuju stasiun terdekat—South Camden Station—melewati trotoar sempit yang dipenuhi daun-daun yang belum sempat disapu. Langkahnya mantap tapi tidak tergesa, dan matahari yang baru naik menyinari bahunya seakan ikut membasuh sisa air mata semalam.

Di kereta bawah tanah, Marion berdiri, memegang tiang logam dingin sambil menatap pantulan dirinya di jendela. Orang-orang di sekitarnya tampak sibuk dengan dunianya masing-masing—seorang ibu dengan stroller, dua remaja dengan seragam sekolah, pria berjas yang tak berhenti mengecek jam tangan.

Marion mengedarkan pandangannya. Rute Piccadilly line hari ini akan membawanya ke Langford East, seperti biasa, melewati King’s Cross dan St. Pancras, stasiun-stasiun yang dulu terasa megah kini hanya jadi nama yang ia hapal luar kepala.

Suara otomatis di speaker kereta terdengar: "Next station: Russell Square."

Kepalanya sedikit menunduk, rambutnya menutupi pipi, tapi ekspresinya tetap tenang. Tidak ada tangis. Tidak ada senyum. Hanya sorot mata seseorang yang sedang belajar memisahkan antara kecewa dan dendam. Antara ingatan dan jalan ke depan.

Ia turun di Langford East tepat pukul 08.22, melewati koridor panjang yang temaram, lalu keluar ke trotoar yang langsung mengarah ke institusi tempatnya bekerja. Longford Shool of English, tempat ia setiap hari membantu mahasiswa internasional menemukan pijakan di tanah asing. Di sana, ia dikenal sebagai yang paling teliti, paling sabar, dan paling mengerti—meski ia sendiri masih belajar memahami apa artinya bertahan.

Di balik pintu kaca itu, akan ada meja resepsionis, dan tumpukan laporan yang harus dibaca. Tapi sebelum semuanya dimulai, sebelum ia kembali menjadi “Miss Marion” yang tegas dan rapi, Marion menatap layar ponsel cukup lama untuk membuat bayangannya sendiri tampak memudar di pantulan. Ia memasukkan ponsel ke tas, membuka pintu, dan melangkah masuk.

Dengan wajah yang sama, tapi jiwa yang sedikit lebih ringan. Sedikit lebih tahan. Sedikit lebih Marion dari hari kemarin.

 

Longford School of English berdiri di antara bangunan-bangunan klasik bergaya Victoria di South Kensington. Fasadnya tidak besar, tapi interiornya penuh dengan energi dari puluhan siswa asing yang datang dari berbagai negara, membawa aksen, mimpi, dan kegugupan yang sama.

Marion tiba pukul 08.22, hanya delapan menit sebelum jam konsultasi pertamanya dimulai. Ia menyapa petugas resepsionis dengan senyum cepat, mengambil lanyard dan ID-nya dari meja, lalu berjalan cepat ke ruangannya yang berada di lantai dua.

“Morning, Marion!” sapa James, rekan kerjanya yang selalu terlalu ceria untuk ukuran pagi hari.

“Good morning,” jawab Marion, suaranya sedikit serak tapi masih ramah. Ia melewati James tanpa banyak basa-basi, langsung masuk ke ruang kecilnya yang penuh tempelan sticky note berwarna pastel.

Ia duduk, menarik nafas panjang, lalu menatap layar komputer yang langsung menampilkan nama-nama siswa yang akan ia temui hari itu.

08:30 — Linh Tran

09:00 — Matteo Rossi

09:30 — Open slot

10:00 — Adalberto Jiménez

 

Marion meneguk air putih dari botolnya. Sekali lagi, ia menenangkan wajahnya di depan layar monitor yang menjadi satu-satunya cermin baginya pagi ini. Senyum. Lembutkan mata. Rilekskan rahang.

Lima menit kemudian, pintu ruangannya diketuk.

“Come in,” ucapnya pelan.

Seorang gadis kecil dari Vietnam masuk perlahan, membawa map oranye dan mata penuh ketakutan. “Miss Marion?”

Marion langsung berdiri dan mengangguk ramah. “Yes, Linh. Please, have a seat.”

Linh duduk perlahan, tangannya menggenggam map itu seperti perisai.

“Is this your first week?” tanya Marion.

Linh mengangguk. Matanya berkaca-kaca.

Marion mengangguk pelan. Ia tahu betul rasa itu—terlempar di negara baru, bahasa yang asing, udara yang dingin, dan orang-orang yang tidak tersenyum semudah di rumah. Jadi Marion melakukan apa yang ia bisa. Ia mencondongkan badan, menurunkan nada suaranya menjadi lebih hangat, dan mulai berbicara.

"You're doing well already, Linh. You're here. That’s already something brave.”

Linh tertawa kecil, gugup, tapi rona pipinya berubah sedikit. Dan Marion, untuk sejenak, lupa bahwa dirinya sedang patah.

Sesi-sesi berikutnya berjalan nyaris sama—Marion memberikan arahan administratif, menjelaskan perbedaan grammar yang membingungkan, menyusun ulang jadwal kelas, dan menjadi tempat curhat tidak resmi bagi para siswa internasional yang tak tahu kepada siapa harus bicara ketika mereka rindu rumah.


Kadang-kadang, Marion merasa dirinya seperti pintu putar—tempat orang-orang datang, mencurahkan perasaan, lalu pergi lebih ringan, sementara dirinya tetap di sana, berdiri dengan beban yang sama.

Saat jam menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh, Marion akhirnya punya waktu untuk duduk sebentar. Ia berjalan ke pantry, membuat teh hitam, dan menemukan James di sana, sibuk membuka bungkus muffin.

“Looks like hell week, huh?” ujar James sambil menyodorkan muffin.

Marion tersenyum kecil, menolak tawaran itu. “Just a regular Tuesday.”

“God, you’re always so composed,” kata James lagi, mengunyah pelan. “Kalau aku jadi kamu, dengan jadwal serapat itu, aku udah resign sejak semester lalu.”

Marion tertawa kecil, lalu menjawab, “Mungkin kamu memang bukan aku.”

James tertawa juga, tidak merasa tersinggung. Lalu berkata, “Ngomong-ngomong, ada mahasiswa Jepang—Akito—yang nanyain kamu. Katanya dia dapat email peringatan, tapi dia nggak ngerti isinya.”

Marion mengangguk. “Bilang dia bisa ke ruanganku jam dua.”

James memberi hormat sambil bersendawa pelan. “Siap, Kapten Marion.”

Saat kembali ke ruangannya, Marion membuka email. Layar itu menampilkan daftar balasan dari siswa, sebagian bertanya soal visa, sebagian tentang perpanjangan kursus. Dan di antara ratusan inbox, matanya terpaku pada satu nama yang tidak asing: Yuri Starkweather.

Subjeknya hanya satu kata: Sorry.

Marion menatap email itu tanpa membukanya.

Ia menutup laptopnya perlahan, memutar kursi ke arah jendela, dan membiarkan dirinya diam selama satu menit. Lalu ia menarik napas panjang, menyisipkan helaian rambut ke belakang telinga, dan kembali berdiri.

Masih ada lima siswa lagi yang harus ia bantu hari ini.

Karena meskipun hatinya masih retak, Marion tahu bahwa hari ini bukan tentang dirinya. Hari ini, seperti hari-hari lainnya, adalah tentang orang lain yang datang dan butuh didengarkan.

Dan ia, entah bagaimana, masih bisa mendengarkan.


Langit kota London sore itu berwarna keperakan, langit musim panas yang enggan menua. Di luar jendela Longford School of English, burung-burung camar sesekali melintas, membuat siluet pada cahaya yang memantul di kaca. Gedung sekolah berarsitektur klasik itu berada di kawasan Bloomsbury—dekat British Museum—dan memiliki lorong panjang yang berbau buku, tinta, dan kopi instan dari dispenser murah.

Marion sedang duduk di meja kecilnya, berhadapan dengan seorang siswa baru asal Argentina yang terlihat gugup. Namanya Mateo. Umurnya delapan belas. Anak laki-laki kurus itu duduk dengan jari-jari saling bertaut, menatap Marion seakan ia satu-satunya jangkar dalam bahasa asing yang masih terdengar seperti hutan asing baginya.

Marion tersenyum pelan, lembut, tanpa banyak gerakan. Matanya masih menyimpan kelelahan, dan pipinya sedikit sembap. Tapi tak ada yang benar-benar bisa membaca kesedihan dari wajah itu. Ia tahu caranya menyimpan luka—sama seperti ia menyimpan surat-surat dari Yuri yang tidak pernah ia baca habis.

“Kamu tidak perlu takut salah,” katanya, suara pelan tapi menenangkan. “Kita semua pernah jadi orang baru.”

Mateo mengangguk, lalu menjawab dalam bahasa Inggris patah-patah yang ia pelajari lewat serial Netflix dan lagu-lagu John Mayer. Marion mendengarkan tanpa mengoreksi. Ia mencatat di buku kecilnya dan kadang memberi acungan jempol. Ia seperti itu pada semua siswa—berusaha menjadi bahu yang tidak menghakimi. Ia hanya tidak bisa melakukan itu pada dirinya sendiri.

Setelah sesi konsultasi itu, Marion menyandarkan tubuh di kursinya. Tangannya membuka kotak makan siang yang tak disentuh sejak siang. Isi kotak itu hanya roti isi telur dan potongan apel yang kini sudah mengering. Ia menggigitnya tanpa rasa, sementara pikirannya melayang ke pesan terakhir dari Yuri yang dikirim delapan hari lalu—pesan yang hanya bertuliskan:

“I think we need some space.”

Dan lalu, senyap. Dua hari tak ada kabar. Delapan hari sejak Yuri menghilang seperti kebiasaan lamanya yang selalu berakhir pada dirinya yang mengemis kejelasan.

Pintu ruangannya diketuk ringan. Seorang kolega—Emma, guru asal Wales—menjulurkan kepala dan berkata, “There’s a student asking for you, Marion. He looks lost.”

Marion berdiri, mengambil map dari mejanya, dan tersenyum seadanya. “Alright. Thank you, Emma.” Dan seperti itu, ia kembali berjalan. Menjadi seseorang yang diperlukan. Menjadi Marion Lancewood yang menjawab pertanyaan, menunjukkan ruang kelas, menenangkan siswa yang rindu rumah. Tapi tak ada yang tahu bahwa di dalam dirinya, ada reruntuhan yang belum sempat ia bersihkan.

Saat langit mulai keemasan, Marion keluar dari gedung Longford. Angin hangat menyapu rambutnya yang panjang dan terurai. Ia berdiri sejenak di trotoar depan, memandangi bus-bus merah berlalu lalang. Tak ada pesan dari Yuri. Tapi Juno meninggalkan satu.

Are you okay today? Mau aku jemput?”

Marion menatap pesan itu lama. Jemarinya ragu, lalu akhirnya membalas.

No need, Juno. Aku bisa pulang sendiri. Tapi terima kasih ya, kamu selalu ada.”

Ia menyelipkan ponsel ke dalam tas, menyeberangi jalan, lalu berjalan menyusuri trotoar dengan langkah pelan. Ada rindu yang tak bisa ia akui, dan ada luka yang bahkan belum berdarah dan sore di kota tua itu tetap berjalan seperti biasa. Orang-orang tersenyum. Kereta datang dan pergi. Tapi dalam dada Marion, hari itu masih belum selesai.


Langit mulai kehilangan warna ketika Marion membuka pintu apartemennya. Udara lembap musim panas menyelinap masuk sebelum ia menutup kembali pintu dan menggantungkan mantel panjangnya di dekat rak sepatu. Apartemen itu senyap, bersih, dan terlalu rapi—seperti seseorang yang terbiasa menata segala hal agar rasa kosong tidak terlihat.

Juno tidak di sana. Ia sempat mengantar Marion ke stasiun pagi tadi, lalu pamit karena harus menghadiri rapat akademik. Pekerjaannya sebagai staff researcher di Westminster memang padat, terutama karena proyek internasional yang sedang ia tangani. Marion sempat bertanya-tanya, bagaimana Juno bisa tetap terlihat begitu ringan padahal beban pikirannya jauh lebih berat dari miliknya?

Tapi mungkin, memang seperti itulah Juno. Selalu tenang, selalu tahu harus bersikap bagaimana.

Marion berjalan menuju dapur, meletakkan tasnya di kursi, lalu membuka kulkas. Ia mengambil seikat kecil asparagus, dua telur, dan sepotong roti gandum. Tidak ada nafsu makan yang nyata, tapi ia tahu tubuhnya butuh asupan. Ia menyibukkan diri memotong sayur, memanaskan wajan, menyalakan radio kecil yang menggema pelan dengan lagu dari band indie lokal. Di tengah suara menggoreng dan musik instrumental yang melayang di udara, kenangan datang tanpa diundang.

Yuri.

Awalnya Marion tidak merasa apa-apa ketika mereka bekerja bersama dalam acara kewirausahaan kampus. Yuri adalah sosok yang memikat, tapi bukan dengan cara mencolok. Ia tahu cara bicara dengan ritme yang menenangkan, tahu waktu diam, tahu kapan memberi pujian. Marion terkejut saat Yuri mulai mengantarnya pulang setelah rapat malam hari, diam-diam, tanpa banyak bicara. Hanya ada dua langkah kaki mereka dan napas mereka sendiri.

“Aku suka kamu, Marion,” kata Yuri suatu malam. Suaranya nyaris tak terdengar karena angin di stasiun bawah tanah lebih nyaring.

Itu membuat Marion membeku. Tapi ia tak menolak.

Yuri mulai sering muncul. Mengirim bunga lili putih ke apartmentnya—bunga yang kini sudah mengering di dalam kotak sepatu. Menuliskan catatan kecil, seperti: “Untuk hari yang melelahkan. Kamu tetap cantik bahkan saat capek.”

Marion masih menyimpan catatan itu. Di laci meja makan. Di bawah taplak. Tapi ia tak pernah membukanya lagi.

Ia mendengar banyak hal tentang Yuri, dari mahasiswi lain. Bahwa Yuri pernah dekat dengan si ini, si itu. Bahwa ia manis pada semua orang. Bahwa ia tidak pernah terlihat benar-benar sendiri. Tapi Marion diam saja. Karena dalam diamnya, Yuri datang padanya. Karena dalam diamnya, Yuri membuatnya merasa dipilih.

Bahkan Juno pun tak tahu saat itu. Marion menyimpan semuanya sendiri. Sebab ia takut—bukan pada penghakiman orang lain, tapi pada kemungkinan bahwa semuanya akan hilang jika ia mengucapkannya terlalu keras.

Kini, saat ia duduk sendirian di meja makan, mengaduk telur dadar yang tidak terlalu matang, Marion menyadari: bukan rasa sakitnya yang paling sulit ditanggung, tapi rasa malu karena pernah merasa spesial.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bukan dari Yuri. Tapi dari Juno.

“Kamu di rumah? Aku habis dari fakultas. Kalau belum makan, aku bisa mampir bawain sesuatu.”

Marion membaca pesan itu tanpa langsung membalas. Ia memandangi layar ponsel seperti memandangi dirinya sendiri.

Lalu akhirnya membalas singkat:

“Aku sudah masak. Tapi makasih, Jun. Hati-hati di jalan ya.”

Ia meletakkan ponsel, lalu menatap telur dadarnya yang sudah mulai dingin. Kenangan tentang Yuri masih menggantung di udara, seperti asap wangi dari parfum yang pernah tertinggal di kerah jaket Marion. Wangi yang dulu membuatnya merasa hidup—dan kini hanya membuatnya sesak.


Denting jarum jam di dinding berdetak pelan, seperti melodi kesepian yang akrab di telinga Marion. Ia masih duduk di meja makan, tak banyak bergerak. Piring kosong di depannya belum dibereskan, dan matanya terus terpaku pada satu titik: laci kecil di samping lemari rak buku.

Tangannya terulur pelan. Ia membuka laci itu dengan gerakan ragu, seolah tahu apa yang akan ditemukannya di dalam.

Tumpukan kecil kertas—berlipat, ada yang mulai menguning di ujung, ada juga yang masih tampak rapi seolah baru ditulis kemarin.

Tulisan tangan itu. Miring sedikit ke kanan, ramping, dan seperti punya aliran tersendiri. Huruf-hurufnya hidup di matanya.

“Kalau kamu kopi, aku ingin jadi buku. Karena kamu akan menemaniku dalam malam-malam panjang.”

“Kalau hidupmu berat, aku mau jadi sepatu yang kuat. Biar kamu tetap bisa jalan, meski dunia menolakmu.”

“Aku tahu kamu lebih kuat dari apa yang kamu kira. Tapi boleh, kan? Aku jadi tempat kamu istirahat sebentar saja.”

Ada puluhan. Beberapa hanya berisi kalimat pendek seperti pengingat kecil untuk makan siang, atau pujian tentang warna sweater yang Marion pakai hari itu. Tapi banyak juga yang seperti puisi—manis, tajam, dan meninggalkan jejak seperti bayangan di sore hari.

Marion menelusuri tiap kertas dengan jemarinya yang mulai bergetar. Hatinya hangat… tapi dalam hangat itu, ada luka yang tak bisa ia beri nama. Ada kehampaan yang tidak pernah ia harapkan muncul dari sesuatu yang dulu membuatnya merasa dipilih.

Ia menarik napas, lalu tersenyum kecil—samar, getir.

Kenangan itu kembali menumpuk tanpa bisa ditolak.

Ia ingat saat Yuri duduk di tangga perpustakaan bersamanya, membantu mencari bahan untuk “Postcolonial Literature and Theories,” mata kuliah paling memusingkan yang Marion ambil di semester kedua. Yuri tidak mengikuti kelas itu, tapi ia mencetak artikel jurnal, membawakannya highlight warna-warni, dan menjelaskan konsep-konsep yang bahkan dosennya sampaikan dengan membingungkan dan ada hari ketika Juno tidak bisa datang menemaninya ke British Library karena tugas asisten peneliti yang mendadak. Yuri yang datang menggantikannya, dengan jaket kulit dan kantong celana penuh catatan. Ia bahkan membawa thermos berisi teh manis.

“Biar kamu nggak ngerasa sendirian. Aku juga pernah nyari buku sambil nahan kantuk. Sekarang giliran kamu.”

Kata-kata itu terngiang begitu saja.

 

Kini, semuanya terasa jauh. Terlalu jauh. Seolah terjadi pada Marion versi lain—yang lebih muda, lebih percaya, dan belum tahu bahwa hangat bisa berubah dingin secepat itu.

Pintu apartemen berderit pelan.

Marion menoleh, buru-buru menyeka air matanya, merapikan tumpukan kertas itu dan menutup laci sebelum suara langkah mencapai dapur.

Juno masuk, mengenakan hoodie kelabu dan membawa dua bungkus plastik kecil dari toko dekat stasiun. Ada roti, buah, dan sekotak pudding matcha favorit Marion.

“Aku bilang nggak usah, kan?” ucap Marion sambil mencoba tersenyum, tapi suaranya serak.

Juno menatapnya. Lalu berjalan mendekat, tanpa langsung bicara.

“Lacinya kebuka tadi pas aku lewat,” katanya pelan.

Marion menunduk. Tidak menyangkal.

“Maaf,” bisiknya. “Aku cuma pengin… lihat sebentar. Aku nggak tahu kenapa.”

Juno tak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan belanjaan, lalu duduk di samping Marion, tubuhnya hangat dan tetap tenang seperti biasa. Tangannya terulur, menyentuh lengan Marion dengan pelan.

“Kalau kamu mau baca semuanya sampai habis, aku bisa duduk di sini. Nemenin,” ujar Juno.

Marion menggeleng kecil. “Nggak usah. Aku cuma... pengin ngerasa sedikit lebih utuh. Meskipun... itu justru bikin retak.”

Juno mengangguk. “Kadang, luka itu baru kelihatan setelah kita sadar kita pernah bahagia.”

Malam itu, mereka duduk diam. Tak ada yang dibaca. Tak ada catatan yang dibuka lagi. Tapi kehadiran Juno—diam, hangat, dan tidak menuntut—membuat udara di ruang kecil itu sedikit lebih bisa ditanggung.

 

Angin malam dari arah Sungai Thames masuk pelan melalui sela tirai yang belum ditutup. Balkon kecil di apartemen Marion hanya muat dua kursi rotan dan sebuah pot rosemary kering. Tapi di sanalah mereka sekarang—Marion dan Juno—duduk diam, memandangi langit yang sudah kehilangan warna.

“Dingin,” ujar Marion, sambil menarik lengan sweaternya lebih tinggi hingga menutupi telapak tangan.

Juno menyerahkan mug teh hangat. Ia tidak banyak bicara, tapi tatapannya cukup untuk membuat Marion merasa aman… atau setidaknya, tidak terlalu sendiri.

Beberapa detik berlalu, hanya suara kota yang samar-samar terdengar dari kejauhan.

“Aku kadang benci diriku sendiri,” Marion akhirnya bicara. Suaranya serak, tapi tak ada air mata yang keluar.

Juno menggeleng pelan. “Kalau kamu mulai dengan kalimat itu, berarti ada yang kamu tahan terlalu lama.”

Marion tersenyum kecil, lalu menatap ke jalanan di bawah.

“Aku dan Yuri sering bertengkar belakangan ini. Bahkan hal kecil bisa jadi ledakan. Dia kerja jauh dari kota, tahu kan? Di… QuantaNova Digital, perusahaan konsultan komunikasi digital itu. Semacam—mereka ngurusin manajemen reputasi dan strategi komunikasi korporat. Intinya, kerjaannya berat dan dia sering pindah-pindah kota. Terakhir dia di Manchester. Sebelumnya sempat di Birmingham. Kadang di Leeds juga.”

Juno mengangguk. Ia memang tahu sekilas dari Marion bahwa Yuri bukan pekerja kantoran biasa.

“Dulu... pas awal-awal dia pindah, semuanya masih baik. Dia masih sempat pulang seminggu sekali. Kadang cuma mampir empat jam, tapi cukup buat sekadar minum teh dan... ya, kamu tahu. Berbagi napas sebentar aja sudah cukup. Tapi makin ke sini... dia makin jarang pulang. Katanya harus tinggal lebih lama di Islington. Di rumah ibunya.”

Marion menunduk. Rosemary di pot kecil itu tampak seperti ingatan—kering dan tak tahu kapan bisa tumbuh lagi.

“Aku ngerti, dia sibuk. Aku ngerti dia juga punya keluarga, adik yang harus diurus, dan aku nggak pernah minta lebih. Tapi terakhir kali... aku cuma tanya, 'kapan kita bisa ketemu?' dan dia jawab dingin. Katanya nggak bisa. Dia bilang harus di Islington terus. Aku cuma nanya, ‘sebentar aja, bisa nggak?’ Lalu setelah itu, dia nggak pernah balas pesanku lagi.”

Juno mendengarkan, tak sekalipun memotong.

“Dia benar-benar… menghilang, Jun.” Suara Marion melemah, seperti mengecil dalam hatinya sendiri. “Aku nggak tahu apakah aku kehilangan dia... atau dia memang nggak pernah sepenuhnya tinggal.”

“Pasti sakit,” ujar Juno lembut, akhirnya.

Marion mendongak, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak berpura-pura kuat. “Yang paling sakit itu bukan ditinggal, Jun. Tapi waktu kamu masih percaya dia akan balik, padahal dia sudah pergi.”

Angin menggoyang kelopak kering di tanaman rosemary.

Juno menatap sahabatnya lama, lalu berkata pelan, “Kamu udah berjuang sendirian terlalu lama. Dan aku tahu kamu nggak pernah suka terlihat lemah, tapi kamu boleh kok—nggak baik-baik aja.”

Marion menutup matanya sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap.

“Aku cuma pengin tahu, Jun... kenapa dia nggak bilang kalau dia nggak mau lagi? Apa sesulit itu... untuk jujur?”

Juno tak menjawab. Ia tahu tak semua pertanyaan butuh jawaban. Beberapa cuma perlu didengar—agar tak membusuk di dalam dada.

Di balkon itu, dengan teh yang mulai dingin dan udara yang menggigit pelan, Marion akhirnya membiarkan dirinya goyah. Ia tidak menangis, tidak menjerit, tapi juga tidak menyangkal bahwa ia sedang patah. Dan Juno, seperti selalu, duduk di sebelahnya. Tanpa mengisi kekosongan dengan janji manis, tapi cukup ada—dan kadang, itu lebih dari cukup.

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!