')">
Progress Membaca 0%

Chapter 10: Hari Yang Terlalu Panjang

Alvianti Purnamasari 08 Apr 2026 5,157 kata
GRATIS

Ia memasuki lobi rumah sakit dan duduk di salah satu kursi ruang tunggu. Udara dalam ruangan itu terlalu terang, terlalu steril, terlalu sepi untuk kepalanya yang penuh sesak. Marion berusaha menahan napas. Ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan, seperti ingin meledak dalam bentuk tangis yang tak tertahan. Ia menunduk, memejamkan mata. Lalu, sepasang tangan mengulurkan secangkir kopi hangat dalam gelas kertas ke arahnya.

“Minum dulu,” ucap suara yang tak asing.

Marion mengangkat wajahnya.

Juno Benedictus.

Dengan hoodie lusuh yang sama seperti semalam, wajah lelah, dan mata yang sedikit merah. Tapi tetap hadir… seperti biasa. Seperti selalu.

Marion menerimanya dengan ragu. “Terima kasih,” katanya pelan, hampir tak terdengar. Ia tak bisa menatap mata itu terlalu lama. Terlalu… hangat. Terlalu jujur.

“Papamu udah dipindah ke kamar. Operasinya lancar.” Juno duduk di sebelahnya, sedikit menjauh, tapi cukup dekat hingga ia bisa merasakan keberadaannya yang nyata.

Marion mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menelan semuanya. Ia menoleh perlahan, menatap Juno yang duduk dengan tangan di lutut, punggung agak bungkuk.

“Kamu nggak kerja hari ini?”

Juno menggeleng. “Aku ambil jatah cuti dua minggu. Proyek besar yang kemarin udah rampung. Manajemen ngasih waktu buat rehat sebelum proyek selanjutnya mulai minggu depan.”

Marion mengernyit. “Proyek selanjutnya?”

“Dari Lembaga Kajian dan Pelestarian Kebudayaan Nasional. Mereka lagi bikin digital archive buat naskah-naskah kuno dari perpustakaan lokal dan museum daerah, mau dibuat basis data terbuka untuk sekolah dan universitas. Aku yang diminta jadi koordinator pengelolaan sistem dan desain interfacenya.”

Marion terdiam sejenak. “Kamu kayaknya nggak tidur.”

Juno mengangkat bahu, tersenyum miring. “Nggak penting. Kamu butuh orang.”

Hati Marion mengerut. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya. Lalu suara itu keluar perlahan dari mulutnya, begitu pelan seperti embusan napas:

“Gimana aku bisa… membalas semua ini? Bayar semua yang udah kamu keluarin?”

Juno tidak langsung menjawab. Ia menatap Marion lama, lalu perlahan menyentuh bahunya. Hangat dan ringan. Jari-jarinya kemudian menyentuh puncak kepala Marion sebentar, seperti sedang menenangkan.

“Kamu nggak perlu balas apa pun, Mar. Aku ngebantu karena aku mau. Bukan karena kamu minta.”

Marion menunduk lagi. Matanya terasa panas, lalu hangat itu pecah. Ia meremas gelas kopinya pelan.

“Tapi aku merasa punya utang,” gumamnya, suaranya pecah, “…dan aku benci rasanya.”

Juno hanya memandang. Wajahnya tak menunjukkan kekecewaan atau amarah. Yang ada hanya ketenangan yang menyelimuti.

“Kalau kamu benar-benar mau ‘balas budi’,” ujarnya lembut, “kamu bisa mulai dengan berhenti nyalahin diri sendiri, dan izinkan orang bantu kamu tanpa rasa bersalah.”

Air mata Marion akhirnya jatuh.

Pelan. Diam-diam. Tapi tak terbendung.

“Terima kasih,” ucapnya, suaranya bergetar, “…aku—aku nggak tahu harus gimana lagi…”

Juno mengangguk kecil. “Kamu nggak harus tahu. Kamu cuma harus bertahan. Dan aku di sini.”

 

Setelah kunjungan terakhir di hari itu, dan dokter memastikan bahwa sang ayah sudah mulai pulih dari pengaruh bius, mereka meninggalkan rumah sakit menjelang senja. Pendampingan pasien hanya diizinkan sampai pukul tujuh malam, dan hari itu Marion sudah menemani cukup lama. Juno berdiri di depan gedung rumah sakit sambil menggenggam map berisi hasil pemeriksaan terbaru, matanya yang lelah masih menyimpan ketenangan. Saat Marion menghampirinya, ia tersenyum tipis.

“Aku pulang dulu, ya. Besok aku balik lagi ke sini.”

Marion mengangguk. “Aku temani Ibu dan Finn dulu di penginapan. Sekalian masak buat makan malam.”

“Ibumu pasti senang.” Juno menoleh ke arah ibu Marion yang sibuk mengecek tas belanja, lalu membantu membawakan satu kantong obat tambahan yang tadi sempat ia beli untuk nyeri lutut wanita paruh baya itu.

Ibu Marion tampak tersentuh, bahkan lagi-lagi mengucapkan, “Aduh, Juno, kamu ini baik banget… Terima kasih ya, Nak. Ibu jadi merasa lebih tenang ada kamu.”

Juno hanya tertawa kecil dan pamit sopan. Setelahnya, mereka bertiga berjalan menuruni jalan kecil ke arah Penginapan Elowen, sebuah gedung dua lantai bergaya kolonial yang hanya berjarak sekitar lima belas menit jalan kaki dari Briarhill. Bangunannya tua namun terawat, dengan jendela-jendela kayu berdaun lebar dan lampu gantung antik di lorong utama. Unit tempat mereka menginap berada di lantai dua, sebuah studio dengan dua tempat tidur kecil, kamar mandi dalam, dan dapur kotor mungil yang terpisah oleh pintu geser kaca buram.

Finn langsung menghilang ke kamar mandi begitu mereka sampai, sementara Marion dan ibunya mulai merapikan barang belanjaan. Dapur kotor itu sempit, hanya ada satu kompor tanam dan rak gantung berisi alat masak seadanya. Tapi cukup.

Marion membuka kulkas, dan melihatnya sudah hampir penuh—ada satu bungkus sayur hijau segar, dua kotak buah potong, telur, tahu, beberapa bumbu dasar, dan dua botol minuman herbal.

“Ini Juno juga?” tanya Marion.

Ibunya mengangguk sambil membuka bungkusan daun bawang. “Iya… katanya biar kamu nggak repot ke pasar dulu.”

Marion mulai menumis bawang putih, dan aroma hangat langsung memenuhi ruangan kecil itu. Di sela bunyi gemeretak wajan, ibunya bersandar pada meja kecil sambil bercerita:

“Tadi malam, pas kamu nggak ada, dia nginep di sini sebentar. Kerja di depan laptop sampai larut banget. Banyak banget panggilan masuk, kayaknya penting semua. Finn sampe bantu dia ngisi data di spreadsheet karena dia kewalahan sendiri.”

Marion hanya mendengarkan. Tangannya mengaduk-aduk isi wajan, tetapi pikirannya melayang.

“Ibu kadang mikir, entah gimana nasib keluarga Lancewood ini kalau nggak ada Juno,” lanjut ibunya lirih. “Dia bahkan lebih perhatian daripada…”

Kalimat itu menggantung.

Lalu, tanpa peringatan, ibunya bertanya, “Marion, Juno itu… punya pacar nggak, sih?”

Marion sempat menoleh cepat. “Dulu pernah. Tapi udah lama banget. Sekarang… katanya masih ingin sendiri.”

Ibunya mengangguk pelan. “Hmm… kamu nggak tertarik sama dia?”

Pertanyaan itu seperti dijatuhkan tepat ke panci panas yang tengah mendidih. Marion diam sejenak. Api kompor masih menyala kecil, dan ia berhenti menumis.

“Aku… lagi dekat sama seseorang,” katanya, perlahan.

Ibunya mengerutkan dahi. “Siapa?”

“Seorang pria. Dia tinggal di luar kota.”

Sunyi sebentar. Lalu ibunya berkata, pelan tapi sangat yakin:

“Ibu nggak tahu semenarik apa pria itu, Marion. Tapi apa yang dilakukan Juno untuk kita… bukan sesuatu yang biasa. Ibu rasa, dia mungkin menyukaimu. Mungkin lebih dari itu.”

Marion tak menjawab. Ia hanya berdiri, memandangi wajan yang mendesis, lalu menunduk. Hatinya mencelos. Ada sesuatu yang mulai menumpuk di dalam dadanya—berat dan membingungkan.

Pikirannya mendua. Antara Yuri… dan Juno.

 

 

Malam meluruh perlahan di atas kota kecil itu. Balkon unit lantai dua di Penginapan Elowen menyuguhkan angin tenang dan pendar lampu jalan yang redup, seperti dunia sedang berusaha mengecilkan suaranya agar pikiran Marion bisa bicara lebih keras. Ia duduk sendirian di kursi rotan tua, dengan segelas kopi susu hangat di tangan dan piring kecil berisi cookies vanilla di sampingnya—oleh-oleh manis yang tadi ia beli saat mampir sebentar ke kantor cabang sebelum ke rumah sakit. Di dalam, Finn sudah lama terlelap dan ibunya baru saja selesai bebersih, membiarkan rumah kecil itu tenang tanpa suara.

Ponsel Marion menyala. Notifikasi dari Yuri.

Pesan yang kelima dalam seminggu.

“Hari ini aku bantu survei lokasi bareng tim. Capek tapi lumayan seru. Kamu lagi sibuk, ya?”

“Besok katanya turun hujan. Jangan lupa bawa payung.”

“Kamu masih di rumah sakit?”

Tidak ada “bagaimana kabar ayahmu”.

Tidak ada “apa kamu baik-baik saja”.

Tidak ada permintaan maaf, atau bahkan pertanyaan yang membuat Marion merasa penting.

Ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum meletakkannya kembali di pangkuan. Satu tarikan napas mengisi dadanya, dan di ujungnya, ada helaan yang panjang. Seperti ruang kosong di hatinya ikut membentang diam-diam. Marion merasa kehilangan sesuatu. Ia tidak bisa menjelaskan bentuknya, tapi ia tahu rasanya.

Kecewa.

Bukan karena Yuri berbuat salah besar, tetapi karena ia berharap lebih. Karena lima tahun terakhir ini tidak seharusnya terasa sejauh ini. Ia menggigit separuh cookies vanilla, tidak manis, tidak hambar. Seperti perasaannya malam ini. Kadang ia ingin memutuskan sesuatu, menyudahi hubungan yang kini terasa menggantung dan satu arah. Tapi sebagian dari dirinya masih menggenggam—entah pada kenangan, atau harapan kecil yang belum mati sepenuhnya.

Sementara itu, ada nama lain yang belakangan ini justru memenuhi hari-harinya.

Juno.

Pemuda yang tidak menuntut tapi selalu ada; yang membantu keluarganya lebih dari siapapun. Yang tahu harus diam saat dunia Marion terlalu ramai, dan tahu kapan harus bicara tanpa membuatnya kewalahan.

Marion menutup matanya sejenak. Pikirannya terasa seperti jalan buntu yang bertemu percabangan.

Ibunya mungkin benar. Tapi hatinya belum tahu harus kemana. Ia hanya tahu satu hal malam ini: 

Ia sedang tersesat di tengah dua tempat yang pernah ia sebut rumah.

 

Pukul lima sore di Briarhill Hospital, musim panas menyelimuti langit kota dengan semburat jingga yang mulai menuruni jendela-jendela besar rumah sakit. Udara terasa hangat, tapi tidak pengap—angin tipis sesekali melintas dari ventilasi terbuka di koridor, membawa aroma samar disinfektan dan kopi basi dari mesin otomatis di pojok ruang tunggu. Marion mendorong kursi roda perlahan, dengan langkah yang nyaris tak terdengar di atas lantai vinil yang mengilat. Ayahnya duduk di kursi roda dengan selimut tipis melingkupi kakinya, matanya masih sembab tapi lebih jernih dibanding minggu lalu. Di belakang mereka, ibunya menyusul sambil menggenggam tas kecil berisi obat-obatan sementara Finn sibuk menyender di dinding, memainkan ponselnya tanpa suara.

Mereka menunggu di ruang tunggu dekat pintu lobi, menanti Juno yang sedang menyelesaikan pembayaran akhir di bagian administrasi. Suasananya lengang. Beberapa keluarga lain tampak hilir mudik, ada yang baru datang menjenguk, ada pula yang sedang bersiap pulang. Seorang anak kecil menangis pelan di gendongan ibunya. Suster berjaga lewat sesekali, menyapa pasien dengan nada ramah namun terburu-buru. Tak lama, suara sepatu kulit yang teratur terdengar dari arah lorong kanan. Juno muncul, masih mengenakan pakaian kantornya—kemeja linen abu kehijauan yang digulung di bagian lengan, celana chino gelap, dan sepatu loafers berwarna coklat terang. Rambutnya agak berantakan seperti terburu-buru dari rapat terakhir, dan di tangan kirinya ada map putih serta dompet.

“Kita tinggal ambil obat, ya?” katanya, mengangguk pada ibu Marion, lalu menatap Marion sambil memberi isyarat kecil dengan dagunya.

Marion mengangguk dan menyerahkan pegangan kursi roda kepada Finn. “Kami sebentar, ya, Bu.”

Mereka berjalan berdampingan menuju bagian farmasi. Langkah kaki mereka menyusuri koridor panjang yang kini mulai sepi. Marion baru sempat bicara pelan, “Kau terlihat lebih seperti manusia hari ini. Kemarin itu, sungguh… kayak zombie.”

Juno terkekeh lelah. “Begitulah kalau proyek kebudayaan melibatkan tiga kementerian dan enam organisasi relawan. Aku belum bisa tidur nyenyak dari hari Senin.”

Marion memutar bola matanya sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga. “Kasihan, sih… tapi aku juga lagi diambang gila. Minggu depan Longford bikin English Camp buat mahasiswa internasional yang nilai Bahasa Inggrisnya di bawah standar. Jumlahnya nyaris dua ratus orang. Dua ratus. Kamu bayangin aja.”

“Dua ratus?” Juno mengangkat alis. “Kau yakin itu English Camp, bukan exodus mahasiswa?”

“Rasanya lebih kayak pengungsian.” Marion tertawa pendek. “Tapi kami dibantu dari beberapa kampus mitra. Ada dosen dan volunteer dari Trinity, Maynooth, dan dua kampus di Limerick. Kami bakal sewa hotel kecil buat akomodasi dan kegiatan, semua dibagi jadi tiga level kelas. Ada workshop, game, juga presentasi mini untuk boosting speaking skills. Tapi tetap aja… logistiknya luar biasa.”

“Aku bisa bantu bikin game interaktif, kalau mau,” ujar Juno.

Marion menatapnya, setengah serius. “Kalau kamu nggak mati kelelahan duluan.”

“Valid.”

Mereka sampai di apotek. Antrian tidak terlalu panjang. Marion menyerahkan kertas resep ke loket penyerahan sambil melirik ponsel, membalas satu email cepat dari Longford. Saat hendak berbalik untuk kembali ke kursi tunggu, seseorang dari arah belakangnya terburu-buru berjalan, dan tanpa sengaja menyenggol bahunya. Kertas resep Marion terlepas dan jatuh ke lantai.

“Oh—maaf,” ucap Marion refleks. Ia membungkuk, mengambil kertas resepnya…

Lalu matanya membulat.

Sepasang kaki berdiri di depannya—mengenakan sepatu flats lembut dan dress satin berwarna biru pucat. Dress itu melengkung longgar di sekitar tubuh yang berubah bentuk. Perutnya membuncit. Jelas.

Stacy Lambert menatapnya dengan sorot mata yang tidak bisa langsung terbaca. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, dan tangannya menggenggam map catatan kehamilan. Ia tampak bersih, terawat, dan… sangat asing dalam cara yang dulu tidak.

Juno, yang baru saja menoleh karena sadar Marion terdiam terlalu lama, akhirnya melihat sosok di depan mereka.

Marion perlahan berdiri. Nafasnya terasa berat.

Stacy membuka mulut, seperti hendak bicara.

Tapi tidak ada satu kata pun yang keluar—hanya keheningan yang seketika membelah udara hangat musim panas menjadi sesuatu yang asing dan dingin.

 

Langit masih terang ketika mereka meninggalkan Briarhill Hospital, tapi cahaya musim panas yang hangat itu terasa jauh dari apa yang Marion rasakan di dadanya. Ia duduk di bangku belakang mobil bersama Finn dan ayahnya yang tertidur lemah, sementara ibunya duduk di kursi depan, sesekali menoleh, memastikan semuanya baik-baik saja.

Tapi tidak ada yang benar-benar baik.

Pikirannya masih tertinggal di ruang apotek itu, di hadapan Stacy Lambert—dan perut yang tak bisa dipungkiri keberadaannya. Juno tidak berkata apa-apa setelah itu. Mereka keluar dari apotek hanya dengan kalimat singkat soal obat yang akan dikirim ke rumah malam ini. Tidak ada tanya. Tidak ada penjelasan. Hanya jeda panjang yang membuat udara di antara mereka terasa rapuh, seperti kertas tisu basah yang bisa sobek kapan saja. Mobil melaju menembus jalanan Lismore yang mulai sepi. Rumah-rumah tua dan deretan toko kecil berkilau di balik jendela. Tapi Marion tidak benar-benar melihatnya. Yang ia rasakan hanyalah sesuatu yang retak—bukan hanya soal Juno, tapi juga dirinya sendiri.

Ada bagian dalam dirinya yang enggan tahu lebih jauh.

Dan bagian lain yang tidak tahan dengan ketidaktahuan itu.

 

Rumah keluarga Marion terletak di kawasan Warminster, sebuah kota kecil yang tenang di wilayah Wiltshire, Inggris barat daya. Sekitar dua setengah jam perjalanan dari Islington jika tanpa kemacetan. Warminster dikenal dengan jalanan sempit beraspal bata, deretan rumah-rumah bata tua yang saling berdempetan, serta ladang hijau yang membentang di kejauhan. Kehidupan di sini berjalan lebih lambat, penuh kesederhanaan, dan jauh dari sorotan metropolitan. Rumah mereka berada di ujung jalan beraspal yang tak terlalu lebar. Dindingnya dari bata merah tua, dengan jendela kayu putih dan kusen yang mulai mengelupas. Di depan rumah, ada sebidang kecil halaman dengan pot-pot bunga tua yang disusun seadanya. Garasi sebelah kanan rumah kini jarang dipakai, kosong, dan cukup muat untuk satu mobil—Juno memarkirkan mobilnya di sana, pelan-pelan.

Begitu masuk ke dalam rumah, udara yang lebih sejuk bercampur aroma kayu lama dan sedikit wangi sabun dari jemuran menyambut siapa pun. Interiornya sederhana: lantai kayu tua, karpet rajut tipis di tengah ruang tamu yang juga menjadi ruang keluarga. Di salah satu sudut, ada satu unit pendingin/pemanas dinding yang sudah uzur tapi masih berfungsi dengan baik. Di dinding tergantung beberapa bingkai foto keluarga—ada Marion kecil, Finn saat wisuda SD, dan satu potret pernikahan kedua orang tuanya.

Ruang tengah itu dilengkapi sofa tiga dudukan berwarna kelabu pucat yang mulai mengempis, meja kayu bundar di depannya, dan rak buku kecil berisi novel lama serta dokumen rumah tangga. Sebuah TV tua yang nyaris tak pernah dinyalakan berdiri di dekat jendela yang terbuka separuh. Dapur menyatu langsung di belakang ruang keluarga, hanya dipisahkan setengah dinding dan meja dapur kecil. Dapur itu sempit, tapi bersih. Ada satu kompor listrik, lemari gantung berisi bumbu dapur, dan kulkas dua pintu berwarna putih yang sudah menguning di bagian bawahnya. Di samping dapur ada pintu geser menuju taman belakang—halaman kecil berpagar kayu yang ditumbuhi rumput tidak terlalu rapi. Di tengahnya ada kolam ikan hias bundar berisi tiga ekor ikan mas, dan bangku kayu kecil di sampingnya yang sering dipakai ayah Marion minum teh sore-sore.

Mobil Juno baru saja berhenti di garasi kosong saat Marion mengangkat dua kantung belanjaan dari bagasi belakang. Ayahnya baru dibantu masuk ke kamar oleh Finn, dan ibunya menghilang ke dapur, memanggil Marion sambil berkata pelan agar melihat isi kulkas dan menyiapkan bahan makanan yang bisa dimasak malam ini.

Marion berjalan cepat ke dalam sambil menaruh kantung belanjaan di meja dapur. Ia menatap sekeliling sejenak—perabotan yang tak berubah, aroma yang tak tergantikan, dan cahaya sore dari jendela kecil yang masih memantulkan bayangan tembok tua. Juno melangkah masuk ke ruang tengah, meletakkan tas belanja terakhir di lantai, lalu duduk perlahan di sofa tua. Ia memandangi ruang itu sejenak sebelum ibu Marion muncul dari dapur dengan suara lembut, “Kamu makan malam di sini saja, Juno. Ini rumah sendiri.”

Juno mengangguk sopan. “Kalau begitu, boleh saya bantu sesuatu, Bu?”

“Ah, enggak usah. Duduk aja. Kamu pasti capek.”

Tapi Marion yang sedang membongkar kulkas, menoleh sambil berkata tanpa menatap langsung, “Tolong bantu aku di dapur aja, Jun. Sambil sortir sayuran, mungkin.”

Juno bangkit tanpa suara, menyingsingkan lengan kemejanya sedikit, lalu berjalan ke dapur. Mereka berdiri berdampingan di ruang sempit itu, sementara kulkas terbuka lebar di hadapan mereka.

Di dapur sempit rumah itu, kipas kecil di atas jendela mengayunkan angin malas yang mengaduk wangi tumisan bawang dan lada hitam. Ibu Marion memasak dengan gerakan yang luwes dan sabar, seperti menari kecil dalam ruang yang hanya ia pahami ritmenya. Tangan kirinya menggenggam gagang wajan, sementara tangan kanan merajang daun ketumbar dan wortel yang sudah dipotong korek api. Wajahnya tampak tenang—ada guratan lelah tapi tak ada keluhan, hanya keheningan yang penuh niat.

Panci berisi sup ayam berkaldu dibiarkan mengepul perlahan di atas kompor. Di meja dapur, tahu digoreng setengah kering menunggu untuk dicampur dengan saus manis pedas yang sedang ia aduk dengan penuh konsentrasi. Ia tidak bicara banyak, hanya kadang bergumam pada dirinya sendiri atau menatap isi dapur seperti mengenang resep lama yang sudah tak ia sentuh selama Marion tak pulang. Di sampingnya, Marion dan Juno membongkar isi kulkas—menyortir sayur yang masih segar, membuang plastik tua, dan menyeka dinding rak dari embun dan sisa saus yang mengering. Mereka bekerja nyaris tanpa kata, membiarkan denting sendok dan bunyi kompor menjadi selingan dari pikiran yang tak juga reda.

 

Tadi sore, udara musim panas di Briarhill mengambang malas di antara gedung-gedung rumah sakit dan apotek kecil yang menempel di sisi timur kompleks. Udara panas membuat aspal tampak berkilau, dan daun pohon bergetar pelan di tiupan angin yang tak cukup kuat untuk menyejukkan. Mereka hanya mampir sebentar—membeli vitamin dan beberapa kebutuhan rumah tangga—sampai mata Marion menangkap sosok yang terlalu akrab untuk diabaikan. Stacy.

Perempuan itu berdiri di antrean, satu tangan mengusap perutnya yang telah menonjol, seperti busur waktu yang memaksa Marion menghadapi masa lalu dalam bentuk baru yang tak ia harapkan.

"Stacy," sapa Marion pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam suara mesin antrean.

Juno menoleh seketika, refleks tubuhnya kaku, seperti kucing liar yang baru sadar akan bahaya yang diam-diam mengendap. Stacy membalas sapa itu dengan senyum manis—senyum yang terlalu sempurna untuk disebut tulus. Matanya bersinar seperti kaca yang memantulkan cahaya, tapi tidak memberikan kehangatan.

"Sendiri?" tanya Marion, sekilas menatap perut Stacy yang sudah terlihat cukup besar. Lebih dari dua puluh minggu, pikirnya.

"Suamiku sedang tugas luar kota. Aku sama Ibu," jawab Stacy ringan, lalu tersenyum lagi, mengusap perutnya.

Marion mengangguk, "Selamat ya. Semoga persalinannya lancar."

“Terima kasih,” jawab Stacy. Tapi tatapannya tak pernah benar-benar menjauh dari Juno—seolah kehadiran pria itu adalah pusat dari seluruh gempa dalam dirinya.

Lalu, seperti ingin menusuk dalam, Stacy bertanya, “Kalian ngapain di Briarhill?”

“Ayahku baru operasi jantung. Tapi sudah pulih, makanya kami pulang hari ini.”

Stacy tampak mengerti, meski tak berkata apa-apa. Tapi sebelum Marion sempat berpaling, Stacy menambahkan—nada suaranya manis, tapi seperti ada pisau yang dibungkus gula:

“Semoga kalian cepat nikah, ya. Kalian cocok.”

Marion dan Juno serempak mengangkat alis. Juno mengumpat dalam hati. Marion terkekeh pelan, berusaha membuat segalanya netral.

“Oh, kami cuma sahabat. Nggak pernah kepikiran ke arah sana. Lagipula aku sudah punya pacar.”

Bola mata Stacy membulat, lalu ia tertawa lirih. “Pacarmu nggak marah kamu sedeket ini sama sahabat laki-laki? Dia tahu kamu punya sahabat yang… sangat, sangat dekat?”

Marion terdiam. Rasanya seperti diberi pertanyaan jebakan yang dikemas sebagai kekhawatiran.

Sementara itu, Juno menatap Stacy tanpa berkedip. Rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangan, urat-urat di lengannya menegang seperti hendak meledak.

“Aku menghormati keputusan Juno,” jawab Marion tenang. “Dia nggak mau ikut campur urusan romansa. Dan pacarku juga nggak pernah melarang aku berteman. Dia percaya padaku.”

Stacy kembali tersenyum. Kali ini senyum itu hanya bisa dibaca oleh dua orang: satu yang tersinggung, satu lagi yang sangat mengenalnya. Juno tahu, itu bukan senyum damai—itu adalah senyum kemenangan yang licin.

“Sekali lagi kamu tanya hal yang nggak perlu, aku nggak segan ninju mukamu, Stacy,” ucap Juno akhirnya, suaranya pelan tapi menggetarkan. "Hamil atau enggak, aku nggak peduli."

Stacy membuang muka, bibirnya mengerucut seperti sedang menahan kalimat yang gagal keluar.

Marion segera menggamit tangan Juno, menahannya untuk tidak melangkah lebih jauh ke dalam amarah.

“Ayo,” katanya pendek.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Juno menggenggam tangan Marion lebih erat dari biasanya, menariknya pergi dari apotek yang kini terasa terlalu terang, terlalu panas, dan terlalu sesak oleh sesuatu yang tidak terlihat.

 

Mereka kembali menata botol saus dan rak sayur dalam diam. Aroma masakan semakin memenuhi udara—manis, pedas, menghangatkan seperti kenangan lama. Tapi tidak ada yang benar-benar bicara.

Sampai akhirnya Marion berkata pelan, “Senyumnya masih sama, ya.”

Juno tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas, pelan dan panjang, sebelum berkata tanpa menoleh, “Tapi kamu udah nggak harus percaya lagi.”

Dan dapur pun kembali senyap, hanya suara tumisan di wajan yang terus bersenandung.

Setelah dapur dan kulkas beres, Marion mulai membereskan meja makan sederhana di sudut ruang makan yang langsung terhubung ke dapur terbuka. Meja kayu tua dengan alas taplak putih bergaris biru laut itu tampak seperti telah menyambut puluhan percakapan selama bertahun-tahun. Di sisi lain, Juno merapikan ruang tengah—menata beberapa bantal di sofa, melipat selimut yang tampaknya baru saja digunakan Finn, dan menyingkirkan satu dua majalah lama ke rak kayu rendah. Sementara itu, ibunya Marion mulai menata menu makan malam dengan gerakan yang terlatih, lembut, dan penuh kasih. Ia bukan tipe yang memasak dengan resep yang ditakar, melainkan dengan ingatan dan rasa. Aroma tumisan bawang putih dan rosemary menguar di antara uap kaldu hangat.

Di atas meja, satu per satu hidangan rumahan sederhana tapi menggugah selera disajikan, ada Sup ayam kampung dengan irisan kentang dan daun thyme yang direbus perlahan hingga kaldunya bening keemasan. Daging panggang dengan balsamic glaze dan baby carrots yang lembut. Salad daun rocket dengan irisan apel, keju feta, dan dressing lemon. Kentang tumbuk creamy buatan sendiri, lengkap dengan taburan peterseli dan untuk penutup, pai apel hangat yang belum dipotong, masih di atas loyang, menebar aroma kayu manis dan mentega.

Lampu ruang makan remang, hanya diterangi cahaya hangat dari lampu gantung bulat bergaya retro.

Mereka duduk bersama. Suasana terasa akrab namun sedikit canggung pada awalnya, terutama bagi Juno yang baru kali itu benar-benar menjadi bagian dari keluarga Marion. 

Finn duduk di seberang Juno, dengan senyum malu-malu. Tak lama, Juno bertanya, “Bagaimana kuliahmu, Finn? Kudengar kamu masuk fakultas yang cukup sibuk.”

Finn mengangguk, antusias. “Padat banget. Tapi seru. Aku aktif di dua organisasi, kadang dilibatkan proyek kolaborasi sama pemerintah untuk analisa kebijakan. Ya, begitulah.”

“Wah, luar biasa.” Juno mengangguk, tampak terkesan.

Finn menoleh pada Marion. “Semuanya karena Marion. Dia yang biayai kuliahku dari awal. Kalau bukan karena dia, mungkin aku nggak akan sampai sejauh ini.”

Marion tertawa, matanya membulat dan berkaca-kaca, “Jangan bikin aku nangis, dong. Aku cuma bantu apa yang bisa. Kamu juga kerja keras.”

Malam itu, meja makan dipenuhi percakapan hangat dan tawa ringan. Bagi Juno, ini terasa asing namun begitu memeluk. Ia terbiasa dengan meja panjang yang sunyi di rumah besar yang tak pernah benar-benar jadi rumah.

Tuan Lancewood akhirnya mengarahkan pandangan pada Juno, “Kamu sendiri bagaimana, Juno? Sudah lama kenal Marion?”

Juno menatap Marion sejenak sebelum menjawab, “Kami kenal sejak tahun pertama kuliah. Awalnya bantuin Marion cari tempat tinggal. Tapi waktu wisuda, saya nggak bisa hadir, saya lagi di luar negeri nemenin ayah dinas.”

“Oh ya? Ayahmu kerja di bidang apa?” tanya Tuan Lancewood.

“Bukan di pemerintah, Pak. Ayah saya pengusaha. Dia punya beberapa pabrik—pakan ternak, daging olahan. Fokus ekspor. Salah satu pemasok utama untuk ketahanan pangan Eropa. 

Beberapa proyeknya juga kerja sama dengan lembaga pemerintah di sektor logistik dan distribusi pangan.”

Tuan Lancewood mengangguk, terdengar kagum. “Itu sektor yang besar sekali. Sangat strategis.”

Juno tersenyum sopan. “Cukup menantang, ya.”

Ibu Marion ikut nimbrung, “Lalu, ibumu juga sibuk?”

“Iya. Mama seorang desainer. Dia punya butik sendiri. Sering gelar fashion show, kolaborasi dengan model-model internasional. Tapi saya pribadi nggak terlalu tertarik dunia itu. Bahkan semua ‘calon’ yang dikenalkan mama—model-model cantik sekalipun—saya tolak.”

Tuan Lancewood tertawa, “Wah, kamu keras kepala juga rupanya.”

Mereka tertawa kecil, percakapan menjadi lebih cair.

“Kalau pekerjaanmu sekarang?” tanya beliau lagi.

“Saya bekerja di badan riset nasional, Pak. Di bawah naungan pemerintah juga. Fokus kami di bidang data dan strategi sosial-ekonomi. Posisi saya memungkinkan untuk kerja remote, tapi tetap harus datang kalau ada evaluasi, sidang proyek, atau pertemuan klien.”

Semua mendengarkan dengan antusias, bahkan Finn ikut bertanya soal proyek yang pernah ditangani Juno. Obrolan di meja makan malam itu didominasi oleh topik pekerjaan, keluarga, dan masa depan—topik yang seakan tak mengizinkan Marion bicara banyak. Ia makan dalam diam, membiarkan suara mereka mengisi ruang kecil rumahnya yang hangat. Sesekali ia tersenyum atau mengangguk, tapi pikirannya mengembara. Ada sesuatu dalam percakapan malam itu yang terasa menjauhkan sekaligus mendekatkan—ia tak bisa benar-benar menjelaskannya. Namun satu hal yang ia tahu, Juno terlihat sangat cocok duduk di meja makan itu, dan bagian dari dirinya merasa bingung dengan perasaan itu.

 

Selepas makan malam yang hangat dan penuh obrolan, rumah keluarga Lancewood kembali larut dalam ketenangan. Tuan Lancewood didorong perlahan ke kamar oleh istrinya dalam senyap yang penuh pengertian, roda kursi bergerak perlahan di sepanjang koridor yang hangat diterangi cahaya lampu kuning lembut. Sesekali terdengar suara pelan Ibu Marion bertanya apakah ayahnya sudah cukup kenyang, atau ingin secangkir teh sebelum tidur. Finn pamit sebentar kemudian, membalik badan dengan buku catatan di tangan, menyelinap masuk ke kamarnya di lantai atas. Langkahnya ringan, nyaris tak terdengar.

Juno melangkah keluar menuju halaman belakang. Malam musim panas membawa udara hangat yang menenangkan. Di teras kecil, dua kursi kayu dan satu coffee table bundar tersusun rapi, menghadap kolam ikan mungil dengan air mancur mini di tengahnya. Suara gemericik air bertemu dengan dengung lembut serangga malam. Beberapa lampu taman menyala samar, cukup untuk menerangi wajah Juno saat ia duduk dan menengadah ke langit malam yang tak sepenuhnya gelap—seperti selalu ada sisa cahaya di atas atap rumah ini.

Marion muncul tak lama kemudian dengan nampan kecil di tangan. Di atasnya dua cangkir kopi mengepul ringan, disandingkan dengan beberapa cookies dan mini pie dalam piring kecil berpola bunga-bunga. Semua dibeli tadi sore, saat mereka diam-diam mencoba menormalkan hari di minimarket kecil dekat rumah sakit.

“Kita nginap sini aja malam ini,” kata Juno sambil menerima cangkir. “Aku bisa di ruang tengah. Nggak usah khawatir.”

Marion mengangguk. “Besok pagi juga kita bisa bantu mama masak sarapan.”

Juno menyeringai kecil. “Keluargamu menyenangkan.”

Tawa Marion terdengar, ringan, tapi dengan jejak sarkasme. “Kau belum tinggal di sini lebih dari dua hari.”

“Kamu juga nggak pernah cerita banyak soal mereka,” Juno menatapnya, nada suaranya rendah, hampir tak terdengar, seakan tak ingin mengusik malam yang tenang.

Marion mendecih. “Aku emang nggak pernah cerita.”

Beberapa detik terdiam. Suara air mancur menjadi latar.

“Yuri menghubungi kamu?” tanya Juno akhirnya. Suaranya seperti menelusuk, tapi tetap lembut, penuh kehati-hatian.

Marion memeluk lutut, menggelung tangannya sendiri. Napasnya terdengar berat.

“Aku kasih tahu dia soal Papa. Sekali. Tapi ya... selebihnya biasa aja.” Marion menunduk. “Dia nggak bisa pulang buat aku, jadi mau dikasih tahu berapa kali pun, tetap aja nggak ada gunanya.”

Juno menyesap kopi. Rasanya pahit, tapi tidak terlalu. Ia menatap Marion dengan pandangan yang dalam, lalu berkata pelan, “Sepertinya orang tuamu nggak tahu ya, soal Yuri.”

Marion mengangguk kecil. “Aku nggak pernah cerita.”

“Selama lima tahun ini?”

“Pernah... mau kenalin dia. Sekali waktu.” Marion menghela napas. “Tapi dia bilang nggak bisa pulang. Cuti ditolak. Aku juga pernah tanya apakah dia keberatan dikenalin ke Papa dan Mama. Dia bilang nggak. Tapi setiap kali kita rencanakan, dia selalu bilang nggak bisa pulang karena satu dan lain hal.”

Marion mengangkat bahu, ekspresinya kosong. “Sejak itu aku nggak pernah ngajak lagi. Kalau dia mau pulang, aku temani. Udah cukup.”

Juno menatapnya lama sekali. Ada luka yang perlahan menyibak di antara kalimat-kalimat yang tenang itu. Ada keputusasaan yang disamarkan oleh senyum tipis, ada kelelahan yang terselip di sela-sela pengakuan sederhana.

Malam terasa lebih hening dari sebelumnya.

Hanya suara gemericik air dan sisa kehangatan dalam cangkir di tangan mereka yang menjadi saksi betapa diam kadang menyimpan lebih banyak suara daripada kata-kata. Dari balik cangkir kopi yang menghangatkan jemarinya, ingatan Marion melayang ke tahun-tahun yang terasa seperti jauh tapi tetap mengendap di kepalanya. Ia masih ingat jelas saat Yuri mengabarinya, dengan mata berbinar, bahwa ia diterima bekerja di perusahaan telekomunikasi nasional—tempat yang selama ini ia incar mati-matian. Marion waktu itu ikut senang, ia menyemangati, bahkan menahan semua keluh kesah Yuri seolah dirinya adalah kotak suara yang tak pernah penuh. Tahun-tahun pertama Yuri bekerja, segalanya terasa seperti balas jasa atas keyakinan yang mereka bangun.

Tapi di sela itu, Juno perlahan menjauh. Setiap kali Yuri ada di sekelilingnya, Juno seperti menguap begitu saja. Tak ada kabar, tak ada pesan, bahkan bayangnya pun seperti menghindar. Tapi tiap kali Yuri pergi, Juno kembali—membawa angin segar dan rasa yang lebih tenang, seolah semesta memberi kesempatan kedua yang Marion tak pernah minta.

Marion hanya tahu satu hal: mereka berdua, Juno dan Yuri, entah kenapa menolak dipertemukan.

Selama itu, Yuri tak pernah banyak bertanya tentang keluarganya. Semua obrolan biasanya Marion yang memulai. Kadang Yuri akan cerita soal ibunya, soal beban kerja, soal rekan-rekannya yang menyebalkan. Tapi tentang Marion—tentang siapa dirinya di balik hubungan itu—hampir tak pernah disentuh. Tapi Marion tidak mempermasalahkannya. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia selalu merasa cukup hanya dengan Yuri di sisinya, bahkan saat hubungan itu terasa seperti jalan satu arah. Yuri memperlakukannya dengan manis. Terlalu manis, bahkan. Seperti menyisakan sedikit ruang pun untuk Marion merasa marah. Mereka nyaris tak pernah bertengkar, karena Marion merasa ia tak punya tenaga untuk marah. Hidupnya sudah cukup dipenuhi hal lain: keluarga, pekerjaannya, kesepian yang sering mampir.

Lucunya, di tahun-tahun itu—tahun kedua, ketiga, ketika ia masih sibuk mencintai Yuri—ternyata Juno sempat berpacaran dengan Stacy. Marion baru tahu beberapa waktu lalu, dan entah kenapa, ia merasa sedikit terlambat memahami.

“Eh,” gumamnya pelan. Ia menoleh ke Juno. “Tadi kamu kenapa marah ke Stacy?”

Juno menoleh malas. “Penting ya dijawab?”

“Penting,” sahut Marion cepat. “Soalnya kamu baru kali ini marah ke perempuan.”

Juno mendesah, tapi tidak menjawab.

“Ya ampun,” Marion setengah berteriak, “aku pengin tahu! Ini soal... kehamilan Stacy? Atau kamu marah karena dia nikah dan nggak undang kamu?”

Juno terkekeh. “Mana mungkin aku semarah itu? Diundang juga aku nggak akan datang.”

“Terus?” Marion mengernyit lucu. “Apa karena bukan kamu ayah dari bayi itu?”

Sebuah jitakan mendarat ringan di kepala Marion.

“Bahkan kalau dikasih seisi dunia pun, aku nggak akan mau jadi ayah dari anak yang dikandung Stacy,” kata Juno dingin.

Marion terdiam. “Kenapa?”

“Karena aku nggak punya perasaan yang mengharuskan aku mengemis.”

Kalimat itu membelah sunyi.

Juno menambahkan, dengan suara yang lebih pelan namun tegas, “Aku bukan tipe orang yang sabar menghadapi hal yang nggak layak. Kalau sesuatu nggak layak diperjuangkan, aku berhenti. Tapi kalau sesuatu itu layak... sekecil apapun harapannya, aku akan tunggu. Sampai harapan itu bisa terjadi.”

Marion memandangi wajah Juno yang diterangi cahaya temaram lampu teras.

“Waktu itu... kamu tahu soal masa lalu Stacy?” tanyanya lirih.

Juno menghela napas panjang, lalu kembali menyesap kopinya.

“Tahu. Tapi nggak peduli. Karena menurutku, nggak ada gunanya bersama seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya.”

Marion membenamkan dirinya lebih dalam di balik lengan. Kata-kata itu menggema diam-diam dalam kepalanya—tentang masa lalu, tentang ketidaksalingan, tentang menunggu tanpa tahu untuk apa. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa dingin bukan karena angin, tapi karena kenyataan yang makin lama makin tak bisa disangkal.

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu

5,356 kata

GRATIS

Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai

6,073 kata

GRATIS

Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali

6,017 kata

GRATIS

Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji

5,340 kata

GRATIS

Chapter 10: Hari Yang Terlalu Panjang

5,157 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 11: Yang Tak Kita Ketahui Dari Ses...

5,198 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!