')">
Progress Membaca 0%

Chapter 11: Yang Tak Kita Ketahui Dari Seseorang

Alvianti Purnamasari 01 May 2026 5,198 kata
GRATIS

Marion terbangun lebih awal dari biasanya, tetapi tubuhnya tidak berkompromi pagi itu. Begitu ia bangkit dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi, rasa mual dan pusing menyerangnya hampir bersamaan. Ia sempat muntah dua kali, lalu bersandar di dinding kamar mandi, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia menyalahkan udara dingin, menyalahkan pola tidurnya yang kacau, menyalahkan segalanya kecuali dirinya sendiri. Saat ia kembali ke kamar dan melihat pantulan wajahnya di cermin kecil dekat lemari, warna pucat di pipinya tak bisa ia abaikan. Namun tetap, ia menyisir rambutnya dan memilih tampil seolah baik-baik saja.

Pukul 4.15 pagi, Marion mengirim pesan singkat pada Elli, mengatakan ia akan datang terlambat ke Longford hari ini.

Beberapa saat kemudian, ibunya mengetuk pintu dengan lembut, lalu membawa bekal sarapan untuk Marion dan Juno: dua kotak berisi nasi goreng telur asin dengan ayam kecap, irisan timun segar, serta sepotong kecil omelet keju yang dibungkus rapi dalam kertas roti. Ada juga termos kecil berisi teh madu hangat dan dua buah roti manis isi krim keju buatan ibunya. Semua itu diletakkan di meja ruang tengah bersama sebuah catatan kecil, "Jaga diri baik-baik di jalan."

Pukul 5 pagi, Juno sudah menunggu di depan rumah. Mereka berangkat bersama dari Warminster, mobil menyusuri jalanan yang masih lengang. Rute perjalanan mereka melintasi A36 menuju M4, melintasi Bath yang masih tertidur, lalu menyambung ke North Circular Road sebelum masuk ke arah timur laut menuju kawasan Islington. Kabut tipis menggantung di beberapa ruas jalan, dan lampu jalanan menyisakan siluet kota yang murung namun damai.

Total perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam 20 menit dengan satu kali pemberhentian singkat di rest area untuk mengisi bensin dan menyuruh Marion beristirahat. Juno menyadari sejak awal bahwa ada yang tidak beres dengan Marion. Wajah gadis itu pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan ia lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Beberapa kali Juno melirik ke arahnya, Marion hanya tersenyum lemah, lalu berpaling ke luar jendela.

Pukul 08.23 pagi, mereka tiba di depan gedung apartemen Marion.

Juno memanggil pelan, mencoba membangunkan Marion, namun gadis itu tak membuka matanya. Nafasnya pelan, tubuhnya lemas. Tanpa ragu, Juno mengangkatnya perlahan, membopongnya sampai ke unit apartemen Marion yang berada di lantai empat. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan yang diberikan Marion sebelumnya, membawa gadis itu ke ranjang, melepaskan sepatunya, menaruh tas di lantai, lalu mengecek suhu tubuhnya. Marion sedikit demam. Juno menarik selimut, lalu mengambil ponsel Marion yang tergeletak di tas. Ia membuka kontak terakhir—ada nama Elli. Tanpa pikir panjang, ia menghubungi Elli dan memberi tahu bahwa Marion tidak akan masuk kerja hari ini karena kelelahan. Suaranya tenang namun tegas. Setelah itu, ia menghubungi Guillaume, asisten koordinatornya di kantor dan meminta izin untuk bekerja dari rumah karena harus menjaga Marion.

Setelah memastikan Marion tertidur lelap, Juno mulai membereskan apartment yang tampak seperti medan perang. Laundry berserakan, meja penuh dokumen, dapur berantakan dengan cangkir kopi sisa hari-hari lalu, dan kamar mandi masih lembab. Ia mencuci piring, melipat pakaian, menyapu lantai, bahkan mengganti seprai ranjang Marion. Pendingin ruangan ia nyalakan karena suhu London mulai menghangat. Siang menjelang, apartment sudah bersih dan rapi. Juno duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka, menghadiri dua pertemuan daring sambil mengawasi Marion. Bir kaleng terletak di sebelahnya, dan rokok menyala sesekali di sela break meeting. Pikirannya tidak benar-benar tenang. Ia tahu, ada sesuatu yang sedang mengembang seperti awan badai dalam dirinya—dan itu bermula sejak malam sebelum keberangkatan mereka.

 

Malam itu, sebelum ke Bandara, Juno sempat menemui Stacy.

Ia menghubungi nomor lamanya, dan Stacy mengangkat setelah nada ketiga. Awalnya Stacy menolak untuk bertemu, tetapi saat Juno menyebut nama Yuri, suara di seberang telepon menjadi tenang dan setuju. Mereka janjian di restoran Allegra, tempat lama yang dulu sering mereka datangi.

Stacy datang mengenakan jaket krem tipis dan gaun hamil warna biru pucat. Perutnya mulai tampak bulat. Ia duduk tanpa menyapa, hanya melirik Juno dengan tatapan sinis.

“Kalau ini soal ngajakin balikan, kamu buang-buang waktu.”

Juno mengangkat alis. “Siapa yang ngajak balikan? Kamu kira aku separah itu?”

Stacy mendengus, tapi tampak tidak yakin. Juno lalu berkata dengan tenang, “Aku lihat kamu sama Yuri kemarin.”

Wajah Stacy berubah. Lalu ia meneguk air putihnya perlahan, menatap Juno dengan selidik. “Jadi kamu ke sini untuk tanya itu?”

Juno diam.

Stacy mengangguk kecil. “Aku sudah balik sama dia. Tiga tahun, Jun.”

Darah Juno seperti mendidih. “Tiga tahun?” ulangnya lirih, nyaris tidak percaya.

Stacy menyilangkan tangannya. “Kamu mau bilang ini soal Marion, ya?”

Juno tetap diam.

“Aku tahu kamu dekat sama dia. Tapi ini bukan urusanmu, Juno.”

Juno menatapnya lama. “Jadi kamu hamil... anak Yuri?”

Stacy tersenyum tipis dan meletakkan tangan di atas perutnya. “Dia ingin anak. Laki-laki.”

“Untuk apa?”

“Karena... itu satu-satunya cara dia bisa diakui oleh ayahnya.” Stacy terdiam sejenak, lalu melanjutkan, “Keluarganya punya aturan... warisan... semacam itu. Dia bilang, anak laki-laki dari pernikahan resmi, itu kunci dia diterima.”

Juno mencibir, “Jadi kamu hamil demi ambisi bapaknya?”

Stacy tidak menjawab. Juno tertawa kering. “Yuri memang brengsek, dari dulu.”

Stacy meliriknya. “Kamu kehilangan aku.”

Juno menyeringai dingin. “Dan kamu kehilangan harga dirimu.”

Ucapan itu membuat Stacy bungkam. Tidak ada kata yang bisa membantah kenyataan bahwa dirinya adalah pihak yang mengemis agar Yuri tetap tinggal. Bahwa ia bersedia menjadi alat untuk impian lelaki itu.

Juno meneguk birnya, lalu berdiri.

“Kalau kau pikir aku datang ke sini untuk penyesalan, kau salah besar,” katanya. “Aku datang untuk memastikan bahwa aku tidak pernah butuh kamu. Bahkan sejak dulu.” Dan malam itu, rasa benci dalam diri Juno tumbuh dan berakar. Bukan hanya pada Stacy. Tapi pada Yuri. Lelaki yang menghancurkan Marion tanpa pernah benar-benar muncul dalam bentuk luka.

 

Sore musim panas di Camden menyelimuti kota dalam cahaya hangat yang lembut. Langit membentang dalam gradasi biru pucat dan jingga muda, memantul di jendela-jendela apartemen yang berjajar rapi. Udara terasa lebih lengket dari biasanya, tipis-tipis menyusup lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Di luar apartemen Marion, suara-suara kendaraan dan langkah kaki mulai terdengar hidup setelah terdiam sepanjang siang. Seorang anak kecil menertawakan semprotan air taman, sementara seorang pria tua mendorong gerobak belanja pelan-pelan di trotoar.

Di dalam, udara dingin dari pendingin ruangan membuat waktu seakan membeku. Televisi menyala tanpa suara, hanya menampilkan tayangan dokumenter satwa liar. Di atas meja makan, dua piring makan siang masih tersaji rapi: sup krim ringan, nasi lembut dengan ayam panggang madu, dan salad timun yang ditaburi biji wijen. Juno duduk bersandar di sofa, kakinya terangkat ke meja kecil di depannya. Tiga kaleng bir kosong tersusun miring di sisi kiri laptopnya, dan dua gelas air putih nyaris tandas. Enam batang rokok habis di asbak yang padat, meninggalkan aroma samar tembakau dan nikotin di udara.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Marion keluar, masih dengan pakaian yang sama saat ia berangkat pagi-pagi buta: jaket tipis abu-abu dan kaus putih yang sedikit kusut, celana kain yang membentuk lipatan karena tertidur. Rambutnya agak berantakan, menyatu dengan ekspresi wajah yang lesu dan mata yang masih berkabut lelah. Ia berjalan pelan ke ruang tengah, lalu menjatuhkan dirinya duduk di sebelah Juno. Tak ada kata. Hanya suara kipas pendingin dan hiruk pikuk samar dari luar. Juno langsung bangkit. Ia mengambil sepiring makanan dan menyodorkannya ke Marion. “Makan dulu. Kamu butuh tenaga.”

Marion mengangguk pelan. Ia menatap layar laptop Juno yang masih menyala, lalu menyapu pandangan ke sekeliling ruang tengah. Meja sedikit berantakan, penuh dengan kertas dan bungkus rokok. Tapi selain itu, apartemennya terasa jauh lebih rapi. Sofa disusun kembali, dapur bersih, rak sepatu diisi ulang.

Marion mengambil suapan pertama. “Kamu yang beresin apartemenku?”

Juno tertawa, terdengar ringan, “Kalau bukan aku, masa hantu?”

Marion tersenyum kecil, lalu mendorong bahu Juno dengan pelan. Tawa kecil itu seperti suara air yang jatuh ke dalam gelas kosong—kecil, tapi menenangkan.

Ia mengunyah lambat-lambat. “Kamu kerja di sini seharian?”

“Lumayan,” Juno mengangguk, “Cuma rapihin beberapa data. Sisanya? Aku jadi tukang bersih-bersih dan koki darurat.”

Marion mengangkat alis. “Baru aja makan, masa udah mikir makan malam?”

Juno menyandarkan kepalanya ke sofa dan terkekeh. “Justru karena kamu baru makan, aku bisa ajak kamu jalan-jalan nanti malam. Ke taman, beli es krim, atau jajan gorengan pinggir jalan, gitu.”

Marion tertawa kecil tapi langsung mengusap keningnya. “Pusing. Masih mual juga.”

Juno langsung duduk lebih tegak. “Mau ke dokter?”

Marion menggeleng. “Cuma kecapekan, Jun. Nanti juga sembuh.”

Juno mengangguk perlahan. “Yaudah, kamu nikmati aja hari ini. Tadi aku udah hubungi Elli. Bilang kamu nggak masuk kantor.”

Marion mengangguk, walau matanya terlihat kosong sesaat. Ia bersandar ke sofa, mengambil nafas perlahan, sementara Juno kembali ke laptopnya, membuka email baru dan mencatat di notepad yang tergeletak. Ponsel Marion tiba-tiba menyala, lampunya berkedip-kedip. Ia tidak mengatur dering—hanya getar diam-diam dan kedipan di layar. Nama Yuri terpampang jelas, memenuhi bagian atas layar. Marion menatapnya. Tangannya ragu mengambil ponsel itu. Beberapa detik ia hanya diam. Lalu, baru ia ulurkan tangannya.

Tapi suara Juno terdengar lebih dulu, tanpa menoleh, hanya dari balik layar laptop. Suaranya tenang, tapi tegas. “Jangan diangkat.”

Marion berhenti. Ia menatap nama Yuri sekali lagi, lalu perlahan meletakkan kembali ponselnya ke meja. Ada yang patah di dalam dirinya, kecil, nyaris tak terdengar. Ia menghela napas dan kembali menyuap makanan di piringnya.

Di luar, langit mulai berubah. Warna jingga mulai membakar ufuk barat.

Dan Marion duduk di sana, dengan dada penuh hal yang tak bisa ia ungkap. Seperti berada di tempat yang tidak ingin ia tinggali, namun tak juga bisa ditinggalkan.

 

Malam itu, udara London mulai kehilangan hangatnya. Angin yang bertiup dari utara menyusup di antara gedung-gedung bata merah, menurunkan suhu secara perlahan. Langit masih menyisakan semburat oranye pucat yang melekat di cakrawala barat, seperti noda tipis di kanvas kelabu. Cahaya lampu jalan mulai menyala satu-satu di sepanjang trotoar dan gerbang besi taman Clarendon Fields yang terbuka lebar.

Juno dan Marion berjalan berdampingan di jalan setapak berkerikil yang membelah taman itu. Pohon-pohon oak dan mapel berdiri tenang, daun-daunnya mulai menguning di ujung, meskipun musim gugur belum resmi datang. Di bangku kayu dekat kolam kecil, sepasang kekasih duduk saling bersandar sambil membagi headphone. Tak jauh dari sana, seorang anak perempuan berusia sekitar delapan tahun melatih trik sepeda barunya, disemangati ibunya dari pinggir lintasan. Anjing-anjing kecil dilepas bebas, berlari melintasi rerumputan yang belum terlalu kering.

Marion mengenakan sweater rajut hitam tipis dengan rok linen abu keperakan. Rambutnya ia ikat rendah, menampakkan garis leher yang pucat. Ia mengenakan sneakers putih—kotor di bagian tumit. Di sisinya, Juno memakai kemeja flanel kotak yang digulung di lengan dan celana denim gelap. Topi rajut abu tua menutupi sebagian rambut pirangnya. Sepasang sandal kulit dengan kaus kaki hitam membuat langkahnya terdengar tenang di atas kerikil.

Tak banyak kata tercipta di antara mereka.

Angin menggerakkan helai rambut Marion. Ia menghela napas pelan, lalu berkata lirih, “Rasanya… dunia berubah begitu cepat. Tapi aku tetap di tempat yang sama.”

Juno hanya mengangguk pelan. Ia tidak menjawab.

Di dalam kepala Marion, semuanya terdengar bising.

Sudah berapa lama ia merasa kehilangan arah? Ia tak bisa lagi menyebutkan dengan pasti sejak kapan pikirannya mulai kabur setiap bangun pagi, atau sejak kapan suaranya sendiri terdengar asing saat ia bicara dengan Yuri. Ada semacam kehampaan yang melebar di antara mereka, seperti sofa panjang yang terlalu besar untuk dua orang yang sudah berhenti saling menyentuh.

Yuri.

Ia tak tahu apakah masih mencintai pria itu… atau hanya mengenangnya.

Dan kenapa setiap kali Yuri menelepon, jantungnya malah terasa berat?

Seolah telepon itu bukan panggilan, tapi beban.

Dan malam ini, entah kenapa ia merasa… lega telah mengabaikannya. Itu yang membuatnya takut.

“Apa aku berhenti mencintainya?” gumamnya dalam hati, “Dan kalau iya… kenapa aku malah merasa bersalah?”

Di sisinya, Juno diam.

Namun diam itu adalah tempat yang penuh bisikan.

Kakinya terus melangkah, tapi pikirannya tidak.

Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan dengan Stacy. Wajah perempuan itu masih membayang setiap kali Juno menatap laptopnya. Dingin. Tegas. Penuh luka. Dan entah kenapa, ketika Stacy berkata, “Dia akan hancur kalau tahu,” Juno tak bisa membantah.

Karena ia tahu itu benar.

Marion adalah benteng rapuh yang terus terlihat utuh. Sekali retak, semua akan runtuh.

Dan Juno... tidak siap melihat reruntuhannya.

Ia ingin melindungi Marion—bahkan jika harus menyembunyikan kebenaran.

Tapi sampai kapan?

Tangannya mengepal di saku kemeja.

“Kalau suatu hari dia tahu aku menyimpan semua ini… akan dia anggap aku pengkhianat?” pikirnya.

“Kalau dia tahu tentang Stacy. Tentang masa lalu yang masih menuntut gilirannya untuk muncul.”

Ia menoleh ke Marion, yang berjalan satu langkah di depannya. Dari belakang, bahu gadis itu tampak begitu kecil. Seperti bisa hilang kalau angin meniup sedikit lebih kencang.

Juno menarik napas.

“Selama dia belum tahu, aku masih bisa menjaga segalanya tetap utuh. Setidaknya... dari luar.”

Sementara itu, Marion menghentikan langkahnya di dekat bangku kosong. Ia duduk perlahan dan memandangi langit yang mulai memucat.

“Kita di sini, Jun,” bisiknya. “Tapi aku merasa masih terjebak di pagi buta Warminster.”

Juno ikut duduk. Ia tak bertanya. Ia hanya menatap langit yang sama. Di taman Clarendon Fields, malam merayap pelan. Menyelubungi dua jiwa yang saling menemani…

...tanpa tahu, keduanya sedang menyembunyikan kebenaran yang bisa mengubah segalanya.

 

 

Mereka memutuskan membeli es krim di kios kecil di ujung taman. Lampu neon mungil menggantung di langit-langit kios, memberikan cahaya kekuningan yang hangat. Marion memilih vanilla dan sea salt caramel, favorit lamanya. Sementara Juno tanpa ragu mengambil kombinasi Biscoff dan kopi. Mereka duduk di bangku besi berkarat yang menghadap ke arah lapangan luas. Langit mulai menutup, menyisakan warna nila tua. Di kejauhan, anak-anak mulai dipanggil pulang, suara musik dari speaker kecil menyelinap dari pasangan remaja yang bersandar di bawah pohon besar. Malam mengembang pelan-pelan.

Marion menyendok es krimnya perlahan. “Kamu ingat nggak waktu dulu kita rebutan dessert terakhir di kantin, yang aku bilang manisnya pas, terus kamu bilang itu cuma karena kamu yang makan duluan?”

Juno tersenyum, “Dan kamu ngambek dua hari cuma karena aku ngambil satu gigitan.”

Mereka tertawa kecil.

Obrolan pun mengalir seperti sungai yang menemukan arah pulangnya—tentang masa kuliah, mimpi yang sempat dirancang dengan penuh semangat, lalu patah tanpa suara. Marion menunduk, ia berkata nyaris seperti gumaman, “Aku sempat hampir dapat Master’s scholarship ke Belanda. Waktu itu sudah diterima wawancara. Beberapa profesor bahkan bersedia jadi referensiku.”

Juno hanya menatap. Ia tahu cerita itu.

“Kalau bukan karena Ibu bilang nggak ada yang bisa ngurus mereka, mungkin aku sudah di Utrecht sekarang, atau Leiden. Entah.” Nada Marion hambar, tapi suaranya menyimpan getir.

Juno membalas, pelan, “Dan aku malah ngotot ambil postgraduate degree di sini, karena kamu yang nggak bisa pergi. Aku juga nggak mau... ya, kamu tahu.” Ia tersenyum tipis. “Nggak semua orang bisa memaafkan anak yang memilih gelar ketimbang warisan keluarga.”

Marion mengangguk pelan. Ada jeda.

“Kita pernah debat hebat soal kebijakan pendidikan, ingat?” Marion melirik ke arah Juno, “Kamu di pihak afirmatif, aku di oposisi. Kayaknya satu kampus bisa dengar kita saling bantai argumen.”

“Dan kita nggak ngomong dua minggu penuh.”

“Tapi akhirnya baikan di bar, sama-sama mabuk,” Marion tergelak, “Aku bahkan muntah di sepatumu.”

“Dan aku masih simpan sepatunya.” Juno tertawa.

Tawa mereka bergulir sebentar, menyatu dengan malam yang semakin tenang. Tapi di dalam hati Marion, awan belum bubar sepenuhnya. Ada jejak yang masih mengendap, terutama setiap ia memikirkan Yuri. Saat ini pun, ponselnya kembali bergetar, dan ia pura-pura tidak tahu.

Ia memeluk lututnya di atas bangku, bertanya pelan, “Jun… menurut kamu, salah nggak sih kalau aku menjauh dulu dari Yuri?”

“Menurutku… harusnya selamanya.”

Marion menoleh. Tatapannya tajam, tapi tidak marah—lebih seperti ingin mencari tahu isi kepala Juno sepenuhnya.

“Kamu benci banget sama dia ya? Padahal kamu nggak pernah ngobrol langsung.”

Juno mengangkat bahu, “Aku pernah dengar dia bicara di Aula waktu kita mahasiswa baru. Pidatonya ngambang, sok intelek, nadanya kayak kutipan dari buku motivasi murahan. Aku bisa nilai dari situ.”

Marion mencibir, “Jadi kamu nilai orang dari satu pidato? Nggak adil.”

Juno membalas dengan tenang, “Kadang cuma butuh satu percakapan untuk tahu. Aku nggak suka orang yang terlalu sadar panggung.”

“Menurut kamu dia seperti apa?”

“Mau review jujur atau bohong?” tanya Juno dengan alis terangkat.

“Jujur.”

“Dia itu—pemuda brengsek. Ambisinya besar tapi kosong. Kalau nggak bisa ngasih manfaat, ya jadi racun. Dan dia... manipulatif. Aku pernah dengar dia bicara soal kamu di perpustakaan, di belakangmu. Gaya bicaranya kayak kamu milik dia.”

Marion tercekat.

“Dia sopan, Jun. Di depanku dia selalu sopan.”

“Cuma di depan perempuan,” desis Juno. “Beberapa teman kita juga ngerasa gitu. Kamu aja yang keras kepala.”

Marion mendengus. “Jangan bilang aku keras kepala.”

“Fakta.”

Sunyi menyela.

Lalu Marion bertanya dengan suara pelan tapi tegas, “Jadi kamu pikir... aku salah pacaran sama dia?”

Juno mengembuskan napas. Lama. “Aku nggak tahu. Tapi kalau aku jadi kamu, aku udah ludahin dia waktu pertama kali dia pura-pura bantu ambilin buku di perpustakaan. Tapi aku bukan kamu, jadi ya…”

Marion menghela napas. Tak tahu harus membalas atau tidak. Tapi hatinya mulai terasa hangat—atau barangkali nyeri—karena ia tahu, hanya Juno yang bisa jujur sepahit itu. Hanya dia yang tetap di sisinya bahkan ketika dunia runtuh diam-diam di dalam kepalanya dan tanpa mengatakan apapun lagi, Marion menyendok es krim terakhirnya, matanya menerawang pada lampu kota yang menyala satu per satu, pada langit yang semakin gelap, dan pada keheningan yang terasa begitu jujur malam itu.

 

 

Malam sudah menelan langit sepenuhnya ketika Juno melirik jam tangan dan menyarankan mereka pulang. Gelas es krim telah kosong, hanya menyisakan jejak lelehannya di dasar cangkir kertas yang mereka buang ke tempat sampah terdekat. Marion mengangguk pelan, lalu keduanya bangkit dari kursi besi yang mulai dingin disentuh udara malam. Mereka berjalan berdampingan di trotoar yang membentang memanjang, dihiasi lampu-lampu jalan kekuningan yang menggantung seperti lentera tua. Toko-toko kecil berjajar di sepanjang sisi kanan: toko buku bekas dengan etalase kusam, butik pakaian dengan manekin usang yang sudah ganti koleksi sejak awal bulan, sebuah toko alat tulis bergaya retro bernama Paper & Quill, lalu kedai teh rempah yang memancarkan aroma manis kayu manis dan adas dari celah pintunya yang terbuka sedikit.

Di seberang jalan, sebuah toko vinyl memutar lagu lama, denting piano mengambang lembut menyusup ke udara dingin. Suara kendaraan nyaris tak terdengar. Hanya sesekali ada sepeda listrik lewat pelan, dan dua tiga pasangan yang berjalan saling berdekatan.

Marion melipat tangannya di depan tubuhnya, memeluk dirinya sendiri. Nafasnya membentuk uap tipis.

“Mungkin lusa sudah musim gugur,” gumamnya, matanya menatap dedaunan yang mulai menguning di pangkal dahan.

Juno mengangguk. “Udara sudah berubah,” katanya singkat.

Setelahnya, tak ada kata-kata. Hanya langkah kaki di trotoar berbatu dan suara dedaunan kering yang terinjak. Mereka terlarut dalam keheningan, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Debat panjang tadi masih membekas. Marion melangkah sedikit lebih cepat, seolah hendak menghindari bayang-bayang percakapan yang belum selesai.

Lalu, tiba-tiba—

“Marion.”

Ia menoleh. Langkahnya terhenti, membiarkan Juno mengejar dan menyamakan langkah. Cahaya lampu toko Paper & Quill membingkai wajahnya saat ia menatap Juno dengan alis bertaut. Juno menatapnya penuh pertimbangan. Nafasnya terlihat tenang, tapi ada riak dalam sorot matanya. Lalu, suara itu terdengar rendah dan dalam.

“Kalau aku bilang… aku suka kamu, gimana?”

Marion membulatkan matanya. “Kamu gila ya?” ujarnya cepat, kaget.

Juno tidak menjawab.

Marion tertawa gugup, lalu mulai mengoceh, “Kita sahabatan, Juno. Kita hanya temenan. Mana mungkin kamu suka aku? Kamu—kamu tahu aku sama Yuri.”

Juno mengangkat bahu ringan. “Emang ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan?”

Pertanyaan itu membuat Marion diam. Sejenak ia terpaku, lalu rautnya berubah cemas. “Kamu serius?” suaranya lirih, ada gemetar halus.

Juno mengatupkan bibirnya. Tapi kemudian, ia mengangkat wajahnya dan berkata, “Kalau iya?”

Degup jantung Marion berdebar kencang. Ada ketakutan aneh yang menjalari tubuhnya, bukan karena jijik atau risih, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Ia takut Juno tidak bercanda. Ia takut kehilangan satu-satunya tempat berpulang yang paling ia percaya.

“Kamu pasti gila,” gumam Marion akhirnya. “Kamu tahu aku punya Yuri. Dan aku… aku nggak akan pernah selingkuh.”

Juno diam. Hening membeku di antara mereka. Lampu toko buku kini tampak suram, dan langkah mereka terhenti di depan toko vinyl, lagu baru sudah mulai diputar. Saxophone yang menyayat. Marion menunduk. Ia masih memeluk tubuhnya, mencoba menenangkan badai dalam dadanya. Ia tahu perasaan tidak bisa dipaksa, tapi juga tidak bisa dibiarkan. Dan kalau itu nyata, jika perasaan itu benar, maka ada batas yang akan runtuh.

Lalu, Juno tertawa. Ringan. Bebas.

“Aku cuma bercanda, Marion. Santai aja. Kamu lucu banget sih kalau panik gitu.”

Seketika, Marion menatapnya tajam. “Sialan,” umpatnya sambil memukul lengan Juno dengan kepalan kecil.

Juno tertawa lebih keras. “Aduh! Sakit, tahu!”

Mereka kembali melangkah. Kali ini tertawa, seperti dua anak muda yang tak sempat dewasa terlalu cepat. Suara mereka mengambang bersama udara malam yang makin dingin. Namun langkah mereka terhenti tiba-tiba, ketika dari salah satu pintu restoran berlampu temaram, sebuah suara memanggil.

“Juno?”

Keduanya menoleh serempak.

Dan di sana, di bawah lampu restoran Prancis yang menjual wine lokal dan sup seafood hangat, berdiri dua orang.

Stacy Lambert—dengan rambut keperakannya yang digelung setengah, mengenakan coat beige yang mahal, dan wajah datarnya yang selalu tenang dan di sampingnya, Yuri Starkweather, berdiri dengan jaket kulit gelap dan tatapan penuh makna. Nama yang baru saja Marion sebut sepuluh menit lalu.

Dan kini, tak ada tempat untuk sembunyi.

Untuk satu detik yang membentang seperti luka, waktu seakan tertahan di udara. Dunia tak bergerak, hanya cahaya lampu jalan yang berkedip lembut seperti kelopak mata yang bingung memilih untuk terpejam atau terbuka. Suara nyaring klakson dari jalan utama terdengar jauh sekali, seolah dunia luar sengaja merendahkan volumenya agar malam itu bisa terdengar dengan sangat jelas: deru napas, jantung yang kacau, dan satu nama yang menggantung di antara mereka—Juno.

Marion seperti terhuyung dalam dirinya sendiri. Dunia yang ia kenal, yang ia yakini bisa dikendalikan dengan prinsip dan batas, seketika koyak oleh kehadiran dua nama yang seharusnya tidak berada dalam satu bingkai. Stacy dan Yuri. Ia mengenal keduanya, tapi tidak pernah membayangkan harus melihat mereka berdiri bersebelahan, di tempat yang tidak memberinya peringatan. Ia ingin percaya bahwa ini kebetulan. Bahwa semesta hanya sedang bermain-main. Tapi ada tatapan di mata Yuri yang bukan kebetulan. Ada jeda di dada Marion yang bukan karena udara dingin. Ada sesuatu yang runtuh perlahan, dari dalam, dari tempat terdalam yang belum pernah disentuh siapa pun. Ia merasa seperti gadis kecil yang mendadak kehilangan bahasa, dan hanya mampu berdiri membatu sambil memeluk tubuhnya yang gemetar, bukan karena musim, tapi karena firasat.

Juno berdiri di sampingnya, kaku seperti pria yang baru saja menabrak masa lalunya sendiri. Bibirnya mengatup, tapi seluruh tubuhnya adalah pernyataan bersalah yang tidak ingin diucapkan. Stacy memandangnya tanpa senyum. Yuri diam, tapi mata Juno tidak menatap Marion. Itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup. Juno tahu, dalam sedetik itu, rahasianya tidak hanya hampir terungkap—ia sudah hancur. Karena Marion adalah seseorang yang membaca bukan dari kata-kata, tapi dari diam. Dan malam itu, diamnya Juno lebih riuh dari teriakan mana pun.

Yuri, yang awalnya hanya ingin makan malam dan berbagi waktu sebelum kembali ke kantor pusat, kini berdiri seperti seseorang yang menemukan teka-teki tanpa petunjuk. Ia melihat Marion, lalu Juno, lalu Stacy. Ada rasa tidak nyaman yang menjalar, tapi ia menahannya di balik senyum datarnya yang ia latih bertahun-tahun untuk tetap tenang di hadapan klien. Namun kali ini, senyum itu terasa kaku. Karena Marion tampak berbeda—matanya menyala bukan karena marah, tapi karena kecewa yang belum punya bentuk dan Stacy, berdiri sedikit di depan Yuri, menatap Juno dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Seolah ia tahu apa yang sedang terjadi, seolah ia sudah memprediksi akhir dari cerita yang bahkan belum ditulis. Ia tidak bicara, karena Stacy selalu percaya bahwa diam lebih menusuk daripada jawaban. Tapi yang membuat segalanya jadi lebih berat adalah ini: ia merasa menang. Dan Stacy tidak pernah suka menang atas sesuatu yang tidak pernah ia undang.

Empat orang berdiri di bawah cahaya lampu yang menggigil, dikelilingi bau roti bawang dari restoran dan dingin yang turun seperti kabut. Tak ada satu pun dari mereka yang tahu siapa yang akan bicara lebih dulu. Tapi masing-masing dari mereka tahu satu hal pasti:

Tidak ada yang bisa kembali seperti semula setelah malam ini.

Diam adalah bentuk ucapan yang paling valid.

Malam itu, diam menjerit paling lantang. Suara kota mendadak hanya menjadi latar bisu; yang terdengar hanya napas-napas tercekat dan gema ketegangan yang menggantung di udara.

Marion akhirnya bergerak, sedikit maju, seolah melawan kenyataan yang tidak ingin ia percayai. Bibirnya gemetar saat ia memanggil, “Yuri?”

Pria berjaket kulit itu mengerjap pelan, seakan lupa bahwa dunia lain masih berputar di luar pikirannya sendiri.

Marion melanjutkan dengan suara yang nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri,

“Sedang… apa kamu di sini?”

Yuri baru akan membuka suara ketika Stacy menyela, suaranya ringan seperti desiran angin yang menusuk di musim dingin. “Kami baru saja makan malam,” ujarnya sambil mengelus perutnya yang mulai membesar, gerakan halus namun penuh maksud. Yuri melirik ke arahnya sejenak. Bibirnya bergerak, menggumamkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri—mungkin sebuah sumpah serapah, atau doa agar semua ini tak nyata.

“Makan malam…?”

Marion mengulang, seakan butuh memastikan bahwa kata itu memang benar-benar diucapkan. Wajahnya memucat perlahan, seperti dinding yang kehilangan cahaya.

“Bukankah… kamu masih dinas?” tanyanya, nyaris tak terdengar. Ada luka dalam setiap suku kata yang keluar dari mulutnya.

Yuri menelan ludahnya diam-diam, lalu membentuk senyum tipis yang tidak menjawab apa-apa. “Kamu nggak baca pesanku?” ujarnya santai, begitu santai sampai terasa menyakitkan.

Marion terpaku. Ia tidak tahu pesan mana yang dimaksud, atau sejak kapan Yuri bisa sekaku itu berbicara padanya. Tatapannya berpaling pada Juno. Pemuda itu berdiri kaku di sampingnya, rahangnya menggembung, menahan kemarahan yang sudah mendidih di bawah kulit. Ia menggertakkan gigi, dan dari rautnya—yang bukan lagi sekadar kesal—terpancar sebuah kebencian yang sunyi tapi mematikan. Bukan cemburu. Bukan dendam. Tapi semacam perasaan lelah yang terlalu lama ditahan—dan sekarang ia ingin membiarkannya meledak.

Lalu, seperti menusuk udara yang sudah tegang, Stacy bertanya ringan, “Kalian berdua… sedang apa?”

Juno menjawab tanpa menoleh. “Bukan urusanmu.”

Jawaban itu seperti menyulut api di udara. Ada sesuatu yang tak terlihat meletik di antara sorot mata Yuri dan Juno. Sesuatu yang sudah lama disimpan tapi kini mendekati titik didih. Marion buru-buru bicara, mencoba menengahi sebelum semuanya runtuh di depannya. “Kami… habis mengantar Ayahku pulang dari rumah sakit,” ucapnya terburu-buru, nadanya tidak stabil.

Yuri menoleh padanya. Matanya menajam, lalu ia mengangkat alis, tatapannya dialihkan ke Juno. “Itu benar?” tanyanya, tajam, seolah kebenaran hanya bisa dipastikan dari mulut Juno, bukan dari Marion.

Juno menjawab tanpa ragu. “Kau tak perlu ikut campur.”

Nada suaranya dingin. Begitu datar, tapi sarat ancaman.

Yuri maju setengah langkah, bahunya menegang. “Tentu aku ikut campur,” katanya pelan, menahan emosi yang mulai meletup. “Karena Marion masih—”

“Masih pacarmu?” Juno memotong, suara rendahnya membenamkan semua keraguan dalam racun yang manis. “Oh, tentu. Pacar yang kamu tinggal begitu saja, lalu makan malam bersama perempuan lain di tempat terbuka.”

Stacy mengejang, tapi tak berkata apa-apa.

Juno menyipitkan mata, menyeringai tipis. “Atau aku harus bertanya balik: kalian berdua di sini, sebagai apa?”

Sekarang, malam terasa benar-benar hening. Seolah bahkan angin pun enggan lewat.

Marion menunduk, jari-jarinya gemetar di samping tubuhnya. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan rasa sesak yang merayap dari dada hingga ke tengkuk. Dunia yang ia bangun, yang ia percayai, sedang menguap satu per satu. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi tebing—dan tak tahu siapa yang pertama kali mendorongnya.

Yuri menahan napas. Stacy menatap Juno. Juno menatap Marion. Dan Marion hanya ingin menghilang.

Pertemuan ini—tidak dirancang siapa pun, kecuali takdir yang tampaknya sedang ingin bermain kasar malam itu. Dan bagi Marion, itu cukup untuk membuat kepalanya berdenyut hebat, seperti ada luka lama yang mendadak dibuka paksa tanpa anestesi. Udara terasa pengap meski langit Islington telah menggelap sempurna. Tenggorokannya mengering, seperti baru saja dipanggang rasa terkejut yang terlalu lama ditahan.

Saat Yuri menyebut tentang pesan, Marion tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Pesan?

Apakah yang dimaksud adalah pesan terakhir yang dikirim Yuri dari Warminster? Yang memberitahunya bahwa Yuri harus berangkat ke Edinburgh karena tugas mendadak? Marion masih ingat. Ia masih bisa mendengar bunyi notifikasi malam itu, membaca kata demi kata yang tidak menjanjikan apa-apa selain penantian. Dan setelahnya…

Sunyi.

Hening.

Tak satu pun kabar datang.

Tak ada kalimat, tak ada suara. Bahkan tak ada penjelasan mengapa laki-laki itu kini berdiri hanya beberapa langkah darinya, bersama Stacy Lambert dan perut buncit yang tak bisa disangkal kehadirannya. Juno di sisi lain mendesis pelan, rahangnya mengeras. Tak ada satu pun kata keluar dari mulutnya, tapi tatapan matanya cukup untuk menghancurkan siapa pun malam itu—terutama Yuri. Aura kebenciannya terbit tanpa permisi, seperti ancaman dingin yang tinggal menunggu satu sentuhan untuk meledak.

"Jadi... kalian habis makan malam?" suara Marion pelan dan terbata.

Seakan butuh kekuatan dari tulangnya sendiri hanya untuk mengucapkannya.

"Padahal kau bilang... kau masih di Bordeaux."

Yuri tak segera menjawab. Justru Stacy yang tersenyum lebar, mengusap perutnya seperti sedang menampilkan sebuah kemenangan yang tak diundang. Ia bicara ringan, tapi nadanya menusuk. Juno akhirnya bersuara, pendek dan tajam, mengatakan itu bukan urusan Stacy. Ucapan yang langsung mengundang tegangan baru—percikan halus dalam tatapan Yuri dan Juno, seperti dua anjing liar yang menilai kekuatan masing-masing. Marion buru-buru menyela, mengatakan bahwa mereka baru saja mengantar ayahnya pulang dari rumah sakit. Dan ketika Yuri mengangkat alis lalu bertanya apakah itu benar, Juno hanya menjawab singkat—suara yang cukup dalam untuk memotong malam—bahwa Yuri tak perlu ikut campur.

“Marion masih milikku,” kata Yuri.

Namun kalimat itu belum sempat sempurna.

"Masih pacar?" Juno menyambung cepat.

Nada bicaranya tenang tapi penuh bara.

“Kalau begitu Stacy siapa? Pendamping makan malam?” Senyum sinisnya menghancurkan udara.

Stacy menyipitkan mata. Ia menatap Marion seperti sedang melihat sisa dari tragedy, “Kalian… masih pacaran?” gumamnya, pelan dan dingin.

Pertanyaan itu menggantung seperti pisau di antara mereka.

Sunyi.

Marion memandang Yuri, mencari kebenaran yang pernah dijanjikan dengan begitu lembut di atas kasur, dalam bisik-bisik malam, di antara ciuman dan pelukan yang katanya tak akan mengkhianati.

Yuri tidak menjawab.

Stacy bertanya lagi, lebih keras, kali ini disertai nada mendesak yang meretakkan ketegangan tipis di antara mereka.

Juno tertawa—keras, mengejek, tajam.

“Kau dengar itu? Stacy bertanya. Jawab. Jelaskan padanya,” katanya, seperti menusuk Yuri dengan tawa yang lebih kejam daripada makian.

“Bukankah… kita masih pacaran?” tanya Marion, nadanya pecah, pelan dan hampir tak terdengar.

Lagi-lagi, Yuri diam.

Lalu setelah beberapa detik yang terlalu panjang, ia melangkah mendekat dan menatap Marion seperti ingin menyayatnya dengan kata-kata.

“Setelah kau tidak kabar selama seminggu lebih… masih disebut pacaran?”

Hening.

Juno mengepalkan tangannya, nyaris bergerak, tapi Marion buru-buru menariknya, menghentikan ledakan yang hanya tinggal waktu.

Yuri memalingkan wajah, menatap Stacy.

“Aku bisa jelaskan. Tapi tidak di sini.”

Stacy mencengkeram lengan Yuri.

“Jelaskan sekarang.” Nada suaranya berubah—berat, menuntut, penuh rasa curiga dan murka. Ia memelototi Marion seolah gadis itu racun, penyakit, bencana yang harus dimusnahkan dari hidupnya.

Juno menatap Marion yang membeku di tempat. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan gadis itu.

“Kita pergi,” bisiknya.

Namun Marion tak bergerak. Ia berdiri mematung, membiarkan tubuhnya menyerap seluruh rasa sakit yang tak bisa ia muntahkan. Matanya tak lepas dari Yuri—menunggu tatapan, menunggu kejujuran, menunggu alasan. Namun tidak ada.

Yuri tidak menatapnya.

Bahkan tidak melirik.

Tidak seperti dulu.

Bukan seperti saat mereka bicara dalam bahasa peluk dan cium. Bukan seperti saat tangan mereka menggenggam malam demi malam dalam sunyi dan rindu. Bukan seperti saat Marion percaya bahwa Yuri tidak akan pernah membuatnya merasa seperti orang asing. Juno menarik tangannya sekali lagi, dan Marion akhirnya melangkah. Terpaksa dan baru saat itu—baru setelah punggung Marion menjauh—Yuri menoleh.

Tapi sudah terlambat.

Stacy menjerit, menuntut penjelasan.

Orang-orang mulai memperhatikan.

Lampu-lampu kota bersinar dengan kejamnya, menelanjangi semua kebohongan yang dipertahankan dengan gigih selama ini.

Malam itu, Camden yang biasanya teduh terasa meledak dari dalam. Seolah kota itu tahu, bahwa musim panas telah benar-benar berakhir, dan tak ada yang bisa menyelamatkan siapa pun dari musim gugur yang akan datang dengan dingin, tajam, dan penuh kehilangan

Chapter Sebelumnya
Chapter 11 dari 11
Chapter Selanjutnya

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Chapter 6: Yang Kita Tidak Tahu Saat Itu

5,356 kata

GRATIS

Chapter 7: Suara Yang Tak Pernah Selesai

6,073 kata

GRATIS

Chapter 8: Saat Tak Ada yang Bisa Kembali

6,017 kata

GRATIS

Chapter 9: Di Antara Luka dan Janji

5,340 kata

GRATIS

Chapter 10: Hari Yang Terlalu Panjang

5,157 kata

GRATIS

Chapter 11: Yang Tak Kita Ketahui Dari Ses...

5,198 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!