')">
Progress Membaca 0%

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

Alvianti Purnamasari 30 Mar 2026 5,590 kata
GRATIS

Cahaya pagi menyusup perlahan di balik tirai linen yang menjuntai lembut di jendela kamar. Marion menggeliat pelan di balik selimut putih yang membungkus tubuhnya, kulitnya bersentuhan dengan udara yang dingin namun lembut. Ia membuka mata dalam kabut ingatan yang belum sepenuhnya sirna. Jejak malam tadi masih terasa di sekujur tubuhnya—hangat, membekas, dan membingungkan sekaligus.

Tapi tempat di sebelahnya kosong.

Tidak ada Yuri.

Selimut sedikit bergeser ketika ia duduk, membiarkan tubuhnya bersandar pada punggung ranjang. Napasnya mengambang, lalu ia mendengar suara samar air mengalir dari arah kamar mandi. Mungkin Yuri sedang mandi, pikirnya. Marion menoleh, matanya menangkap kemeja biru lembut yang dikenakan Yuri malam sebelumnya, terlipat setengah di sandaran kursi.

Ia berdiri dan mengenakan kemeja itu. Lengan kemeja yang terlalu besar menjuntai sampai menutupi separuh pahanya. Aroma lembut parfum dan tubuh Yuri masih melekat di sana, menghangatkan udara pagi yang dingin. Dengan langkah ragu, Marion berjalan ke depan pintu kamar mandi dan mengetuk dua kali, suaranya pelan.

"Yuri?"

Tidak ada jawaban.

Marion memutar kenop perlahan. Pintu tidak dikunci. Dan saat terbuka, sekejap kemudian, waktu seakan berhenti.

Uap tipis memenuhi ruangan. Yuri berdiri di depan wastafel, rambutnya masih basah, hanya handuk melilit pinggangnya. Ia menatap Marion yang membeku di ambang pintu, tidak terkejut, tidak tergesa—hanya senyuman tenang yang mengembang di wajahnya.

Marion buru-buru hendak menutup pintu, pipinya merona panas. Tapi tangan Yuri lebih dulu menahan daun pintu yang setengah tertutup, jemarinya menyentuh pergelangan Marion.

“Kamu sudah melihat semuanya semalam,” ucapnya ringan, hampir seperti bisikan pagi. “Kenapa harus malu sekarang?”

Marion menunduk, tak sanggup menatap matanya. Tapi Yuri mengangkat dagunya dengan lembut, membuat mata mereka kembali bertemu dalam diam yang begitu dekat. Lalu, dengan kehangatan yang tak asing lagi, Yuri mencium bibir Marion, lembut, perlahan—namun penuh maksud.

Kemeja yang Marion kenakan melorot dari bahunya ketika Yuri melucutinya kembali, membiarkannya jatuh ke lantai tanpa suara. Di balik uap dan senyap, tubuh mereka saling menyatu lagi—tanpa banyak kata, hanya napas yang terengah, hanya desir yang menggema di ruang sempit itu.

Dalam dekapan Yuri, Marion kembali larut. Sekali lagi, ia membiarkan tubuh dan hatinya jatuh, terhempas dalam rindu yang belum selesai. Hanya mereka berdua, dalam pagi yang belum benar-benar terang.


Restoran hotel pagi itu tenang dan elegan, menyambut hari baru dengan aroma kopi yang hangat dan lantunan musik instrumental lembut dari speaker tersembunyi di sudut langit-langit. Dindingnya dilapisi marmer krem dengan aksen emas tipis, dan jendela-jendela kaca besar membiarkan cahaya matahari pagi masuk, menyentuh lantai dengan warna keemasan yang menenangkan.

Marion duduk di salah satu meja dekat jendela, mengenakan kembali blus satin hitam dan rok pensilnya dari malam sebelumnya. Rambutnya ia sisir seadanya dengan jari, dan meski tak mengenakan riasan baru, wajahnya memancarkan kehangatan yang lembut. Yuri duduk di seberangnya, masih mengenakan kemeja putih yang bagian lengan dan kerahnya sedikit kusut, dengan dasi dilepas dan tergantung longgar di leher. Mereka tampak seperti dua orang pekerja yang belum sempat pulang, tapi senyum mereka tidak menyisakan kelelahan—hanya kedekatan yang sulit dijelaskan.

Menu sarapan di meja mereka tak berlebihan, tapi berkelas. Sepiring telur orak-arik yang dimasak lembut, roti panggang hangat dengan mentega, potongan smoked beef, dan salad kecil dengan dressing lemon. Dua cangkir kopi hitam disajikan berdampingan dengan jus jeruk dingin. Marion menyentuh gelas jusnya, lalu menatap Yuri yang tengah mengaduk kopinya dengan gerakan lambat.

“Bagaimana kabar ibumu dan adikmu?” tanyanya pelan, suaranya masih lekat dengan sisa semalam—tenang dan penuh jeda.

Yuri mengangkat pandangannya, lalu tersenyum kecil. “Mereka baik. Masih di Islington. Ibu sering mengeluh tentang cuaca akhir-akhir ini. Dan Noora akan masuk kuliah tahun ini.”

“Noora?” Marion menoleh dengan minat. “Nama adikmu?”

“Mm.” Yuri mengangguk. “Noora Starkweather. Kepala batu, keras hati, tapi... dia pintar. Aku nggak berencana mendaftarkannya ke Westminster.”

“Kenapa?” tanya Marion, sedikit mengerutkan alis.

Yuri menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Biayanya terlalu mahal. Kecuali dia dapat beasiswa, tentu saja.”

Marion mengangguk, mengaduk kopinya perlahan. Ia membayangkan seorang gadis remaja dengan semangat yang mirip Yuri—penuh pendirian dan barangkali sama kerasnya. “Kupikir dia bisa,” gumamnya pelan.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hanya denting sendok di cangkir, lalu deru lembut mesin kopi di balik counter dapur yang samar terdengar. Di antara mereka, udara terasa ringan, tapi juga dipenuhi sisa dari sesuatu yang lebih dalam—keintiman yang belum benar-benar pergi sejak semalam.

“Kamu kerja hari ini?” tanya Yuri, memecah diam.

“Aku sudah bilang ke Elli, hari ini aku ambil cuti,” jawab Marion, menyesap kopinya.

Senyum Yuri melengkung lambat, seolah puas menang dalam permainan yang hanya ia pahami. “Bagus.”

Marion menunduk, menyembunyikan senyum yang mulai merekah. Tapi ada sesuatu di dadanya yang ingin tahu lebih banyak. Maka ia bertanya, nyaris seperti menguji, “Kamu akan pergi lagi hari ini?”

Yuri menarik napas pelan, lalu menjawab, “Mungkin malam. Tapi sebelum itu, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu.”

Marion mengangkat wajahnya, dan senyumnya—kali ini—tidak tertahan. Tidak canggung. Tidak ragu. Ia mengangguk kecil, lalu kembali pada rotinya.

Di luar, matahari mulai naik lebih tinggi. Dan di antara meja-meja hotel yang pagi itu tak terlalu ramai, dua orang dengan pakaian semalam masih duduk di tempat yang sama, tapi dengan perasaan yang sudah jauh berubah.


Siang turun pelan di atas kota yang perlahan mulai hidup kembali setelah pagi yang tenang. Di dalam mobil yang melaju santai di antara lalu lintas lengang, radio memutar lagu-lagu cinta dari era yang berbeda—melodi lembut dari Norah Jones, lalu beralih ke suara berat John Mayer, mengalun dalam denting gitar dan lirik yang menyentuh. Di kursi pengemudi, Yuri menyetir dengan satu tangan sambil sesekali melirik Marion di sebelahnya. Marion menyandarkan kepala ke jendela, matanya mengarah ke langit biru pucat yang kadang terhalang awan tipis.

Mereka berhenti di sebuah supermarket yang tak terlalu ramai. Di dalam, Marion menunjuk bahan-bahan pokok yang ia butuhkan—beras, telur, susu, beberapa sayuran dan daging beku—sementara Yuri tanpa banyak protes memasukkan semuanya ke dalam keranjang. Ia bahkan menambahkan dua kotak teh dan sebotol minyak zaitun tanpa bertanya.

“Untuk saladmu yang kadang kamu benci, tapi tetap kamu buat,” katanya sambil tersenyum kecil, membuat Marion hanya bisa menghela napas geli.

Setelah belanja, mereka mampir ke sebuah café kecil di sisi jalan, mengambil dua kopi dingin—americano untuk Yuri dan butterscotch latte untuk Marion—ditambah empat pastry dalam kotak kertas: almond croissant, lemon tart, cinnamon roll, dan quiche kecil untuk dibagi. Di dalam mobil, wangi manis dari kotak pastry bercampur dengan udara dingin dari pendingin mobil dan suara lembut dari lagu Sam Smith yang mengalun pelan.

Sambil menyetir, Yuri mulai bercerita. “Aku sempat tinggal di beberapa mess waktu kerja di proyek timur. Ada yang parah banget. Waktu di Garret Hill, kamarnya sempit dan lembap. Dindingnya tipis sampai bisa dengar suara ngorok orang sebelah.”

“Serius?” Marion menahan tawa, menoleh padanya.

Yuri mengangguk. “Serius. Dan satu mess di selatan itu—aku sekamar sama Renji, cowok paling cerewet yang pernah aku temui. Bangun jam lima, langsung ceramah soal protein. Lalu ada Elijah, hobi ngacak-ngacak dapur jam dua pagi.”

“Kayaknya kamu butuh sabar sepuluh kali lipat kerja di sana,” gumam Marion.

“Aku sempat berpikir resign cuma karena mereka,” Yuri tertawa pelan. “Tapi ya, hidup kan bukan selalu soal tempatnya nyaman atau enggak.”

Mobil terus melaju. Cahaya siang menari di kaca depan, memantul pelan. Setelah jeda, Yuri kembali berbicara. “Kemarin aku mampir ke toko bunga. Bingung sendiri pilih bunga apa buat kamu.”

Marion meliriknya, tersenyum hangat. “Kamu enggak perlu sekeras itu... hanya untuk aku.”

Yuri tidak menjawab, tapi ekspresinya melunak. Satu sisi bibirnya terangkat. Tak lama, mobil berhenti di depan bangunan apartemen Marion.

Di dalam unitnya yang mungil namun rapi, Yuri membantu membawa masuk kantung-kantung belanja ke dapur. Apartemen Marion hanya terdiri dari satu kamar tidur dengan kamar mandi dalam. Ruang tengahnya cukup sederhana—sebuah sofa abu-abu tua menghadap ke televisi datar yang menempel di dinding. Beberapa bantal warna senada bertumpuk rapi di pojok, dan karpet bulu tipis menghiasi lantai kayu berwarna terang.

Dapur dan area laundry menyatu di sisi kanan ruangan—ada kulkas dua pintu, rak bumbu kecil, mesin cuci di bawah counter, serta rak gantung berisi gelas dan piring. Tak ada banyak dekorasi kecuali satu lukisan abstrak kecil di dinding dan vas kaca bening berisi bunga kering di meja makan mini.

Yuri mulai menyusun belanjaan ke dalam kulkas dan rak dengan cekatan. Ia memindahkan sayuran ke dalam laci bawah, menaruh roti di dalam wadah plastik, dan menyusun kopi instan ke dalam kotak kecil.

Sementara itu, Marion menghilang ke dalam kamarnya, terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Di antara suara denting piring dan aroma kopi yang masih tersisa dari tangan mereka, apartemen kecil itu terasa berbeda sore ini—lebih hidup, lebih hangat. Dan mungkin, sedikit lebih lengkap.

 

Marion keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah kering, helai-helainya menempel ringan di bahu dan tengkuk. Ia mengenakan dress satin warna lembut yang jatuh sebatas lutut, tanpa lengan, memperlihatkan kulit pucat yang sedikit memerah karena air hangat. Langkahnya pelan menuju ruang tengah, dan matanya sedikit membulat melihat keadaan apartemennya—rak bumbu dirapikan, kantung-kantung belanja sudah hilang dari pandangan, dan sofa tampak lebih rapi dari sebelumnya.

Di dapur kecilnya, Yuri sedang menyeka meja dengan handuk kecil. Marion mendekat tanpa banyak suara dan mengecup pipinya cepat—hangat, ringan, seperti kebiasaan lama yang baru kembali.

Yuri menoleh, keningnya terangkat sedikit. “Boleh numpang mandi juga, kan?”

Marion mengangguk sambil mengambil segelas air. “Kalau kamu mau ganti baju, masih ada beberapa kemeja dan celana kamu di lemari—yang waktu itu kamu beli tapi nggak sempat dibawa.”

Yuri terkekeh kecil, suaranya berat dan jenaka. “Jadi selama ini kamu nyimpan harta karun aku, ya.”

“Lebih tepatnya... kamu yang lupa. Aku cuma terlalu malas mengingatkan,” jawab Marion santai.

Yuri masuk ke kamar sambil menggeleng pelan, masih tertawa, sementara Marion menjatuhkan dirinya ke sofa. Ia menyalakan televisi dan menelusuri beberapa saluran, berhenti sejenak di tayangan dokumenter alam, lalu berpindah ke film romantis Eropa yang berbicara pelan dan berwarna pudar. Ia tidak terlalu memperhatikan isi acara, lebih pada bagaimana apartemennya terasa—tidak sunyi, tidak dingin. Seperti hidup kembali.

Ketika Yuri keluar beberapa menit kemudian, ia mengenakan celana pendek abu-abu dan kaus bergambar band lawas—Queen, yang logonya sudah sedikit luntur. Rambutnya masih basah, dan ia berjalan ke sofa dengan gaya santai, memungut toples berisi kacang almond dari meja dan mulai mengunyah dengan wajah setengah serius.

Marion menahan tawa, lalu tak tahan lagi, terkikik sambil menunjuk kausnya. “Kamu kelihatan kayak remaja telat puber.”

Yuri ikut tertawa, duduk di sebelahnya. “Serius, ini kaus favoritku waktu kerja di Aberdeen. Entah kenapa masih muat.”

Marion bersandar ringan ke sisi sofa, memandangi layar tanpa benar-benar fokus. Di sebelahnya, Yuri membuka obrolan ringan.

“Gimana kantor? Masih sekeras dulu?”

Marion menghela napas, lalu tertawa pendek. “James Hook makin banyak maunya. Presentasi harus pakai warna yang katanya 'strategis'. Padahal ya... tetap aja dia nggak paham isinya.”

“Dan Anamella Fort?” tanya Yuri dengan senyum tahu.

“Oh, dia sekarang lebih vokal dari toa masjid. Kemarin dia maki Elli karena salah input jam meeting. Satu kantor bisa dengar. Aku kasihan sama Elli.”

Yuri terbahak, nyaris tersedak kacang. “Astaga, kasihan banget. Elli masih suka ngeluh pas nyuci tangan dua kali setelah pegang lift?”

“Masih,” jawab Marion sambil tertawa. “Tapi dia makin tangguh. Kadang dia pura-pura nggak dengar dan jalan lurus ke pantry buat ngopi.”

Yuri mengangguk-angguk, matanya berbinar. Di antara tawa dan cerita kecil yang bersahutan, waktu perlahan mengendap di antara mereka. Tidak tergesa, tidak ada tekanan. Hanya sore yang nyaman, suara tawa yang sesekali pecah, dan percakapan ringan yang entah kenapa terasa menyelamatkan dan Marion—dengan rambut setengah kering dan kulit yang belum sepenuhnya pulih dari mandi—merasa dirinya kembali hidup. Bukan karena tawa atau topik yang mereka bahas, tapi karena Yuri duduk di sebelahnya, seperti dulu. Seolah waktu tidak pernah benar-benar pergi, hanya berputar terlalu lama sebelum kembali ke tempat yang seharusnya.

 

Obrolan mereka terhenti perlahan ketika Yuri menatap Marion dalam-dalam. Sorot matanya tak sekadar melihat, tapi seolah mengingat. Ia menyisir helaian rambut Marion yang jatuh ke pipi dan menyelipkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang nyaris seperti doa.

Marion menahan napas. Seolah dadanya tak cukup luas untuk menampung debar yang datang tanpa permisi. Sentuhan lembut Yuri di pipinya membuatnya bersandar pelan ke telapak tangan itu—seakan di sanalah satu-satunya tempat ia merasa aman. Ia mengecup punggung tangan Yuri pelan, lalu berkata dengan suara nyaris tak terdengar, “Aku tidak ingin kamu pergi lagi.”

Yuri menatapnya, tenang dan teduh. “Aku tahu,” jawabnya lembut. “Tapi aku tidak punya pilihan.”

Ada jeda hening di antara mereka, seperti ruang kosong yang tidak bisa diisi dengan kata apa pun. Marion menarik napas panjang, lalu bertanya, “Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa tetap di sini… di sisiku?”

Yuri tidak langsung menjawab. Pandangannya mengambang, seperti sedang mencari jawaban di tempat yang bahkan ia sendiri belum pernah datangi. Saat Marion hendak bicara lagi, suara itu akhirnya pecah—pelan dan penuh kesadaran, “Keinginanmu terlalu indah untuk dunia yang serba terburu-buru ini.”

Marion menunduk. “Maaf,” bisiknya.

Yuri mengangguk kecil, lalu mengusap pipinya dengan lembut dan membungkuk memberinya ciuman panjang di bibir—lama dan menenangkan, seakan ingin menghapus kata ‘maaf’ dari jarak di antara mereka.

“Aku nggak ingin kamu pergi…” ujar Marion lirih, begitu cemas hingga suara itu terdengar seperti gumaman yang nyaris patah.

Yuri mendekat, wajah mereka hanya terpisah sehela nafas. Hidungnya menyentuh Marion dengan lembut. Dekat. Terlalu dekat hingga waktu pun seakan berhenti.

“Tanpa kamu,” ucap Marion pelan, “hari-hari rasanya kosong. Nggak bisakah kita tetap seperti ini aja?”

Yuri tersenyum, tapi tidak berkata apa-apa. Ia hanya membalasnya dengan kecupan yang dalam, perlahan berubah menjadi pagutan yang menyampaikan semua yang tak sanggup ia ucapkan.

Ketika ciuman itu mereda, Marion kembali bertanya dalam napasnya, “Kamu akan pergi lama?”

Yuri menatapnya. “Aku bahkan nggak mau pergi,” katanya lirih. “Tapi kali ini… bukan aku yang menentukan.”

Sunyi lagi mengisi ruang itu. Marion menunduk, dan dalam diam, kesedihannya menyelinap dalam tatapan yang tak bisa ia sembunyikan.

Yuri menggenggam tangannya. “Tapi kamu nggak perlu khawatir,” ujarnya dengan suara yang lebih tegas namun tetap hangat. “Aku akan selalu kembali.”

Marion menatapnya, mata yang bening menyimpan banyak yang tak terucap.

Yuri tersenyum. “Kamu nggak perlu sedih. Karena apapun yang kumiliki… akan kuberikan padamu. Hanya untukmu.”

“Aku… cuma minta satu hal,” lanjutnya.

Marion menatapnya, mengangkat wajahnya sedikit. “Apa?”

Yuri tidak langsung menjawab. Ia hanya menarik Marion dalam pelukannya lagi, memeluknya erat seakan ingin menghentikan waktu. Lalu, di sela napas yang saling bertemu, ia menghujani Marion dengan ciuman lagi dan lagi, seolah ingin menuliskan sesuatu di setiap sisi tubuh Marion yang tak pernah ia lupakan.

“Kita masih punya waktu,” bisik Yuri di antara ciuman yang menepi ke telinga Marion.

Marion mengangguk pelan. Dalam satu gerakan yang saling memahami, mereka saling menanggalkan pakaian tanpa kata. Sekali lagi, dan lagi. Tak ada yang tergesa. Hanya desir, napas yang saling memburu, dan suara televisi yang kini terdengar seperti gema dari dunia yang tak lagi penting.

Yang tertinggal hanyalah mereka—dua tubuh yang saling mengingat, saling mengisi, saling meyakinkan bahwa meski dunia berubah, mereka masih di sini. Bersama. Dalam waktu yang tak pernah cukup, tapi juga tak pernah benar-benar habis.


Marion bangun dengan kepala yang berat dan tubuh yang terasa asing. Cahaya matahari London menyelinap malu-malu dari sela tirai, tapi tidak membawa kehangatan apa pun. Ia meraih sisi ranjang yang kosong di sebelahnya—hanya ada lipatan selimut yang dingin, tak ada aroma Yuri di sana lagi.

Ia menatap langit-langit untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas dan duduk perlahan. Rambutnya kusut, dan matanya masih menyimpan sisa lelah yang belum sempat tuntas.

Di meja makan, dua cangkir kopi dari kemarin masih tersisa—yang satu sudah habis, satunya hanya diminum setengah. Ia tahu persis mana milik Yuri.

Di wastafel dapur, piring sarapan semalam belum dicuci. Marion tidak punya energi untuk menyentuhnya. Tapi akhirnya, ia mengambil spons dan mulai membersihkannya satu per satu. Diam-diam. Perlahan. Seperti sedang membersihkan jejak seseorang yang ia tahu tak akan kembali dalam waktu dekat.

Suara dari televisi menyala otomatis—ia lupa mematikannya semalam. Gambar cuaca pagi muncul, lalu berita politik, tapi Marion tidak benar-benar memperhatikan. Matanya malah menatap ke arah meja dekat pintu, tempat Yuri sempat meletakkan bunga kecil dalam gelas air karena tidak sempat membeli vas.

Bunga itu masih segar. Seperti menolak fakta bahwa seseorang telah pergi meninggalkannya.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Yuri:

 

Jangan lupa makan siang. Aku tahu kamu bakal ngelupain.

PS: Granola di rak atas, kombucha aku masukin kulkas.

Dan aku... bakal telepon malam ini, ya?

 

Marion menatap pesan itu lama sekali. Jemarinya menyentuh layar, tapi tak kunjung membalas. Ia hanya mendekap ponsel itu di dada dan menutup matanya.

Keheningan di apartemen terasa seperti sesuatu yang terlalu besar untuk dihadapi.

Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang perlahan tumbuh: bukan keberanian, bukan ketegaran, tapi pengakuan bahwa ia memang sudah menyayangi Yuri jauh lebih dalam dari yang ia izinkan selama ini.

Ia berjalan ke balkon, memeluk dirinya sendiri di tengah angin pagi yang pelan. London tidak berubah. Tapi ada yang hilang dari pagi ini dan Marion membiarkannya terasa. Sepenuhnya.

 

Marion masih berdiri di balkon, membiarkan angin London menyentuh wajahnya. Kepergian Yuri semalam meninggalkan kekosongan yang tak bisa ia definisikan. Tapi mungkin bukan hanya karena Yuri—melainkan karena luka lama yang kembali diam-diam membuka diri, satu demi satu.

Ia menyentuh dada kirinya. Dulu, rasa ini pernah ia miliki.

Bukan untuk Yuri, tapi untuk seseorang bernama Mattheus Irvin. Pemuda yang dulu datang terlalu cepat, terlalu manis, dan terlalu mengisi kekosongan yang bahkan belum ia sadari ada.

Marion mengingatnya dengan jelas: pertemuan-pertemuan acak di komunitas seni kampus, tempat sahabatnya, Nadine Cho, memperkenalkannya pada Irvin dan kawan-kawan. Saat itu, Marion diam-diam menyukai Chris Whitmore, teman satu lingkaran Irvin. Sosok yang selalu ramah, punya senyum menenangkan, dan perhatian dengan cara yang dewasa. Tapi Chris sudah punya kekasih, dan Marion tahu diri. Ia mundur dengan elegan, menyimpan rasa itu seperti menyimpan lipatan puisi yang tak pernah ia baca keras-keras.

Lalu datang Irvin. Bukan Chris, tapi seseorang yang menaruh perhatian dengan cara yang Marion kira... bisa ia percayai.

Mulanya sederhana—titip salam, lalu bertukar nomor, dan tidak lama kemudian, menjalin hubungan. Irvin tidak sempurna, tapi ia penuh kejutan. Mengantar pulang, muncul tiba-tiba dengan cokelat hangat, menjemput dari sekolah walau beda arah. Marion merasa dicintai. Merasa penting.

Empat bulan pertama, semuanya manis. Terlalu manis, mungkin.

Bulan kelima, mereka makin dekat. Terlalu dekat. Marion tak sadar kapan batas itu mulai kabur. Ia tahu tubuhnya berubah, ia tahu ada sesuatu yang tidak sama.

Enam minggu tanpa menstruasi.

Satu garis. Lalu dua.

Tes itu mengubah segalanya.

Ia menggenggam ponselnya lama sebelum mengabari Irvin. Ia berharap Irvin akan mengerti, akan tenang, akan memeluknya dan bilang, "Kita hadapi ini bersama."

Tapi bukan itu yang ia dapatkan.

Yang ia terima adalah makian. Teriakan. Bentakan yang tak pernah ia sangka keluar dari seseorang yang pernah mencium keningnya begitu lembut. Ia tidak hanya dibentak—ia didorong, dibanting kata-kata, bahkan sempat dijambak dan dibekap.

Luka di kakinya sudah lama hilang. Tapi memori malam itu masih menetap seperti parasit.

Ia pingsan di lantai dapur apartemen Irvin. Seorang tetangga yang mendengar suara pecahan benda akhirnya memanggil ambulans.

Marion tertidur selama tiga hari penuh. Janin di rahimnya tidak selamat dan ketika ia bangun, Marion hanya bisa menatap langit-langit putih rumah sakit dengan mata yang tidak basah.

Ia tidak menangis. Tapi ia merasa tubuhnya kosong, jiwanya seperti meninggalkan tempat itu lebih dulu.

Masa itu membuatnya mengunci diri. Memutus semua kontak dengan teman komunitas, menolak semua bentuk perhatian, bahkan tidak bisa melihat dirinya di cermin tanpa merasa muak.

Ketika Yuri menyebut namanya untuk pertama kali sebagai mahasiswi internasional, Marion tidak merasa apa-apa. Bahkan saat Yuri mengingatnya di antara mahasiswa internasional baru lainnya, Marion hanya tersenyum tipis dan buru-buru pergi. Ia belum siap membuka pintu apa pun dalam dirinya. Tapi Yuri tidak berhenti datang. Tidak dengan cara memburu, tapi dengan hadir yang konstan, seperti matahari yang tak pernah meminta dipuja. Marion lama-lama menoleh. Lalu perlahan mulai melihat Yuri dengan mata yang berbeda.

Mata yang pelan-pelan pulih. Meski masih takut. Masih menyimpan trauma.

 

Langit London terang dan kering hari itu, matahari mengambang malas di balik awan tipis yang berjalan pelan di antara gedung-gedung tua. Marion melangkah turun dari bus menuju gerbang Longford dengan kemeja linen warna kelabu pucat dan celana hitam kerja. Rambutnya diikat longgar, wajahnya tampak segar meski kantung mata tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Dari kejauhan, Longford tampak semarak. Bendera kecil warna biru dan kuning menghiasi sisi luar pagar dan pintu utama. Di dekat aula, beberapa staf tengah menyusun papan nama peserta, sound system sudah dites sejak pukul tujuh pagi. Spanduk putih besar dengan tulisan "Longford English Debate Summer Competition" terbentang di atas aula utama, dikelilingi dekorasi bunga matahari dan pita-pita bergelombang.

Di bagian dalam, udara gedung masih dingin oleh AC, tapi langkah kaki dan suara tawa sudah memenuhi aula. Hampir empat puluh peserta—anak-anak dan remaja usia 13 sampai 18 tahun—datang bersama orangtua mereka. Semua mengenakan seragam atau pakaian rapi. Sebagian tampak tegang sambil memegang catatan, sebagian lagi antusias berceloteh dengan teman kelompoknya.

 

Pada peraturan yang tertulis; 

Peserta dibagi ke dalam kelompok berisi dua orang.

·        Babak penyisihan menggunakan sistem British Parliamentary Style dengan durasi 5 menit per pembicara.

·        Mosi diumumkan 20 menit sebelum tampil.

·        Setiap tim akan dinilai berdasarkan kekuatan argumen, ketepatan logika, gaya penyampaian, dan manajemen waktu.

·        Panel juri terdiri dari lima orang ahli linguistik dan debat dari universitas lokal serta lembaga bahasa Inggris.

·        Peserta yang lolos akan bertanding di semifinal besok.

 

Marion berdiri di dekat registration desk sambil mengecek attendance list di tablet. Ia mengangguk pelan pada peserta yang lewat, mengarahkan mereka menuju ruang tunggu atau briefing. Ia tetap bersikap profesional. Bahkan senyumnya tidak goyah—meskipun ada kekosongan di belakang matanya yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.

“Marion, you’re here early.”

Suara James Hook menyapanya dari arah samping. Pria itu mengenakan setelan semi-formal dengan dasi berwarna burgundy dan clipboard di tangan.

“Kau sudah pegang daftar peserta, ya?”

“Sudah. Semua sudah konfirmasi kecuali dua nama dari grup F, sepertinya masih dalam perjalanan.” Marion menjawab singkat, efisien.

James mengangguk puas. “Bagus. Kamu memang bisa diandalkan.” Ia menoleh ke arah aula. “Ini salah satu event terbesar kita tahun ini. Media partner datang jam sepuluh, lalu ada tamu dari British Council dan dua dekan fakultas bahasa dari King's dan SOAS.”

Ia menoleh lagi pada Marion. “Kalau kamu lelah, kamu bisa minta break sebentar. Aku tahu kamu baru kembali kerja hari ini.”

Marion tersenyum kecil. “Terima kasih, Mr. Hook. Tapi saya baik-baik saja.”

James menatapnya sejenak. “You’re not. Tapi kamu tetap berdiri di sini. I respect that.”

Lalu ia berjalan menjauh, menyapa tamu-tamu baru yang datang. Beberapa staf menyusul Marion, meminta konfirmasi ruangan dan perubahan jadwal untuk grup D.

Di sisi lain aula, Ellie tampak berlarian kecil sambil membawa dus kecil berisi botol air dan kotak snack. Wajahnya memerah, rambut pirangnya disanggul asal, dan apron hijau kebanggaannya mulai penuh remah.

“Marion!” panggil Ellie, setengah melambai dengan siku. “Tolong doakan aku nggak pingsan di jam makan siang, ya. Para ibu-ibu itu nyuruh bikin teh herbal customized segala...”

Marion berjalan mendekat, membantu Ellie menyusun gelas kertas di atas meja konsumsi.

“Kalau kamu pingsan, kita semua tamat. Nggak ada yang bisa gantiin kamu untuk bagian makanan.”

Nada Marion setengah menggoda, setengah lelah.

Ellie tertawa kecil. “Yah, paling kamu nyuruh Mr. Hook masak omelette buat semua peserta.”

“Kurasa Mr. Hook lebih cocok jadi moderator debat daripada tukang masak,” jawab Marion datar tapi hangat.

Mereka tertawa bersama—meski tawa Marion tak sampai ke mata. Ellie sempat meliriknya sekilas, seperti ingin bertanya sesuatu, tapi ia urungkan.

“Marion,” suara James muncul lagi dari balik meja juri. “Nanti setelah sesi babak pertama, aku minta kamu bantu koordinasi break room, ya. Kita butuh transisi yang cepat.”

“Siap,” jawab Marion.

Harinya baru mulai. Dan Marion tahu, hari ini akan penuh. Tapi apapun yang kosong di dalam dirinya—ia simpan rapi di balik clipboard dan jadwal lomba. Tidak semua luka harus terlihat hari ini.


Aula utama Longford terasa seperti jantung yang berdetak cepat di musim panas itu. Suara mikrofon yang sesekali berderak, langkah kaki peserta yang mondar-mandir gugup, serta denting jam digital di panggung utama membentuk irama yang hidup. Kursi-kursi disusun rapi berjejer menghadap panggung, dan di setiap ujung ruangan, staf Longford bersiaga: mulai dari mengatur giliran bicara, menenangkan peserta yang gugup, sampai mengatur urutan juri yang masuk bergantian.

Perlombaan dimulai pukul sembilan lewat dua belas menit, sedikit terlambat karena persoalan teknis, tapi segera mengalir cepat. Babak penyisihan pertama menghadirkan mosi yang menantang:

 

"This House Believes That Social Media Has Done More Harm Than Good to Modern Teenagers."

 

Para peserta, meskipun masih remaja, tampil dengan energi mengagumkan. Beberapa berbicara dengan logat khas daerah asal mereka, beberapa mencoba meniru intonasi debat profesional. Di antara suara gugup, ada pula yang mengejutkan juri dengan artikulasi tajam dan struktur argumen yang kuat. Marion menyaksikan semua dari sisi kanan aula, mencatat poin-poin penting, mencatat perubahan kelompok, serta memfasilitasi waktu persiapan yang ketat di ruang tunggu.

Di ruang tunggu, suasana tak kalah menegangkan. Beberapa peserta berlatih sambil berbisik, sebagian menenangkan diri dengan mendengarkan musik lewat earphone, dan ada juga yang memeluk kertas catatan seperti benda berharga terakhir yang mereka punya. Marion berjalan bolak-balik, menyemangati mereka tanpa terlalu mencampuri.

“Bagaimana persiapan kalian?” tanya Marion pada dua remaja laki-laki di pojok ruangan.

“Masih deg-degan, Miss… tapi kami sudah hafal struktur argumen kami.”

“Jangan lupa, logika dan cara bicara kalian lebih penting dari hafalan. Dan nikmati prosesnya.” Marion tersenyum. Ucapan itu sederhana, tapi cukup membuat salah satu dari mereka mengangguk lega.

Menjelang break time setelah sesi kelima, Marion bergerak cepat menuju pantry kecil di balik panggung untuk memastikan pembagian snack dan minuman berjalan lancar. Di tangannya ada tablet dan selembar catatan tertempel stiker kuning. Di tengah langkah cepatnya, tiba-tiba tubuhnya membentur sesuatu—atau seseorang.

“Aduh, maafkan saya!” ucap suara perempuan muda.

Marion segera memundurkan diri. Seorang gadis berdiri di depannya, rambut pirang lurus sebahu, wajahnya lonjong tapi halus seperti porselen, bibirnya dipoles lipcream warna terakota yang lembut. Matanya biru dan bulu matanya lentik. Gadis itu lebih pendek beberapa sentimeter dari Marion, tapi kesan yang ia bawa sangat khas—rapi, manis, dan tenang.

“Tidak apa-apa,” jawab Marion sambil merapikan posisi tablet di tangannya.

Gadis itu menatapnya. “Saya sedang mencari seseorang. Namanya Ethan Lambert, katanya dia ikut lomba hari ini. Saya kakaknya.”

Marion menggerakkan jari di atas tablet, mencari nama itu. “Ethan Lambert... grup G,” katanya, lalu menunjuk ke sebuah ruang kecil di ujung aula. “Dia sedang menunggu giliran di ruangan itu.”

“Terima kasih. Maaf, nama Anda siapa ya?”

“Marion.”

Gadis itu tersenyum kecil. “Stacy. Stacy Lambert.” Ia mengangguk sopan, mengucapkan terima kasih sekali lagi, lalu berjalan ke arah yang Marion tunjukkan.

Marion sempat mengangguk, lalu kembali pada catatannya dan berjalan menuju ruangan lain. Tapi langkahnya sempat melambat. Nama itu... Stacy Lambert. Ia mengulangnya dalam hati, mencoba mengingat—seperti sesuatu yang tertinggal di ruang tamu memorinya.

Stacy Lambert.

Itu bukan nama asing.

Saat ia mendorong pintu menuju ruang peserta, matanya membulat pelan.

Tadi itu…

…Mantan kekasih Juno, kan?


Lomba debat musim panas itu berakhir dengan tepuk tangan panjang dan desahan lega yang tak terdengar dari para staf Longford. Aula perlahan mulai sepi, menyisakan beberapa peserta yang masih berbincang dengan orangtua mereka, dan para juri yang mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Suara penyusunan kembali kursi, mikrofon yang dimatikan, serta obrolan ringan di antara panitia mengisi udara siang menjelang sore.

James Hook berdiri di tengah aula, memanggil seluruh staf untuk briefing singkat. Dengan jas biru tuanya yang sudah sedikit kusut, ia tersenyum kecil namun penuh kepuasan.

“Terima kasih untuk kerja luar biasa kalian hari ini. Meskipun ada sedikit masalah di sesi kedua—mic yang tiba-tiba mati dan waktu sempat bergeser—kita berhasil melewati semuanya dengan baik. Empat puluh peserta sudah kita saring menjadi dua belas finalis untuk besok, dan itu tidak akan mungkin tanpa kerja kalian semua.”

Beberapa staf mengangguk, ada yang mulai duduk di pangkuan panggung sambil mengusap peluh.

“Terutama untuk Marion yang menjadi koordinator peserta, great job,” tambah James, menoleh padanya sambil mengangguk bangga. “Dan terima kasih juga untuk bagian konsumsi, Elli dan tim, karena menjaga semuanya tetap teratur.”

“Pekerjaan hari ini selesai,” katanya lagi, “besok kita akan mulai lebih pagi untuk semi final dan final. Pastikan semua divisi tahu timeline-nya. Kalian boleh istirahat, dan jangan lupa mampir ke coffee stand di belakang aula—itu hadiah kecil dari saya.”

Semua menyambut dengan senyum dan tawa kecil, lalu perlahan menyebar untuk merapikan tugas masing-masing atau sekadar mencari tempat duduk santai.

Di belakang aula, aroma kopi dan kayu manis menguar dari sebuah stand kecil yang bertuliskan “James’ Brew – Special Summer Days”. Di sanalah Ellie sudah duduk, melepas tas selempangnya dan menghela napas panjang. Marion menyusul, membawa dua cangkir kopi kertas—satu cappuccino latte untuk dirinya, satu americano untuk Ellie.

“Selamat,” ucap Ellie sambil mengambil cangkirnya. “Kamu bisa bernafas sekarang.”

Marion tertawa kecil, duduk di bangku kayu di sampingnya. “Selesai... akhirnya.”

Mereka duduk menghadap halaman belakang yang ditumbuhi bunga lavender dan pagar kayu pendek. Suara burung samar terdengar di kejauhan, menyatu dengan hiruk-pikuk ringan dari aula.

“Ngomong-ngomong,” kata Ellie sambil menyeruput kopi, “kamu keren banget tadi. Jalan ke sana ke mari, ngatur peserta, semua rapi. Aku aja ngos-ngosan lihatnya.”

“Aku latihan sama diri sendiri semalam,” sahut Marion, terkekeh. “Udah kayak gladi resik.”

Tawa mereka menggantung lembut di udara, sampai Ellie melirik ke arah Marion dan bertanya dengan nada lebih santai.

“Kemarin kamu ke mana, sih?”

Marion terdiam sejenak. Tangannya memainkan tutup cangkir kopinya, lalu ia tersenyum malu. “Aku… kemarin habiskan waktu bareng Yuri.”

Ellie membulatkan matanya. “Serius?”

Marion mengangguk pelan, dan meski tak berkata banyak, pipinya mulai memerah.

“Aku pikir kamu pergi sama yang suka jemput kamu itu.”

Marion mengangkat alis. “Juno?”

Ellie mengangguk, lalu mengangkat bahunya. “Kupikir kalian dekat.”

Marion menatap cappuccino lattenya dan menggeleng. “Kami sahabat. Aku lebih anggap dia seperti kakak, sih…”

Ellie mendecak ringan. “Hm. Tapi aku nggak yakin dia menganggap kamu sebagai adik.”

Marion menoleh dengan bingung. “Maksudmu?”

“Aku lihat caranya lihat kamu. Ada sesuatu di situ.” Ellie menatap Marion dengan tenang. “Kadang kita mengira seseorang ada di sisi kita hanya sebagai teman, tapi... kita nggak pernah benar-benar tahu isi hati orang.”

Marion tak langsung membalas. Ia hanya menunduk, matanya menatap buih cappuccino yang mulai tenggelam di dasar cangkir. Angin musim panas meniup rambutnya pelan, dan dalam diam, ia merasa seperti berdiri di tepi sesuatu yang belum bisa ia beri nama.

 

Subway sore itu dipenuhi bayang-bayang lelah dan rutinitas. Marion berdiri di dalam gerbong Line 4 yang mengarah ke utara, menggenggam tali gantung sambil memandangi pantulan dirinya di jendela kereta yang gelap. Suara pengumuman stasiun terdengar lirih di antara denting logam dan gesekan roda baja. Dari stasiun Longford Central, ia transit di Weston Square dan turun di Granger South—hanya dua blok dari apartemennya.

Langit mulai menguning, menumpahkan warna madu ke permukaan jalan. Sinar matahari menyusup di antara gedung-gedung tua dan trotoar yang ramai oleh pejalan kaki yang terburu pulang. Marion berjalan pelan melewati toko laundry yang mulai tutup dan kedai ramen kecil yang sudah menyalakan lampunya. Di ujung jalan sempit itu, berdirilah bangunan apartemennya—tiga lantai dengan fasad bata cokelat tua dan jendela-jendela kayu yang mulai lapuk.

Dan di sana, duduk di kursi besi tua yang biasa dipakai warga saat sore hari, Marion melihat Juno.

Pemuda itu duduk bersandar dengan kaki disilangkan, rambutnya sedikit berantakan dan jaket denimnya dibiarkan terbuka. Ia tengah memainkan ponselnya, tapi saat mendengar langkah Marion, ia mendongak dan tersenyum kecil.

“Seperti biasa,” kata Marion sambil mendekat. “Kamu muncul kayak sulap.”

Juno tertawa pelan. “Kebetulan aku memang spesialis sulap jalanan.”

Ia berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakang celananya dari debu. “Ayo masuk. Aku bawa kue stroberi dari persimpangan Turner, yang kamu suka.”

Mereka menaiki undakan kecil yang sedikit berderit, masuk ke dalam lobby apartemen sederhana itu. Hanya ada delapan unit—dua di setiap lantai—dan suasananya jauh dari hingar-bingar. Dinding putih yang sedikit menguning, rak sepatu di sisi pintu, dan papan pengumuman kecil yang jarang diperbarui, memberi kesan tenang dan lelah sekaligus. Marion tinggal di lantai dua, unit 2B, tepat menghadap halaman kecil dengan pohon maple di tengahnya.

Begitu mereka masuk ke dalam apartemen Marion, suasana hangat langsung menyambut: perpaduan aroma lavender dari diffuser, buku-buku yang ditumpuk di sudut rak, dan tanaman gantung yang mulai merambat ke arah jendela. Apartemen itu tidak besar, tapi bersih dan teratur. 

 

Karpet tipis berwarna krem menutupi sebagian lantai kayu, dan dindingnya dihiasi beberapa poster film vintage.

Juno tidak menyalakan televisi. Ia berjalan ke dekat radio kecil berwarna biru tua di atas lemari buku, memutar frekuensi ke kanal favorit mereka—89.7 FM, yang selalu memutar lagu-lagu indie lembut dan instrumental folk.

“Aku mandi dulu, ya,” ujar Marion sambil menaruh tasnya.

Juno hanya mengangguk. “Tenang, aku jaga markas.”

Marion menghilang ke dalam kamar mandi, dan keheningan perlahan mengisi ruang. Juno berjalan pelan mengelilingi ruang kecil itu, memperhatikan detail yang tak ia lihat sebelumnya. Ada mug tambahan di rak cuci piring. Ada handuk asing, tergantung di balik pintu dapur. Ia melirik ke sofa, dan matanya menangkap lipatan halus di bantal yang seperti bekas seseorang tidur semalam. Sesuatu di udara berubah—ada jejak seseorang yang bukan dirinya.

Ia membuka kulkas pelan. Di dalamnya, ada dua botol soda yang bukan merek kesukaan Marion, dan kotak makan dari restoran Korea yang hanya satu nama muncul di benaknya: Yuri.

Tapi ia tak mengatakan apa-apa.

Juno hanya menarik satu kopi kaleng dari rak paling bawah, menutup pintu kulkas dengan tenang, lalu duduk di sofa. Ia membuka kaleng itu, suara pssst lembut terdengar seperti napas yang ditahan terlalu lama. Ia menyalakan rokok dari bungkus tipis yang selalu diselipkan di saku jaketnya, dan mengisapnya perlahan.

Di balik kepulan asap dan nyanyian radio yang samar, Juno menatap langit-langit apartemen Marion. Tak ada kemarahan, tapi ada sesuatu yang menyesap pelan—campuran antara kehilangan, keakraban, dan rasa yang belum selesai di dadanya.

Daftar Chapter

Chapter 1: PROLOG

254 kata

GRATIS

Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...

4,844 kata

GRATIS

Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki

5,523 kata

GRATIS

Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai

5,590 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 5: Yang Belum Usai

5,736 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!