Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki
Longford School of English terasa lebih hidup dari biasanya sore ini. Suara tawa mahasiswa internasional terdengar dari sudut taman kecil di belakang gedung, berpadu dengan deru lalu lintas dari jalan utama. Musim panas mengubah segalanya—jendela-jendela dibiarkan terbuka lebar, membiarkan udara hangat dengan aroma aspal, dedaunan, dan debu kota masuk begitu saja ke dalam ruangan.
Di meja depan lantai dua, Marion duduk tegak dengan senyum sopan yang sudah terbentuk seperti kebiasaan. Kipas kecil berdesir pelan di samping laptopnya, berusaha menghalau hawa gerah yang melekat pada kulit. Rambutnya ia gulung asal dengan jepit hitam agar tidak menempel di tengkuk. Mata Marion sedikit bengkak, tapi ditutupi dengan riasan tipis dan cara menunduk yang anggun.
“Marion, kamu yakin nggak kepanasan pakai lengan panjang?” tanya Ellie dari meja seberang, sembari mengipas dirinya dengan brosur jadwal kelas.
“Sedikit. Tapi ruang konseling tetap dingin,” jawab Marion sambil tersenyum tipis, padahal sebenarnya ia hanya merasa lebih tenang ketika menutupi lengannya—seperti perisai halus terhadap dunia luar yang terus berjalan, sementara ada bagian dari dirinya yang diam di tempat.
Sebagai Student Advisor, Marion terbiasa mendengarkan. Satu demi satu siswa datang, membawa berbagai cerita—kesulitan bahasa, kecanggungan budaya, atau hanya sekadar ingin bercerita tentang kota yang terlalu cepat bagi hati yang baru datang. Ia mendengar dengan baik, mencatat, menanggapi dengan suara yang lembut dan mata yang hangat. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa hari itu, Marion nyaris tak tidur semalaman. Bahwa ia menangis pelan di bawah cahaya lemari, membaca ulang catatan lama yang membuat napasnya sesak.
Ketika seorang siswa dari Italia bertanya tentang modul tambahan untuk ujian akhir, Marion menjelaskan semuanya dengan jelas. Ketika dua mahasiswi dari Jepang tertawa sambil membahas kesulitan memahami aksen British tutor mereka, Marion ikut tersenyum, menyisipkan komentar ringan agar mereka nyaman. Di luar, matahari masih bersinar terang, meski jam menunjukkan sudah lewat pukul lima.
Di sela istirahatnya, Marion berdiri di dekat jendela besar di ujung lorong. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat jejeran taksi hitam, bus merah dua tingkat, dan deretan toko bunga kecil yang masih buka. Angin membawa bau manis dari kafe pojok jalan, bercampur dengan suara musik pop yang diputar dari radio kios buah.
Pandangannya kosong. Ia tidak benar-benar melihat. Dalam kepalanya, ia mengulang satu pertanyaan yang tak pernah terjawab: “Apa benar aku sudah terlalu menuntut hanya karena ingin tahu kapan kita bisa bertemu lagi?”
Hampir seperti bayangan, kenangan tentang Yuri muncul di sela waktu yang tenang. Ia bisa membayangkan Yuri berdiri di bawah jendela itu dua musim panas lalu, mengenakan jaket denim lusuh dan membawa es kopi.
“Kau kelihatan haus,” katanya waktu itu, sambil mengulurkan botol dingin.
Senyumnya, nada bicaranya yang seenaknya tapi selalu mengena, dan mata abu-kehitaman yang tidak pernah sepenuhnya bisa Marion baca—semuanya kini terasa jauh. Sejauh pesan yang tak lagi dibalas. Sejauh langkah yang tak lagi menoleh ke arahnya.
Langit London berpendar keemasan, mengguratkan warna hangat yang membingkai jendela-jendela tua di koridor Longford. Di ruang konseling yang kecil tapi tertata rapi, Marion baru saja membereskan map kuning bertuliskan Student Advising - Term 3, ketika seseorang mengetuk pelan pintu yang belum sepenuhnya tertutup.
"Hi, Miss Marion? I was told to see you… for my guidance session?"
Seorang pemuda, mungkin dua puluhan awal, berdiri di ambang pintu. Rambutnya ikal dan sedikit acak, senyum ragu di bibirnya. Namanya Ignatius. Mahasiswa baru dari Marseille yang masih tersesat antara rindu rumah dan kekakuan bahasa. Marion mempersilakan masuk dengan gerakan tenang.
Mereka berbicara hampir tiga puluh menit. Marion mencatat hal-hal yang dibutuhkan Ignatius—modul pengayaan, info kegiatan mingguan, jalur rute transportasi terdekat—tapi lebih dari itu, ia juga mendengarkan. Ignatius memiliki jeda bicara yang Marion kenali. Jeda sebelum menjawab. Jeda sebelum menunduk. Jeda yang pernah sangat dikenalnya di wajah lain.
"Kadang saya cuma ingin seseorang bilang semuanya akan baik-baik saja," ucap Ignatius, pelan.
“Akan,” jawab Marion, senyumnya kecil. “Tapi tidak sekarang. Dan itu juga tidak masalah.”
Ignatius tampak lega. Setelah ia pergi, Marion menatap pintu yang tertutup dengan lembut. Seperti melihat bayangan seseorang yang pernah tinggal di ambang itu. Yuri. Ia juga pernah bicara dengan pola jeda seperti itu, dengan keraguan yang berbeda—yang disembunyikan lewat senyuman tipis dan bahu tegak.
Suara pintu ruang istirahat berderit ketika Marion masuk setengah jam kemudian. Ruangan sepi kecuali aroma teh dari dispenser dan sisa suara ventilasi. Ellie duduk menyandarkan tubuhnya ke sofa, menatap layar ponsel, lalu menoleh.
“Kue wortel?” tawarnya, sambil mengangkat piring kecil. “Bagi dua. Aku sedang coba hidup sehat, katanya.”
Marion mengangguk. Mereka duduk berseberangan di meja kayu kecil.
“Kamu kelihatan lebih tenang hari ini,” ujar Ellie sambil membagi kue. “Atau… kamu makin jago menyembunyikannya?”
Senyum Marion muncul samar. “Mungkin kombinasi keduanya.”
Sunyi sejenak. Lalu Ellie meletakkan garpunya, menatap Marion tanpa basa-basi.
“Dia nggak menghubungi kamu lagi, ya?”
Pertanyaan itu jatuh seperti butiran kecil garam di atas luka yang belum kering. Marion menunduk. Garpu di tangannya hanya menggores-gores remah kue.
“Sudah nyaris satu bulan,” jawabnya pelan. “Terakhir kali kami bicara… aku cuma tanya apakah dia bisa pulang sebentar. Dia bilang tidak. Sejak itu, tak satu pesan pun.”
Ellie mengangguk. “Kalau kamu masih nunggu, berarti kamu masih ada di sana.”
Marion tidak menjawab. Tapi dalam diamnya, terasa berat dari waktu yang menggantung. Ellie menepuk punggung tangannya pelan sebelum berdiri.
“Aku harus ke printer. Jangan terlalu lama di sini, nanti matahari tenggelam dan kamu lupa pulang.”
Ketika Marion kembali sendiri di ruangan itu, langit luar sudah berganti warna. Ia masih duduk, menatap sisa kue yang tak disentuh. Rasa manis tidak bisa menyentuh apa pun dalam dirinya hari itu.
Ignatius, Ellie, pertanyaan-pertanyaan, dan potongan ingatan yang tak pernah benar-benar pergi… semuanya membentuk lingkaran tak terlihat, menyekap dadanya pelan-pelan. Dan Marion hanya bisa menarik napas dalam, seolah berusaha menahan sesuatu agar tidak tumpah.
Langit musim panas mulai kehilangan warna terangnya, tapi sisa cahaya keemasan masih menggantung di sela gedung-gedung tua London saat Marion melangkah keluar dari gedung Longford. Angin sore mengusap pelan pipinya yang lelah, ketika suara klakson pendek yang terlalu akrab menyapanya dari trotoar seberang.
“Need a ride, lady?”
Marion mendongak, mendapati Juno duduk di atas sepeda motor tua berwarna hijau zaitun, mengenakan helm separuh dengan kacamata bening yang tampak konyol dipadukan dengan kemeja putih dan celana bahan abu gelap. Ia menepuk-nepuk jok belakang sambil tersenyum lebar, seolah tidak ada satu hal pun yang bisa mengganggu ketenangannya hari itu.
Marion mendesah kecil tapi tak bisa menyembunyikan senyumnya. “Kau punya uang cukup buat beli mobil, tahu?”
“Punya,” sahut Juno ringan, “tapi nggak cukup sabar buat macet London.”
Marion terkekeh saat ia mengenakan helm pinjaman dan naik ke jok belakang. Sepeda motor itu mengeluarkan bunyi mesin rendah yang lembut saat Juno membawanya keluar dari kawasan Clerkenwell, melintasi rute harian yang kini terasa berbeda—lebih ringan.
Mereka menyusuri Rosebery Avenue yang mulai padat, kemudian berbelok ke arah City Road. Cahaya sore menciptakan refleksi tembaga di jendela toko-toko dan flat tua. Udara hangat, tak terlalu terik, angin musim panas membawa aroma samar rumput yang baru dipangkas dari taman-taman kecil yang mereka lewati.
“Kampus barusan setujui kolaborasi dengan Skyflare Digital,” seru Juno saat lampu lalu lintas di perempatan Old Street menyala merah. “Aku harus bikin studi soal kepuasan pelanggan mereka, dan... entah kenapa, aku juga harus diskusi dengan konsultan pihak ketiga yang menyebalkan setengah mati.”
“Siapa?” tanya Marion tanpa benar-benar fokus.
“Namanya panjang. Gaya ngomongnya kayak robot yang diprogram untuk meremehkan manusia,” Juno menoleh sebentar, “Aku bahkan curiga dia bukan manusia betulan.”
Marion tertawa kecil. Tetapi sorot matanya tertuju jauh, ke bangunan-bangunan yang lewat cepat di sisi kiri dan kanan. Juno tampaknya menyadari itu, dan tanpa berkata banyak, ia membelokkan motor ke arah utara, menuju kawasan yang lebih tenang.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di luar sebuah restoran kecil di ujung Camden Passage, Camden. Plang kayu tua bertuliskan The Pomegranate Table tergantung miring di atas pintu masuk, dikelilingi tanaman merambat yang mulai berbunga. Restoran itu tidak pernah mewah, tapi selalu punya aroma hangat dan tampilan yang membuat siapa pun ingin duduk dan tinggal lebih lama.
“Makan malam dulu, yuk. Kamu butuh karbohidrat, bukan pikiran yang muter-muter,” ujar Juno sambil mematikan mesin.
Restoran itu masih seperti dulu—lampu gantung dengan cahaya kuning temaram, rak kayu berisi toples rempah, dan dinding bata ekspos yang penuh dengan bingkai foto dari pemilik restoran yang sering berkeliling dunia. Aroma masakan Timur Tengah dan Mediterania memenuhi udara, membuat perut Marion yang belum diisi sejak siang merespons dengan desah lelah.
Mereka duduk di sudut favorit mereka dulu, dekat jendela dengan meja bulat kecil dan taplak katun yang sedikit pudar warnanya. Seorang pelayan perempuan mengenali Juno dan menyapanya hangat, menyebutkan bahwa flatbread baru saja keluar dari oven.
Menu malam itu tak banyak berubah—shakshuka hangat, sup lentil, ayam panggang dengan bumbu za'atar, serta nasi basmati beraroma saffron dan almond. Juno memesan dua hidangan utama dan teh mint panas. Marion tak banyak protes.
“Masih tempat yang bagus,” gumamnya, menatap langit dari balik jendela yang mulai berganti warna menjadi biru tua.
“Tempat yang tahu cara menjaga rasa, meskipun waktu jalan terus,” jawab Juno sambil menuang teh ke cangkirnya.
Hening kecil turun di antara mereka. Tapi itu bukan hening yang canggung. Itu hening yang tahu banyak hal sedang mengendap, dan tidak semuanya harus diucapkan sekaligus.
Marion memandangi permukaan meja, jari-jarinya menggulung-gulung sisi taplak kain seperti kebiasaan lamanya saat sedang menyimpan sesuatu. Juno hanya menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Ia tahu, malam ini Marion akan bercerita. Ia hanya perlu memberinya ruang.
Makanan mereka datang tak lama kemudian. Piring-piring hangat beraroma harum memenuhi meja, menggoda selera yang tadinya tumpul oleh lelah dan hal-hal yang belum terucap. Namun Marion hanya memindahkan sedikit nasi ke pinggir piring. Ia memandang teh mint di cangkirnya sejenak, sebelum akhirnya berkata pelan, “Yuri kirim email tadi pagi.”
Juno mengangkat wajahnya, menunggu.
“Dia bilang… dia minta waktu lagi. Untuk dirinya sendiri. Katanya belum siap bertemu,” lanjut Marion, suaranya tenang tapi pelan sekali, seperti seseorang yang sedang membaca ulang kalimat yang menyakitinya.
Juno mengernyit, menaruh sendok di sisi piring. “Dia minta waktu. Lagi?”
Marion mengangguk, masih menatap cangkirnya. “Apa aku terlalu memaksa? Maksudku, apa permintaanku untuk bertemu langsung... terlalu berat?”
“Bukan kamu yang berat,” Juno berkata dengan nada datar, tapi tegas. “Mungkin dia yang sedang menghindar.”
Marion tak menjawab. Ia hanya menunduk. Di luar jendela, matahari benar-benar tenggelam sekarang. Lampu-lampu jalan menyala, memantulkan cahaya lembut ke jendela restoran.
“Kalau memang susah, ya tinggal bilang saja. Kenapa harus bilang ‘butuh waktu’, seolah-olah sedang menyusun simfoni di tengah badai,” gumam Juno lagi, menusuk potongan ayam dengan garpu.
“Kadang orang butuh waktu untuk berkata jujur,” bisik Marion.
Juno menatapnya, lalu menarik napas pelan. “Aku dulu pernah begitu juga,” katanya akhirnya. “Pernah jadi orang yang... menggantung. Nggak bisa mutusin harus lanjut atau berhenti. Jadi aku minta waktu. Minta ruang. Bilangnya masih sayang, tapi sebenarnya aku cuma takut jujur.”
Marion menghentikan gerakannya. Ia menoleh, memperhatikan wajah Juno yang kini memandangi cangkirnya sendiri.
“Kamu pernah pacaran?” tanyanya pelan.
Juno tersenyum miring, nyaris seperti mengejek dirinya sendiri. “Pernah. Lama juga. Namanya Stacy. Kami ketemu pas awal tahun kedua kuliah. Semuanya terasa... cukup, tapi nggak benar-benar jelas. Aku terlalu fokus ke pekerjaan dan semua proyek ini-itu, dia terlalu sabar.”
“Kamu yang mengakhirinya?”
“Enggak. Justru dia yang pergi lebih dulu. Mungkin karena dia sadar aku nggak akan pernah selesai menunda. Dan aku nggak bisa marah saat itu, karena aku juga tahu... dia benar.”
Marion menghela napas panjang, menunduk. “Jadi kamu pikir Yuri sedang menunda?”
Juno menatapnya, kali ini tidak dengan senyum, tapi dengan tatapan tenang yang jujur. “Aku nggak kenal Yuri secara dekat. Tapi dari apa yang kamu ceritakan, dia tidak terdengar seperti seseorang yang kehilangan arah. Dia terdengar seperti seseorang yang tahu betul ke mana dia mau pergi—cuma tidak ingin kamu ikut ke sana.”
Hening mengendap seperti awan lembut yang menutup langit.
Marion memejamkan mata sejenak. Kalimat itu menyesak, tapi entah mengapa juga melegakan. Ia merasa sakit, tentu. Tapi rasa sakit itu datang bersama pemahaman yang sudah lama ia tahu tapi terus ia simpan di pojok pikirannya.
“Aku nggak masalah kalau memang harus selesai,” katanya akhirnya. “Aku cuma… ingin tahu apakah benar selesai. Karena aku bisa lanjut, Juno. Aku bisa. Cuma mungkin butuh waktu lebih panjang. Tapi aku nggak takut.”
Juno mengangguk. Matanya tetap tertuju padanya, seperti sedang mengafirmasi keteguhan yang ia dengar.
Ia tidak berkata apa-apa, tapi pikirannya melayang. Ia kembali teringat satu musim dingin di St. Albans, saat ia dan Stacy duduk di kafe kecil dekat jembatan tua. Saat itu, Stacy sempat berkata dengan suara paling jernih yang pernah ia dengar, “Sometimes love is just not the reason to stay.”
Dan kali ini, ia mendengar gaung kalimat itu lagi—dari mulut Marion.
Mereka keluar dari restoran sekitar pukul delapan malam. Langit masih menyimpan sisa terang jingga yang tertahan tipis di balik garis atap bangunan, seperti enggan benar-benar menghilang. Udara musim panas membawa aroma debu, aspal yang hangat, dan wangi samar dari restoran-restoran yang mulai menyalakan lampu di sepanjang blok kecil itu.
Juno berjalan di samping Marion, membiarkan sepeda motornya ia tuntun perlahan. Tak ada yang terburu-buru malam itu.
“Aku pernah cerita soal Stacy?” tanyanya tiba-tiba.
Marion menggeleng kecil. “Baru kali ini dengar namanya.”
Juno mengangguk pelan. Suaranya tetap ringan, tapi nadanya berubah sedikit.
“Kami ketemu tahun kedua kuliah. Gara-gara satu proyek gabungan antara jurusanku dan jurusannya, pertukaran mahasiswa karena dia tidak satu kampus dengan kita, by the way. Dia dari media dan komunikasi, aku dari statistik terapan. Kami harus bikin satu model presentasi interaktif buat kampus. Aku pikir awalnya cuma bakal kerja bareng, habis itu ya sudah.”
Ia tersenyum tipis, seperti mengingat sesuatu yang jauh tapi belum sepenuhnya hilang.
“Tapi satu malam, waktu kami kerja lembur di ruang diskusi kampus, Stacy tiba-tiba nangis. Diam-diam awalnya. Suaranya kecil, kayak orang nahan napas.”
Marion meliriknya, tapi tak menyela.
“Aku sempat cuek. Kupikir dia capek aja. Tapi lama-lama… ya nggak bisa juga sih pura-pura nggak denger orang nangis begitu.” Juno tertawa hambar. “Jadi aku ajak dia ngobrol. Di luar, sambil jalan kaki pulang. Saat itu baru aku tahu dia baru putus.”
Angin malam bertiup pelan, mengibaskan beberapa helaian rambut Marion ke arah pipinya. Mereka berhenti di sebuah halte kecil, kosong dan sunyi, diterangi lampu jalan kuning pucat. Juno duduk di bangku kayu yang dingin, sementara Marion berdiri bersandar pada tiang penyangga, menatapnya.
“Waktu itu aku pikir dia cuma lagi rapuh. Tapi ternyata... jauh lebih rumit.”
Marion mengunci pintu apartemennya dengan satu gerakan pelan. Suara pintu yang menutup terasa terlalu keras di ruang kecil yang sepi. Ia meletakkan tas di kursi makan, mengganti sepatu, lalu berjalan ke ruang tengah yang hanya diterangi lampu gantung kekuningan. Tidak ada yang spesial di ruang itu—hanya sofa dua dudukan, rak buku yang terlalu penuh, dan jendela besar yang terbuka sebagian ke jalanan kota.
Juno sudah pulang. Ia menolak menginap malam ini. Katanya, ia harus bangun pagi dan menyelesaikan beberapa pekerjaan. Marion tidak keberatan, meski bagian kecil dalam dirinya berharap ia tinggal lebih lama. Mungkin agar ada alasan untuk tidak merasa sendiri sepenuhnya.
Ponselnya berdering. Layarnya memantulkan satu nama yang membuat dada Marion langsung terasa berat: Mum.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol hijau.
"Hallo, Ma..."
Suara di ujung sana terdengar lemah. Pelan, tapi penuh beban yang sulit ditutupi.
“Marion... maaf menelepon malam-malam begini. Mama cuma... kita butuh sedikit bantuan.”
Marion diam. Sudah lama ia menunggu panggilan semacam ini—dan membencinya setiap kali datang.
“Papa masih belum dapat kerja. Obat Mama makin mahal, dan adikmu butuh uang saku untuk proyek akhir kuliahnya. Kami berusaha, Nak, tapi—”
“Mama…” suara Marion pelan. “Aku bisa kirim, tapi nggak banyak. Aku juga harus bayar sewa minggu depan.”
“Ya, Mama ngerti. Nggak usah banyak, apa saja. Maaf harus minta terus begini…”
Suara itu nyaris pecah. Marion menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan yang sejak tadi mulai menggumpal di tenggorokannya.
“Aku transfer besok pagi, ya.”
“Terima kasih, sayang. Jaga dirimu di sana…”
Klik. Panggilan terputus. Marion tetap menatap layar ponsel yang kini gelap.
Kepalanya terasa berat. Ia bersandar ke sofa, menengadah menatap langit-langit seolah di sana ada jawaban. Di luar jendela, langit musim panas London belum sepenuhnya gelap. Sisa jingga masih menggantung jauh di ufuk, seperti enggan benar-benar tenggelam.
Ia menarik napas dalam-dalam. Tapi tidak bisa. Napas itu terjepit di dada—terhambat oleh sesuatu yang tak terlihat tapi berat.
Ada luka-luka yang belum sempat dijahit. Luka karena keluarga. Luka karena Yuri. Luka karena dirinya sendiri.
Dan malam ini, semuanya terasa datang sekaligus.
Hari itu sudah berjalan setengah saat Marion akhirnya kembali duduk di ruang kerjanya. Sejak pagi, ia sudah menjalani empat sesi konseling mahasiswa—dua di antaranya berlangsung lebih lama dari jadwal karena mahasiswa yang bersangkutan sedang berada dalam tekanan berat menjelang akhir semester. Salah satunya bahkan menangis, dan Marion harus meluangkan waktu ekstra untuk menenangkan dan meredakan kecemasannya sebelum memberi saran konkret.
Setelah itu, ia menghadiri dua meeting: satu rapat internal divisi bimbingan akademik membahas laporan ketercapaian semester ini, dan satu lagi rapat evaluasi langsung dengan James Hook, Ketua Akademik Longford. Pertemuan dengan James selalu terasa melelahkan. Marion harus menjaga nada suaranya tetap profesional, menyampaikan semua laporan tepat sasaran, dan tetap sopan saat ide-idenya dipotong sebelum sempat dijelaskan.
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup kembali, Marion mengembuskan napas berat. Ia belum sempat minum kopi sejak pagi, bahkan belum membuka email terakhir dari HR soal pengajuan cuti. Namun sebelum ia sempat duduk, pintu terbuka lagi. Ellie masuk dengan wajah penuh rasa penasaran dan kagum, membawa sebuah buket bunga besar yang warnanya mencolok dan anggun.
“Marion,” ucap Ellie sambil mengangkat buket itu, “kamu kedatangan tamu dari... florist.”
Buket itu cantik luar biasa. Susunan bunga musim panas yang elegan: ranunculus aprikot berlapis lembut, lisianthus ungu pucat, dan mawar taman warna krem keemasan, dibingkai dedaunan eucalyptus yang segar dan sentuhan baby’s breath putih kecil-kecil seperti salju musim gugur yang singgah sebentar. Pita satin berwarna ivory membingkai bagian bawahnya.
Ellie membalik buket itu dan menunjuk kartu kecil yang diselipkan.
“Ini, ada kartunya. Kamu buka dulu deh sebelum aku yang baca duluan.”
Marion menatapnya dengan dahi berkerut tapi senyum mengembang perlahan. Ia menyentuh kartu itu dengan tangan yang agak gemetar dan menariknya keluar. Sebuah kartu putih, bersih, hanya satu kalimat tertera di tengahnya, dengan tulisan tangan rapi dan sedikit miring:
“I know I don’t always say it right, but you are everything good in me. – Yuri Starkweather”
Hening sesaat. Hanya suara detik jam dinding dan embusan napas Marion yang tertahan.
Ada sesuatu dalam hatinya yang mendesak ke permukaan—bukan tangis sedih, tapi perasaan hangat yang begitu tiba-tiba, seperti sinar matahari setelah hari panjang penuh hujan. Tangannya masih menggenggam kartu itu erat.
Ellie menepuk pelan lengan Marion. “Kamu oke?”
Marion mengangguk pelan. “Aku... nggak tahu dia bakal kirim bunga. Atau... bilang hal kayak gini.”
Senyumnya mengembang, setengah malu, setengah tak percaya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi semua beban semalam—tentang keluarga, tentang dirinya yang nyaris menyerah, tentang luka-luka yang belum selesai—terasa seperti diselubungi perlahan oleh kehangatan yang selama ini ia rindukan.
Ellie ikut tersenyum. “Kurirnya tadi bilang memang dijadwalkan buat kamu hari ini. Aku pikir kamu tahu siapa pengirimnya. Tapi ternyata kejutan juga, ya?”
Marion mengangguk pelan. Matanya masih menatap bunga-bunga itu.
“Yuri selalu tahu cara buat masuk lagi... walau pintunya sudah mau aku tutup rapat-rapat.”
Ellie mengangkat alis. “Lalu kamu mau apa sekarang?”
Marion menghela napas, tapi kali ini bukan lelah—melainkan lega. Ia menaruh buket itu di atas meja dengan hati-hati, lalu meraih ponselnya.
“Aku harus bicara dengannya,” katanya pelan. “Kalau dia masih punya nyali buat nulis ini, aku juga harus punya nyali buat jujur soal semuanya.”
Ellie mengangguk mantap. “Do it.”
Marion pun membuka kontak bernama ‘Yuri Starkweather’. Jari-jarinya sempat ragu, tapi ia menekan tombol ‘call’ juga, dengan napas tertahan dan hati yang bergemuruh. Ia tahu, kalimat pertama akan sulit. Tapi entah kenapa, kali ini, ia ingin mempercayai perasaan itu lagi.
Marion menekan ikon telepon itu sekali lagi. Masih tak ada jawaban. Tidak suara Yuri, tidak pesan singkat, bahkan tak ada centang dua. Ia memandangi ponselnya beberapa saat, lalu meletakkannya pelan di meja, di samping buket bunga yang perlahan mulai membuka sempurna.
Ia hanya bisa menunggu.
Menunggu dalam bisu yang menyesakkan, seperti seseorang yang mendengar gelombang laut tapi tak bisa melihat pantai.
Saat hari menjelang senja dan Marion akhirnya melangkah keluar dari gedung akademik Longford, suara itu menyapanya dari arah gerbang kecil tempat mahasiswa biasa lalu-lalang. Suara yang sudah lama tidak ia dengar, tapi tak mungkin ia lupakan.
"Marry."
Satu kata. Satu panggilan.
Panggilan yang hanya satu orang di dunia ini yang pernah menyematkannya untuknya.
Ia berhenti. Menoleh. Tanpa canggung dan di sana—di bawah langit musim panas yang meredup keemasan—berdiri Yuri Starkweather, mengenakan kemeja linen abu-abu pucat yang digulung hingga siku, celana bahan rapi berwarna batu hangat, dan sepatu kulit hitam yang tidak mencolok tapi bersih. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir Marion melihatnya, tapi ekspresi wajahnya... masih sama.
Masih teduh. Masih seperti rumah.
Marion tak bisa berkata apa-apa. Ia menahan debar rindunya yang menyentak sampai ke kerongkongan, menahan air mata yang hampir tumpah hanya karena kenyataan sederhana: Yuri ada di sana. Nyata.
Yuri menghampirinya. Tanpa berkata sepatah pun, ia meraih tangan Marion, menggenggamnya seolah tak pernah ingin melepas lagi. Sentuhannya hangat dan mantap, membuat dingin hati Marion yang sempat mengeras perlahan mencair kembali.
"Aku tahu kamu mau menangis," katanya lembut, "tapi kamu nggak harus."
Marion mengembuskan napas. Ia mengangguk, seolah mengizinkan dirinya percaya pada ketenangan itu lagi.
Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir di seberang gedung Longford. Masih mobil yang sama—BMW hitam metalik dengan garis desain klasik, yang dulu sering mereka pakai untuk pergi ke tempat-tempat yang hanya mereka berdua tahu.
Mereka masuk. Mesin dinyalakan. Radio dibiarkan mati.
Camden menjelang malam hari terasa lengang, jalanan berbatu tua berkilat tipis karena sinar matahari yang terakhir. Lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, dan Marion memandangi trotoar tempat para siswa berkumpul, kafe kecil di tikungan, serta langit yang mulai berubah warna menjadi biru violet.
Hening.
Tak satu patah kata pun keluar selama perjalanan. Hanya suara ban menyentuh aspal dan detik waktu yang terasa seolah bergerak pelan. Tapi Marion tahu... Yuri juga menyimpan sesuatu. Seperti dirinya.
Sesuatu yang sudah lama ingin dikatakan, tapi tak pernah tahu bagaimana.
Akhirnya Marion membuka suara, pelan.
"Jadi... kita mau ke mana?"
Yuri menoleh sedikit, tersenyum kecil. "Suatu tempat."
Jawaban itu tidak meyakinkan, tapi Marion tidak keberatan. Ia tahu itu bukan arah rumahnya, tetapi ia juga tidak ingin bertanya lebih jauh. Ada sesuatu dari suara Yuri yang membuatnya tidak ingin memotongnya.
Ia hanya menahan debar yang menari tak karuan di dalam dadanya.
"Kita makan malam," lanjut Yuri.
"Kamu pasti belum makan. Dan aku... cuma pengin kasih sesuatu yang paling bisa aku kasih malam ini."
Marion menoleh padanya. Sekilas. Tapi cukup untuk membuat kepercayaan itu tumbuh sedikit demi sedikit di dalam dirinya. Mobil itu kemudian melaju pelan keluar dari pusat kota, melewati kawasan pemukiman tenang di Upper Hawthorne yang dipenuhi pohon maple tinggi. Lalu berbelok ke arah selatan menuju jalanan pinggiran kota, dengan panorama lapangan hijau luas di kejauhan dan suara burung camar yang mulai kembali ke sarang. Cahaya matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan kecil, menyinari jendela mobil mereka dengan warna madu yang hangat.
Mereka sampai di sebuah bangunan bergaya rumah pedesaan Prancis dengan batu bata ekspos dan jendela besar dari kayu pinus. Restoran itu bernama Maison du Vent. Tempat yang sunyi, hangat, dan hanya beberapa meja saja di dalamnya—tempat yang tidak Marion kenali, tapi terasa seperti pilihan yang penuh makna.
Yuri turun terlebih dahulu, lalu membukakan pintu untuk Marion dan saat tangan mereka kembali bertemu, Marion tahu malam itu akan menyimpan sesuatu yang tak bisa ia tolak. Sesuatu yang mungkin bisa mengubah segalanya, atau setidaknya… menyembuhkan sesuatu yang retak tapi belum benar-benar hancur.
Maison du Vent berdiri anggun seperti bangunan dari halaman novel tua—berlapis batu putih yang direstorasi sempurna, dengan lampu gantung dari kristal Venesia menggantung rendah di setiap sudut ruangan. Aroma rosemary dan lemon thyme samar menguar dari dapur semi-terbuka yang menyatu dengan bar anggur. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan kecil bertema musim panas di pedesaan Loire Valley, dan meja-meja bundar berlapis linen gading hanya ditata untuk dua orang per set, dengan lilin kecil menyala di tengah-tengahnya.
Musik jazz pelan dari Ella Fitzgerald mengisi ruang, dan pelayan-pelayan bersetelan hitam mengatur langkah seperti tarian diam. Marion duduk berhadapan dengan Yuri di salah satu meja sudut dekat jendela besar yang memperlihatkan siluet pepohonan tua di luar. Ia agak gugup—ruangan ini seperti panggung mimpi yang terlalu manis untuk nyata. Yuri memesan tanpa ragu: satu porsi Carré d'agneau en croûte d'herbes, Coquilles Saint-Jacques au Beurre Blanc, dua starter Soupe à l’oignon gratinée, dan satu Tarte Tatin au Calvados untuk penutup. Anggur yang ia pilih adalah Château Margaux 2004—botol yang bahkan nama dan labelnya terlihat seperti puisi mahal.
Marion mencoba bersikap tenang, namun jantungnya berdebar karena Yuri menatapnya tanpa jeda, seolah sedang mencari sesuatu yang hilang di matanya. Saat pelayan berlalu dan meja mereka kosong, Yuri meraih jemari Marion dan mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya.
Sentuhan yang Marion tahu terlalu akrab, terlalu hangat, dan terlalu dirindukan.
“Marry,” ucap Yuri, lembut, “kamu pasti ingin tahu aku ke mana.” Ia bicara tenang, tapi mata itu memendarkan luka yang tertata rapi. Yuri menjelaskan bahwa pekerjaannya menuntut mobilitas tinggi dan tekanan konstan; ia sempat ditempatkan di lokasi-lokasi terpencil, berganti zona waktu lebih cepat dari detak jantungnya, dan harus menghadapi lingkungan keras yang tidak memungkinkan untuk komunikasi.
“Kadang, jam tidurku cuma dua jam. Kadang aku harus beradaptasi di tengah gurun, kadang di antara es. Ponselku lebih sering mati daripada hidup,” katanya, dan Marion mendengarkan seperti seorang konselor yang tak berhak menyela. Yuri memandangnya dalam, “Kamu pasti khawatir.”
Marion mengangguk pelan, lalu suaranya keluar setipis bisikan, “Aku... aku sangat cemas. Kamu baik-baik saja?” Yuri tertawa tipis, senyum yang tak sepenuhnya bisa menyembunyikan getir.
“Aku sempat sakit. Dirawat. Jadi, ya... sempat nggak bisa pegang ponsel beberapa hari.” Marion terkejut, tapi tak bicara. Ada rasa pedih yang muncul bersamaan dengan kelegaan, tapi belum sempat ia meresapinya, pelayan datang dengan nampan berlapis baja, membawa kehangatan hidangan mereka dan aroma mentega yang meleleh dalam bising sunyi yang perlahan berubah menjadi malam.
Hidangan di depan mereka tampak seperti seni piringan yang terlalu indah untuk disentuh, namun rasa lapar yang tertahan oleh emosi membuat Marion akhirnya mulai menyuap dengan perlahan. Di seberangnya, Yuri memperhatikan dengan senyum samar, lalu ikut menyantap makanannya dalam diam. Cahaya lilin memantul di permukaan gelas anggur dan membuat segalanya terasa seolah sedang berlangsung di luar waktu.
Marion mencoba fokus pada rasa scallop lembut yang dipadukan saus beurre blanc itu, tapi pikirannya terus melayang. Ada getaran lembut yang menyesap dari setiap tatapan Yuri—getaran yang familiar. Ia teringat akan semua malam yang dulu mereka lewati: berdua duduk di atas selimut tipis di tepi pantai sambil berbagi cerita, menaiki wahana tertinggi di taman hiburan lalu tertawa sampai kehilangan suara, atau hanya berjalan tanpa tujuan menyusuri lampu-lampu jalanan kota sambil menggenggam tangan satu sama lain.
Marion masih bisa mengingat rasa cokelat panas yang Yuri buatkan sendiri di malam ulang tahunnya, dan buket bunga kecil yang diselipkan di sela bukunya saat hari jadi mereka yang ke-8 bulan. Yuri selalu seperti itu—tidak pernah lupa tanggal, tidak pernah lupa senyumnya, tidak pernah abai dengan harapan kecil Marion. Semua hadiah dari Yuri masih tersimpan rapi di kamar apartemennya: kalung perak kecil berbentuk bulan sabit, selembar scarf merah anggur dari pasar malam Prancis, dan surat-surat pendek berisi pesan manis.
Semua itu adalah bagian dari dirinya yang seolah masih ada, walau tak lagi bisa disentuh.
“Marry,” suara Yuri memecah kenangan itu, lirih dan rendah, “aku masih sering mengingat semuanya. Kita.”
Marion mendongak perlahan, matanya melembut, dinding pertahanannya menipis.
“Aku juga ingat semuanya,” balasnya pelan, hampir seperti mengakui rahasia besar. Yuri menghela napas dan menatap anggurnya sejenak sebelum kembali pada mata Marion,
“Aku tahu aku membuatmu menunggu. Tapi aku juga tahu kamu selalu menyimpan semuanya... bahkan saat aku pergi.” Jemari Marion gemetar sedikit, dan Yuri kembali menggenggamnya—hangat dan tak berubah. Hatinya berdesir, seperti langit musim panas yang berganti warna.
Satu senyum pelan terbit dari wajah Marion, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan dirinya berharap kembali. Maison du Vent menjadi saksi—bahwa dua hati yang pernah saling memiliki kini saling mendekat lagi, diam-diam, dalam makan malam yang tak lagi terasa seperti perjamuan mahal, tapi rumah yang dulu pernah mereka bangun bersama.
Perjalanan kembali ke mobil terasa hening namun tak canggung. Ketika Marion duduk di kursi penumpang, aroma halus parfum Yuri masih melekat di udara, berpadu dengan semerbak anggur dan rosemary dari restoran tadi. Radio mobil menyala otomatis begitu mesin dinyalakan, memutar lagu-lagu lawas penuh cinta dari dekade yang lebih tenang—“Unchained Melody” mengalun lembut, seperti menata suasana malam. Camden di luar jendela terhampar dalam kilau kuning keemasan dari lampu jalan, bangunan-bangunan tua berdiri teduh dengan jendela yang menghangatkan, dan angin musim panas bergerak pelan, menebarkan suara dedaunan yang menyentuh langit. Mobil meluncur tenang melewati distrik tua, kemudian keluar ke arah utara kota, melewati jalan berbukit kecil dengan sisi-sisi yang dipenuhi pohon maple.
Marion tahu arah itu bukan menuju apartemennya, dan saat ia menoleh, Yuri menatapnya sekilas sambil berkata pelan, “Marry… malam ini aku tidak ingin cepat selesai.” Kalimat itu menggantung dalam ruang kabin yang dingin, dan jantung Marion berdebar tak karuan. Ia tak menjawab, hanya menatap ke luar jendela, seolah mencari jawaban pada lampu-lampu kota yang mengabur pelan.
Tak lama kemudian, mereka berbelok ke gerbang besar sebuah hotel bernama Celeste Étoile, hotel mewah dengan arsitektur bergaya Perancis kontemporer. Pilar tinggi menyambut di pintu masuk, dihiasi lampu gantung kristal yang bersinar redup dari dalam lobi. Batu marmer putih mengilap menghiasi jalur masuk, dan air mancur kecil berdesir pelan di tengah taman depan. Porter menyambut mereka dengan ramah, dan Yuri menyerahkan kunci valet dengan gerakan tenang.
Di dalam lobi, kehangatan lembut membungkus segalanya—dinding dilapisi panel kayu ek gelap dengan aksen emas, dan karpet bermotif damask biru tua membentang sampai ke lift. Marion berjalan perlahan di samping Yuri, tak banyak bicara, tapi juga tak ingin jauh. Lift mengantar mereka ke lantai tertinggi, tempat kamar-kamar suite berada. Kamar yang dipilih Yuri berada di sudut paling ujung: Étoile Suite, kamar luas dengan balkon menghadap kota dan langit malam.
Begitu pintu terbuka, Marion nyaris menahan napas. Interior kamar didominasi warna putih gading dan biru abu-abu, dengan satu set sofa beludru di tengah ruangan, rak buku kecil, dan perapian elektrik yang menyala temaram. Tempat tidur king-size berlapis linen tebal dengan kanopi transparan tampak seperti sarang keheningan. Jendela kaca besar terbentang ke luar, memperlihatkan langit malam Camden yang sepi, dan cahaya lampu kota yang memantul pelan di dinding kamar. Di pojok, ada meja kayu dengan dua gelas kristal dan sebotol wine cadangan, seolah semua telah disiapkan dengan cermat.
Yuri duduk di sisi tempat tidur, kemudian menatap Marion yang berdiri kaku di ambang pintu, seolah menunggu aba-aba. “Aku hanya ingin kita menghabiskan malam ini bersama… tanpa harus takut besok akan pergi lagi,” ucapnya pelan. Marion melangkah masuk, perlahan menutup pintu di belakangnya. Ada ruang sunyi yang menyelimuti mereka, tapi kali ini bukan kekosongan—melainkan ruang yang penuh kenangan dan keberanian yang hampir pulih.
Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya, menyisakan desau samar dari pendingin ruangan dan cahaya hangat yang jatuh lembut dari lampu-lampu gantung. Marion berdiri membelakangi pintu, tubuhnya tegang dalam diam. Udara di dalam kamar terasa lebih pekat dari sebelumnya, seakan mengunci suara dan gerak dalam satu ruang yang hanya milik mereka.
Yuri berdiri tak jauh darinya, tenang seperti danau dalam yang tak terbaca riaknya. Ketika Marion melangkah mendekat, pikirnya hanya akan duduk di sisi ranjang—tapi Yuri lebih dulu bangkit. Jarak di antara mereka terpangkas menjadi kurang dari lima sentimeter. Nafas mereka saling menyentuh, dan mata Marion menangkap bayangan dirinya sendiri di sepasang iris Yuri yang teduh.
Tanpa kata, Yuri melepaskan tas dari pundaknya, menaruhnya di sisi nakas. Lalu, dengan lembut tapi mantap, tangannya melingkari pinggang Marion dan menariknya lebih dekat. Tidak ada jarak yang tersisa. Tubuh mereka bersandar satu sama lain, dan dunia di luar sana seperti lenyap dalam sekejap.
"Aku merindukanmu, Marry... terlalu lama," bisiknya, suaranya rendah dan bergetar seperti malam yang menahan hujan.
Marion menahan napas. Wajahnya memanas oleh rindu yang membuncah dari tempat terdalam. Dan saat Yuri menunduk pelan untuk menyentuh bibirnya, Marion tidak bergerak mundur. Ia membalas ciuman itu, lembut namun perlahan berubah menjadi dalam dan penuh gairah. Rindu mereka menemukan bentuknya dalam keheningan yang bergelora.
Satu per satu batas perlahan luruh. Jemari Yuri menyusuri lengan Marion, punggungnya, lalu turun ke pinggang dengan kelembutan yang tak tergesa. Setiap sentuhan bagai aliran listrik halus yang menjalar dan membuat Marion tak bisa menahan helaan napas lirih. Ketika jari-jari itu menyentuh kulitnya, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam gelombang rasa yang telah lama disimpannya.
Rasa yang tak pernah padam meski waktu memisahkan.
Dalam sorot mata yang saling mengikat, Marion menangkap dirinya yang dulu—yang penuh cinta, yang pernah percaya bahwa kebahagiaan bisa sederhana, cukup bersama Yuri di satu malam yang utuh. Yuri menatapnya seperti dulu, seolah waktu tak pernah benar-benar pergi.
"Aku ingin malam ini hanya untukmu, Marry," bisik Yuri sambil menatapnya dalam, jari-jarinya masih menggenggam lembut jemari Marion. "Tanpa siapa pun, tanpa apa pun… hanya kita."
Marion mengangguk, matanya sedikit berembun tapi penuh kepercayaan. Ia membiarkan Yuri membawanya ke sisi ranjang, membiarkan tubuhnya disentuh, direngkuh, dimiliki dengan ketulusan yang begitu dalam. Setiap helaan napas, setiap bisikan, dan setiap sentuhan membawa mereka kembali ke rumah yang pernah mereka tinggalkan: satu sama lain.
Malam itu tak diisi oleh kata-kata, tapi oleh tarikan napas yang tak beraturan, oleh debar yang tak mampu diredam, dan oleh rindu yang akhirnya menemukan tempatnya pulang.
Daftar Chapter
Chapter 1: PROLOG
254 kata
Chapter 2: Denting Yang Tak Pernah Terden...
4,844 kata
Chapter 3: Waktu Yang Tidak Kita Miliki
5,523 kata
Chapter 4: Jejak Yang Belum Usai
5,590 kata
Chapter 5: Yang Belum Usai
5,736 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!