Chapter 2: PERNIKAHAN DADAKAN
Jantung Nesia seketika berdetak menggelepar oleh rasa takut karena ancaman yang dilontarkan oleh dua laki-laki tinggi besar serupa bodyguard itu.
‘Siapa dua orang ini? Mengapa dia mengancamku seperti ini? Apakah mafia-mafia yang di film itu benar-benar ada?Apa salahku sehingga harus berurusan dengan mereka?’ Nesia masih saja bertanya-tanya dalam hati. Jantungnya menggelepar, tangannya mendadak basah oleh keringat. Ketakutan semakin kuat melanda jiwanya.
“Apa? Membunuh saya? Memangnya salah saya apa?” tanya Nesia keras, berharap ada yang melihatnya.
Namun semua orang sepertinya sedang fokus di depan dan juga ruang karyawan sehingga tak ada yang melihat bahwa Nesia sedang dalam bahaya.
“Sebaiknya Anda tidak melawan!” tegas yang satunya lagi.
“Tapi, Pak?” protes Nesia. Gadis itu menggeleng tegas, menolak tekanan yang tak masuk akal ini.
Namun, protes Nesia seketika berhenti ketika salah seorang dari mereka mengeluarkan pistol yang terselip di pinggangnya dan menempelkannya pada pinggang Nesia. Nesia semakin gemetar dan keringat dingin mulai terasa muncul di tubuhnya.
“Ikut dengan saya!” perintah salah satu dari mereka yang berkulit sedikit gelap.
“Oke … oke! Tapi kemana, Pak?” tanya Nesia dengan takut.
“Sebaiknya Nona tidak banyak tanya,” jawab yang satunya yang berkulit sedikit bersih.
Meski sebenarnya Nesia ketakutan, namun dia tak bisa menolak. Gadis itu melangkah mengikuti kedua laki-laki misterius itu dengan langkah kaki yang sepertinya nyaris luruh karena saking takutnya. Nesia benar-benar tak menyangka bahwa hari ini sia akan mendapatkan kesialan seperti ini.
‘Mungkinkah ajalku akan tiba hari ini?’ tanya Nesia dalam hati. Air matanya mulai merebak. ‘Vino, kalau aku mati hari ini, aku ingin kamu tahu bahwa bagaimanapun aku masih mencintaimu. Meski kita sudah memutuskan untuk berpisah, tapi aku masih mencintai kamu.’ Nesia masih saja merapal kalimat cintanya dalam hati. Berharap akan ada keajaiban yang bisa membuatnya hidup sedikit lebih lama.
“Saya akan dibawa kemana, sih, Pak? Apa salah saya?” tanya Nesia menoleh ke arah kedua orang misterius yang berjalan di sisi dan kanannya itu.
“Kami tidak berhak menjawabnya, Nona!” jawab salah seorang diantara mereka yang terus menghela Nesia menuju ke sebuah ruangan yang Nesia hafal betul bahwa itu ruang rias.
Dan benar saja, mereka berdua menghela Nesia memasukinya. Di sana, sudah menunggu seorang tukang make up yang sepertinya profesional beserta asistennya, dan beberapa orang yang berpakaian sama dengan dua orang yang membawanya tadi.
Namun ada yang membuat Nesia semakin tak mengerti adalah ketika dia melihat calon pengantin laki-laki —yang wajahnya terpampang di depan gedung tadi— yang kini berada di ruangan yang sama dengannya saat ini.
‘Mengapa dia ada di sini? Bukannya dia seharusnya berada di hall utama? Lalu dimana mempelai perempuannya? Mengapa periasnya malah bingung? Dan pengantin laki-lakinya? Mengapa harus menatapku seperti itu? Apakah ada yang salah denganku?’ tanya Nesia dalam hati kemudian menunduk untuk mengamati dirinya sendiri.
Semua mata yang ada di ruangan itu menatap Nesia dengan sorot mata tajam. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka melihat dia orang itu membawa Nesia ke tempat ini. Lalu tanpa diduga, si pengantin laki-laki mengedikkan kepalanya, seolah memerintahkan agar asisten tukang rias itu membawa Nesia untuk ke kamar mandi.
“Mari, Nona,” ajak perempuan yang sepertinya masih muda itu.
“Kemana, Mbak?” tanya Nesia dengan maksud menolak.
“Anda harus mandi, karena waktu sudah hampir habis,” ujar si asisten.
Nesia menoleh ke arah dia orang misterius tadi seolah bertanya apa yang akan mereka lakukan padanya itu. Kedua laki-laki itu mengangguk bersamaan, sehingga Nesia terpaksa menatap ke arah asisten perempuan tadi dan mengikuti langkahnya.
“Ini ada apa sebenarnya, Mbak?” tanya Nesia ketika mereka tiba di depan kamar mandi yang memang tersedia di dekat ruang rias itu.
“Nona sebaiknya segera mandi agar tukang make up bisa bekerja secepatnya. Waktunya sudah semakin singkat,” jawab si asisten.
“Tapi mengapa saya harus dirias?” tanya Nesia lagi kali ini dengan pekikan yang tertahan.
“Saya tidak tahu. Tugas saya hanya mendampingi boss saya yang akan merias anda. Selebihnya mereka yang akan memberitahunya pada Nona,” jawab si asisten.
“Sebaiknya Anda segera mandi, Nona. Agar tidak membuang waktu,” kata seorang lelaki misterius itu tiba-tiba mendatangi Nesia dan si asisten.
“Tapi, Pak. Mengapa saya harus diperlakukan seperti ini? Tidak bolehkan saya tahu apa yang akan terjadi dan kalian lakukan pada tubuh saya? Bahkan seandainya saya akan dibunuh, setidaknya saya tahu alasan mengapa saya harus mati, kan?” tanya nesia dengan kesal karena semua orang sepertinya sedang bermain teka teki.
Salah seorang diantara pengawal itu meraba pistol yang terselip di pinggangnya membuat nesia seketika menghentikan ocehannya dengan wajah pucat.
“Oke … oke! Saya akan mandi.” Nesia mencegah apapun yang akan dilakukan oleh laki-laki misterius itu. Kemudian dengan wajah pucat segera masuk ke dalam bilik mandi sambil menenangkan jantungnya yang berdetak.
Sejujurnya Nesia ingin berteriak minta tolong atau menangis sejadi-jadinya. Akan tetapi dia tak yakin akan ada yang menolongnya. Jikapun ada, mungkin mereka juga tak akan berani mengingat banyak penjaga aneh yang ada di ruangan ini. Matanya yang jelalatan seolah mencari celah untuk kabur melalui kamar mandi inipun berakhir sia-sia karena jelas tak ada ruang sedikitpun untuk kabur.
‘Tuhan, haruskan semua berakhir di sini?’ keluh Nesia.
“Nona! Saya harap Anda segera menyelesaikan mandi karena waktunya sudah hampir tiba,” suara si penjaga kembali terdengar dibarengi dengan suara gedoran di pintu kamar mandi.
“Iya, saya mandi!” jawab Nesia dengan kesal.
Tak ada hal lain yang bisa dilakukannya lagi selain mengikuti perintah orang-orang aneh itu. Kecuali dia sudah tak sayang dengan tubuhnya. Tak butuh lama, Nesia segera menyelesaikan mandinya kemudian keluar. Itupun sudah disambut tatapan mata penuh horor dari dua penjaga yang tadi ada di menggedor pintunya.
“Silahkan Nona mengikuti asisten perias itu tanpa banyak bertanya. Karena boss kami sangat tidak menyukai perempuan yang banyak bicara,” ujar salah satu penjaga itu.
Nesia menatap sengit padanya.
“Memangnya apa peduli saya dengan bos kalian yang suka atau tidak suka? Kalau boleh jujur, saya juga tidak suka dengan tindakan pemaksaan yang kalian lakukan ini!” ujar Nesia sedikit sengit.
Namun jelas kedua penjaga itu tak peduli dengan apapun yang dikatakan Nesia, karena akhirnya mereka tetap mendorong Nesia agar duduk di kursi dan segera tukang rias itu menanganinya.
“Jadikan dia semirip mungkin dengan Dona, Ren!” Calon mempelai pria yang sejak tadi hanya mengawasi dalam diam itu kini bersuara.
Seketika Nesia menatap laki-laki itu, yang bahkan tak mau repot-repot untuk balik menatapnya. Dan itu sudah cukup menyebalkan. Sebenarnya Nesia sudah hendak mengkonfrontasi laki-laki itu, namun bisikan si perias senior membuat Nesia mengurungkan niatnya.
“Sebaiknya Nona tidak banyak melawan. Saya tahu siapa dan bagaimana beliau. Jika Nona masih sayang dengan nyawa Nona, sebaiknya Nona ikuti saja apa yang beliau katakan. Saya juga akan melakukan apa yang beliau perintahkan,” ujar si perias dengan suara rendah.
“Tapi saya tidak mengenalnya dan tidak mengerti mengapa saya harus dirias, bahkan dibuat mirip dengan Dona. Bukankah Dona adalah pengantin siang ini?” tanya Nesia dengan suara yang juga rendah.
Si perias tersenyum.
“Saya rasa mereka akan menjelaskannya nanti. Untuk saat ini, mari bekerja sama agar pekerjaan saya selesai tepat waktu,” pinta di perias.
Mau tak mau Nesia mengangguk.
Tak menunggu lama, perias itu sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan hasil yang sempurna. Kegesitannya bekerja membuat semua kliennya puas dengan pekerjaan dan hasil kerjanya.
Setelahnya, si perias mengenakan pakaian pengantin untuk Nesia. Meski sedikit kepanjangan, namun itu tidak masalah karena tidak begitu kelihatan.
“Selesai, Tuan,” lapor si perias kepada mempelai laki-laki.
Laki-laki tinggi dan gagah itu bergerak mendekati Nesia yang sudah selesai dirias. Laki-laki itu manggut-manggut seakan puas dengan hasil yang diberikan si perias. Setelah dirasa pas, laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Nesia.
Nesia tidak menyambutnya karena dia tak tahu apa maksud laki-laki itu mengulurkan tangan padanya.
“Apa maksud semua ini, Tuan?” tanya Nesia dengan berani.
Laki-laki tampan itu tersenyum sinis.
“Ikut denganku ke aula depan. Kita menikah!” Laki-laki itu menjawab tegas.
“APA?!”
***
Tak ingin melihat keterkejutan Nesia yang sangat tidak elegan itu, Remy —calon mempelai laki-laki hari ini— segera mencengkeram lengan atas Nesia dan memaksanya berjalan menuju ke aula utama Martha Hall untuk melakukan prosesi pernikahan, seperti yang dikatakan oleh laki-laki itu beberapa menit lalu.
‘Pernikahan?’ tanya Nesia dalam hati dengan bingung. Dia segera mencubit lengannya sendiri hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak sedang berhalusinasi karena kegagalannya menjalin hubungan serius dengan Vino, tadi malam.
Beberapa bridesmaid juga sudah berjajar rapi dengan pakaian seragamnya yang terlihat sangat elegan, juga beberapa laki-laki yang berseragam semuanya sudah berjajar rapi di sisi kiri dan kanan liring menuju ke aula utama.
Sungguh, Nesia ingin melepaskan dirinya dari cengkeraman tangan lelaki itu. Namun, jelas itu tak mudah dilakukannya. Karena selain cengkeraman laki-laki itu begitu kuat di lengannya, juga karena adanya beberapa penjaga yang berjalan siaga di belakang mereka.
“Tuan, bisakah Anda jelaskan mengapa harus saya yang berada di aula ini? Bukannya seharusnya tunangan Anda? Mengapa justru saya yang anda paksa berada di posisi ini?” tanya Nesia dengan suara yang rendah namun terdengar jelas di telinga Remy. Gadis itu mendongak, menatap laki-laki tinggi yang berjalan di sebelahnya dengan muka dingin itu. Baiklah, harus Nesia akui bahwa Remy memang tampan. Tapi demi apapun, dia tidak menginginkan pernikahan gila seperti ini.
“Sebaiknya kamu menjaga mulutmu dari rasa ingin tahumu yang tak penting itu. Tak ada waktu untuk menjelaskannya!” jawab Remy tanpa menoleh sedikitpun.
“Tapi saya tak mau menikah dengan Anda!” tegas Nesia mendongak, menatap lelaki tinggi itu, dan berkata dengan suara rendah karena diucapkannya dengan bibir terkatup rapat.
Yang membuat Nesia semakin kesal karena Remy tidak peduli dengan kalimat Nesia.
“Kamu pikir aku mau? Kalau tidak terpaksa, aku juga tak sudi melakukannya!” jawab Remy dengan tegas.
“Kalau Anda tidak mau, dan saya juga tidak ingin, mengapa Anda harus melakukan hal konyol seperti ini?” tanya Nesia lagi, tak puas dengan jawaban Remy.
“Aku tak peduli dengan apapun yang kamu katakan. Karena yang harus aku lakukan saat ini adalah menyelamatkan harga diriku di hadapan para tamu yang terlanjur datang,” jawab Remy sedikit.
Nesia kesal dan tersenyum sinis. ‘Pantesan ditinggalkan tunangannya. Ternyata dia laki-laki yang bermulut tajam!” keluh Nesia dalam hati.
Ketika tiba di depan pintu menuju aula utama, Nesia menghentikan langkahnya sehingga mau tak mau Remy juga ikut berhenti. Laki-laki itu menoleh, menatap Nesia yang mendongak ke arahnya dengan wajah yang menyedihkan.
Meski tidak sepenuhnya mirip, namun make over yang dilakukan tukang make up tadi sepertinya bisa mengelabui tamu karena Nesia dibuat begitu mirip dengan Dona, calon mempelai perempuan yang seharusnya hadir namun entah apa yang terjadi sehingga Nesia begitu sial dengan menggantikannya untuk berada di sini.
“Sebaiknya Anda pikirkan kembali sebelum kita benar-benar masuk ke dalam untuk melakukan apa yang Anda rencanakan. Karena ketika kita maju satu langkah saja ke depan, Anda tahu bahwa kita tidak akan bisa mundur, kan?” tanya Nesia.
“Sebaiknya kamu tidak banyak berkata agar semuanya segera selesai!” tegas Remy tak menerima apapun.
“Baiklah. Saya akan menolong Anda kali ini. Tapi Anda harus berjanji bahwa setelah ini, saya bisa pulang dengan segera.” Nesia berkata ketus.
Remy tidak menjawab dan hanya tersenyum masam.
Belum lagi Nesia hendak berkata, seorang MC sudah mulai membacakan susunan acara yang akan berlangsung di aula, sehingga mau tak mau dia mengikuti apa yang Remy rencanakan. Yang Nesia inginkan saat ini adalah semua drama ini segera selesai dan dia bisa melepas baju sialan ini kemudian makan yang kenyang.
Laki-laki yang berjalan di sampingnya ini benar-benar mengganggu acara makan siangnya, sehingga Nesia terpaksa menahan rasa laparnya. Untung saja tadi pagi dia masih sempat minum segelas susu dan sepotong roti yang dibelikan Vino beberapa hari lalu.
‘Vino?’
Entah apa yang akan Vino katakan jika dia tahu bahwa hari ini dia menjadi boneka dalam pernikahan gila ini. Tapi mengapa harus memikirkan reaksi Vino? Bukankah mereka sudah sepakat untuk mundur?
Hingar bingar dan ramainya undangan yang bergemuruh di aula utama membuat Nesia gemetar oleh rasa takut sekaligus gentar. Remy menoleh ke arah Nesya dengan senyum manis yang dibuat-buat seolah mereka adalah pasangan bahagia. Namun, Remy kemudian menunduk untuk berbisik dengan suara rendah.
“Sebaiknya kamu tersenyum ramah ketika menatap para tamu undangan, agar sandiwara kita hari ini berjalan dengan sempurna. Karena mereka akan curiga jika melihat pengantin berwajah tersiksa seperti kamu hari ini,” ujar Remy dengan senyum manis, kemudian menegakkan kembali tubuhnya dan menatap tegak menuju ke tempat utama dimana dia akan mengadakan prosesi pernikahan hari ini.
Padahal giginya sudah mengatup rapat menahan geram karena sepertinya perempuan yang diambilnya secara acak untuk menggantikan Dona —yang sudah menginjak harga dirinya karena kabur di hari pernikahan mereka— itu seolah tidak mau diajak bekerja sama dengan baik. Terbukti dengan wajahnya yang cemberut natural.
Untuk membalas senyuman Remy, Nesia kemudian mendongak, menatap lelaki tampan yang menyebalkan itu.
“Apakah saya harus mengingatkan Anda bahwa ini bukan sandiwara kita, melainkan sandiwara Anda? Dan saya tidak termasuk di dalamnya, seharusnya,” pungkas Nesia kemudian tersenyum manis, seolah mereka berdua sedang berbincang penuh cinta.
Sejujurnya Nesia sudah merasa mual mengingat bahwa ternyata dia pandai bersandiwara. Mendengar kalimat Nesia kali ini, spontan Remy menoleh, menatapnya. Namun yang Remy dapatkan adalah senyum manis perempuan itu yang juga menatapnya, meski mereka sedang berjalan pelan menuju meja pernikahan.
Namun, entah mengapa Remy merasa bahwa senyum itu adalah senyum penuh ejekan karena sandiwara yang mereka perankan hari ini.
“Apakah aku harus mengingatkanmu bahwa kamu tidak bisa mundur dan menolak lagi? Beberapa bodyguardku akan membuatmu menyesal jika kamu tidak mau bekerja sama dengan baik hari ini,” ujar Remy dengan gigi terkatup rapat.
Mata Nesia terbelalak lebar mendengar ancaman tak main-main yang diucapkan Remy kali ini. Baiklah, siapapun tahu bahwa lelaki di sampingnya ini memang menawan dalam balutan blazer warna putih tulang yang pasti mahal itu. Bahkan, Nesia yakin sudah banyak yang terpesona dengan tampilan fisik lelaki ini.
Tetapi maaf, Nesia tidak termasuk di dalamnya. Persetan dengan lelaki ini, setampan apapun, Nesia berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan terpesona olehnya. Baginya, cukup sandiwara ini segera berlangsung dan usai tepat waktu sehingga dia bisa kembali ke kontrakannya, makan, dan tidur dengan pulas.
Melihat mata lebar Nesia yang menatapnya dengan horor, membuat Remy tersenyum sinis sekaligus puas karena berhasil mengintimidasi keberanian perempuan muda di sampingnya itu.
“Masih mencoba untuk melawan?” tanya Remy semakin sinis.
Andai saja Nesia punya kekuatan dan kekuasaan, dia pasti akan membungkam mulut sinis lelaki yang memaksanya berada pada posisi tak menyenangkan seperti ini.
Nesia menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya dengan kesal. Kembali memasang wajah muram, tak peduli apapun yang dikatakan lelaki sialan di sampingnya itu. Bahkan, ketika asisten perias tadi menghelanya untuk duduk di kursi tempat prosesi pernikahan akan dilaksanakan, Nesia masih saja memasang wajah cemberut.
Dan selanjutnya, Nesia tak tahu prosesi apa yang akan dilewatinya. Pikirannya terpecah dan hilang orientasi sehingga dia hanya bisa mengangguk atas pertanyaan yang bahkan tidak disimaknya dengan baik itu. Apalagi tubuhnya mulai gemetar karena merasa lapar.
Hingga ketika prosesi pernikahan itu akhirnya selesai, Nesia masih juga gamang. Yang Nesia tahu adalah ketika laki-laki itu menghela dirinya untuk menghadap ke arah si lelaki. Kemudian dengan tak terduga, Remy mengangkat dagu Nesia dengan tangannya yang dingin. Laki-laki itu menunduk untuk menjangkau Nesia yang jauh lebih pendek darinya kemudian memberikan sebuah kecupan, membuat Nesia shock.
Lalu …
Bruk!!
Nesia pingsan, tanpa sempat Remy merengkuhnya.
***
Daftar Chapter
Chapter 1: PENOLAKAN MENYAKITKAN
2,412 kata
Chapter 2: PERNIKAHAN DADAKAN
2,455 kata
Chapter 3: ISTRI SAH REMY
2,451 kata
Chapter 4: BERKAS PERJANJIAN
2,364 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!