')">
Progress Membaca 0%

Chapter 3: ISTRI SAH REMY

Yantie Wahazz 11 Oct 2025 2,451 kata
GRATIS

Suasana terasa sangat hening ketika Nesia membuka matanya. Orientasinya masih belum pulih sepenuhnya karena rasa pening yang masih dirasakan di kepalanya. Gadis itu mengedarkan matanya dan mendapati suasana kamar yang serba hijau muda. Nesia mengumpulkan kesadaran dan ingatannya dengan susah payah dan menyadari bahwa ini bukan kamar kontrakannya yang minimalis dengan car putihnya yang mulai kelabu itu.

Nesia kembali melihat-lihat. Sebuah tiang infus berikut botolnya kini menjadi fokusnya. Matanya terus menelusuri arah selang infusnya yang ternyata berujung di tangannya. Nesia terkejut.

‘Selang infus? Apa yang terjadi?’ pikir Nesia masih bingung.

Kemudian deheman terdengar di ruangan itu, membuat Nesia spontan mengalihkan tatapan matanya pada sumber suara. Dan di ujung ruangan ini, di sofa yang ada di sudut ruangan, Nesia melihat ada dua orang laki-laki dengan ketampanan yang sempurna saling duduk dalam jarak terukur, dan sama-sama terdiam.

Nesia terkejut karena kedua laki-laki rupawan itu sama-sama memusatkan perhatian padanya yang bahkan terbaring dengan cukup mengenaskan seperti ini. Dalam diam, Nesia menggali ingatannya yang tadi hilang entah kemana.

Matanya terbelalak kaget ketika ingat bahwa dia tadi pingsan di aula utama Martha Hall setelah prosesi pernikahannya selesai, dan lelaki itu mencium bibirnya.

“Astaga!” Nesia berseru namun kemudian meringis setelah merasakan kepalanya pusing.

Dua orang laki-laki rupawan itu bergerak serentak untuk mendekati.

“Apa yang Anda rasakan, Nona? Apakah ada sesuatu yang Anda keluhkan?” tanya salah seorang dari mereka, namun jelas bukan Remy. Sementara Remy meskipun bergerak mendekat namun memilih untuk diam, tidak bertanya apapun.

Nesia menggeleng.

“Tidak. Ah, ya. Hanya sedikit pusing. Apakah ini di rumah sakit?” tanya Nesia kembali memastikan bahwa dia memang sedang berada di rumah sakit.

“Ya. Anda sedang di rumah sakit karena Anda jatuh pingsan setelah …” lelaki rupawan itu tak melanjutkan kalimatnya, dan malah menoleh ke arah Remy yang berwajah datar.

Remy mengangkat alis matanya.

“Mengapa tidak kamu teruskan saja? Kurasa tidak terlalu tabu jika kita membicarakan sebuah ciuman, bukan?” tanya Remy menatap Lukas, lelaki rupawan yang berada di ruangan ini selain Remy.

Lukas mengangguk.

“Ya, Anda pingsan setelah prosesi pernikahan selesai dan … dan tuan Remy mencium Anda, Nona,” tutur Lukas dengan muka memerah.

Nesia membelalakkan matanya lebar-lebar.

“Mengapa harus terkejut? Bukannya kamu sudah dewasa? Dicium oleh laki-laki bukan hal yang aneh, kan? Mungkin harus aku tegaskan bahwa kamu pingsan bukan karena ciuman yang kulakukan karena bibirku tidak mengandung racun. Dokter menyimpulkan kamu pingsan karena perut kamu dalam keadaan kosong,” ujar Remy dengan acuh tak acuh.

Seketika Nesia merasa malu karena ketahuan bagaimana miskinnya dia sehingga untuk makan cukup saja dia harus menghemat. Tapi bukankah kali ini dia kelaparan bukan karena tak punya makanan, melainkan karena tidak diberi kesempatan untuk makan?

“Apakah Anda tahu bahwa saya kelaparan karena dua orang suruhan Anda merampas waktu makan siang saya, sehingga saya tidak sempat makan siang.” Nesia menjawab dengan ketus.

“Jangan menyalahkan saya karena situasi laparmu. Kalau kamu makan cukup, tidak mungkin kamu pingsan di tengah aula, kan? Memalukan!” omel Remy dengan wajah kesal.

“Memangnya semua hal konyol ini salah siapa kalau bukan salah Anda, Tuan Remy?” tanya Nesia dengan santai.

Tentu saja dia menyebut nama Remy dengan ringan karena dia sudah membaca bahwa mempelai hari ini bernama Remy dan mempelai perempuannya bernama Dona, Namun entah kesialan macam mana yang membuatnya berada di posisi Dona seperti saat ini.

“Anggap saja kamu sedang sial karena terseret ke dalam masalahku,” ujar Remy dengan sinis, sementara Lukas sama sekali tidak berani menengahi karena dia tahu siapa dan bagaimana sifat Remy.

Nesia menghela napas panjang.

‘Ya, tentu saja ini kesialan yang tak pernah saya lupakan, Tuan Remy!’ batin Nesia dengan tatapan mata penuh aura permusuhan.

“Baiklah-baiklah, saya memang sedang sial karena harus berurusan dengan laki-laki seperti Anda. Dan karena saya sudah merasa lebih baik, bisakah Anda mengantar saya kembali ke Martha Hall?” tanya Nesia menatap ke arah remy dan Lukas, bergantian.

“Kembali ke sana? Untuk apa?” tanya Lukas mengerutkan keningnya.

“Mengapa Anda bertanya untuk apa? Saya harus melanjutkan hidup saya. Untuk itu saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dan melapor pada bu Nita serta mengatakan yang sebenarnya bahwa ketidakhadiran saya bukan karena keinginan saya mangkir, melainkan karena saya sedang sial. Saya berjanji bahwa ini adalah pertemuan terakhir saya dengan Anda karena setelah prosesi tadi berakhir, maka drama yang harus saya perankan juga telah berakhir,” kata Nesia panjang lebar sembari berusaha bangkit.

“Eh, tunggu dulu, Nona. Dokter belum mengizinkan Anda untuk pulang. Jadi sebaiknya kita menunggu hasil pemeriksaan dokter,” ujar Lukas.

“Tapi, Tuan, saya harus ke gedung Martha. Saya harus melapor apa yang sudah terjadi, agar saya tidak dipecat karena mangkir dari pekerjaan,” jawab Nesia dengan wajah panik karena dia jelas sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk melanjutkan hidupnya yang bagai angka satu itu.

“Sayangnya kamu memang sudah tak bisa lagi bekerja di sana,” Remy tiba-tiba memotong kalimat Nesia, membuat gadis itu terbelalak kaget.

“Tidak bisa? Memangnya mengapa? Apa maksud ucapan Anda” tanya Nesia dengan jantung berdegup kencang karena membayangkan apa yang akan dilakukannya untuk menyambung hidupnya kalau sampai dia benar-benar dipecat.

“Karena anak buahku sudah mengajukan surat pengunduran diri untukmu dari pekerjaan rendahan yang selama ini kamu tekuni itu,” jawab Remy dengan tegas.

“Apa?!” tanya Nesia dengan mata melebar karena terkejut sekaligus marah.

“Kamu sudah tidak bisa lagi bekerja di sana karena kamu sudah dicoret dari daftar karyawan. Jelas?” tanya Remy dengan gamblang, membuat Nesia benar-benar meradang kali ini. Rasanya kesabarannya sudah cukup sampai batasnya.

“Dan Anda pelakunya?” tanya Nesia sengit.

“Tentu saja. Kamu pikir aku tidak malu memiliki istri seorang karyawan gedung serbaguna? Apa kata orang jika mereka tahu yang sebenarnya?” tanya Remy menghardik sengit.

“Eh, Tuan Remy yang terhormat. Semoga Anda tidak lupa bahwa pernikahan tadi hanya sebuah sandiwara. Saya juga tidak ingin menjadi istri cadangan seperti tadi. Hanya saja orang-orang Anda sudah kehilangan hati, sehingga memaksa saya dengan ancaman akan membunuh.” Nesia berkata tegas.

Lukas terkesiap mendengar cacian Nesia bahwa orang-orang Remy tidak memiliki hati. Bukankah itu artinya Lukas?

“Apa kamu pikir kamu akan menerima hal tadi dengan baik kalau anak buahku tidak mengancam dengan senjata api?” tanya Remy semakin sengit.

“Setelah anak buah Anda mengancam saya, kemudian saya menggantikan calon istri Anda untuk menikah, dan kini harus merasakan kesialan berikutnya karena saya harus kehilangan pekerjaan saya. Saya tidak tahu kesalahan fatal apa yang sudah saya lakukan di masa lalu sehingga harus begini sial karena bertemu dengan Anda, Tuan Remy,” ujar Nesia sadis.

Bukannya marah, Remy hanya tersenyum sinis.

“Ehem, maaf, Tuan. Saya rasa Anda harus memberi ruang pada nona ini untuk sedikit lebih tenang karena dia sedang dalam pemulihan,” kata Lukas mencoba menengahi.

“Kamu benar, Lukas. Aku akan mencari udara segar di luar, karena suasana di ruangan ini membuatku merasa gerah. Mungkin kamu yang harus mengambil alih tugasku memberikan penjelasan pada gadis tengil ini,” ujar Remy pada Lukas, yang dijawab anggukan oleh laki-laki itu dengan kepatuhan yang nyata.

“Eh, Tuan Remy! Tidakkah Anda memberi penjelasan atas nasib konyol yang Anda suguhkan pada saya hari ini?” tukas Nesia dengan galak.

Tapi Remy tak menghiraukan apapun ucapan Nesia. Laki-laki itu pergi dengan gagah dan elegan, membuat nesia benar-benar ingin melemparnya ke neraka.

“Tenang, Nona. Saya yang akan memberikan penjelasan kepada Anda mengenai kejadian hari ini. Namun, terlebih dahulu perkenalkan, nama saya Lukas. Saya asisten pribadi tuan Remy.” Lukas memperkenalkan diri.

Nesia yang awalnya kesal, melihat Lukas begitu sopan, akhirnya mengangguk.

“Saya Nesia, Tuan Lukas,” kata Nesia singkat dan ketus, ikut memperkenalkan diri.

Lukas mengangguk dengan senyum tipis, memaklumi apa yang Nesia lakukan.

“Ya, saya tahu nama Anda adalah Nesia. Jadi, di sini saya ingin sedikit menjelaskan bahwa memang benar bahwa tuan Remy sudah memutuskan hubungan kerja Anda dengan Martha Hall. Karena setelah dokter mengizinkan Anda untuk keluar dari sini, kami akan membawa Anda ke rumah tuan Remy karena mulai hari ini Anda adalah istri sah beliau,” ujar Lukas dengan santun, namun cukup membuat Nesia terkejut bukan main.

“Pulang ke rumah dia? Istri sah laki-laki bermulut pedas itu? Apa maksudnya, Tuan Lukas?” tanya Nesia dengan amarah yang siap meledak.

 

***

 

Lukas tersenyum mendengar pertanyaan Nesia yang dibarengi dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu yang tajam. Lukas diam sejenak, memilih kata yang paling tepat untuk menjelaskan apa yang telah mereka lakukan untuk Nesia, tanpa sepengetahuan perempuan ini.

“Sebelumnya, atas nama Tuan Remy saya meminta maaf jika telah melakukan hal yang mungkin tidak Nona sukai.” Lukas memulai kalimatnya dengan hati-hati agar tidak ada kesalahpahaman.

“Tuan Lukas, bisakah Anda sedikit singkat menjelaskannya?” tukas Nesia kesal.

“Oke. Jadi memang tuan Remy sudah memerintahkan kepada kami, para staf beliau, untuk mengurus surat pengunduran diri Anda dari Martha Hall.” Lukas menjelaskan.

“Apa?! Kalian benar-benar melakukan hal gila ini? Eh, Tuan Lukas. Apa yang sudah kalian lakukan hari ini dengan pernikahan pura-pura itu sudah merampas hak makan siang saya. Lalu kalian kembali merenggut saya dari pekerjaan saya? Anda tahu tidak, hidup saya bergantung sepenuhnya pada pekerjaan ini?” tanya Nesia dengan tandas dan amarah yang mulai tak bisa dibendung.

“Tenang,  Nona Nesia. Kami melakukannya karena memang hal ini sudah tidak bisa kita hindari. Kita tak bisa mundur,” jawab Lukas.

“Eh, Tuan Lukas. Ini bukan tentang kita tidak bisa mundur! Tetapi kalian yang maju tanpa perhitungan. Dan sialnya saya yang terseret dalam langkah tanpa perhitungan bos kalian yang aneh itu!” ujar Nesia kesal.

“Maaf, Nona. Tetapi tuan Remy tidak mungkin mengeluarkan Anda dari sana tanpa kompensasi. Saya akan menjelaskan semuanya nanti, setelah kita tiba di rumah tuan Remy.” Lukas akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembicaraan. Tak bagus melanjutkan jika nanti Nesia akan emosi karena ini di rumah sakit.

“Tiba di rumah tuan Remy?” tanya Nesia melebarkan matanya.

“Ya.” Lukas mengangguk yakin.

“Tuan Lukas yang terhormat, tidak bisakah Anda menjelaskannya di sini dengan gamblang sehingga setelah semuanya selesai, saya bisa pulang ke kontrakan saya dan sandiwara ini akan saya anggap end sampai di sini!” Nesia menawarkan solusi terakhir.

Lukas tersenyum karena dia tahu, Remy tidak akan melakukan proses sesederhana itu. Ada banyak hal yang sudah Remy rencanakan dengan praktis dan sistematis. Hanya saja tetap harus menunggu Nesia bersikap kooperatif.

“Mungkin tidak akan sesederhana itu, Nona Nesia.” Lukas berkata santun, sebagaimana dia selalu bersikap santun pada Remy.

Meski ini hanya sebuah pernikahan sandiwara, namun secara hukum Nesia adalah istri Remy yang sah. Jadi Lukas memutuskan untuk tetap menghargai dan memperlakukan Nesia sebagaimana dia memperlakukan Remy.

“Tidak bisa sederhana bagaimana, Tuan Lukas? Kalian yang membuat semuanya begitu berbelit-belit!” tukas Nesia.

Belum lagi Lukas menjawab, pintu ruangan itu terbuka dan Remy masuk dengan seorang dokter dan seorang suster perempuan. Dokter setengah baya itu tersenyum lembut saat menatap Nesia yang berwajah jutek. Namun, melihat dokter itu sepertinya ramah, maka Nesia juga akhirnya membalas dengan tersenyum juga.

“Selamat malam, Nona Nesia,” sapa dokter dengan name tag dr. Ilham itu.

“Selamat malam, Dokter,” balas Nesia dengan lembut dan santun.

Seketika Remy dan Lukas saling berpandangan dengan tatapan heran. Bagaimana bisa dia begitu lembut dan ramah, padahal ketika berbicara dengan mereka berdua Nesia terlihat sangat pedas.

“Maaf, saya harus memeriksa Anda. Bagaimana keadaan Nona Nesia? Apakah ada yang dikeluhkan?” tanya dokter Ilham sambil menempelkan stetoskop di dada atas Nesia.

Nesia menggeleng.

“Sepertinya sudah lebih baik, Dok. Saya tidak sudah apa-apa. Saya sudah bisa pulang, kan, Dok? Tadi … tadi hanya karena saya tidak sempat makan siang karena ada huru-hara yang membuat jam makan siang saya terbengkalai, Dok,” ujar Nesia sambil tersenyum malu.

Nesia sengaja mengatakan itu untuk menyindir Remy dan Lukas yang terbelalak terkejut dengan sindiran tajam itu.

“Ya … saya tahu bahwa Anda sepertinya memang terlambat makan sehingga menyebabkan Anda harus berakhir di sini,” jawab dokter Ilham dengan santai.

“Berarti saya sudah bisa pulang, kan, Dok?” tanya Nesia penuh harap.

Dokter Ilham mengangguk.

“Tentu saja sangan bisa. Tetapi ini sudah malam, Nona. Bagaimana kalau menunggu hingga besok pagi?” tawar dokter Ilham.

“Tidak, Dok. Kalau memang sudah bisa, dia akan saya bawa pulang sekarang,” ujar Remy dengan tegas.

“Tuan Remy? Kita akan pulang ke arah yang berbeda dan Anda tidak perlu membawa saya pulang karena saya bukan barang dan saya bisa pulang sendiri!” tegas Nesia menatap Remy dengan tatapan tajam.

Sesaat, Lukas dan dokter Ilham terkejut mendengar keberanian Nesia melawan Remy, bahkan tidak ada tanda-tanda terpesona dengan keelokan wajah lelaki itu. Padahal jika itu perempuan lain, maka dia akan menganggukkan kepala tanpa pikir panjang. Tapi perempuan satu ini berbeda. Dia tidak terpesona.

Remy tak menghiraukan apapun yang Nesia katakan. Dia hanya mengangguk pada dokter Ilham. Dan entah bagaimana, dokter itu juga mengangguk seakan setuju dengan permintaan Remy.

“Baiklah, Nona Nesia. Anda bisa pulang sekarang. Mengenai pulangnya bagaimana dan kemana, silahkan dibicarakan berdua. Suster, lepas infus Nona Nesia. Beliau sudah bisa pulang.” Dokter Ilham memerintah pada suster yang mengawalnya tadi.

“Baik, Dok,” si suster mengangguk patuh.

Dokter Ilham kemudian keluar, memberikan waktu pada suster untuk melakukan pekerjaannya melepas infus Nesia.

Remy mengikuti langkah dokter Ilham setelah dokter itu memberi kode padanya untuk ikut keluar. Sepertinya ada yang akan dokter Ilham sampaikan.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Remy? Mengapa perempuan ini yang berpakaian pengantin? Dan bukannya Dona?” tanya dokter Ilham dengan sorot mata ingin tahu. Sebenarnya memang dokter Ilham diundang dalam perhelatan hari ini. Namun, karena ada operasi mendadak maka dokter tidak bisa hadir sehingga tidak tahu apa yang terjadi pada hari bersejarah Remy kali ini.

Remy menghela napas panjang.

“Ini sedikit rumit, Om. Dona mengatakan bahwa dia tidak bisa menikah dengan saya tepat satu jam sebelum prosesi dilaksanakan,” kata Remy dengan suara rendah,

“Astaga?! Bagaimana bisa begitu?” tanya dokter Ilham yang juga dokter pribadi mendiang ayah Remy.

Remy hanya tersenyum masam.

“Nyatanya dia memilih pergi dengan laki-laki yang merupakan cinta pertamanya,” jawab Remy datar. Meski ada rasa sakit di hatinya karena merasa diabaikan, tetapi Remy tetap berusaha tegar. Perempuan seperti Dona jelas tak bisa dipertahankan, tak pantas untuk ditangisi.

“Dan kamu membiarkan Dona pergi begitu saja tanpa berusaha mencarinya?” tanya dokter Ilham.

“Aku tak mungkin memaksa seseorang untuk menikah denganku sementara hatinya untuk laki-laki lain,” jawab Remy dengan jelas.

“Padahal kalian menjalin hubungan bukan sebentar, bukan? Bagaimana mungkin kalian kejadian seperti ini?” tanya dokter Ilham tak habis pikir.

“Aku tak pernah menyangka bahwa selama ini dia tidak mencintai aku, Om. Jadi, ya sudahlah. Aku tak bisa memutar waktu untuk mundur lagi, kan?” Remy pasrah.

“Lalu gadis itu?” tanya dokter Ilham merujuk pada Nesia yang masih ada di dalam ruangan.

Remy tersenyum masam.

“Hanya salah satu karyawan yang ada di Martha Hall. Aku mengambilnya hanya untuk mengelabui tamu undangan yang sudah terlanjur hadir,” terang Remy.

 “Tapi sepertinya dia tidak senang dinikahi oleh lelaki setampan dirimu?” tanya dokter Ilham dengan senyum geli.

“Saya juga tak suka menikah dengannya. Hanya saja terpaksa, saya tak punya pilihan,” jawab Remy.

“Ya, aku tahu. Seleramu bukan perempuan seperti itu. Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya dokter Ilham.

Remy mengerutkan keningnya.

“Rencana apa, Om?” tanya Remy spontan.

Dokter Ilham berdecak.

“Ya, rencana apa yang akan kamu lakukan terhadap gadis yang di dalam itu.” Dokter Ilham menjawab.

“Aku terlanjur maju. Aku harus menyiapkan rencana untuk membuat semua tampak alami dan wajar,” jawab Remy.

“Apa maksudmu, Remy?”

 

***

 

Daftar Chapter

Chapter 1: PENOLAKAN MENYAKITKAN

2,412 kata

GRATIS

Chapter 2: PERNIKAHAN DADAKAN

2,455 kata

GRATIS

Chapter 3: ISTRI SAH REMY

2,451 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 4: BERKAS PERJANJIAN

2,364 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!