Chapter 4: BERKAS PERJANJIAN
Sejenak Remy tersenyum mendengar pertanyaan dokter Ilham.
“Mau tak mau, saya harus membawanya pulang ke rumah saya, Om. Untuk menjaga reputasi saya di mata relasi saya dan juga untuk membungkam mulut perempuan itu. Siapa tahu di balik penampilannya yang polos dan sok galak itu dia akan mengumbar berita bahwa dia hanya pengantin pengganti kemudian memerasku,” ujar Remy.
Dokter Ilham tersenyum.
“Kalau dilihat dari anaknya sepertinya dia tidak seperti itu,” ujar dokter Ilham.
“Kita tidak bisa menyimpulkan dengan sembarangan, Om. Karena Dona yang kukenal selama ini juga ternyata tidak bisa ditebak isi hatinya, kan? Apalagi ini yang baru kutemui hari ini. Sepertinya aku tetap harus waspada dengan makhluk berjenis perempuan,” ujar Remy sedikit defensif.
Dokter Ilham hanya tersenyum kemudian menepuk bahu Remy yang jauh lebih tinggi.
“Baiklah. Aku percaya dengan langkah yang akan kamu ambil selanjutnya, Kamu itu persis seperti mendiang papamu, selalu mengambil langkah yang sistematis,” ujar dokter Ilham.
“Kecuali langkahnya saat bertemu dengan ibunya si tengil Lukas itu!” sahut Remy dengan wajah muram tiba-tiba.
“Bagaimanapun, Lukas itu adalah adikmu meski kalian berbeda ibu, Remy. Kalian memiliki darah yang sama,” ujar dokter Ilham dengan bijak.
“Itu pula yang membuat saya hilang respect sama papa saya, Om,” ujar Remy dengan suara rendah.
“Tidak ada manusia yang sempurna, Remy. Setepat apapun papamu dalam merencanakan hidupnya, nyatanya dia masih manusia biasa yang hatinya mudah tersentuh oleh sebuah cinta,” kata dokter Ilham mengenai William, ayah Remy.
Remy terdiam.
“Baiklah. Kalau membawa Nesia pulang ke rumahmu adalah langkah terbaik yang harus kamu ambil saat ini. Tapi pesenku satu, Remy. Perlakukan dengan baik. Bagaimanapun dia juga manusia, terlebih perempuan.” Dokter Ilham memberinya nasihat.
“Om Ilham tak perlu khawatir untuk soal ini. Meskipun aku sama sekali tak mengenal perempuan ini, tapi aku juga tak ingin membuatnya menderita karena terseret dalam masalah saya.” Remy berkata bijak.
Dokter Ilham mengangguk kemudian berlalu meninggalkan Remy setelah suster yang mengurus Nesia tadi selesai dengan pekerjaannya.
“Aku harus kembali bertugas, Remy. Jangan lupa hati-hati,” pesan dokter Ilham dengan senyumnya yang selalu bijak dan menyejukkan.
“Tagihan rumah sakit kirim saja ke email kantor, Om. Saya sedang tidak membawa kartu apapun,” kata Remy dengan senyum malu.
Dokter Ilham tertawa mendengar kejujuran Remy. Dokter Ilham mengenal laki-laki tampan ini semenjak dia kecil, sehingga hafal betul dengan perangai Remy.
“Baiklah. Mungkin akan berlipat ganda,” kelakar dokter Ilham.
“Om nggak perlu khawatir, saya akan tetap membayarnya berapapun lipatannya,: jawab Remy dengan senyum lalu mengangguk dan kembali masuk ke ruang rawat inap Nesia.
Sampai di sana yang dilihatnya adalah Nesia yang sudah lepas dari semua alat medis yang tadi menempel. Namun wajahnya masih terlihat muram dan galak.
“Kita pulang sekarang!” perintah Remy dengan tegas dan wajah yang tanpa ekspresi.
Lukas mengangguk patuh, namun tidak demikian dengan Nesia. Gadis itu menatap Remy dengan tatapan menyalak.
“Kalau saya tidak mau?” tantang Nesia.
Remy tidak bereaksi apalagi menjawab. Dia hanya mengedikkan dagunya ke arah Lukas sebagai kode bahwa Lukas sebaiknya menghandle perempuan keras kepala ini. Lukas mengangguk dan Remy berjalan keluar ruangan, mendahului kedua orang itu. Tak peduli apakah nanti Lukas bisa menangani perempuan ini atau tidak.
Ketika Remy menutup pintu ruangan itu, Lukas mencoba membujuk Nesia untuk mau ikut bersamanya tanpa banyak protes.
“Maaf, Nona. Saya hanya asisten tuan Remy. Jadi saya minta kerjasamanya untuk kali ini agar Anda bersedia ikut dengan kami ke rumah beliau,” pinta Lukas dengan sopan.
“Memangnya mengapa aku harus ikut dengan kalian? Aku punya tujuan untuk pulang meskipun hanya sebuah kontrakan kecil. Setidaknya itu lebih baik karena aku bisa menjadi diriku sendiri,” ujar Nesia galak setelah Lukas mengatakan bujukannya.
“Sekali lagi, maaf, Nona Nesia. Saya jamin Anda tidak akan diperlakukan dengan buruk. Meskipun memang tuan Remy sedikit ketus namun pada dasarnya dia berhati baik. Di rumah beliau, saya akan memberikan draft yang saya yakin tidak akan merugikan Anda yang telah menggantikan nona Dona hari ini,” urai Lukas dengan sabar.
“Saya baru mengenal kalian hari ini. Memangnya aku tak boleh curiga dengan kalian?” tanya Nesia lagi.
Lukas tersenyum penuh pemakluman. Bagaimanapun Nesia benar, dia berhak curiga dengan semua hal mendadak yang dialaminya ini.
“Anda bisa menolaknya nanti jika memang tidak cocok dengan hati nurani Anda,” jawab Lukas lagi.
“Apa jaminan yang bisa dijadikan pegangan jika kalian tidak akan mencelakai saya?” tanya Nesia.
Sejenak Lukas bingung, kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah dompet Lukas ambil, kemudian mengambil sebuah kartu identitas dan memberikannya pada Nesia.
“Ini identitas saya. Resmi dikeluarkan oleh negara. Silahkan Anda pegang jika memang masih belum mempercayai bahwa kami tidak memiliki maksud buruk apapun terhadap Anda,” ujar Lukas sambil memberikan kartu identitas itu pada Nesia.
Dengan ragu Nesia menerima dan membacanya sekilas.
‘Lukas Smith?’ batin Nesia setelah membacanya.
Gadis itu kemudian menyimpan kartu identitas itu di saku bajunya dan mengangguk, mencoba mengabaikan rasa takut dan ragu di hatinya.
“Baiklah. Saya akan ikut dengan kalian. Tetapi kalau kalian melakukan sesuatu yang tidak baik, maka saya saya akan pulang ke kontrakan saya,” kata Nesia kemudian berjalan mendahului Lukas, membuat laki-laki rupawan itu tersenyum sekaligus geli melihat perangai Nesia yang menurutnya unik.
Lukas menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya mengikuti langkah Nesia.
***
“Apakah masih lama, Tuan Lukas?” tanya Nesia di tengah perjalanan ketika setengah jam berkendara namun belum ada tanda-tanda akan tiba di rumah.
Gadis itu mulai menatap Lukas yang menyetir di sebelahnya, sementara Remy memilih untuk duduk tenang di jok tengah mobil mewah itu.
“Sebentar lagi, Nona,” jawab Lukas masih dengan sikap sabarnya yang keterlaluan.
Nesia mendengus sementara perjalanan terus berlanjut.
“Apakah kalian diciptakan untuk tidak merasa lapar?” tanya Nesia kembali menatap Lukas.
Lukas terkejut mendapat pertanyaan seperti itu.
“Mengapa Anda bertanya seperti itu, Nona?” tanya Lukas sembari melirik ke arah Remy yang duduk tenang di belakang mereka tanpa ekspresi.
“Karena saya sudah merasa lapar tapi Anda masih saja berkendara,” kata Nesia dengan sengaja untuk membuat kedua orang itu jengah kemudian menurunkan dirinya di jalan agar dia bisa pulang dengan tenang.
Sejujurnya Lukas ingin tertawa mendengar keluhan tak berkelas seperti ini, sehingga tanpa sengaja dia menatap ke arah Remy yang juga sama terkejutnya dengan dirinya.
‘Gara-gara makanan?’ batin Remy kesal.
“Mungkin kamu perlu menghubungi bu Maryam agar dia menyediakan makanan untuk perempuan ini, Lukas,” uar Remy tiba-tiba.
“Baik, Tuan. Saya sudah menghubungi bu Maryam tadi ketika keluar dari ruangan rawat inap,” jawab Lukas.
Tentu saja untuk ketangkasan bertindak dan berpikir, Lukas tak diragukan lagi. Ada gen ayahnya yang menurun pada Lukas sepertinya. Selalu berpikir dan bersikap praktis dan tepat.
Remy mengangguk.
Tak berapa lama mobil itu memasuki gerbang sebuah rumah besar dengan dindingnya yang dicat warna putih. Rumah tingkat tiga itu terlihat demikian anggun meski dibangun di pinggiran kota. Nesia melihat dengan ekspresi takjub, bahkan ketika mobil itu akhirnya berhenti barulah Nesia tersadar dari pikirannya yang dipenuhi kekaguman.
“Tidakkah kamu ingin turun dan makan? Atau kamu ingin tetap berada di sini seperti orang bodoh begini?” tanya Remy dengan suara datar dan dingin sebelum turun lebih dahulu dari dalam mobil itu.
“Ha? Tak adakah kalimat yang lebih enak didengar?” tanya Nesia.
Namun seperti yang sudah-sudah, Remy tak ingin menjawab apapun. Sementara Lukas bingung harus berbuat apa.
***
Memasuki rumah ini dalam bimbingan Lukas membuat Nesia tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada kemewahan minimalis yang terpampang jelas di rumah ini. Matanya mendongak dan mengedar ke seluruh ruangan dengan rasa takjub yang luar biasa.
“Mari ikut dengan saya, Nona,” ajak Lukas ketika dilihatnya Nesia masih saja terpukau melihat rumah mewah dan elegan milik Remy ini. Sementara si empunya rumah sepertinya sudah menghilang entah kemana. Mungkin sudah di kamarnya.
“Eh, iya. Maaf,” jawab Nesia yang kemudian mengikuti langkah Lukas.
Laki-laki itu membawanya ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Selama menaiki tangganya, mata Nesia mengamati beberapa potret yang terpampang di dinding sisi tangga. Sebagian Nesia mengenalinya sebagai Remy ketika masih muda sepertinya. Meskipun sekarang belum terlihat tua, namun suami bohongannya itu jelas terlihat sedikit dewasa.
Di depan sebuah kamar, Lukas berhenti dan berbalik menatap Nesia.
“Maaf, ini kamar Anda, Nona. Anda bisa mandi dan berganti pakaian yang sudah disediakan oleh bu Maryam. Saya menunggu Anda dalam satu jam. Bukankah Anda lapar?” tanya Lukas dengan santun namun berhasil membuat Nesia malu.
“Tunggu dulu, Tuan Lukas. Mengapa Anda menyebutnya sebagai kamar saya? Bukankah setelah segala urusan ini selesai saya sudah bisa kembali ke kontrakan saya?” tanya Nesia.
Lukas tersenyum lembut.
“Tuan Remy akan mengajak Anda untuk membicarakan hal ini. Tapi saya harap Anda percaya bahwa tuan Remy tidak akan berniat jahat,” jawab Lukas.
“Apakah ini benar-benar bisa dipercaya?” tanya Nesia kembali ragu.
“Bahkan saya sudah menjaminkan diri saya untuk membuat Anda percaya, Nona,” jawab Lukas.
“Ya … ya, baiklah. Terima kasih, Tuan Lukas. Saya akan segera mandi dan keluar untuk makan,” Nesia mengangguk.
“Baik, Nona,” jawab Lukas kemudian undur diri dari depan kamar yang diperuntukkan buat Nesia itu.
Setelah Lukas pergi, dengan ragu-ragu Nesia memegang handle pintu dan memutarnya. Dengan langkah rau dia masuk. Yang pertama dilihatnya kembali membuatnya tercengang. Kamar dengan tampilan sederhana dan minimalis itu jelas berisi perabot yang mahal.
“Sepertinya kamar ini masih baru, belum pernah ditempati,” gumam Nesia dengan suara lirih, mengira dan menaksir mengenai kamar ini.
Nesia melangkah pelan mendekati dan meraba ranjang empuk dengan kain sprei yang lembut dan halus itu. Namun segera dia menarik tangannya karena semua ini jelas bukan miliknya. Jikapun dia bisa menikmatinya, sepertinya hanya untuk sementara karena dia tidak berniat untuk memilikinya. Hidupnya sudah cukup indah hanya dengan menjadi pekerja di Martha Hall, meski hanya karyawan rendahan. Nesia kemudian membuka pintu lemari besar yang ada di salah satu sisinya. Dan dia kembali takjub ketika melihat begitu banyak pakaian tersusun dengan rapi di sana.
“Waw! Secantik apa, sih, yang namanya Dona itu? Sampai-sampai meninggalkan calon suaminya yang memiliki kemewahan seperti ini?” gumam Nesia lagi sambil mengamati baju-baju yang sepertinya tidak ada yang murah itu. Meskipun tadi siang dia sempat melihat poto Dona yang terpajang di sepanjang halaman Martha Hall, namun Nesia hanya melihat sambil lalu saja.
Namun, Nesia tak punya cukup waktu untuk meneliti satu per satu. Toh, itu bukan miliknya. Apalagi ketika perutnya sudah mulai keroncongan. Maka tak ingin pingsan lagi karena kelaparan, Nesia segera mandi.
Tak sampai setengah jam, Nesia membuka pintu kamar itu untuk keluar sebagaimana janjinya pada Lukas beberapa saat tadi. Namun, begitu Nesia membuka pintu, dia terkejut karena Lukas ternyata masih ada di tempatnya semula.
“Tuan Lukas? Anda masih di sini?” tanya Nesia takjub.
Laki-laki rupawan itu tersenyum dan mengangguk.
“Ya, Nona. Saya masih di sini,” jawabnya santun.
Namun, seketika dia terkejut karena Nesia keluar dari kamar itu masih mengenakan baju sederhana yang diberikan untuknya di rumah sakit tadi.
“Tapi … tapi untuk apa Tuan Lukas berada di sini?” tanya Nesia masih tak habis pikir.
“Saya menunggu Anda untuk diajak ke ruang makan. Tuan Remy sudah menunggu di sana,” jawab Lukas.
“Menunggu saya?” tanya Nesia dengan bodohnya.
“Ya. Ada sesuatu yang akan beliau sampaikan kepada Anda. Tapi kalau boleh saya sarankan, sebaiknya Anda berganti pakaian karena baju yang sekarang Anda kenakan itu baju dari rumah sakit. Takutnya tidak steril,” ujar Lukas.
Nesia menatap dirinya sendiri dan tersenyum.
“Sepertinya tak ada yang salah dengan baju ini. Ini baju masih baru dan bersih. Saya rasa masih cukup sopan untuk dikenakan. Lagian saya tidak punya baju, Tuan Lukas. Jadi sebaiknya kita tidak membahas mengenai baju ini. Saya sudah lapar dan ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin dan saya bisa pulang ke kontrakan. Saya sudah lelah,” ujar Nesia.
Lukas tersenyum mendengar bagaimana lugasnya gadis itu ketika mengatakan apa yang ada di kepalanya. Yang menggelikan adalah bahwa dia tidak silau dengan kemewahan yang kini tersuguh di depan matanya.
‘Ataukah ini hanya pura-pura?’ Lukas membatin.
“Tuan Lukas?” panggil Nesia ketika dia melihat Lukas hanya menatapnya.
“Ah, ya. Maaf. Mari … saya akan mengantar Anda ke ruang makan. Tuan Remy sudah menunggu Anda,” ujar Lukas dengan santun.
Nesia mengangguk dan melangkah mengikuti langkah Lukas. Sepanjang perjalanan menuju ke ruang makan yang ada di lantai bawah, dekat dengan ruang dapur yang luas dan elegan itu, Nesia tak henti mengagumi interiornya yang mewah dan elegan luar biasa.
Tiba di ruang makan, Nesia melihat Remy sudah menunggu dengan duduk elegan di bagian ujung meja makan berbentuk oval berbahan marmer itu.
“Silahkan duduk, Nona.” Lukas mempersilahkan.
Nesia hanya mengangguk dan mencoba duduk dengan baik, sebagaimana sikap Remy yang juga duduk dengan elegan. Setelahnya, Lukas memilih duduk di kursi yang sedikit jauh dari posisi Remy dan juga Nesia.
“Saya dengar tadi kamu merasa kelaparan ketika di mobil. Saya rasa kamu bisa memuaskan rasa lapar kamu dengan makan. Silahkan!” Remy mempersilahkan dengan kaku.
Sejujurnya Nesia ingin menolak tawaran Remy yang diucapkan dengan dingin tanpa keramahan itu. Namun suara perutnya yang kembali berkokok membuatnya mengesampingkan gengsinya.
“Anda tidak makan?” tanya Nesia pada Remy.
Laki-laki itu hanya tersenyum mahal dan menggeleng.
“Anda, Tuan Lukas? Tidak ikut makan?” tanya Nesia beralih pada Lukas.
Lukas tersenyum dan menatap Remy sejenak. Kemudian setelah dilihatnya Remy tidak memberikan reaksi apapun, Lukas mengangguk dengan sedikit santai.
“Saya akan menemani Anda untuk makan, Nona. Mari,” ujar Lukas kemudian mengambil piring, demikian juga dengan Nesia.
Kali ini, gadis ini makan dengan sangat lahap. Tentu saja karena sejak tadi pagi dia belum makan sehingga harus merasa malu karena pingsan saat prosesi pernikahan tadi selesai. Untung saja di rumah sakit tadi dia diberi cairan infus sehingga memiliki sedikit kekuatan.
Remy yang sejak tadi memperhatikan cara dan selera makan Nesia mendadak merasa kenyang tanpa makan. ‘Benar-benar tidak menjaga etika,’ batin Remy. Lukas sebenarnya paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Remy, namun dia hanya tersenyum kecil.
Setelah kenyang dan mengakhiri makan malamnya kali ini, Nesia tersenyum puas sambil mengelus perutnya yang sudah terisi.
“Lukas, ambilkan berkasnya,” perintah Remy pada Lukas.
Lukas hanya mengangguk kemudian berdiri untuk mengambil sesuatu. Nesia hanya memandang apa yang Lukas lakukan. Lukas mendekat ke arah Nesia dan menyerahkan map berisi berkas-berkas yang tidak Nesia mengerti.
“Apa ini, Tuan Lukas?” tanya Nesia mendongak pada laki-laki itu.
“Anda bisa membacanya dulu, Nona Nesia. Silahkan,” ujar Lukas dengan sabar kemudian mundur beberapa langkah.
Nesia kemudian membacanya sambil lalu. Sebuah kalimat mengenai pernikahan kontrak membuat Nesia mendongak, menatap Remy yang ternyata sudah berdiri di dekatnya, menyandarkan tubuhnya pada meja makan dengan tangan bersedekap, menebar aura mengintimidasi yang membuat Nesia gentar seketika.
“Apa maksudnya dengan pernikahan kontrak ini, Tuan Remy?”
***
Daftar Chapter
Chapter 1: PENOLAKAN MENYAKITKAN
2,412 kata
Chapter 2: PERNIKAHAN DADAKAN
2,455 kata
Chapter 3: ISTRI SAH REMY
2,451 kata
Chapter 4: BERKAS PERJANJIAN
2,364 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!