')">
Progress Membaca 0%

Chapter 1: The Night That Carried Hye-Jin

Alvianti Purnamasari 27 Apr 2026 1,410 kata
GRATIS

Malam itu, di salah satu sudut Hongdae, kota seakan tidak pernah benar-benar ingin tidur.

Lampu-lampu neon berpendar di sepanjang jalan, musik mengalun dari berbagai arah, bercampur dengan tawa dan langkah kaki yang tak pernah berhenti. Di antara hiruk itu, nama-nama seperti Mike’s Cabin dan Shitzu Club berdiri terang, menarik mereka yang mencari sesuatu—apa pun yang bisa membuat malam terasa lebih panjang.

Di dalam salah satu ruangan yang temaram, Cha Min-Ji duduk dengan tenang.

Gaun merah marun yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan pas, menonjolkan lekuk yang lebih penuh dibandingkan gadis-gadis lain di tempat itu. Rambutnya jatuh rapi di bahu, kulitnya tampak halus seperti porselen di bawah cahaya redup, dan wajahnya—dengan mata kecil yang tajam namun sayu—menyimpan sesuatu yang tidak semua orang bisa baca.

Ia adalah kesayangan Madam Leiya.

Bukan tanpa alasan.

Di antara semua gadis yang berada di bawah naungannya, Min-Ji adalah yang paling dicari—yang paling mahal, dan yang paling sering dibicarakan dengan nada kagum yang setengah berbisik. Namun malam itu, ada sesuatu yang tidak biasa.

“Asapnya mulai menumpuk,” gumam Madam Leiya pelan, menjatuhkan abu rokok ke dalam asbak bening yang kini menghitam oleh sisa-sisa malam sebelumnya. Ia bersandar santai, tapi matanya tidak pernah benar-benar lepas dari Min-Ji, “Sepertinya kamu harus diet, Minji-ya.”

Kalimat itu ringan, tapi jatuhnya tidak pernah benar-benar ringan.

Min-Ji tersenyum tipis—senyum yang terasa dipilih, bukan muncul begitu saja.

“Mm… mungkin. Tapi gaunku masih bisa kupakai.”

Hening sejenak.

Terlalu hening untuk ruangan yang dikelilingi kebisingan.

Tatapan Madam Leiya turun perlahan, mengamati, seolah sedang menyusun sesuatu dalam pikirannya. Cara pandangnya membuat Min-Ji tanpa sadar merapikan rambutnya, menyelipkan beberapa helai ke belakang telinga. Gerakan kecil itu tidak menyembunyikan kegugupannya. Ia merasa… diperhatikan terlalu dalam.

Seolah ada sesuatu yang mulai terlihat.

Langkah Madam Leiya terdengar pelan saat ia mengitari Min-Ji. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Hanya memastikan.

“Apakah—” suara Min-Ji nyaris tertahan di tenggorokan, “—ada yang salah denganku?” Ia tidak pernah merasa sekecil ini sebelumnya.

“Minji-ya…”

Nada itu berubah. Bukan keras. Tapi cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.

“Jangan bilang… kamu sedang hamil?”

Waktu seperti berhenti di satu titik yang sempit.

Jantung Min-Ji seolah terlepas dari tempatnya, jatuh jauh ke dasar yang tak terlihat. Ia mengangkat wajahnya perlahan—pucat, dengan mata yang menyimpan ketakutan yang belum sempat ia beri nama. Ia tidak pernah mengatakan apa pun. Kepada siapa pun. Namun tubuhnya sudah lebih dulu tahu. Mual yang datang setiap pagi, rasa lelah yang tak biasa, dan dua garis merah yang muncul berulang kali pada benda kecil yang ia sembunyikan—semuanya terlalu jelas untuk disangkal.

Satu jam di kamar mandi, dengan tangan gemetar dan napas yang tak pernah benar-benar utuh—dan hasilnya selalu sama.

Ia mengandung.

Entah milik siapa.

Pikirannya berisik, tapi suaranya hilang.

Di tengah ruangan yang redup itu, di antara gemuruh musik yang terus berjalan di luar sana, Cha Min-Ji hanya bisa duduk diam—menahan kenyataan yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi bisa ia sembunyikan.

“Asapnya terasa lebih pahit malam ini.”

Madam Leiya mengembuskan sisa rokoknya perlahan ke langit-langit, membiarkan kepulan tipis itu menghilang di antara cahaya redup yang menggantung rendah. Gerakan itu begitu familiar bagi Cha Min-Ji—tenang di permukaan, namun selalu menjadi tanda bahwa sesuatu yang tidak bisa ditawar akan segera datang. Ia duduk tanpa banyak bergerak, punggungnya tegak, tangan terlipat di pangkuan, mencoba menjaga dirinya tetap utuh di tengah perasaan yang mulai goyah.

“Kalau begitu…” suara Madam Leiya jatuh pelan, seolah tidak ingin mengganggu kesunyian yang baru saja tercipta, “…kamu tidak bisa bekerja lagi di bawah asuhanku.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras, tidak pula dengan kemarahan, namun justru karena itulah ia terasa lebih berat. Seperti sesuatu yang sudah diputuskan jauh sebelum diucapkan. Min-Ji tidak langsung menjawab. Dadanya terasa kosong untuk sesaat, sebelum perlahan dipenuhi oleh sesuatu yang menyesakkan. Ia sudah tahu ini akan terjadi—sejak tubuhnya mulai berubah, sejak pagi-pagi yang dipenuhi rasa mual tak bisa lagi ia abaikan, sejak dua garis merah itu muncul berulang kali tanpa memberi ruang untuk penyangkalan. Ia tahu. Namun mengetahui tidak pernah benar-benar membuatnya siap.

Matanya mulai berkaca-kaca, meski ia berusaha menahannya. Ujung jemarinya saling bersentuhan, gemetar halus tanpa ia sadari, seolah tubuhnya lebih jujur daripada dirinya sendiri. Di dalam kepalanya, bayangan-bayangan itu datang bersamaan—wajah ibunya yang semakin pucat di atas ranjang sempit, napas yang terdengar berat dan tidak teratur, serta bayangan ayahnya yang pulang dengan langkah goyah dan bau alkohol yang tak pernah benar-benar hilang dari pakaian maupun suaranya. Semua itu menumpuk sekaligus, membuat pundaknya terasa lebih berat dari sebelumnya.

“Madam…” suaranya keluar perlahan, nyaris pecah di tengah jalan, “beri aku satu kesempatan lagi…” Ia menelan ludah, mencoba menahan getar yang terus merambat di tenggorokannya. “Aku… bisa melenyapkan bayi ini…”

Tangannya bergerak tanpa sadar, menahan bagian bawah perutnya—tempat yang kini terasa berbeda, sedikit lebih padat, sedikit lebih nyata dari yang ingin ia akui. Kata-kata itu menggantung di udara, terasa asing bahkan di telinganya sendiri. Ia tidak tahu apakah ia sedang memohon atau justru menyerahkan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami. Hening yang mengikuti terasa lebih panjang dari seharusnya. Madam Leiya mengangkat alisnya sedikit, menatap Min-Ji dengan cara yang tidak menunjukkan keterkejutan, juga tidak sepenuhnya tanpa emosi—sebuah tatapan yang lebih mirip penilaian yang sudah selesai dilakukan.

“Peraturan tetap peraturan, bukan?” ucapnya akhirnya, tenang seperti biasa. “Kamu tahu itu, Minji-ya.”

Dan memang, Min-Ji tahu. Ia tahu lebih dari siapa pun di ruangan itu. Setiap pagi, pil yang harus diminum pada jam yang sama tanpa boleh terlewat. Setiap pelanggan, batas yang tidak boleh dilanggar, aturan yang harus dijaga tanpa pengecualian. Setiap minggu, pemeriksaan yang memastikan tubuh mereka tetap berada dalam kondisi yang “aman”. Pakaian, perhiasan, riasan—semuanya disediakan dengan standar yang sama. Segalanya diatur, disusun, dijaga agar tetap sempurna. Dan dalam sistem yang rapi itu, kesalahan tidak pernah diberi tempat.

Namun Min-Ji tetap melakukannya.

Hanya satu hari.

Satu kelalaian kecil yang kini tumbuh menjadi sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali.

“Jangan menambahkan dosa-dosaku, Minji-ya,” lanjut Madam Leiya pelan, suaranya masih tenang, namun kali ini membawa beban yang lebih dalam. “Biarkan dia hidup seperti kehendak-Nya.”

Asap rokok kembali diembuskan, meninggalkan aroma cengkeh dan kayu manis yang tipis, bercampur dengan sentuhan mentol yang samar. Udara di ruangan itu terasa semakin berat, semakin sulit dihirup dengan lega.

Min-Ji menelan ludahnya perlahan, berusaha menenangkan napasnya yang mulai tidak teratur.

“Sudah kau periksakan?”

Ia menggeleng, tanpa berani mengangkat wajah. Bahkan untuk memastikan pun, ia tidak memiliki keberanian. Seolah selama ia tidak melihatnya secara langsung, semuanya masih bisa dianggap belum benar-benar terjadi.

“Periksalah,” kata Madam Leiya, singkat. “Lihat apakah dia berkembang dengan baik.”

Kata dia terasa terlalu jelas, terlalu dekat, terlalu hidup.

Ruangan kecil itu mendadak terasa menyempit, seolah dinding-dindingnya bergerak perlahan mendekat. Min-Ji menarik napas, namun tidak pernah terasa cukup.

“Kurang uangnya, Minji-ya?”

“Tidak… bukan begitu…” jawabnya cepat, meski suaranya tetap gemetar.

“Lantas?”

Pertanyaan itu sederhana, namun tidak memberi ruang untuk bersembunyi. Min-Ji terdiam cukup lama, sebelum akhirnya suara itu keluar juga—pelan, nyaris tak terdengar.

“Aku… tidak menginginkannya…”

Hening kembali jatuh, kali ini lebih dalam. Rokok di tangan Madam Leiya dimatikan perlahan, ditekan ke dasar asbak hingga tidak ada lagi sisa asap yang tersisa. Min-Ji menunduk lebih dalam, terlalu takut untuk bertemu dengan tatapan yang kini ia rasakan tanpa perlu melihat. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan—kenyataan yang sedang ia hadapi, atau pengakuan yang baru saja ia ucapkan. Ia tidak menginginkan bayi itu. Bayi yang bahkan tidak ia ketahui siapa ayahnya. Bayi yang datang tanpa ia rencanakan, tanpa ia pahami, tanpa ia minta.

“Minji-ya,” suara Madam Leiya kembali terdengar, kini lebih tegak, lebih pasti, “aku tidak ingin berdebat.” Ia meluruskan punggungnya, sikapnya berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa diganggu, “Selama kamu masih berada di bawah kontrakku, aku tidak akan membiarkan nyawamu diperlakukan seperti barang murahan.” Kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebih, namun justru karena itulah ia terasa begitu tegas.

“Periksalah. Besok.”

“Tapi aku tidak mau, Madam…” suara Min-Ji melemah, hampir hilang, “tolong… aku tidak mau anak ini…”

“Minji-ya.”

Nada itu naik sedikit—tidak keras, namun cukup untuk menghentikan segala penolakan yang tersisa.

Sunyi kembali mengisi ruangan.

“Anak itu bahkan bukan kehendakmu,” ucap Madam Leiya, menatapnya lurus tanpa berkedip. “Dan apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu pantas untuk menghilangkan nyawanya?”

Kata-kata itu tidak menghantam dengan suara keras.

Namun ia jatuh tepat di tempat yang paling dalam.

Di antara temaram yang tidak pernah benar-benar hangat, Cha Min-Ji hanya bisa duduk diam—terjebak di antara hidup yang tidak ia pilih, dan kehidupan baru yang tumbuh di dalam dirinya, yang kehadirannya belum mampu ia terima… namun tidak lagi bisa ia tolak.

Chapter Sebelumnya
Chapter 1 dari 2
Chapter Selanjutnya

Daftar Chapter

Chapter 1: The Night That Carried Hye-Jin

1,410 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 2: Before Hye-Jin Had a Name

1,531 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!