')">
Progress Membaca 0%

Chapter 2: Before Hye-Jin Had a Name

Alvianti Purnamasari 27 Apr 2026 1,531 kata
GRATIS

Cha Min-Ji tidak tahu, apakah ia harus merasa diselamatkan—atau justru kehilangan sesuatu yang selama ini, tanpa ia sadari, telah menjadi satu-satunya tempatnya bertahan.

Ketika Madam Leiya menyuruh seseorang mengemas barang-barangnya dan memindahkannya dari ruang belakang Shitzu Club, Min-Ji hanya berdiri diam. Tangannya menggenggam ujung tas dengan erat, sementara matanya menyusuri sudut-sudut ruangan yang telah ia tinggali selama bertahun-tahun—tempat yang menyimpan terlalu banyak cerita untuk dilupakan begitu saja. Telinganya mungkin sudah terbiasa dengan keluhan, dengan suara-suara yang datang dan pergi tanpa benar-benar tinggal. Tubuhnya mungkin sudah kebal terhadap lelah yang terus berulang, terhadap sentuhan-sentuhan yang tak pernah ia pilih sendiri. Namun di balik semua itu, ada ruang kecil di dalam hatinya yang selalu dipenuhi rasa syukur—karena di tempat itulah, untuk pertama kalinya, ia tidak benar-benar sendirian. 

Ia masih ingat hari ketika semuanya bermula.

Saat itu, ia hanyalah seorang gadis muda dengan pakaian kusam dan mata yang terlalu lelah untuk seusianya. Rambutnya panjang, lurus, jatuh tanpa banyak perawatan, namun tetap indah dengan caranya sendiri. Ia berdiri di depan sebuah klinik kecil, dua blok dari kawasan Hongdae, menggenggam sisa uang yang ia miliki untuk membawa ibunya berobat. 

Usianya belum genap dua puluh.

Usia di mana orang lain mungkin sedang duduk di bangku kuliah, memikirkan masa depan dengan cara yang lebih ringan. Sementara ia—duduk berjam-jam di pabrik garmen, menunduk sampai tengkuknya terasa kaku, hanya untuk memastikan hari esok masih bisa dijalani. 

Di sanalah Madam Leiya pertama kali menghampirinya. 

Awalnya, Min-Ji mengira itu hanya percakapan singkat yang tidak berarti. Basa-basi yang akan hilang begitu saja. Namun tawaran itu datang—pelan, sederhana, seolah tidak membawa beban apa pun. 

Pekerjaan yang mudah, katanya. 

Jika ia mau

Min-Ji tidak berpikir panjang. Bukan karena berani, tetapi karena hidupnya tidak pernah memberinya pilihan. Hidup yang ia jalani tidak memberi ruang untuk menunggu sesuatu yang lebih baik datang. Dan bagaimana jika sesuatu yang disebut “baik” itu ternyata datang bersama sesuatu yang jauh lebih gelap? 

Jadi, ia mengangguk. 

Sejak hari itu, ia menjadi bagian dari Shitzu Club. 

Dan tanpa ia sadari, perlahan berubah menjadi sesuatu yang berharga—bukan sebagai dirinya, melainkan sebagai apa yang bisa ia berikan. Ia menjadi yang paling mahal, yang paling dicari. Delapan pelanggan tetap yang datang dengan harga tinggi, dengan nama-nama yang tidak pernah benar-benar ia ingat, hanya wajah dan kebiasaan yang tertinggal samar. Madam Leiya sering tersenyum melihatnya—senyum puas yang tidak pernah sepenuhnya bisa Min-Ji pahami. Namun di balik semua itu, ada kebaikan yang tidak pernah ia sangkal.

Madam Leiya membayar pengobatan ibunya; memberi lebih dari yang seharusnya. 

Dan untuk itu, Min-Ji diam. 

Selalu diam. 

Ia menitipkan ibunya pada sepupunya, Cha Eun-Ji, membiarkan keluarganya percaya bahwa ia hanya bekerja keras di tempat yang tidak pernah ia ceritakan. Mereka hanya tahu satu hal—Min-Ji menghasilkan uang. Cukup untuk membuat ibunya tetap hidup, dan ayahnya tetap tenggelam dalam kebiasaan lamanya. 

Dan kini, semuanya harus ia tinggalkan. 

“Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, Minji-ya.” Suara Madam Leiya terdengar saat mereka tiba di sebuah bangunan tua di kawasan Sangsu-dong, tidak jauh dari hiruk Hongdae. Tempat itu sederhana—bahkan nyaris tidak layak disebut rumah. Dindingnya kusam, catnya mengelupas di beberapa bagian, lampunya redup seperti enggan benar-benar menyala. 

Satu kamar utama. 

Satu kamar mandi kecil. 

Dapur sempit yang menyatu dengan ruang yang bahkan tidak cukup luas untuk disebut ruang keluarga. Namun untuk saat ini, itu cukup. Atau setidaknya, harus cukup. 

“Madam… apakah aku benar-benar tidak punya kesempatan lagi?”

Min-Ji berdiri di tengah ruangan dengan barang-barang yang belum sempat ia rapikan. Suaranya terdengar lelah, lebih dari sekadar kelelahan fisik. Ada sesuatu yang runtuh di dalamnya, perlahan, tanpa suara. Madam Leiya menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan, seolah sudah mempertimbangkan jawaban itu jauh sebelum pertanyaan diajukan.

“Aku akan carikan pembeli tetap untukmu.”

Min-Ji mengangkat wajahnya, bingung. 

“Madam?” 

Ia pernah mendengar cerita itu—tentang beberapa gadis yang akhirnya “dibeli”, tentang kehidupan baru yang tampak lebih tenang dari luar. Tentang kemungkinan menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar bagian dari malam. Namun cerita-cerita itu selalu terdengar jauh. 

Hampir seperti milik orang lain. 

“Besok kita ke rumah sakit,” lanjut Madam Leiya, suaranya kembali datar, seolah semua sudah diatur. “Istirahatlah hari ini. Kamu pasti lelah, Minji-ya.” 

Min-Ji tidak menjawab. 

Ia hanya berdiri di sana, di antara dinding yang asing dan udara yang belum ia kenal, sambil menahan sesuatu yang tidak lagi bisa ia beri nama. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak tahu ke mana harus kembali.

 

Pagi itu datang terlalu cepat bagi Cha Min-Ji. 

Ia berangkat bersama Madam Leiya dan seorang pria yang jarang bicara—Nam Jonghyuk—yang duduk di balik kemudi dengan sikap tegap dan tenang. Dari Sangsu-dong, mobil meluncur menyusuri jalanan yang masih menyimpan sisa dingin malam, melewati deretan kafe yang belum sepenuhnya hidup, menyeberangi arus Sungai Han melalui jembatan yang dipenuhi kendaraan pagi hari. Lalu lintas mulai padat menjelang pukul delapan—lampu merah terasa lebih lama, deru mesin saling bertaut, namun Jonghyuk tetap mengemudi halus, seolah kebisingan kota tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Min-Ji hanya memandang keluar jendela, membiarkan gedung-gedung tinggi di Banpo-dong mendekat perlahan, seperti sesuatu yang tak bisa ia hindari. 

Bangunan St. Mary’s Hospital berdiri megah, dengan fasad kaca dan batu terang yang memantulkan cahaya pagi. Di dalam, lobi luas terasa bersih dan tenang—lantai marmer mengilap, aroma antiseptik bercampur wangi lembut yang menenangkan, serta suara langkah kaki dan panggilan nomor antrean yang tertata rapi. Meja pendaftaran berada di sisi kanan, staf dengan seragam rapi menyambut pasien dengan senyum profesional. Prosesnya cepat—lembar identitas, formulir singkat, lalu nomor antrean yang mengarah ke poli obstetri dan ginekologi di lantai atas. Lift bergerak naik dengan hening, membawa mereka ke lorong putih panjang dengan kursi-kursi tunggu yang tersusun teratur, dipenuhi pasangan yang duduk berdampingan dalam diam yang berbeda dari miliknya. 

Ruang tunggu itu terasa seperti tempat yang akan menghakiminya. Min-Ji duduk bersandar, jemarinya menggenggam lembaran yang dititipkan Madam Leiya tanpa benar-benar membacanya. Kepalanya penuh—tentang ibunya, tentang hidup yang mungkin runtuh, tentang bayi yang bahkan belum ia terima. Madam Leiya sempat menghilang sebentar, lalu kembali dengan sebotol teh oolong yang disodorkan tanpa kata. Min-Ji menerimanya dengan ragu, menunduk, mencoba menahan segala kemungkinan yang berputar tanpa akhir. Hingga namanya dipanggil. Madam Leiya berdiri lebih dulu, dan Min-Ji hanya mengikuti, seperti biasa. 

Ruang obgyn itu luas namun tidak berlebihan. Dinding putih bersih dengan sentuhan warna hangat, meja kerja tertata rapi dengan berkas medis, dan di sisi lain terdapat ranjang pemeriksaan serta mesin ultrasonografi yang menyala lembut. Di sana berdiri Song Ju-Min—kepala rumah sakit yang baru menjabat dua tahun terakhir. Sosoknya tinggi, dengan pembawaan tenang dan wibawa yang tidak memaksa. Senyumnya hangat, seperti sesuatu yang bisa dipercaya, sementara tatapannya dalam—tidak menghakimi, namun seolah mampu melihat lebih dari yang ditunjukkan. 

“Baik, dengan Nyonya Minji?” suaranya rendah, namun lembut dan ramah, “Ini kali pertama kontrol di sini?” Senyumnya mengembang ringan. Min-Ji dan Madam Leiya mengangguk. 

“Saya Song Ju-Min, senang bertemu Anda. Nyonya Minji yang mana?” 

Min-Ji menunduk, dan Madam Leiya menunjuknya. 

“Oh, dan Anda?”

“Ibu, saya ibunya.” 

Min-Ji tidak menambahkan apa pun. Ia hanya menunduk lebih dalam, menahan diri dari segala kemungkinan yang bisa muncul jika ia membuka suara. Seorang suster masuk membawa map, membuka berkas, dan suara kertas bergesekan terdengar jelas di antara hening. 

“Apakah ini kehamilan pertama?” tanya Song Ju-Min, tetap dengan nada yang sama hangatnya. “Ada keluhan? Mual, muntah, flek, atau kram perut?” 

Min-Ji tidak menjawab. 

“Kami ingin tahu usia kandungannya dan kondisi bayinya,” sela Madam Leiya dengan suara halus namun dingin. 

Pemeriksaan pun dimulai. Min-Ji diminta berbaring, perutnya diolesi gel dingin sebelum probe ultrasonografi ditempelkan perlahan. Layar di samping mereka menampilkan bayangan hitam-putih yang samar, lalu perlahan membentuk sesuatu yang hidup. Song Ju-Min mengamati dengan saksama, menggerakkan alat dengan hati-hati untuk memastikan posisi janin. 

“Terlihat kantung gestasi dengan embrio yang berkembang,” ujarnya pelan, menunjuk area kecil di layar. 

Ia kemudian mengaktifkan mode doppler, dan suara detak jantung terdengar—cepat, ritmis, memenuhi ruangan dengan kehidupan yang tak bisa disangkal. “Detak jantung janin sekitar 160 bpm, dalam batas normal,” lanjutnya. Ia mengukur crown-rump length untuk memperkirakan usia kehamilan. “Sekitar delapan minggu,” katanya, menatap hasil di monitor. “Sejauh ini, tidak terlihat tanda kelainan. Perkembangannya baik, posisi janin juga sesuai.” 

Ia membersihkan sisa gel dengan tisu, lalu menoleh kembali dengan senyum yang sama. “Mungkin saya akan resepkan vitamin prenatal—asam folat, zat besi—dan obat untuk mengurangi mual. Jika ada keluhan seperti perdarahan atau nyeri hebat, segera datang kembali.” Tatapannya beralih sejenak pada Madam Leiya. 

“Mohon dibantu ya—”

“Leiya,” ucapnya, menyebut nama itu dengan nada tipis yang tak sepenuhnya netral.

“Nyonya Leiya,” jawabnya singkat. 

Beberapa detik sebelum mereka menerima berkas dan resep, Min-Ji merasakan tatapan itu—bukan tajam, bukan juga menekan, tapi cukup untuk membuatnya tidak berani mengangkat wajah. Ia hanya sempat melihat sekilas, dan itu sudah terasa terlalu lama. Seolah jika ia menatap lebih jauh, ia akan tenggelam dalam sesuatu yang tidak ia mengerti. 

Ia menunduk kembali. 

Di luar sana, pasangan-pasangan duduk berdampingan, menunggu dengan harapan yang utuh. Sementara dirinya—hanya merasa seperti sesuatu yang tersisa, dibawa masuk ke ruang yang tidak pernah ia bayangkan akan ia datangi.
 

Chapter Sebelumnya
Chapter 2 dari 2
Chapter Selanjutnya

Daftar Chapter

Chapter 1: The Night That Carried Hye-Jin

1,410 kata

GRATIS

Chapter 2: Before Hye-Jin Had a Name

1,531 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!