Chapter 1: Kebencian
Praktik kerja lapangan atau biasa dikenal dengan istilah PKL , tidaklah asing lagi bagi siswa SMK khususnya kelas 11 yang kini sudah memasuki semester 3, kegiatan rutin yang selalu dilakukan oleh SMK Halife pada semester tersebut. Seluruh siswa akan mendapatkan tempat PKL dari wali kelasnya masing-masing, semua siswa sangat antusias, termasuk Lala dan Lili, mereka berdua sangat ingin sekali mendapatkan tempat PKL seperti di perusahaan media cetak tetapi sekolah mereka hanya memiih satu perusahaan media cetak saja. Hal ini membuat Lala dan Lili menjadi pesimis karena perusahaan tersebut hanya menerima satu orang saja untuk PKL di sana.
Semua wali kelas mulai memasuki kelas sambil membawa lembaran kertas yang nantinya akan disampaikan tentang pembagian tempat PKL. Nama Lala pun disebutkan, dia ditetapkan PKL di Perusahaan Yaranews, perusahaan media cetak yang sangat dia inginkan.
“Wah! Lala, beruntung sekali kamu, kenapa bukan aku ya?” bisik Lili yang masih tidak menyangka bahwa nama Lala disebutkan bukan nama dirinya, padahal dia sudah menanti-nantikan hal ini. Walaupun dia sudah lama bersahabat dengan Lala, tetapi dia masih saja tidak bisa menahan sifat irinya terhadap Lala.
‘Om Tedi gimana sih? Masa Lala, sih? Jahat banget sama keponakan sendiri,’ batin Lili.
“Maaf ya, Li.” Lala menjadi tidak enak dengan Lili, secara dia tahu bahwa perusahaan tersebut adalah perusahaan saudaranya Lili.
“Ah, tidak masalah,” ucap Lili dan dia berusaha tersenyum di depan Lala.
Lala merasa lega mendengar hal yang telah diutarakan oleh Lili barusan. “Makasih ya, Li. Nanti aku traktir, deh.”
“Ah, kamu tahu aja.”
Sementara itu karyawan di perusahaan Yaranews telah dihebohkan dengan berita bahwa akan ada siswa PKL di perusahaan mereka.
“Siswa PKL? Kamu gak salah, Vir?” Tanya Era dengan wajah kaget setelah mendengar informasi yang diutarakan oleh Vira, yang merupakan rekan kerjanya.
“Kenapa? Ada yang salah dengan siswa PKL, Ra?”
“Eng-enggak, sih. Cuma aku heran saja, perusahaan kita belum pernah, loh. Makanya aku kaget.”
“Mungkin bos lagi berbaik hati. Sudahlah, tidak perlu kamu ambil pusing,” ucap Vira dan berlalu pergi meninggalkan Era yang masih berpikir keras tentang hal itu.
‘Apa bos tidak takut, ya?’ batin Era.
Prang! Prang! Terdengar sebanyak dua kali, suara piring jatuh, tepat suara itu terdengar dari ruangan Pak Tedi, Era dengan rasa penasarannya yang sangat besar, dia memutuskan untuk mendekati ruangan atasannya itu.
Setelah semakin dekat, mulailah terdengar pertengkaran antara Pak Tedi dengan kakaknya di dalam sana yang membuat Era kaget akan hal itu.
“Kau tidak bisa begitu, dong!”
“Gak bisa begitu bagaimana, Kak?” Pak Tedi masih menahan emosinya, terdengar dari ucapannya yang tidak meninggi sama sekali.
“Kenapa orang lain yang kamu masukkan untuk PKL di sini?! Kenapa bukan Lili?! Sama keponakan sendiri aja begitu! Paman yang pilih kasih!”
“Pilih kasih bagaimana?! Apa orang di luar sana tidak akan curiga nantinya jika aku masukkan Lili untuk PKL di sini?!”
“Kamu lihat cctv ini,” ucap Pak Tedi yang membuat Era gemetar.
Deg!
‘Gawat,’ batin Era.
Mendengar hal tersebut, Era ingin langsung pergi dari sana, tetapi Pak Tedi dan kakaknya sudah menghadang dirinya.
“Apa kamu mendengar semuanya?”
“Maaf, Pak. Saya barusan mencari sesuatu yang hilang.”
“Kamu ikut saya,” Dara, kakaknya Pak Tedi dengan sangat emosi menyeret paksa Era untuk ikut bersamanya.
“Kamu urus dia! Aku tidak ingin ada kehebohan di sini!” teriak Pak Tedi yang membuat seluruh karyawan menjadi kaget mendengar hal tersebut.
Pak Tedi dan Bu Dara sangat tidak ingin karyawannya berlaku tidak sopan seperti hal yang dilakukan Era barusan. Seluruh karyawan lama sangat paham dengan kondisi di perusahaan ini, semoga anak PKL itu bisa lebih berhati-hati.
“Sepertinya Era membuat masalah besar. Rasa keingintahuan dia terlalu berlebihan. Seharusnya dia lebih tahu tentang bagaimana perusahaan ini, jelas dia lebih lama daripada yang lain. Kenapa malah memancing emosi yang membuat boomerang sendiri untuk dirinya?” Vira geleng-geleng kepala melihat tingkah Era.
“Sudahlah, Vir. Dia memang selalu begitu, baru kena batunya dia.”
“Yura, jangan begitu. Walaupun begitu dia juga teman kita.”
“Teman sih teman, tapi dia susah menerima saran dari kita.”
Kehebohan dengan tingkah Era, Vira merasa kasihan dan dia ingin sekali membantu Era tetapi sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang dia tidak tahu bagaimana nasib Era. Dia tahu betul jika Ibu Dara sudah emosi, habis sudah riwayat Era, bisa-bisa dia dikeluarkan dari perusahaan dan namanya akan menjadi jelek setelah di pecat dari perusahaan ini.
Tiga puluh menit telah berlalu, Era kembali ke ruangannya, semua mulai menanyai dirinya dan jawabannya hanya satu kalimat saja yaitu, ‘aku baik-baik saja’.
“Aku baik-baik saja.” Kalimat itu kembali diulangi oleh Era setelah beberapa pertanyaan dilontarkan oleh Vira kepadanya.
Vira merasakan kejanggalan, dia masih tidak percaya bahwa Era baik-baik saja. “Kamu serius? Kamu baik-baik saja? Sepulang kerja kamu ceritakan padaku.”
“Aku serius, dua rius malah,” Era tersenyum lebar.
“Aku rasa kamu tidak baik-baik saja.”
Tidak tahu kenapa Vira masih bersikeras bahwa sesuatu telah terjadi pada Era. “Aku baik-baik saja, aku baik-baik saja, Vira. Kamu tidak perlu khawatir. Jika terjadi sesuatu aku akan ceritakan padamu. Serius, aku baik-baik saja.”
Setelah kehebohan di perusahaan Yaranews, Lala tiba-tiba merasakan kegaduhan di hatinya, dia merasa tidak sabar ingin merasakan PKL di perusahaan yang telah ditunggu-tunggu olehnya sejak lama. Dia berharap akan mendapatkan banyak pengalaman menyenangkan di sana.
‘Kamu sekarang boleh bersenang-senang, La. Aku akan pastikan itu tidak akan belangsung lama, lihatlah nanti, semua itu akan lenyap begitu saja.’ Masih tidak bisa menerima dengan ikhlas, Lili diam-diam menyimpan dendam pada Lala, persahabatan tidak ada artinya lagi sekarang, dia beranggapan Lala membuat dirinya tidak bisa PKL di sana, dia merasa semuanya tidak adil terhadap dirinya.
Lala yang masih menganggap Lili sebagai sahabatnya, dia tidak sampai berpikiran bahwa Lili akan menyimpan dendam padanya karena perkara hal ini.
Mereka pun mengambil pesanan mereka dan setelah itu Lili mengeluarkan uangnya lalu membayar makanan yang telah mereka pesan.
“Lili, kamu baik sekali deh, padahal aku yang mau traktir kamu, tapi kenapa jadi kamu yang traktir aku?”
“Tidak apa-apa, anggap saja kita merayakan kebahagian kita berdua, kamu keberhasilan kamu yang bisa PKL di tempat kesukaanmu.”
“Makasih, Li.”
“Sama-sama.” Dengan senyuman meyakinkan, membuat Lala tidak merasakan kebencian pada diri Lili.
Lala tidak merasakan kebencian sama sekali, Lili sangat pintar sekali mengatur emosinya di depan Lala, agar dia tidak ketahuan memendam dendam pada Lala, dia benar-benar berusaha agar Lala tidak menyadari hal tersebut.
Daftar Chapter
Chapter 1: Kebencian
1,090 kata
Chapter 2: Memasuki Dunia PKL Tring!
1,137 kata
Chapter 3: Penasaran
1,116 kata
Chapter 4: Kehebohan
1,072 kata
Chapter 5: Kepikiran
1,113 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!