Chapter 2: Memasuki Dunia PKL Tring!
Selamat malam, kami dari Perusahaan Yaranews mengucapkan selamat atas terpilihnya anda untuk magang di perusahaan kami. Kami tunggu kehadirannya besok pada pukul 7 pagi, setiap pagi seluruh karyawan dan siswa magang akan melakukan apel terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan.
Terima kasih.
Sebuah pesan yang sangat tak terduga, Lala tidak menyangka bahwa dia bisa mendapatkan pesan tersebut.
“Dari Yaranews?”
Kriiing! Kriiing!
Percakapan melalui telepon telah terhubung.
“Halo, Li.”
“Lala! Bagaimana? Kamu sudah mendapat pesannya?”
“Pesan apa yang kamu maksud, Li?”
“Pesan dari Yaranews.”
“Sudah, Li! Kamu tahu?”
“Jelas, dong. Tentunya aku tahu.”
“Oh, iya, aku lupa. Awalnya aku sedikit ragu dengan pesan itu, tapi sekarang aku lega, ternyata pesan itu benaran dari Yaranews.”
“Kenapa ragu?”
“Ya, aneh saja. Menurutku sangat janggal.”
“Selalu ragu dan berpikiran negatif itu tidak baik, loh.”
“Aku tahu itu, aku memang salah, tidak seharusnya aku berprasangka buruk.”
“Ya sudah, aku hanya ingin menyampaikan itu saja, aku takut kamu berpikir yang bukan-bukan. Aku tutup teleponnya ya, bye, Lala.”
“Bye, Li.”
Tut! Tut!
Panggilan telah diakhiri.
Keesokan harinya, pukul 06.20 Lala sudah siap untuk berangkat magang.
“Bu, Lala pergi dulu, ya,” Lala menyalami ibunya terlebih dahulu lalu membawa bekal yang telah disiapkan oleh ibunya dan dia berlalu pergi.
40 menit telah berlalu, Lala pun sampai di Perusahaan Yaranews. Perusahaan tersebut terlihat begitu sepi, belum ada satu karyawan pun yang datang, kantor itu masih dalam keadaan terkunci. Lala kembali melihat jam di tangannya dan dia merasakan keanehan, waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 tetapi belum ada satu orang pun yang datang. Apa mungkin orang yang mengirimi pesan tersebut telah membohongi dirinya?
Lala terus menunggu sampai tiba seseorang menghampiri dirinya, kurang lebih 40 menit dia menunggu sampai adanya orang yang datang. Yang tak lain adalah Vira.
“Dek Lala, ya?”
“Iya, Kak.”
“Kamu datang jam berapa?”
“Jam 7, Kak,” Lala tersenyum.
“Pagi sekali. Kita masuk jam 8, Dek.”
“Tapi saya ada mendapatkan pesan kemarin, Kak. Di pesan tersebut saya diminta hadir jam 7, Kak.”
‘Sepertinya,’ batin Vira.
“Ya sudah, kita masuk dulu saja, Dek.”
Dengan kebingungan, Lala pun mengikuti Vira masuk ke dalam kantor.
“Duduk dulu, Dek, sambil kita menunggu yang lain,” ucap Vira lalu tersenyum.
Lala pun duduk menuruti perintah Vira.
“Kamu dari SMK mana, Dek?”
“SMK Halife, Kak.”
“Kamu kenal dengan Lili, dong?”
“Iya, kenal, Kak.”
Vira mengangguk paham.
“Eh, ada anak magang, ya?” ucap Tristan yang baru saja datang dan langsung menghampiri mereka berdua.
“Tidak biasanya kamu datang sepagi ini, Tan.”
“Kenapa? Heran ya?”
“Hm, tumben banget.”
“Aku dapat berita yang bagus pagi ini, mau segera aku tulis,” Tristan tersenyum bahagia dan berlalu pergi menuju meja kerjanya.
“Dia Tristan, salah satu jurnalis di sini,” Vira menjelaskan.
“Oh,” Lala mengangguk paham.
“Nanti kamu temui bos dulu, ya. Soalnya kemarin aku dapat pesan bahwa kamu disuruh temui bos terlebih dahulu.”
“Baik, Kak. Terima kasih ya, Kak.”
“Ternyata dia yang membuat kehebohan kemarin itu?” bisik Yura kepada Era.
“Iya, dialah yang membuat pertengkaran heboh kemarin itu, Yur.”
“Kalian lagi gossip apa, sih?” Tristan tiba-tiba ingin ikut nimbrung dengan hal yang sedang dibahas oleh Yura dan Era.
“Jangan mau tahu, deh. Urusi saja beritamu yang belum kelar kamu ketik itu, Tan. Jangan urusi kami,” celah Yura.
Tidak mau ambil pusing dengan menanggapi ucapan Yura yang tak akan ada habisnya jika terus ditanggapi, Tristan pun memilih mengalah dan melanjutkan pekerjaannya.
“Haha, pergi juga dia setelah mendengar ocehanmu itu, Yur. Siapa sih yang tahan dengar ocehanmu itu?”
“Kamu nih, jangan begitu, Ra. Aku ini ‘kan Yura yang baik dan tidak sombong, tidak suka menggosip lagi.”
“Tadi apaan ya kalau bukan menggosip?”
“Era, tolonglah, kali ini saja berpihak padaku.”
“Haha, minta tolong sama Vira saja.”
“Diam-diam, bos datang,” bisik Yura.
Mobil Pak Tedi mulai memasuki parkiran, berhubung meja kerja Yura dekat jendela jadi dia bisa dengan mudah mengetahui jika atasannya telah tiba di kantor.
Popi mendekati Lala dengan membawa lembaran kertas. “Anak magang, ya? Belum ada tugas, kan? Ketik ini semua ya,” Popi menyodorkan lembaran kertas tersebut kepada Lala.
“Walaupun dia anak magang, tetapi kamu tidak bisa seenaknya begitu, Pop,” Vira tidak terima dengan perlakuan Popi yang seenaknya terhadap Lala.
“Tidak apa, Kak.”
“Dengar itu dia bilang tidak apa, kok.”
“Tapi—“ ucapan Vira tiba-tiba terpotong.
“Ada apa ini ribut-ribut?!” Pak Tedi sangat marah melihat kehebohan tersebut.
Semua karyawan seketika terdiam.
“Lala ya? Ikut ke ruangan saya dan kamu juga Vira,” Mereka berdua mengikuti Pak Tedi memasuki ruangannya.
“Vira, kamu saya berikan kewenangan untuk mengajar dan memberikan tugas untuk Lala ya.”
“Baik, Pak.”
“Selamat bergabung dan semoga mendapatkan banyak pengalaman di sini ya.”
“Iya, terima kasih, Pak.”
“Baik, itu saja dan kalian bisa keluar.”
Mereka berdua pun keluar dari ruangan Pak Tedi.
“La, kamu bantu aku mengetik ini saja ya. Setelah itu baru aku ajarkan yang lain,” Vira memberikan lembaran kertas kepada Lala.
“Kamu boleh suruh-suruh dia, kenapa aku tidak boleh?” Popi tidak terima akan hal itu.
“Ini perintah langsung dari Pak Tedi.”
Popi mendengar hal tersebut seketika terdiam.
“Tidak apa, Kak. Sekalian aku ketik saja, Kak.”
“Nah, gitu dong,” Popi sangat senang mendengar hal yang dilontarkan oleh Lala.
“Bagaimana kamu mengetik sebanyak ini? Apa kamu sanggup?”
“Tidak apa, Kak. Aku akan berusaha menyelesaikannya.”
“Ya sudah, kamu ambil dus di gudang belakang saja ya untuk meletakkan semua berkas ini.”
“Baik, Kak. Sebelah mana gudangnya, Kak?”
“Dari sini kamu lurus saja, setelah itu belok ke sebelah kiri.”
“Baik, Kak. Makasih ya, Kak.”
“Sama-sama.”
Lala berlalu pergi ke gudang sesuai dengan petunjuk Vira dan dia mulai mencari dus kosong di sana.
Sebuah kardus kosong terlihat di atas sana dan dia pun ingin menjangkau kardus tersebut tetapi sayangnya dia kesulitan menggapainya karena ketinggian, alhasil dia pun berhasil menggapai dus yang masih berisi berkas lama dan tumpukan berkas lama itu berhamburan, dia pun berinisiatif untuk membereskannya tetapi dia melihat sesuatu berita yang membuatnya sangat tertarik untuk membaca kembali berita tersebut. Lembaran Koran itu diambil dan dibaca olehnya dan membuatnya terkaget akan hal itu. Dia membaca perlahan kalimat demi kalimat, berita yang sempat heboh beberapa tahun yang lalu yang sampai sekarang belum ditemukan kepastian jelasnya dan berita tersebut tidak kedengaran lagi kelanjutannya.
Daftar Chapter
Chapter 1: Kebencian
1,090 kata
Chapter 2: Memasuki Dunia PKL Tring!
1,137 kata
Chapter 3: Penasaran
1,116 kata
Chapter 4: Kehebohan
1,072 kata
Chapter 5: Kepikiran
1,113 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!