')">
Progress Membaca 0%

Chapter 5: Kepikiran

Nitaosh94 15 Aug 2025 1,113 kata
GRATIS

Sejak kejadian malam itu, setelah mendengar jawaban yang belum tuntas dari Vira membuat Era semakin kepikiran, dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi pada Vira yang belum terbuka juga pada dirinya.

Vira yang baru saja datang pun dihentikan langkahnya oleh Era yang masih tidak bisa menghilangkan rasa penasarannya itu. 

“Ada apa, Ra?”

“Aku—“  Belum saja Era melanjutkan perkataannya, tetapi sudah dipotong duluan oleh Vira.

“Apa soal kemarin? Jika kamu ingin membahas soal kemarin, maaf, mungkin lain waktu saja, Ra.”

“Kenapa? Ada apa?”

Vira hanya menggeleng dan berlalu pergi.

Tuk! Tuk! Tuk!

Lala memainkan pena-nya sambil memikirkan hal yang telah dia lihat kemarin. Kejadian yang sangat tidak dipercaya olehnya. Dia melamun dan kembali mengingat kejadian tadi malam yang benar-benar sulit untuk dilupakannya.

“Hiks, hiks. Ini benar-benar tidak adil.” Gadis itu pergi begitu saja, meninggalkan beberapa lembar koran disana. 

Setelah gadis itu pergi, Lala melihat koran yang ditinggalkan di sana, dia menjadi begitu kaget saat membaca isi koran tersebut. Di sana tertulis bahwa ‘seorang guru bernama Halvin rela membocorkan kunci jawaban UAS ke salah satu murid demi uang’ dan membuat Lala mengerutkan keningnya. “Apa ada yang salah dengan koran ini?” Yang mengagetkan lagi, di sana tertulis jelas nama perusahaan Yaranews.

Yaranews? Ada apa dengan koran terbitan Yaranews? Apa ada kesalahan yang telah terjadi? Hari pertama PKL bukanlah hal yang mudah bagi Lala, suatu kejadian demi kejadian telah disaksikan.

“Kak! Tunggu sebentar!” Lala mengejar gadis tersebut dan mulai menanyakan hal yang mengganggu pikirannya itu. Gadis itu tidak merasa bahwa dirinya dipanggil dan dia terus melanjutkan perjalanannya. 

Akhirnya Lala pun berhasil mengejarnya dan dia pun menoleh setelah Lala menepuk pundaknya.

“Maaf, bukan aku bermaksud lancang padamu, tetapi aku hanya ingin menanyakan hubungan dirimu dengan koran ini apa? Apa yang membuat kamu sampai menangis begini? Sekali lagi, aku minta maaf ya telah lancang menanyakan hal ini tetapi aku sekarang sedang PKL di sana, siapa tahu ada yang bisa aku bantu.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu mengeluarkan selembar kertas dan ditulisnya-lah kertas tersebut serta diberikannya kembali pada Lala.

“Apa ini?”

“Buka saja dan nanti kamu akan mengetahuinya.” Kali ini gadis itu kembali mengeluarkan suaranya.

“Tetapi jangan di sini,” lanjut gadis itu.

Tambah membuat Lala bingung dan penasaran.

“La!” Panggilan dari Yura seketika membuat Lala tersadarkan dari lamunannya itu.

“Iya, Kak?”

“Ada apa, La? Kenapa kertas ini penuh dengan coretan?” Lala tidak sadar ternyata sedari tadi dia telah mencoret semua kertas yang ada di mejanya.

“Maaf, Kak.”

“Kamu ada masalah?”

“Apa kakak tahu tentang kasus seorang guru yang bernama Halvin?”

“Tidak tahu. Memangnya kenapa? Kamu kenal dengan dia?”

Lala menggeleng. “Tidak, Kak.”

Vira yang mendengar hal tersebut pun datang mendekati Lala. “Ada apa, La? Bawa tugasmu  itu dan lanjutkan di ruanganku, La.”

“Kak Vira?”

Vira tersenyum.

Lala mengikuti Vira ke ruangannya dan mereka berdua kembali membahas tentang hal yang ditanyakan oleh Lala kepada Yura barusan.

“Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu, La?”

“Aku hanya penasaran saja, Kak.”

“Kamu tidak penasaran kenapa aku tiba-tiba menghilang?”

“Ya, kenapa, Kak?”

Baru dua hari Lala PKL di sana, tetapi dia sudah begitu akrab dengan Vira.

“Aku juga sedang mencaritahu tentang hal ini, yang mungkin orang-orang lama sudah pasti tahu.”

“Maksudnya, Kak? Aku kurang paham dengan pernyataan kakak barusan.”

“Aku sedang mencari tahu tentang kebenaran akan berita guru Halvin, sama seperti dirimu.”

“Serius, Kak?”

“Benar, aku serius.”

“Apa alasannya, Kak?”

“Kalau itu kamu tidak perlu tahu.”

“Jawab dulu pertanyaanku sebelumnya, La.”

“Aku kepikiran tentang hal itu setelah aku bertemu dengan gadis bernama Nada.”

“Nada anak dari Halvin?”

“Anaknya? Kakak tahu akan hal itu?”

“Ya, aku tahu.”

Lala kembali menyodorkan selembar kertas pada Vira. “Aku diberikan surat itu dari Nada, kemarin, Kak.”

“Surat dari Nada? Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak mungkin, Kak?”

“Setahu aku dia telah meninggal dunia, satu minggu yang lalu.”

“Apa?” Betapa kagetnya Lala setelah mendengar kenyataan itu.

“Apa orang itu hanya mengaku-ngaku saja?” lanjut Lala.

“Bisa jadi kamu telah ditipu.”

“Tetapi dia sangat begitu meyakinkan, Kak. Bagaimana mungkin dia menipuku?”

“Nanti kita cari tahu kebenarannya lebih lanjut, La.”

“Kalian sedang bahas apa?” Arga tiba-tiba datang ke ruangan Vira dan mengagetkan mereka berdua yang sedang membicarakan hal yang sangat serius.

“Tidak ada,” Lala dan Vira serentak menjawab hal yang sama.

“Jangan coba-coba untuk mencari tahu lebih lanjut tentang kasus Halvin karena tidak akan ada gunanya, malahan waktu kalian akan terbuang sia-sia, tidak akan ada hasilnya, malahan membuang waktu kalian begitu saja tanpa hasil yang diperoleh.”

Vira dan Lala hanya mengangguk.

Arga memutuskan untuk kembali ke ruangannya.

“Aku tahu apa yang sedang kalian cari.”

Arga telah mengetahuinya, dia telah mendengar semuanya, sebelum menyapa Vira dan Lala, dia telah mendengar semua yang mereka bicarakan.

Ada apa dengan Halvin? Kenapa semua ini ingin ditutupi? Kenapa mereka sangat penasaran? Apakah penyebab Vira dan Arga menjadi begini?

“Halvin? Aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi.”

Satu tahun yang lalu, Halvin sangat giat mengajar para murid, tetapi setelah isu yang tidak mengenakkan itu terjadi, membuat dia terjatuh, sesuatu dirasakan tidak adil.

“Apa Halvin masih berusaha untuk membebaskan diri dengan memanfaatkan orang lain?”

Mereka bertiga masih fokus dengan pikirannya masing-masing, masih memikirkan kasus satu tahun yang lalu. 

Halvin mempunyai anak bernama Nada, satu-satunya putrinya, Nada yang sangat frustasi akan penangkapan ayahnya satu tahun yang lalu yang masih sangat membekas, yang sudah tak tertahan lagi, dia benar-benar tidak terima dengan kebohongan ini, dia menganggap bahwa Yaranews telah memanipulasi ini semua, dia sangat tidak terima, ayahnya dipenjara karena isi dari koran tersebut, isi yang memunculkan perkara yang sangat tidak diinginkan.

Enam bulan setelah itu, membuat Nada tidak tahan lagi, dia pun mendatangi Yaranews dan meminta klarifikasi dari perusahaan tersebut, tetapi tidak ditanggapi sama sekali, semua ini benar-benar membuat Nada sangat muak, tetapi dia masih terus berusaha untuk mendapatkan kebenaran, dia berharap kebenaran akan terbuka lagi, di dunia ini terasa begitu tidak adil, seringkali Nada merasakan demikian.

Nada melangkah terus ke depan, dia berjalan menuju jembatan, menutup kedua matanya sejenak lalu membukanya, melihat ke atas dan kembali menutup kedua matanya.

Byurrr!

Sesuatu telah terjatuh, terdengar dari bawah jembatan, tempat dia berpijak saat ini. 

Tolong! Tolong! Tolong! Tolong! 

Ada yang tenggelam!

Chapter Sebelumnya
Chapter 5 dari 5
Chapter Selanjutnya

Daftar Chapter

Chapter 1: Kebencian

1,090 kata

GRATIS

Chapter 2: Memasuki Dunia PKL Tring!

1,137 kata

GRATIS

Chapter 3: Penasaran

1,116 kata

GRATIS

Chapter 4: Kehebohan

1,072 kata

GRATIS

Chapter 5: Kepikiran

1,113 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!