Chapter 4: Kehebohan
Siapa sangka hal yang tidak terduga bisa terjadi begitu saja? Ditengah kehebohan membuat khawatir semua orang, setelah dihampiri ke tempat kejadian, semuanya itu berubah seolah tidak sedang terjadi apapun dan di sana sama sekali tidak ditemukan keberadaan Vira.
“Ah, Vira membuat kehebohan.”
“Gue kira ada apa tadi, habis sudah waktu gue.”
“Seketika bikin heboh dan orangnya tiba-tiba menghilang.”
“Hei, kalau gak senang, tolong menyingkirlah, kerjaannya menghakimi orang saja.”
“Kalian jangan begitu, dong. Siapa tahu tadi ada yang mengagetkan dia.”
“Bagaimana dengan Vira sekarang ya? Aku jadi penasaran dengan keberadaannya.”
Berbagai perdebatan mulai terdengar, pro dan kontra akan hal itu.
‘Ke mana perginya Kak Vira?’ Hal itu pun mengusik pikiran Lala.
Pada hari ini, 8 Oktober 2019, bertepatan hari pertama Lala PKL di Yaranews, berbagai keanehan telah terlihat, suasana di perusahaan media cetak ini seketika mencekam. Waktu terus berputar, hingga sore ini belum juga terlihat keberadaan Vira, apa dia benar-benar menghilang?
Sebelum pulang ke rumah mereka masing-masing, Arga mengumpulkan mereka semua di ruangannya dan muncul banyak pertanyaan yang menyerang dirinya.
“Kenapa lo kumpulkan kita di sini?”
“Mau ngapain kita dikumpulkan di sini, Ga?”
“Ada masalah apa? Kenapa aku ikut keseret juga?”
“Cepatan, Ga. Jangan bertele-tele.”
“Iya, nih. Gua mau pulang.”
Arga hanya bisa tersenyum mendengar berbagai pertanyaan yang sudah dia pastikan akan mendengar hal itu.
“Apa kakak-kakak di sini berkumpul untuk mencari keberadaan Kak Vira?”
Seketika menjadi hening setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Lala.
“Kita akan mencari Kak Vira ‘kan, Kak?”
“Tidak! Kenapa juga kita harus repot-repot mencarinya? Sangat mudah ditebak, si Vira pasti lagi bersantai di rumahnya,” Celetu Arga.
Lala hanya bisa berdiam diri mendengar jawaban yang keluar dari mulut Arga, mau membantah pun akan terkesan tidak sopan, lagipula hari ini merupakan hari pertama dia PKL di sana, jadi tidak mungkin untuknya berulah.
“Kamu tega benar, Ga,” celetu Era.
“Diam saja kamu, Ra! Kamu tidak lebih baik dari aku!”
“Sudahlah! Hentikan perdebatan ini! Aku sudah muak dengan ini semua, jika tidak ada yang ingin disampaikan lagi, lebih baik aku pulang saja,” Tristan mulai mengoceh.
“Kenapa jadi lo yang emosi?!”
“Sudah! Hentikan perdebatan ini! Cepat, katakan saja apa mau-mu, Ga.”
“Baik, jadi begini, aku mau kita semua yang berada di sini bisa menjaga rahasia ini.”
“Rahasia tentang kehilangan Vira?”
“Betul, Tasa. Walaupun kita belum tahu pasti dia menghilang atapun bukan.”
“Kenapa haru dirahasiakan?”
“Kenapa hal begitu kamu tanyakan, Keke?”
Keke menutup mulutnya dan memilih untuk diam, dia sangat malam beradu mulut dengan Arga karena dia tahu betul bahwa Arga tidak akan mengalah.
“Kita harus merahasiakan ini, jangan sampai kedengaran perusahaan sebelah, bisa-bisa mereka memanfaatkan berita ini dengan mengambil untung. Ingat, jangan ceritakan kepada siapapun.”
Semua disana mengangguk menandakan kesetujuan mereka dengan pernyataan yang telah dilontarkan oleh Arga. Seluruh karyawan di sana hanya bisa diam dan tidak bisa memberontak, sepertinya rasa solidaritas mereka sudah berkurang, rasa empati pun sudah hilang.
Lala tidak bisa berkata-kata lagi setelah melihat ini semua, kenapa tidak ada yang menentang pernyataan barusan? Lala berharap tidak ada terjadi sesuatu pada Vira, dia merasa hanya Vira-lah yang baik terhadapnya, makanya dia tidak tega jika tidak ada satu pun orang yang peduli dan malah ingin menyembunyi hal ini dari semua orang tanpa mencari solusi terbaik untuk menemukan keberadaan Vira jika memang benar terjadi sesuatu pada dia.
‘Lebih baik menyelamatkan diri sendiri daripada orang lain’ apa hal itu yang terus tertanamkan di pikiran mereka? Apa keegoisan menyelimuti mereka? Semua ini sangat tidak disangka, tetapi ada sisi lain pada diri Era yang tidak diketahui, dia memilih untuk mencari keberadaan Vira tanpa sepengetahuan yang lain, dia merasakan kejanggalan, dia merasa tidak patut egois, mengingat Vira adalah orang sangat baik terhadap dirinya, dia yang sangat peduli dengan siapapun, dia selalu perhatian, di saat Era mengalami masalah, disitu dia hadir untuk mencarikan solusi terbaik, dia adalah teman yang patut ditolong, maka betapa jahatnya Era jika tidak ingin mencari lebih dalam lagi tentang keberaan Vira, orang yang selalu ada untuk dirinya disaat senang maupun susah, orang yang sangat sulit ditemui di mana pun.
Era terus mencari dan mencari keberadaan Vira, Lala mengetahui ketulusan pada diri Era, dia mengetahui dari sekian banyak orang yang tidak ingin berurusan dengan pencarian keberadaan Vira di sana Era ada untuk berusaha menemukan Vira.
Era, tidak biasanya dia begitu, dia termasuk orang yang egonya sangat tinggi, tetapi egonya bisa diturun olehnya dengan dia melihat bagaimana cara orang itu bersikap terhadapnya, jika orang itu baik maka dia juga akan baik dan sebaliknya jika orang itu jahat maka dia akan jahat pula, itulah prinsip Era.
Lala sangat ingin bersama-sama dengan Era membantu mencari keberadaan Vira, tetapi dia sadar Era pasti akan menolak bantuan darinya maka dia diam-diam mencari Vira di tempat lain.
“Hiks, hiks.” Suara tangis seseorang terdengar.
Jeritan kesedihan, begitu sakit rasanya, sesuatu telah diketahui, membuat orang itu tidak sanggup lagi menahan tangisnya. “Ternyata, aku sangat tidak menduga ini semua, semua ini begitu kejam, tidak ada yang bisa dipercaya lagi, semua mulai berhianat, semua hanya memanfaatkan segalanya.” Air mata bercucuran, tidak bisa menahan tangis lagi, dia berusaha kuat dan tegar menghadapi ini semua, dia mulai bertekad untuk menyelesaikan semua ini, berusaha mencari berbagai bukti, berusaha untuk mengungkapkannya.
“Semua ini harus diungkapkan, tidak bisa dibiarkan berlarut-larut begitu saja, ini benar-benar tidak adil.”
Malam hari yang begitu menyiksa, kenyataan yang diterima begitu sulit, sesuatu benar-benar tidak disangka, sesuatu harus ditegakkan. Mari bangkit lagi, selesaikan ini semua.
Orang itu menghapus air matanya dan kembali berdiri tegak, mulai melangkahkan kedua kalinya, berjalan terus ke depan.
“Vira!” Era berpapasan denga Vira di perempatan jalan yang tidak jauh dari rumahnya.
“Syukurlah kamu baik-baik saja,” Era merasa lega akan hal itu.
Vira tersenyum kepada Era. “Terima kasih, ternyata masih ada orang baik di dunia ini, ternyata aku tidak sendirian, ternyata masih ada kamu yang menemaniku, terima kasih, Era. Terima kasih banyak.”
“Sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi? Kamu kenapa tiba-tiba menghilang? Kemana saja kamu? Aku khawatir sekali, tetapi aku lega sekarang ternyata kamu baik-baik saja.”
“Sebenarnya—“ Vira mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sebenarnya.
“Sebenarnya apa?”
“Belum waktunya.” Vira tersenyum lalu berlalu pergi meninggalkan Era yang masih mencerna perkataannya barusan.
Daftar Chapter
Chapter 1: Kebencian
1,090 kata
Chapter 2: Memasuki Dunia PKL Tring!
1,137 kata
Chapter 3: Penasaran
1,116 kata
Chapter 4: Kehebohan
1,072 kata
Chapter 5: Kepikiran
1,113 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!