Chapter 5: LELAKI ITU
Pagi itu kamar kos Aruna berantakan setengah mati. Baju-baju berserakan di kasur, koper terbuka lebar di lantai, dan suara plastik jajanan kresek-kresek di samping kopernya.
Dewi duduk santai di lantai, melipat kaus Aruna sembarangan lalu melemparkannya ke koper.
“Na, sumpah ya, packing lo tuh kayak orang lari dari kejaran debt collector. Nggak ada seninya.” celetuh Dewi.
Aruna yang sedang jongkok sambil mengelap rak kecil mendelik. “Daripada lo, tadi aja mau masukin sepatu ke koper. Untung gue lihat.” Aruna mendelik kecil, jongkol sambil mengelap rak tempat biasanya dia menaruh makanan.
“Buat variasi. Biar keluarga lo kaget pas buka koper.” jawab Dewi cengengesan.
“Gue cuma dua hari doang, Wi. Jadi bawa seperlunya aja. koper yang seblah buat bawa oleh-oleh.” lalu tangannya menunjuk plastik besar berisi keripik, kue kering, dan beberapa bungkus kopi instan favorit bapaknya.
“Berbakti banget, anak mama... Minta ya?! ” tanpa persetujuan Dewi membuka satu bungkus keripik, menggoda.
“Eh jangan dibuka! Itu buat rumah,” seru Aruna cepat.
“Cuma coba satu, kok. Buat quality control. Kan takut basi di jalan.”
Aruna merampas bungkus keripik itu, memasukkannya lagi ke plastik. “Lo bikin ribet aja, sumpah.”
Dewi tertawa puas, lalu merebahkan diri ke kasur yang sudah setengah kosong. “Jam berapa kereta lo?”
“Jam satu siang.”
“Masih lama. Ngapain, dari pagi udah ribet kayak gini. Orang berangkatnya masih lima jam lagi.”
Aruna menaruh koper di sudut kamar, lalu mulai menyapu lantai. “Gue nggak mau pulang ninggalin kamar berantakan. Ntar balik-balik jadi sarang tikus.”
"Kan lumayan, tikusnya bisa buat bakso,"
Aruna langsung melempar bantal ke arah Dewi, membuat sahabatnya terpingkal-pingkal. Mulut Dewi emang sembarangan nyerocos.
Matahari mulai naik, sinarnya menembus tirai tipis kamar kos. Kamar itu kini lebih rapi, koper sudah siap. Aruna duduk di kursi belajar, menatap sekeliling kamar, memastikan semuanya bersih dan tidak ada yang tertinggal.
Dewi ikut diam sebentar, lalu menoleh. “Na, lo kelihatan nggak tenang, deh. Pulang tuh harusnya seneng, kan? Keluarga nungguin.”
Aruna tersenyum tipis, tapi tak menjawab. Jemarinya sibuk merapikan kertas catatan di meja.
Jam terus berjalan, mendekati siang. Mereka berdua masih di tempat itu, kini selonjoran di ranjang kecil Aruna. Sama-sama main HP, kadang berdebat kecil masalah tik tok yang lagi fyp. Kadang juga tertawa bersamaan melihat vidio lucu yang kebetulan melintas di layar.
Akhirnya ketika sudah mendekati tengah hari, Aruna berdiri, menepuk-nepuk tangannya. “Oke, kayaknya udah siap semua.”
Dewi ikut bangkit. “Ayo. Gue anterin sampe stasiun. Biar nggak drama nyeret koper sendirian.” katanya lalu kembali ke kamarnya sendiri, mengambil motor dan tas.
“Makasih, Wi. Nggak tahu deh gimana hidup gue kalau nggak ada lo.” Aruna tersenyum ketika menaikkan koper ke boncengan motor Dewi, dan dia duduk di belakang, memangku kopernya.
“Tenang, kalau nggak ada gue, hidup lo pasti lebih rapi.” tukas Dewi mnjalankan motornya keluar kosan.
**
Stasiun siang itu cukup ramai. Suara pengumuman bersahut-sahutan dari pengeras suara, bercampur dengan derit roda koper para penumpang yang lalu lalang.
Aruna menarik kopernya ke dekat kursi panjang yang menghadap rel. Jam tangannya baru menunjukkan pukul 11.20. Masih ada waktu lebih dari satu jam sebelum keretanya tiba.
“Na, gue pulang dulu, ya. Cowok gue katanya mau dateng, hati-hati di jalan. Jangan banyak bengong.”
Aruna mengangguk sambil memeluk sebentar sahabatnya itu. “Thanks, Wi. Ntar gue awa oleh-oleh buat lo...”
Dewi tertawa, lalu bergegas keluar area peron.
Kini tinggal Aruna sendiri.
Dia duduk di kursi besi panjang, koper tegak di sampingnya seolah menjadi teman setia. Matanya menatap ke arah rel, ke seberang, ke orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing.
Biasanya, momen seperti ini selalu membawa perasaan hangat, membayangkan rumah, ibu, bapak, aroma dapur, bahkan jalan desa yang sepi. Ada rindu yang membuncah.
Tapi kali ini berbeda. Ada gelisah yang menempel di dadanya. Sesuatu yang samar, tak bisa dia beri nama.
Aruna meremas botol minum di tangannya, mencoba mengusir resah yang tak jelas arah.
Beberapa menit berlalu, suara kereta datang-pergi terdengar dari jalur lain. Orang-orang di sekitarnya terus berganti. Hingga tiba-tiba, dari sudut mata, dia melihat seseorang mendekat.
Seorang laki-laki muda. Badannya tinggi, tegap, rapi dengan kaus polos dan jaket tipis. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, meski jelas masih lebih muda darinya, mungkin baru awal kuliah atau bahkan akhir SMA.
Ia berhenti di samping kursi Aruna, menunduk sedikit. “Permisi, boleh duduk?” suaranya terdengar sopan, namun cukup jelas di tengah riuh stasiun.
Aruna sempat tertegun, menoleh cepat. Jarak yang tadi lapang di kursi panjang itu kini terancam menyempit.
Dengan sedikit ragu, dia menggeser pantatnya. “Iya, silakan.”
Laki-laki itu tersenyum singkat, lalu duduk. Aroma sabun yang segar terbawa angin setiap kali dia bergerak.
Aruna melirik sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ke arah rel lagi.
Daftar Chapter
Chapter 1: Tama Pratama
865 kata
Chapter 2: Aruna Janitra
905 kata
Chapter 3: Dosen Aneh
693 kata
Chapter 4: Alasan Keluarga
735 kata
Chapter 5: LELAKI ITU
750 kata
Chapter 6: Vian
1,041 kata
Chapter 7: PULANG
951 kata
Chapter 8: JODOH DADAKAN
1,277 kata
Chapter 9: TAK SEPENDAPAT
1,093 kata
Chapter 10: DI ABAIKAN
1,336 kata
Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin
1,436 kata
Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli
1,017 kata
Chapter 13: KECELAKAAN
1,520 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!