Chapter 6: Vian
Laki-laki itu duduk di sampingnya, tas ranselnya dia letakkan rapi di samping kakinya. Suasana sejenak hening, hanya terdengar riuh samar suara orang-orang di ruang tunggu stasiun. Sampai akhirnya, pria itu membuka suara.
“Kereta jam berapa, Mbak?” tanyanya sopan, menoleh sekilas ke arah Aruna.
Aruna butuh sepersekian detik untuk sadar bahwa pertanyaan itu ditujukan padanya. “Jam satu,” jawabnya singkat.
Pria itu mengangguk pelan. “Sama berarti. Saya juga jam satu.”
Aruna tetap menatap lurus ke depan, pura-pura fokus pada layar informasi keberangkatan di atas sana. Tapi ujung matanya menangkap gerak bibir pria itu yang melengkung menjadi senyum kecil.
“Sendirian?” tanyanya lagi.
Aruna melirik sebentar, menimbang apakah harus menjawab. “Iya,” ujarnya singkat.
“Saya juga,” sahutnya cepat. Namun buru-buru ia tambahkan penjelasan, “Sebenarnya sama keluarga, tapi yang lain pada naik pesawat. Saya pilih kereta aja, lebih santai dan aman.”
Katanya ringan, berusaha mencairkan suasana. Aruna sempat menahan senyum, lalu akhirnya menanggapi dengan anggukan tipis. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menutup percakapan itu, seperti biasanya dia lakukan pada orang asing. Tapi entah mengapa, keramahan pria itu terasa tulus, membuatnya enggan benar-benar memalingkan diri.
“Tujuannya mana, Mbak? Kalau saya mau ke Semarang.” tanyanya lagi, kali ini sambil merogoh ranselnya. Dari dalam dia mengeluarkan dua botol kopi kemasan, masih tersegel. Satu di antaranya dia sodorkan pada Aruna.
“Silakan, Mbak. Kebetulan saya punya dua.”
Refleks Aruna mengangkat tangan, berniat menolak. “Nggak usah, Mas, terima kasih.”
Namun tatapan bersungguh-sungguh pria itu membuatnya sulit menolak untuk kedua kali. Dengan ragu, dia akhirnya menerima botol itu. “Saya juga ke Semarang kok, Mas,” ucapnya kemudian, setengah terpaksa tapi berusaha sopan.
Mata pria itu berbinar. “Wah.. sama kita!” serunya riang, “Oh iya, nama saya Vian, Mbak.”
Dia menyodorkan tangan dengan semangat. Aruna sempat tertegun, tapi kemudian menyambutnya hangat, meski sedikit canggung.
“Aruna,” ucapnya singkat.
Vian mengangguk puas, senyumnya lebar. “Cocok banget sama orangnya.”
Aruna terkekeh kecil, meski matanya tetap lurus menatap ke depan. “Bisa aja, Mas.”
“Bukan bisa aja, beneran.” Vian membuka botol kopinya sendiri, meneguk sedikit, lalu menyandarkan punggung ke kursi tunggu. “Hmm, tinggal gerbongnya aja nih, berapa. Kalau sama, wah... jodoh kita, Mbak,” katanya bercanda.
“Saya eksekutif dua, Mas,” jawab Aruna sambil ikut memutar tutup botol yang baru saja dia terima. “Saya minum ya?”
“Silakan. Saya kayaknya juga eksekutif dua, deh.” Vian buru-buru merogoh HP-nya, membuka aplikasi kereta api. Dia menatap layar sebentar, lalu menunjukkannya ke Aruna. “Ini, kursi saya. 8B.”
Aruna mendekat sedikit, membaca cepat layar itu. “Saya di sebelahnya, Mas. 8A.”
“Waduh!” Vian spontan menegakkan badan, matanya membesar lalu tertawa kecil. Senyum sumringah tidak bisa disembunyikan. “Ya jelas jodoh berarti kita." katanya, "Panggil Runa aja ya mbak.."
Aruna di sebelah nyengir, mengangguk kecil.
Percakapan mereka terhenti ketika suara pengeras stasiun mengumumkan kedatangan kereta tujuan Semarang. Aruna menegakkan tubuhnya, matanya menatap rel yang mulai bergetar pelan. Dari kejauhan, gerbong putih panjang itu mendekat, derit besinya kian jelas, disertai tiupan peluit petugas.
“Kereta kita,” gumam Vian, bangkit berdiri. Ia melirik koper Aruna yang berdiri manis di samping kursi. “Saya bawain Run. Biar gampang.”
Aruna refleks menolak. “Nggak usah, Mas. Bisa sendiri.”
“Nggak papa, biar aku ada kerjaan dikit. Kalau nggak, aku kayak bodyguard tanpa tugas,” sahut Vian cepat, menunduk mengambil gagang koper itu tanpa menunggu jawaban.
Aruna hanya bisa mengembus napas, pasrah. “Ya sudah,”
Mereka berjalan beriringan, Aruna di depan, Vian setengah langkah di belakang, mendorong koper itu dengan santai. Sesekali Aruna menoleh, dan setiap kali aia melihat Vian tersenyum ringan.
Di pintu masuk gerbong eksekutif dua, Vian menunjuk. Mereka berdua masuk bersama. Bau khas pendingin ruangan bercampur aroma kursi kulit baru menyambut mereka. Suara roda koper beradu dengan lantai gerbong. Beberapa penumpang lain sudah duduk, sebagian sibuk menyimpan barang ke rak atas.
Vian langsung mengarahkan koper Aruna ke kursi dekat jendela. Menaruh koper di rak atas tanpa diminta, membuat Aruna hanya bisa menghela napas kecil, antara sungkan dan entah, ada semacam nyaman.
Aruna duduk di kursinya, menaruh botol kopi di meja lipat kecil di depan. Vian duduk persis di sampingnya, masih dengan senyum yang entah kenapa belum hilang sejak tadi.
“Nyaman juga ya keretanya,” komentar Vian, menyandarkan punggung dan melirik sebentar ke arah Aruna.
Aruna mengangguk pelan. “Iya, lebih tenang daripada naik bus.”
Suasana sempat hening beberapa menit, hanya suara roda kereta di rel dan pengumuman petugas yang terdengar. Vian tidak tampak canggung, malah santai saja membuka tablet kecilnya, sedang Aruna menatap keluar jendela, menyaksikan sawah hijau yang berganti cepat.
Namun lama-lama, Vian kembali membuka percakapan. “Sering ke Semarang, Run?” tanyanya dengan akrab.
Aruna menoleh sekilas. “Sering, rumah orang tua disana.”
“Oh…” Vian mengangguk mengerti. “Kalau aku, ada urusan keluarga. Abangku mau lamaran,"
Aruna tersenyum tipis. “Masnya banyak ngomong, ya?”
Vian terkekeh. “Biar nggak ngantuk.”
Obrolan mereka mengalir ringan. Dari film favorit, makanan kesukaan, sampai cerita lucu sewaktu naik kereta pertama kali. Sesekali Aruna hanya menanggapi dengan senyum atau anggukan, tapi Vian tampak tidak keberatan. Dia seperti cukup menikmati menjadi pihak yang lebih banyak bercerita, sementara Aruna menjadi pendengar yang tenang.
Beberapa jam berlalu, suasana di gerbong semakin hening. Banyak penumpang terlelap. Aruna pun tanpa sadar ikut memejamkan mata, kepalanya miring ke jendela. Vian yang masih terjaga sempat melirik, bahkan dengan sigap menyiapkan pundaknya ketika tidur runa berpindah dari kiti ke kanan.
Ketika Aruna terbangun, kereta sudah hampir memasuki stasiun tujuan. Dia sempat kaget melihat posisi tidurna yang mendekapp Vian dari samping.
"Maaf mas," seruya langsung tegak.
"Nggak papa..." Dengan santainya dia menyahut.
Aruna mendesah kecil, tapi akhirnya tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Beberapa menit kemudian, suara pengeras mengumumkan kereta segera tiba di Semarang. Penumpang mulai bersiap, mengambil barang-barang dari rak. Vian berdiri, menurunkan koper Aruna.
“Siap, Run. Aku bawain lagi ya,” katanya mantap
Aruna hanya bisa mengangguk, meski hatinya separuh ingin menolak. Mereka berjalan keluar gerbong bersama, langkah mengikuti arus orang-orang. Suara riuh, derap kaki, dan aroma khas stasiun langsung menyergap begitu pintu terbuka.
Di pintu keluar, Aruna tiba-tiba berhenti. Seorang lelaki agak gendut melambaikan tangan padanya, sambil memanggil. Aruna buru-buru melangkah ke arahnya.
“Ponakanku mas,” ucapnya singkat ke arah Vian.
Vian sempat ingin berkata sesuatu, tapi arus penumpang makin deras. Aruna sudah ditarik oleh saudaranya, koper pun berpindah tangan. Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di balik kerumunan.
Vian berdiri terpaku, masih memegang botol kopi kosong di tangannya. Dia menghela napas, senyum tipis tersungging di wajahnya. “Memang cuma jodoh di kursi kereta,” gumamnya, sebelum akhirnya ikut menghilang ditelan ramainya stasiun.
Daftar Chapter
Chapter 1: Tama Pratama
865 kata
Chapter 2: Aruna Janitra
905 kata
Chapter 3: Dosen Aneh
693 kata
Chapter 4: Alasan Keluarga
735 kata
Chapter 5: LELAKI ITU
750 kata
Chapter 6: Vian
1,041 kata
Chapter 7: PULANG
951 kata
Chapter 8: JODOH DADAKAN
1,277 kata
Chapter 9: TAK SEPENDAPAT
1,093 kata
Chapter 10: DI ABAIKAN
1,336 kata
Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin
1,436 kata
Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli
1,017 kata
Chapter 13: KECELAKAAN
1,520 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!