Chapter 7: PULANG
Aruna duduk di kursinya, menaruh botol kopi di meja lipat kecil di depan. Vian duduk persis di sampingnya, masih dengan senyum yang entah kenapa belum hilang sejak tadi.
“Nyaman juga ya keretanya,” komentar Vian, menyandarkan punggung dan melirik sebentar ke arah Aruna.
Di sampingnya, Aruna mengangguk pelan. “Iya, lebih tenang daripada naik bus.”
Suasana sempat hening beberapa menit, hanya suara roda kereta di rel dan pengumuman petugas yang terdengar. Vian tidak tampak canggung, malah santai saja membuka tablet kecilnya, sedang Aruna menatap keluar jendela, menyaksikan sawah hijau yang berganti cepat.
Namun lama-lama, Vian kembali membuka percakapan. “Sering ke Semarang, Run?” tanyanya akrab.
Aruna menoleh sekilas. “Sering. Ada keluarga di sana.”
“Oh…” Vian mengangguk mengerti. “Kalau aku, ada urusan kluarga. Abangku mau lamaran,”
“Masnya banyak ngomong, ya?” Aruna tersenyum tipis.
Vian terkekeh. “Biar nggak ngantuk.” katanya.
Obrolan mereka mengalir ringan. Dari film favorit, makanan kesukaan, sampai cerita lucu sewaktu naik kereta pertama kali. Sesekali Aruna hanya menanggapi dengan senyum atau anggukan, tapi Vian tampak tidak keberatan. Dia seperti cukup menikmati menjadi pihak yang lebih banyak bercerita, dan Aruna menjadi pendengar yang tenang.
Beberapa jam berlalu, suasana di gerbong semakin hening. Banyak penumpang terlelap. Aruna pun tanpa sadar ikut memejamkan mata, kepalanya miring ke jendela. Vian yang masih terjaga sempat melirik, lalu dengan hati-hati menyiapkan bahunya untu sandaran gadis itu.
Ketika Aruna terbangun, kereta sudah hampir memasuki stasiun tujuan. Dia sempat kaget melihat posisi kepalanya miring dekat ke wajah Vian. Lalu duduk tegak dengan cepat, "Maf, ya mas Vian..." bibirnya nyengir.
"Santai aja..." tukasnya
Aruna mendesah kecil, tapi akhirnya tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Beberapa menit kemudian, suara pengeras mengumumkan kereta segera tiba di Semarang. Penumpang mulai bersiap, mengambil barang-barang dari rak. Vian berdiri, menurunkan koper Aruna.
“Siap, Run. Aku bawain lagi ya,” katanya mantap.
Aruna hanya bisa mengangguk, meski hatinya separuh ingin menolak. Mereka berjalan keluar gerbong bersama, langkah mengikuti arus orang-orang. Suara riuh, langsung menyergap begitu pintu terbuka.
Tapi sesampainya di pintu keluar Aruna tiba-tiba berhenti. Seorang pemuda seusianya melambaikan tangan padanya. Aruna buru-buru melangkah ke arahnya.
“Ponakanku, mas,” ucapnya singkat ke arah Vian.
Vian sempat ingin berkata sesuatu, tapi arus penumpang makin deras. Aruna sudah ditarik oleh saudaranya, koper pun berpindah tangan. Dalam hitungan detik, sosoknya lenyap di balik kerumunan.
Akhirnya Vian hanya berdiri terpaku, masih memegang botol kopi kosong di tangannya. “Memang cuma jodoh di kursi kereta,” gumamnya, sebelum akhirnya ikut menghilang ditelan ramainya stasiun.
**
“Tambah langsing aja kamu, Run?” goda Abi, sambil mengangkat koper lalu menaruhnya di pangkuan Aruna.
“Berat, Bi...” keluhnya dengan wajah meringis.
“Terus mau ditaruh di mana lagi? Di depan, nggak muat.” Abi naik ke jok depan, lalu menyalakan motor.
"Pelan dong kalau lewat polisi tidur!!" Seru Runa, "sakit tau..." protesnya sambil mengeratkan pegangan.
“Sabar… lima kilo doang kok,” jawab Abi enteng, lalu tertawa.
“Anjir lo!” umpat Aruna kesal.
Abi melaju dengan santai, meski setiap kali melewati polisi tidur, Aruna otomatis refleks memeluk erat pinggangnya sambil menggerutu.
“Kan sudah dibilang lima kilo doang, Run. Anggap aja olahraga tipis-tipis.” Abi hanya terkekeh.
“Olahraga apaan, ini mah penyiksaan!” dia, menunduk sedikit menahan goyangan koper di pangkuannya.
Motor meliuk keluar dari jalan utama menuju gang kecil bercat tembok berwarna-warni, beberapa rumah tampak rapat berdempetan. Mobil masih bisa masuk, cuma kalau papasan hari berhenti salah satu.
Tak lama, motor berbelok ke sebuah halaman cukup luas di antara rumah-rumah lain yang berdempetan. Rumah bercat putih krem dengan pagar besi sederhana itu berdiri teduh, dinaungi pohon mangga yang menjulang.
Halamannya cukup lapang untuk ukuran gang, beberapa pot bunga berjajar di samping, dan ada kursi kayu panjang di dekat teras. Motor Abi berhenti tepat di sebelah kursi itu.
"Ini aku gimana ini," seru Runa merengek.
"Bentar diem di situ, aku turun in kopernya dulu..." Abi turun dari motor, dan mengangkat koper Runa. Di taruh di teras.
Belum sempat Aruna turun, suara pintu depan berderit terbuka. Seorang perempuan paruh baya muncul dengan wajah berbinar, langkahnya cepat menuju teras.
Ibu berseru girang, matanya langsung berbinar melihat ke arah putrinya yang baru turun dari motor.
"Ibu... Abi jahat... Aku di suruh mangku koper," adunya pada Ibunya.
Abi hanya cengar-cengir, sudah duduk santai di kursi kayu, mengeluarkan HP-nya. Cari orderan, ya dia ojek. Ojek online.
"Lha gimana, wong naik motor." Ibu Runa langsung menyambut, tangannya menepuk-nepuk lengan anaknya penuh sayang. "Bapak masih di warung," kata ibunya karena Runa celingukan di dalam rumah.
Padahal, dia bukan sedang mencari bapaknya. Runa lebih heran melihat ruang tamu yang mendadak rapi sekali. Bahkan meja di tengah diberi taplak bermotif bunga yang jarang sekali dipakai. Kecuali pas hari raya.
“Tumben, bu… kayak rumah orang lain. Rapi banget." sindir Runa sambil nyengir, berjalan ke kamarnya yang berada di balik dinding ruang tamu.
“Nanti ada tamu,” jawab ibunya singkat.
Runa mendengus kecil, melepas sepatunya di depan pintu kamarnya. “Ah, pantesan rapi bener."
Sang ibu hanya tersenyum misterius, tangannya sibuk merapikan jilbab yang sebenarnya sudah rapi. “Namanya juga ada yang mau main, ya harus kelihatan beres.”
"Kevin mana, Bu?" Tanya Runa dari dalam kamar. Kevin adalah adiknya, bukan adik kandung. Sebenarnya malah keponakan. Tapi karena orang tuanya sudah meninggal semua. Jadi dari bayi yang merawat sang ibu, sampai sekarang sudah SD kelas empat.
"Biasa to, Jam segini dia main. Biasanya main layangan di lapangan," kata ibu berjalan ke belakang. "Yuk. Makan dulu, kamu belum makan to?" Terusnya.
Dari balik kamarnya, Runa menjawab malas, “Belum, Bu. Tadi di kereta cuma minum kopi dikasih orang.”
“Orang siapa?” tanya ibunya mengambilkan nasi.
Kakinya cepat-cepat keluar lagi, pura-pura tidak mendengar, sambil merapikan rambutnya yang kusut karena perjalanan. “Ibu masak banyak?” tanyanya melihat banyak lauk di meja biasnya ibu menaruh lauk. di dapur.
"Daging bumbu lapis, rawon..." kata ibunya. "sama sambel goreng kentang. Mau yang mana kamu?"
"Wiihhh...! mewah. Semuanya dong..." seru Runa bungah.
Daftar Chapter
Chapter 1: Tama Pratama
865 kata
Chapter 2: Aruna Janitra
905 kata
Chapter 3: Dosen Aneh
693 kata
Chapter 4: Alasan Keluarga
735 kata
Chapter 5: LELAKI ITU
750 kata
Chapter 6: Vian
1,041 kata
Chapter 7: PULANG
951 kata
Chapter 8: JODOH DADAKAN
1,277 kata
Chapter 9: TAK SEPENDAPAT
1,093 kata
Chapter 10: DI ABAIKAN
1,336 kata
Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin
1,436 kata
Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli
1,017 kata
Chapter 13: KECELAKAAN
1,520 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!