Chapter 8: JODOH DADAKAN
"Icchh... Ibu, masak aku disuruh pake rok?" keluh Runa dari dalam kamarnya. Gadis itu merajuk karena diminta memakai rok oleh ibunya. Di pinggangnya sudah terpasang rapi rok plisket panjang warna gelap yang menjuntai sampai mata kaki.
"Pantes kamu pake rok panjang gitu. Sopan, kan. Apalagi bajunya lengan panjang." Sang ibu berdiri di depan lemari, sibuk merapikan lipatan baju yang tadi dicoba-coba Runa.
Senyum bangga mengembang di bibirnya, merasa berhasil menemukan solusi terbaik untuk anak gadisnya.
Runa menjatuhkan tubuhnya ke ranjang kecil di belakangnya, pantatnya membanting kasur tipis itu. Mendongak, cemberut menatap ibunya dengan wajah masam. "Ihhh... nggak pede, Bu..." rengeknya
"Lha wong yang kamu bawa itu celana ketat semua. Mana pantes kalau ada tamu pake kayak gitu." Sang ibu mulai terdengar seperti ceramah, menekan dengan lembut. "Pake ini aja. Masih baru, lho. Ini punya Ibu, dikasih sama tantemu lebaran kemarin. Pas banget buat kamu." Katanya memaksa.
Runa hanya bisa mendesah panjang, memelototi rok itu dengan wajah merana.
Sambil ibu merapikan atasan yang di pakai anaknya, dia menggerutu. "Jangan manja. Kamu cantik kalau pakai rok gini. Dari kecil Ibu pengennya kamu kayak gini, bukan kayak sekarang, bajunya sempit semua."
"Ihh, Ibu nyindir lagi," gumam Runa sambil meringis. Namun akhirnya dia menyerah, duduk tegak di depan cermin kecil yang menempel di dinding kamarnya.
Rok plisket itu jatuh manis di kakinya, berayun lembut setiap kali dia bergeser. Dipadukan dengan blus abu-abu lengan panjang yang agak longgar, tampilan itu tidak buruk. Apalagi ibunya menyodorkan pasmina berwarna hitam, yang segera dia kenakan seadanya di atas kepala. Padahal, Runa tidak terbiasa berjilbab, hanya sesekali kalau ada acara resmi.
Contonya, KONDANGAN. -_-
“Lihat tuh,” ucap sang ibu dengan tatapan puas, matanya berbinar. "Cocok banget. Cantik, sopan, adem dilihat."
Putrinya membalas dengan bibir manyun, wajahnya jelastidak rela. Dia tahu ibunya benar, tapi gengsi membuatnya susah mengakuinya.
Saat itulah, pintu kamar terbuka pelan. Adiknya masuk, awalnya berniat mencari ibu. Namun matanya langsung melebar begitu melihat kakaknya berdandan begitu berbeda dari biasanya.
"Waduhhh... siapa ini? Kok kayak mbak-mbak santri?" seru Kevin sambil ngakak.
Refleks Runa menoleh, wajahnya langsung masam. "Apaan sih?! Jangan sembarangan, ya!"
Kevin malah makin terpingkal, tangannya menunjuk-nunjuk. "Beneran! Sumpah! Kayak mbak-mbak yang tiap sore ngajarin aku ngaji. Bedanya, lebih gendutan dikit."
"IHH!!" Runa meraih bantal di ranjang dan melemparkannya tepat ke arah Kevin. "Ibuu..." serunya mencari pembelaan.
Bantal mendarat mulus di wajah bocah itu. Tapi alih-alih marah, Kevin malah makin keras ketawanya."Mbak Santriii... Mbak Santriii!!" godanya.
"Awas kamu!" Runa refleks berdiri, jemarinya sudah terulur siap menjewer.
Kevin yang tahu betul tabiat kakaknya langsung melompat mundur, menjangkau pintu, lalu kabur terbirit-birit sambil cekikikan.
"Awas nggak Kaka kasi uang saku kamu." seru Runa dari dalam kamar, ikut mengejar sampai ambang pintu.
"Mbakkk satrii..." teriak Kevin kencang, menggema di lorong rumah, masih sempat-sempatnya meledek sebelum lenyap ke kamarnya sendiri.
"Tuh, Bu... kayak bukan aku kan," rengeknya, kembali menghampiri ibunya sambil meraih lengannya.
"Nggak papa, kamu cantik, sayang. Malah mirip Ibu waktu muda." Ibu meyakinkan.
"Ihh..." Runa merengut, menghentakkan kaki ke lantai beberapa kali.
**
Selesai magrib tamu itu datang. Karena mobil tak bisa masuk ke dalam gang, bapak yang menjemput mereka sampai ke mulut gang. Kata ibu, tamunya memang belum tahu persis rumah mereka.
Sedang ibu sudah menunggu di teras. Sebenarnya, Runa juga diminta ibunya ikut ke teras untuk menyambut, tapi dia malas. Gadis itu lebih memilih selonjoran di depan televisi bersama Kevin, menonton kartun kesayangannya.
Suara sandal bapaknya terdengar masuk halaman, disertai riuh suara orang bercakap-cakap dari depan. Tak lama, bayangan beberapa orang tampak mengikuti di belakangnya. Runa refleks menoleh.
"Run, keluar. Tamu udah sampe," suara ibunyamemanggil dari teras.
Runa mendengus pelan, tapi akhirnya berdiri juga. Mana mungkin ia berani membantah ibunya. Dengan langkah setengah malas ia menyusul ke teras. Dari sana, matanya langsung menangkap sosok-sosok yang datang. Bahkan sekilas saja sudah jelas, mereka bukan orang biasa seperti keluarganya. Postur tegap, pakaian rapi dan berkelas, auranya berbeda.
Sepasang suami istri paruh baya berjalan paling depan, seumuran dengan bapak dan ibu. Di belakang mereka, dua orang lain mengikut dengan tenang. Saat itu jantung Runa seperti berdegup lebih cepat. Dia mengenali keduanya.
Salah satunya adalah dosennya sendiri, Tama. Dosen muda yang sering jadi buah bibir kampus, kini berdiri di depan rumahnya. Dan yang satunya lagi, lelaki yang menemaninya sepanjang perjalanan pulang tadi, di kereta. Vian.
Runa terpaku sejenak. Seolah waktu berhenti. Namun entah kenapa, mereka sama-sama memilih pura-pura tidak saling kenal. Kecuali Vian, yang sempat terkejut singkat. Saat tangan mereka bertemu dalam jabat tangan, bibirnya terangkat menampilkan senyum kecil, sekilas, dan... getir.
Orang tua Runa menyambut dengan hangat. Sang ibu menyalami tamu dengan senyum ramah, sementara bapaknya sibuk menawarkan duduk. Mereka semua tersenyum sopan, lalu menempati ruang tamu yang sederhana, meski sudah ditata serapi mungkin oleh ibu.
Suasana mendadak terasa formal, namun tetap ada kehangatan yang kental.
Tak menunggu lama, ibu langsung mendorong Runa ke belakang, menyuruhnya membantu menyiapkan kue dan minuman yang sudah diracik sejak sore.
"Siapa sih, Bu?" bisik Runa mendesak, matanya melirik cemas. "Temen Bapak? Itu salah satunya dosen aku, tahu nggak,"
"Ha?!" tangan ibu yang baru saja hendak meraih piring terhenti di udara. Ia mengerjap, menatap putrinya tidak percaya. "Yang mana?" tanyanyapenasaran.
"Yang tinggi itu…" bisik Runa makin kesal. "Kenapa sih, Bu? Ibu mau jual rumah, ya? Terus kita tinggal di mana? Jangan-jangan-"
"Ngawur!" bentak ibunya kecil, cepat memotong. "Sudah, ayo kuenya bawa ke depan."
"Malu, Bu…" rengek Runa, memanyunkan bibir.
"Ayo! Gimana sih kamu ini!" ibu mulai kesal, menekan suara.
Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Runa mengambil dua piring berisi kue, membawanya ke ruang tamu. Tangannya mendadak gemetar saat menaruh piring itu di meja, apalagi semua mata langsung tertuju padanya. Termasuk Tama, dosennya.
Rasanya sulit dipercaya, sosok yang biasanya hanya ia lihat di kampus, kini duduk di ruang tamu rumahnya.
Cepat-cepat dia mundur, kembali ke dapur. Kali ini bersama ibunya, dia membawa sisa kue dan beberapa gelas minuman yang baru diseduh. Uap panas masih mengepul dari cangkir, menambah aroma hangat di ruangan yang kini terasa semakin canggung bagi Runa.
Begitu piring itu diletakkan di meja, sepasang suami-istri paruh baya yang menjadi tamu utama langsung menoleh ke arahnya.
"Cantik sekali putrinya, Runa," ucap sang ibu tamu dengan nada tulus. Matanya berbinar, menelusuri sosok Runa dari kepala hingga ujung rok plisket yang dipakainya. "Anggun sekali."
Runa kaku seketika. Senyumnya hambar, lebih mirip kikuk. Dia hanya menunduk setelah duduk, merapikan jilbabnya yang sebenarnya sudah rapi.
Belum sempat Runa benar-benar menenangkan diri, percakapan di ruang tamu berubah menjadi lebih khidmat. Bapak Runa sudah duduk tegak, sementara lelaki paruh baya yang sejak tadi ia yakini sebagai ayahnya Tama mulai membuka suara. Dengan penuh wibawa.
"Mohon maaf, Pak, Bu," ucapnya pelan namun jelas, "kedatangan kami malam ini sebenarnya membawa maksud yang serius. Kami datang, untuk melamar putri Bapak dan Ibu, Aruna, bagi anak kami, Tama Pratama."
Ruangan mendadak senyap. Bahkan suara kipas angin di sudut ruang terasa begitu nyaring. Hanya Runa yang kelihatan paling terkejut di ruang tamu itu. Matanya refleks melebar, berpaling ke arah Tama.
Ayah Tama melanjutkan dengan nada yang lebih berat, "Kita sama-sama tahu. Almarhum orang tua kata, yang juga kakek dari Tama maupun Aruna. Pernah menitipkan wasiat agar keduanya dijodohkan. Karena sampai sekarang mereka sama-sama belum memiliki pasangan, maka kami datang untuk memenuhi wasiat itu."
"Dijodohkan?" Runa mengulang itu dalam hati. Dengan dosennya sendiri? Apalagi atas dasar wasiat keluarga yang bahkan belum pernah dia dengar sebelumnya.
Gadis itumenunduk cepat, berharap tidak ada yang melihat wajahnya yang mulai memanas. Tapi ekor matanya menangkap sekilas, Tama hanya duduk tenang, pandangannya sopan, seolah memang sudah tahu sejak awal maksud kedatangan keluarganya.
"Jadi maksudnya memanggil waktu itu, ini..." batinnya lagi.
Sementara itu, Vian yang duduk agak ke samping tampak menoleh sekilas ke arahnya. Ada senyum samar di bibirnya, entah mengejek atau menyayangkan.
Daftar Chapter
Chapter 1: Tama Pratama
865 kata
Chapter 2: Aruna Janitra
905 kata
Chapter 3: Dosen Aneh
693 kata
Chapter 4: Alasan Keluarga
735 kata
Chapter 5: LELAKI ITU
750 kata
Chapter 6: Vian
1,041 kata
Chapter 7: PULANG
951 kata
Chapter 8: JODOH DADAKAN
1,277 kata
Chapter 9: TAK SEPENDAPAT
1,093 kata
Chapter 10: DI ABAIKAN
1,336 kata
Chapter 11: Cuma Menyisakan Satu Cincin
1,436 kata
Chapter 12: Dunia Yang Tak Perduli
1,017 kata
Chapter 13: KECELAKAAN
1,520 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!