Chapter 2: Isi Ulang untuk Menjadi Lebih Kuat
“Tunggu… peta Kerajaan Yan cuma sebesar ini?”
Chen Huai’an tersenyum pahit saat melihat jendela pemberitahuan pengisian ulang yang muncul di layar.
Pengembang gim ini sama sekali tidak berusaha menyamarkannya—ini jelas sistem bayar untuk menang, terang-terangan tanpa malu.
Namun, ketika pandangannya jatuh pada gadis malang di layar, pikirannya melayang pada dirinya sendiri.
Sendirian. Tidak punya uang. Mengidap penyakit terminal. Ditinggalkan kekasih.
Apakah keadaannya benar-benar lebih baik daripada Li Qingran?
Teman-teman yang dulu dekat telah lama menghilang, takut ia akan meminjam uang dari mereka.
Siapa yang masih mau mengulurkan tangan kepadanya?
Namun sekarang… setidaknya, ia masih bisa mengulurkan tangan pada gadis ini.
Meskipun ia tahu, gadis itu hanyalah sebuah program—karakter virtual yang diciptakan untuk menguras dompet pemain dalam gim ponsel.
“Enam yuan?” gumamnya.
“Baiklah, aku bayar.”
Chen Huai’an tidak pernah benar-benar bermain gim sebelumnya. Ia hanya pernah menonton orang lain memainkannya. Ini adalah pertama kalinya dalam hidupnya ia mengeluarkan uang untuk sebuah gim.
[Pengisian ulang berhasil!]
Cahaya keemasan langsung menyinari gubuk reyot milik Li Qingran.
Tikar jerami berubah menjadi ranjang kayu dengan seprai bersih. Dinding yang retak menjelma menjadi bata kokoh lengkap dengan jendela, mampu menahan hujan dan angin. Cahaya emas menyelimuti ruangan, menghadirkan lantai kayu, meja, kursi, hingga sebuah kompor bergaya klasik.
“Sekarang… ini baru pantas disebut tempat tinggal.”
Chen Huai’an menghela napas puas, lalu menatap Li Qingran dengan penuh rasa ingin tahu. Ia penasaran dengan reaksi karakter itu.
Ini hanya gim ponsel. Paling-paling, karakter akan menampilkan ekspresi bahagia standar, bukan?
Namun, apa yang ia lihat justru membuatnya tertegun.
Ekspresi Li Qingran berubah dari terkejut, menjadi takut, lalu waspada. Ia meringkuk ke sudut ruangan, tubuhnya menegang, seolah tidak percaya dengan perubahan mendadak di sekelilingnya.
Beberapa saat kemudian, seperti anak kucing yang baru memasuki lingkungan asing, ia perlahan mulai menjelajah ruangan. Langkahnya hati-hati, penuh keraguan.
Ia kembali ke ranjang, menyentuh kasurnya dengan ujung jari. Permukaannya tampak empuk. Tatapannya dipenuhi kebingungan.
“Respons seperti ini… tingkat interaksinya…”
Chen Huai’an benar-benar terpukau.
Cara kasur sedikit tenggelam ketika Li Qingran duduk, lipatan kain yang muncul saat disentuh—semuanya terasa sangat hidup.
Untuk ukuran gim ponsel, detailnya keterlaluan.
Ia bahkan merasa tidak masalah jika harus mengeluarkan lebih banyak uang. Rasanya seperti sedang mendukung karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati.
Belum sempat pikirannya selesai, jendela lain muncul.
[Penawaran Terbatas! Isi ulang 30 yuan untuk memberikan pakaian indah kepada pacar virtualmu!]
“Uh…”
Chen Huai’an melirik pakaian Li Qingran yang compang-camping. Hatinya terasa sedikit perih.
“Baiklah. Kita lakukan.”
Shing!
Satu set jubah hijau elegan muncul di atas ranjang.
[Spesial Hari Ini! Isi ulang 68 yuan untuk memberikan makanan mewah kepada pacar virtualmu!]
Makanan seharga 68 yuan?
Chen Huai’an sendiri jarang menghabiskan lebih dari 15 yuan untuk makanan pesan antar.
Namun, tanpa banyak berpikir, ia tetap membayar.
[Penawaran Mingguan! Isi ulang 98 yuan untuk membuka kisah latar pacar virtualmu dan menerima laporan kesehatan!]
“Ambil saja uangku!”
[Spesial Bulanan! Isi ulang 188 yuan untuk melengkapi rumah pacar virtualmu dengan tiga Talisman Api Petir tingkat premium sebagai perlindungan!]
“Tarik! Tarik semuanya!”
Tiba-tiba—
[Pacar virtualmu mengalami ketakutan. Harap tunggu sebelum melakukan tindakan lebih lanjut.]
Akhirnya, rentetan pengisian ulang berhenti.
Chen Huai’an menatap layar.
Li Qingran kini bersembunyi di bawah ranjang, tubuhnya gemetar.
Pakaian baru di atas ranjang tidak disentuh sama sekali.
Jamuan ayam, bebek, dan ikan yang mewah tetap utuh.
Di sudut layar, sebuah hitungan mundur menunjukkan bahwa laporan kesehatan akan selesai dalam tiga puluh menit.
Di pintu, jendela, dan atap rumah, talisman perlindungan terpasang—hampir tak terlihat kecuali jika diperbesar.
Kabar baiknya, sisa umur Li Qingran kini bertambah menjadi enam jam.
“Setidaknya… masih aman untuk sementara,” gumam Chen Huai’an lega.
Waktu di dalam gim berjalan sebanding dengan dunia nyata, jadi ia tidak perlu terburu-buru.
“Ngomong-ngomong, racun api yang menggerogotinya itu… sebenarnya apa?”
Ia mencoba mengetuk karakter Li Qingran, berharap statusnya akan muncul. Namun, yang terlihat hanya sepasang kaki kecil pucat di bawah ranjang, yang segera ditarik kembali begitu layar disentuh.
“Sepertinya aku harus menunggu laporan kesehatan.”
Saat pandangannya beralih ke jamuan makanan, perut Chen Huai’an tiba-tiba terasa lapar.
Bebek panggang itu terlihat terlalu realistis—kulitnya berkilau, minyaknya tampak menetes, seolah aromanya bisa menembus layar.
Saat itu baru tengah hari, dan ia belum makan siang.
“Sudahlah. Kita masak saja sesuatu. Pacar virtualku malah makan lebih mewah daripada aku.”
Ia tertawa pahit, lalu meletakkan ponselnya di meja untuk diisi daya.
Latar Belakang Li Qingran
Li Qingran, 19 tahun.
Murid kelima dari Puncak Chixiao, Sekte Qingyun.
Dulu, hidupnya tenang. Ia menjalani rutinitas kultivasi dan tugas sekte seperti biasa. Empat kakak seperguruannya masing-masing memiliki keahlian luar biasa dan selalu melindunginya.
Namun, semuanya berubah ketika kakak seperguruan pertamanya, Lu Changtian, membawa pulang seorang adik seperguruan keenam dari luar sekte.
Gadis itu bernama Mu Baishuang—tidak berbakat, namun dilindungi habis-habisan.
Lu Changtian bersaksi demi dirinya dan memohon kepada guru mereka agar menerimanya di Puncak Chixiao.
Sejak hari itu, segalanya tidak pernah sama.
Kakak seperguruan pertama yang dulu perhatian tak lagi mengajaknya berlatih pagi.
Kakak kedua, Xiao Yifeng, ahli alkimia, berhenti memintanya menguji pil.
Kakak ketiga, Yun Zimo, yang biasanya dingin dan pendiam, bahkan mulai mempelajari lagu-lagu cinta demi Mu Baishuang.
Kakak keempat, Zhang Hanxiao, yang selalu sibuk menjalankan misi, kini tinggal di puncak hanya untuk menjaganya.
Semua orang memanjakan Mu Baishuang—termasuk guru mereka yang biasanya acuh tak acuh.
Li Qingran tidak pernah iri.
Mu Baishuang memang manis, lembut, dan pantas disayangi sebagai adik seperguruan.
Namun, dengan bimbingan dan sumber daya terbaik, kultivasi Mu Baishuang dengan cepat menyusulnya.
Setengah bulan lalu, dalam turnamen sekte, Li Qingran bertemu Mu Baishuang di arena.
Sebagai bentuk penghormatan, ia berniat mengakhiri pertarungan dengan cepat—memberi tekanan secukupnya agar Mu Baishuang mengaku kalah dengan terhormat.
Namun kenyataannya berbeda.
Mu Baishuang menyerang dengan brutal, menargetkan titik-titik vital, memaksa Li Qingran bertarung sungguh-sungguh.
Lalu, tiba-tiba, Mu Baishuang beralih bertahan… dan menjatuhkan dirinya sendiri ke arah pedang Li Qingran.
Li Qingran tidak sempat menarik pedangnya.
Ujung pedang menembus bahu Mu Baishuang—luka ringan, namun cukup untuk memicu tragedi.
Hukuman datang tanpa ampun.
Li Qingran dikeluarkan dari Puncak Chixiao. Kultivasinya dihapus. Akar spiritualnya dicabut.
Kebrutalan kakak-kakak seperguruannya melampaui bayangannya.
Kini, ia dibuang ke hutan penuh binatang buas, diracuni api, kelaparan, dan bertahan hidup di tengah badai—menunggu kematian.
Sampai…
Seekor burung pipit melesat menembus hujan.
Dan sebuah suara berbisik lembut terdengar:
[Selamat Datang di Rumah.]
Dalam sekejap, gubuk reyot itu berubah menjadi rumah batu yang kokoh.
Daftar Chapter
Chapter 1: Lokakarya Kecil Benar-Benar Me...
1,159 kata
Chapter 2: Isi Ulang untuk Menjadi Lebih...
1,042 kata
Chapter 3: Gim Ini Bahkan Punya Pengisi S...
1,243 kata
Chapter 4: Menghancurkan Semuanya
1,270 kata
Chapter 5: Promo Kamis Gila
1,365 kata
Chapter 6: Apa?! Ada Tiket Bulanan Juga?!
1,057 kata
Chapter 7: Bukankah Ini Tawar-Menawar yan...
1,158 kata
Chapter 8: Kasih Sayang Tidak Cukup, Jang...
1,086 kata
Chapter 9: Meramal Langit
1,195 kata
Chapter 10: Hadiah Kecil dari Pacar Virtua...
1,150 kata
Chapter 11: Baunya Seperti Li Qingran!
1,173 kata
Chapter 12: Kami Datang untuk Membongkarmu
1,108 kata
Chapter 13: Dupa Binatang
1,194 kata
Chapter 14: Fatamorgana?
1,146 kata
Chapter 15: Jika Ada Kehidupan Selanjutnya...
1,194 kata
Chapter 16: Dorongan untuk Menusukkan Sesu...
1,007 kata
Chapter 17: Mungkinkah Chen Huai’an Seoran...
1,350 kata
Chapter 18: Ini Adalah Sesuatu yang Sangat...
1,208 kata
Chapter 19: Munculnya Obat Ilahi
1,086 kata
Chapter 20: Bersumpah kepada Langit
1,245 kata
Chapter 21: Buku Pedoman Pedang
1,113 kata
Chapter 22: Kau dan Aku Ditakdirkan!
1,374 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!