Chapter 2: Kantin
Rina jalan paling depan, nampan di tangan, matanya masih berbinar seolah kejadian di kelas barusan belum selesai diputar di kepalanya. Via menyusul di belakangnya, sibuk milih minum. Keenan, satu-satunya cowok di antara mereka, jalan santai sambil main ponsel.
Alea jalan paling belakang.
Langkahnya tenang, wajahnya datar seperti biasa, tapi pikirannya masih tertinggal di ruang kelas. Di tatapan Arka. Di suara rendahnya. Di cara mereka hampir lupa bahwa dunia sedang melihat.
Begitu mereka duduk di satu meja panjang dekat jendela, Rina langsung buka suara.
“Gue serius nanya ya,” katanya sambil naruh nampan agak keras. “Sebenernya lo sama Arka kenapa sih, Lea?”
Alea buka botol minumnya pelan. “Apanya kenapa?”
“Ya itu,” Rina ngelirik Via dan Keenan, cari dukungan. “Setiap ketemu di kelas, kalian kayak mau baku hantam tapi pake istilah keuangan.”
Via ketawa kecil. “Bener. Kalian tuh debatnya niat banget. Enggak kayak mahasiswa biasa yang asal beda pendapat.”
Keenan akhirnya angkat kepala dari HP-nya. “Soalnya mereka bukan mahasiswa biasa.”
Alea melirik Keenan singkat. “Maksud lo?”
Keenan nyengir. “Ya lo sama Arka tuh masuk kategori yang bikin dosen mikir dua kali buat asal lempar pertanyaan. Pintar, ranking atas, terus visualnya… ya lo tau sendiri.”
Via mengangguk setuju. “Kalian berdua tuh tipe yang kalau masuk ruangan langsung kelihatan. Orang langsung nengok.”
Alea mendengus kecil. “Lebay.”
“Enggak lebay,” Rina cepat nyahut. “Lo tuh salah satu mahasiswi paling dikenal di angkatan kita. IPK lo stabil, lo jarang drama, tapi sekali buka mulut di kelas, orang langsung diem.”
Alea nyuap makanannya, pura-pura fokus. “Itu karena gue males ngomong.”
“Justru itu,” Via menyela. “Lo jarang ngomong, tapi pas ngomong selalu kena. Sama kayak Arka.”
Nama itu lagi.
Alea meneguk minumnya lebih lama dari perlu.
Keenan bersandar ke kursi. “Arka juga gitu. Nilainya tinggi, presentasi rapi, debatnya enggak asal nyerang. Dan ya, tampangnya juga bukan yang bikin orang lupa.”
Rina senyum penuh arti. “Makanya gue bilang, energi kalian tuh aneh. Kayak bukan sekadar saingan akademik.”
Alea akhirnya naruh sendoknya. “Kalian kebanyakan nonton drama.”
“Oh enggak,” Rina geleng-geleng. “Gue cewek, Lea. Gue peka sama hal-hal begini.”
Via mencondongkan badan sedikit. “Tiap kali Arka debat sama lo, dia tuh beda. Lebih fokus. Lebih serius.”
“Dan lo,” tambah Rina, “lebih emosional dari biasanya. Padahal lo paling jago jaga ekspresi.”
Alea menghela napas pelan. “Itu karena dia nyebelin.”
Keenan terkekeh. “Nyebelin tapi selalu lo tanggepin.”
Rina langsung nunjuk Alea. “Nah itu. Kalau lo beneran enggak peduli, harusnya lo cuek. Tapi lo selalu balas. Selalu.”
Alea diam.
Di meja lain, beberapa mahasiswa terlihat melirik ke arah mereka. Bukan karena Rina berisik, tapi karena Alea memang sulit tidak diperhatikan. Rambutnya diikat sederhana, kemeja putihnya rapi, wajahnya tenang. Tipe yang kelihatan mahal tanpa usaha.
Via menyadari tatapan itu. “Lo sadar enggak sih, Lea, orang-orang tuh sering ngeliatin lo?”
Alea mengangkat bahu. “Biasa aja.”
“Enggak biasa,” Via mengoreksi. “Lo tuh aura-nya beda. Kayak… eksklusif.”
Rina mengangguk cepat. “Sama kayak Arka. Makanya kalau kalian ribut di kelas, semua langsung fokus.”
Keenan melirik sekeliling, lalu menurunkan suara. “Tadi pas dosen keluar, setengah kelas tuh enggak makan siang duluan cuma buat dengerin kalian.”
Alea memijat pelipisnya pelan. “Kalian lebay.”
“Enggak,” Rina bersikeras. “Justru kalian yang enggak sadar.”
Via menyeringai. “Atau pura-pura enggak sadar.”
Alea menatap Via. “Maksud lo?”
Via mengangkat bahu. “Enggak tau. Tapi gue jarang lihat dua orang saling debat segitu intens tapi… matanya enggak ada benci.”
Alea membeku sepersekian detik. Untung Via sudah lanjut ngomong.
“Biasanya kalau orang beneran enggak suka, auranya beda. Ini tuh kayak… ada sesuatu yang belum kelar.”
Rina langsung nyeletuk, “Makanya gue bilang, jodoh tahu rasa.”
“Rina,” Alea mendesah. “Stop.”
“Kenapa?” Rina pura-pura polos. “Gue cuma bercanda.”
Keenan nyengir. “Candaan yang kepikiran.”
Alea menunduk, fokus ke makanannya yang sudah dingin. Di kepalanya, terlintas Arka yang tadi berdiri terlalu dekat. Suaranya yang sengaja direndahkan. Cara matanya mengeras hanya padanya.
Via memperhatikan Alea lebih saksama sekarang. “Lea, lo enggak apa-apa kan?”
Alea mendongak. “Kenapa nanya gitu?”
“Karena tiap Arka disebut, ekspresi lo berubah dikit.”
Rina langsung mencondongkan badan. “Nah, tuh.”
Alea tersenyum tipis, terlalu terlatih untuk ini. “Gue capek debat. Itu aja.”
Keenan mengangguk, tapi matanya menyiratkan tidak sepenuhnya percaya. “Fair.”
Rina masih belum puas. “Tapi serius deh, kalau suatu hari kalian tiba-tiba pacaran, gue enggak kaget.”
Via terkekeh. “Satu kampus juga enggak bakal kaget.”
Alea menahan senyum yang hampir lolos. “Kalian terlalu imajinatif.”
“Enggak,” Rina menyandarkan dagu ke tangan. “Lo sama Arka tuh definisi power couple akademik. Pintar, good looking, sama-sama dominan.”
Keenan menimpali, “Dan sama-sama susah ditebak.”
Alea berdiri, membawa nampannya. “Gue mau buang ini.”
Rina ikut berdiri. “Gue ikut.”
Mereka berjalan berdampingan sebentar. Di dekat tempat sampah, Rina menoleh.
“Lea,” katanya lebih pelan. “Kalau gue kelewatan, bilang ya. Tapi gue cuma ngerasa… lo kayak nyimpen sesuatu.”
Alea menatapnya. Wajah Rina tulus, bukan menghakimi.
“Semua orang punya hidup yang enggak perlu diumbar,” jawab Alea tenang.
Rina mengangguk. “Fair. Tapi kalau suatu hari lo butuh cerita, gue ada.”
Alea tersenyum kecil. “Makasih.”
Mereka kembali ke meja. Via dan Keenan sudah ngobrol soal tugas, tapi nama Arka masih menggantung di udara, tak terucap tapi terasa.
Dari kejauhan, Alea menangkap sosok Arka di ujung kantin. Dikelilingi beberapa mahasiswa. Tinggi, santai, senyumnya seperlunya. Sama terkenalnya. Sama tidak terjangkaunya.
Pandangan mereka bertemu sekilas.
Tak ada senyum. Tak ada reaksi.
Hanya tatapan singkat yang terlalu akrab untuk dua orang yang katanya tidak akur.
Alea mengalihkan pandang lebih dulu.
Di kampus ini, mereka adalah dua nama besar yang berdiri di sisi berlawanan.
Dan sejauh ini, semua orang masih percaya pada cerita itu.
Daftar Chapter
Chapter 1: Debat
1,271 kata
Chapter 2: Kantin
902 kata
Chapter 3: Rumah
1,728 kata
Chapter 4: 21+
1,321 kata
Komentar Chapter (0)
Login untuk memberikan komentar
LoginBelum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!