')">
Progress Membaca 0%

Chapter 3: Rumah

Birublue 04 Jan 2026 1,728 kata
GRATIS

Lapangan basket kampus sore itu jauh lebih ramai dari biasanya.
Matahari belum sepenuhnya turun, tapi tribun kecil di pinggir lapangan sudah dipenuhi mahasiswa. Sebagian duduk santai sambil pegang minuman, sebagian lagi berdiri berkelompok, seolah menunggu sesuatu yang memang layak ditunggu.
Dan semua orang tahu, yang mereka tunggu adalah Arka Narayana.
Bola memantul keras di aspal. Suara sepatu beradu, teriakan kecil, tawa, dan sorakan bersahut-sahutan. Arka berdiri di tengah lapangan, kaus hitam tanpa lengan melekat di tubuhnya yang tinggi dan atletis. Rambutnya sedikit basah oleh keringat, rahangnya tegas, ekspresinya fokus tapi santai, seperti semua ini adalah habitat alaminya.
“Gila,” gumam Via sambil berhenti di tepi lapangan. “Rame banget.”
Rina menyenggol bahu Alea. “Lo sadar enggak sih, tiap Arka main basket tuh kampus kayak acara pensi?”
Alea mengangguk tipis. Tatapannya tidak terlalu lama tertahan ke lapangan. Terlalu berisiko.
“Dia emang magnet,” lanjut Keenan. “Pinter, muka enggak ngotak, main basket lagi. Paket lengkap.”
Via terkekeh. “Makanya cewek-cewek tuh kayak lalat ke madu.”
Alea menyesap minumnya, pura-pura fokus ke sedotan. “Biasa aja.”
Rina menoleh cepat. “Biasa aja? Lea, itu Arka. Satu angkatan kenal semua.”
“Terkenal bukan berarti istimewa,” jawab Alea datar.
Via menaikkan alis. “Buset. Dingin banget.”
Di lapangan, Arka bergerak cepat. Ia menerima operan, berputar, lalu melepaskan tembakan tiga angka. Bola masuk bersih. Sorakan langsung meledak.
Beberapa cewek di pinggir lapangan bertepuk tangan, ada yang teriak namanya terang-terangan.
“ARKA!”
“GILA KEREN!”
“ARKA LIAT SINI!”
Alea tidak bereaksi. Tapi rahangnya mengeras sedikit.
“Lo tau enggak,” kata Rina sambil mencondongkan badan ke Alea, suaranya diperkecil, “Yuna lagi ngejar Arka parah.”
Alea akhirnya menoleh. “Yuna?”
Via langsung nyamber. “Anak komunikasi. Rambut panjang, aktif banget di event kampus. Cantik, sih.”
“Cantik,” ulang Keenan sambil mengangguk setuju. “Dan berani. Dia tuh terang-terangan banget.”
Seolah dipanggil oleh namanya sendiri, Yuna muncul di sisi lapangan. Ia mengenakan crop top putih dan celana jeans, rambutnya tergerai rapi, senyumnya lebar. Ia berdiri dekat bench pemain, menyodorkan botol minum ke salah satu teman Arka.
“ARKA!” panggilnya nyaring. “MINUM DULU!”
Arka melirik sekilas. Mengangguk sopan. Tapi botol itu diambil oleh salah satu temannya.
“Dia cuek banget sama Yuna,” ujar Via. “Padahal Yuna tuh ngejarin udah dari semester lalu.”
“Arka emang gitu,” sahut Keenan. “Enggak pernah kedengeran pacaran.”
Rina mendengus. “Enggak pernah kedengeran, tapi siapa tau.”
Alea menunduk. Jari-jarinya mencengkeram gelas plastiknya lebih kuat dari yang perlu.
Di lapangan, Arka kembali bergerak. Setiap lompatan, setiap passing, setiap senyum kecil yang muncul setelah poin, selalu disambut sorakan. Ia terlihat begitu hidup di tengah keramaian, begitu mudah disukai.
Dan Alea membencinya untuk itu.
Bukan karena Arka disukai banyak orang. Tapi karena Alea harus duduk di sini, berpura-pura hanya jadi penonton yang kebetulan lewat.
“Lea,” Rina memanggil pelan. “Lo kenapa sih tiap bahas Arka nada lo defensif banget?”
Alea mendongak. “Defensif apanya?”
“Kayak… kesel tapi ditahan.”
Via mengangguk setuju. “Iya. Kalian tuh vibes-nya aneh. Di kelas ribut, di luar kelas lo kayak males banget bahas dia.”
Alea tersenyum tipis. Terlalu terlatih untuk ini. “Gue cuma enggak suka orang yang sok jago.”
“Padahal dia jago beneran,” sahut Keenan.
“Justru itu,” jawab Alea cepat. “Orang kayak gitu biasanya enggak sadar kalau dia bikin orang lain keliatan kecil.”
Rina mengernyit. “Ini personal ya?”
Alea berdiri. “Gue mau ke toilet.”
Tanpa menunggu jawaban, Alea melangkah menjauh dari keramaian lapangan. Napasnya sedikit berat. Dadanya terasa sesak oleh campuran emosi yang tidak bisa ia keluarkan.
Dari sudut lapangan, Arka melihatnya pergi.
Pandangan mereka bertemu sepersekian detik.
Cukup lama untuk Arka tahu Alea terganggu.
Cukup singkat untuk tidak menimbulkan kecurigaan siapa pun.
Yuna mendekat lagi. Kali ini lebih dekat. “Arka,” katanya manis, “nanti abis ini makan bareng yuk? Gue traktir.”
Arka menghapus keringat di tengkuknya dengan handuk. “Makasih, tapi gue ada urusan.”
“Urusan apa?” tanya Yuna cepat.
Arka tersenyum sopan, tapi matanya sudah tidak di sana. “Pribadi.”
Yuna tertawa kecil, seolah tidak keberatan. “Lo selalu gitu jawabnya.”
“Karena emang itu jawabannya.”
Di sisi lain lapangan, Alea berhenti di dekat pagar. Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam. Suara sorakan masih terdengar, bercampur dengan suara Arka yang sesekali tertawa bersama teman-temannya.
Ia tahu persis tawa itu.
Tawa yang hanya muncul ketika Arka sedang benar-benar nyaman.
“Lea.”
Alea menoleh. Via berdiri beberapa langkah darinya. “Lo beneran kenapa?”
Alea membuka mata. Ekspresinya kembali netral. “Capek aja.”
Via menatapnya lama. “Lo tau enggak, banyak cewek pengen ada di posisi lo sekarang.”
Alea tersenyum pahit. “Posisi apa?”
“Bisa enggak peduli sama Arka Narayana.”
Alea tidak menjawab.
Karena kalau Via tahu kebenarannya, mungkin dia tidak akan bilang begitu.
Di lapangan, permainan berakhir. Sorakan memuncak. Arka berdiri di tengah, menerima tos dari teman-temannya. Keringat membasahi lehernya, kausnya sedikit terangkat, memperlihatkan garis otot perut yang membuat beberapa cewek langsung menjerit kecil.
Yuna kembali mendekat. “Arka, foto dong.”
Arka mengangguk. Berdiri di samping Yuna. Kamera diangkat. Jepret.
Di kejauhan, Alea melihat semuanya.
Wajahnya tetap datar. Tapi dadanya terasa panas.
Bukan cemburu yang meledak-ledak. Lebih seperti sesuatu yang ia tekan terlalu lama.
Rina muncul di samping Alea. “Lo enggak mau nonton lagi?”
“Enggak,” jawab Alea. “Gue balik duluan.”
“Hah? Kenapa?”
“Pusing.”
Rina menghela napas. “Lo aneh hari ini.”
Alea menatap lapangan sekali lagi.
Arka berdiri di tengah kerumunan, dikelilingi cahaya sore dan perhatian orang-orang. Terlihat begitu jauh. Begitu tidak tersentuh.
Padahal Alea tahu persis, malam nanti, mereka akan pulang ke tempat yang sama.
Dan tidak satu pun orang di lapangan ini akan pernah menebaknya.
Pintu apartemen tertutup pelan di belakang Arka.
Sepatunya ia lepas asal di dekat rak, tas disampirkan ke kursi tanpa benar-benar dirapikan. Lampu ruang tengah redup, hanya cahaya dari televisi yang menyala, memantul lembut ke dinding.
Alea duduk di sofa.
Kakinya terlipat santai, kaus kebesaran berwarna abu-abu jatuh longgar di bahunya, ujungnya hampir menutupi celana pendek yang berhenti di atas paha. Rambutnya tergerai, masih sedikit lembap, seperti baru mandi. Wajahnya tenang, fokus ke layar TV, seolah dunia luar tidak pernah benar-benar ikut masuk ke dalam ruangan ini.
Arka berhenti sejenak di ambang ruang tengah.
Pemandangan itu selalu memberinya jeda. Bukan karena sensualnya, tapi karena tenangnya. Karena Alea hanya menjadi Alea di sini.
Ia melangkah mendekat tanpa suara. Berdiri di belakang sofa, lalu membungkuk sedikit dan mengecup kening Alea dengan ringan.
Tidak ada drama. Tidak ada kata pembuka.
Alea menoleh sekilas. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Pulang.”
“Iya,” jawab Arka pelan.
Alea kembali menghadap TV, seperti sentuhan itu sudah cukup. Seperti keberadaan Arka di ruangan yang sama lebih penting dari percakapan panjang.
Arka duduk di ujung sofa, satu lengannya bertumpu di sandaran. Ia menatap layar sebentar, lalu melirik Alea. “Nonton apa?”
“Enggak tau,” jawab Alea jujur. “Nyala aja.”
Arka tersenyum kecil. “Khas.”
Beberapa detik berlalu tanpa suara selain dialog samar dari televisi. Heningnya tidak canggung. Justru akrab.
“Lapangan rame,” kata Arka akhirnya.
Alea mengangguk. “Kelihatan.”
“Lo nonton?”
“Enggak niat,” jawab Alea. “Kebetulan lewat.”
Arka menghela napas pelan. Ia menyandarkan kepala ke sofa. “Yuna nyamperin lagi.”
Alea tidak langsung merespons. Matanya tetap ke depan. “Terus?”
“Enggak gue tanggepin.”
“Dia emang enggak butuh ditanggepin,” ucap Alea datar.
Arka tertawa kecil. “Lo keliatan biasa aja banget ngomongnya.”
“Karena emang biasa aja.”
Arka menoleh. Menatap profil wajah Alea. “Lo kesel.”
Alea melirik cepat. “Enggak.”
“Lo jarang bohong pake nada setenang itu.”
Alea terdiam sejenak, lalu menyandarkan punggungnya lebih dalam ke sofa. “Gue capek aja hari ini.”
Arka mengangguk. Tidak memaksa. Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Lutut mereka bersentuhan. Alea tidak menjauh.
“Di kelas juga panas,” lanjut Arka. “Rina nyeletuk aneh-aneh.”
Alea mendengus kecil. “Dia emang mulutnya enggak ada rem.”
“Tapi lucu,” tambah Arka.
“Kalau bukan soal kita.”
Arka tersenyum tipis. “Justru karena soal kita.”
Alea akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kelelahan yang sama, dibagi diam-diam.
“Lo tau kan,” kata Alea pelan, “gue benci pura-pura enggak kenal lo.”
Arka mengangguk. “Gue tau.”
“Tapi gue juga tau kenapa kita harus begitu.”
“Iya.”
Alea kembali menatap TV. “Jadi ya udah.”
Arka mengangkat tangannya, meletakkannya di belakang kepala Alea, jemarinya menyentuh rambut dengan gerakan pelan. Tidak menuntut apa-apa. Hanya hadir.
“Gue di rumah,” katanya singkat.
Alea tersenyum lagi. Kali ini lebih jelas. “Kelihatan.”
Televisi terus menyala, tapi perhatian mereka tidak sepenuhnya ke sana. Di luar, Jakarta masih bising, masih penuh sorotan dan asumsi.

Arka tiba-tiba menjulurkan tangannya, merebut remote dari tangan Alea tepat saat adegan di TV mulai serius.
“Eh,” protes Alea pelan.
Layar langsung berubah ke saluran lain. Acara kuis receh dengan backsound berisik memenuhi ruangan.
Alea menoleh, menatap Arka datar. “Balikin.”
Arka bersandar santai, satu sudut bibirnya terangkat. “Enggak.”
“Arka.”
“Kenapa?”
Nada suaranya sengaja dibuat santai, jahil, persis seperti yang paling Alea benci sekaligus paling ia kenal.
Alea mendengus. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, lalu tanpa peringatan mengalungkan kedua tangannya ke leher Arka. Gerakannya spontan, manja, seperti refleks yang sudah terlalu sering dilakukan tanpa perlu dipikirkan.
“Balikin,” ulang Alea, kali ini lebih pelan.
Arka terdiam sesaat. Tangannya yang memegang remote berhenti bergerak. Ia menoleh, jarak wajah mereka kini dekat. Terlalu dekat untuk sekadar bercanda.
“Lo curang,” gumam Arka.
Alea menyandarkan dagunya di bahu Arka. “Katanya tadi mau jahil.”
“Gue enggak nyangka lo bakal pake cara ini.”
Alea tersenyum kecil, napasnya hangat di leher Arka. “Salah lo.”
Arka menghela napas, lalu menjatuhkan remote ke sofa. “Menang.”
Alea tidak langsung melepaskan pelukannya. Lengannya justru mengencang sedikit. Tubuhnya bersandar penuh, seolah mencari posisi paling nyaman.
“Capek,” katanya pelan.
Arka mengangkat satu tangannya, melingkari pinggang Alea. Ibu jarinya bergerak pelan, refleks. “Hari ini emang panjang.”
“Lo bikin tambah panjang,” balas Alea, tapi nadanya tidak sungguh-sungguh marah.
Arka terkekeh. “Tapi pulangnya ke sini.”
Alea tidak menjawab. Ia hanya menggeser wajahnya sedikit, pipinya menyentuh rahang Arka. Matanya terpejam beberapa detik.
Di luar sana, Arka Narayana adalah pusat perhatian. Sosok yang dikejar, dibicarakan, dan diidealkan banyak orang.
Di sini, di dalam apartemen ini, Arka hanya seseorang yang lehernya bisa ia lingkari, bahunya bisa ia sandari, dan kehadirannya cukup untuk membuat Alea merasa aman.
“Lo tau enggak,” kata Alea tiba-tiba, masih dalam pelukan, “tadi di lapangan gue pengen pulang cepat.”
Arka menunduk sedikit. “Karena gue?”
“Mungkin.”
Arka tidak tersenyum kali ini. Tangannya di pinggang Alea mengencang sebentar. “Maaf.”
Alea membuka mata, menatap Arka dari jarak dekat. “Ngapain minta maaf. Gue cuma capek liat lo jadi tontonan umum.”
Arka mendekatkan keningnya ke kening Alea. “Cuma di luar.”
Alea mengangguk pelan. “Di sini beda.”
Mereka terdiam lagi. TV tetap menyala, tapi tidak ada yang benar-benar menonton. Jakarta terus bergerak di luar jendela, hiruk pikuk, penuh mata dan suara.
Sementara di sofa itu, Alea tetap memeluk Arka, malas melepaskan. Dan Arka membiarkannya, seolah dunia di luar bisa menunggu sedikit lebih lama.

 

Daftar Chapter

Chapter 1: Debat

1,271 kata

GRATIS

Chapter 2: Kantin

902 kata

GRATIS

Chapter 3: Rumah

1,728 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 4: 21+

1,321 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!