')">
Progress Membaca 0%

Chapter 3: Penasaran

Nitaosh94 15 Aug 2025 1,116 kata
GRATIS

Arga masuk ke dalam dan menemukan Lala berada di sana. “Siapa yang suruh kamu masuk ke sini?!”

“Maaf, Pak. Saya hanya mencari kardus di sini, Pak.”

“Ya sudah, bawa kardus itu lalu segera keluar dari sini.”

Lala pun langsung keluar sesuai dengan perintah Arga dan setelah itu, dengan segera dia langsung mengunci gudang tersebut.

Lala kembali menemui Vira dan dia tiba-tiba termenung, dia kembali memikirkan hal barusan, terpancar rawut wajah Arga yang sangat tidak senang dengan keberadaan dirinya di gudang tersebut.

‘Bapak tadi sepertinya tidak senang, apa memang tidak boleh masuk ke sana ya?’ batin Lala.

“La? Lala?” Vira menepuk bahu Lala dan membuat dia tersadarkan dari lamunannya.

“I-iya, Kak? Ada yang bisa dibantu, Kak?”

“Ah, tidak. Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Hm, Kak, aku mau tanya. Tidak jadi, deh, Kak.”

“Ada apa? Tanya saja.”

Lala menggeleng, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Vira.

“Vira!” Arga datang menghampiri Vira dengan emosi.

“Ada apa, Ga? Baru saja datang, tiba-tiba marah begitu saja kepadaku.”

“Apa benar kamu yang menyuruh dia ke gudang?”

“Iya, aku yang suruh dia. Ada apa emangnya? Tidak boleh?”

Arga memberi kode ke Vira agar sedikit menjauh dari Lala dan dia pun mulai berbisik kepada Vira. “Apa kamu lupa dengan peraturan di Perusahaan ini?”

“Tidak apalah, lagipula bos juga tidak akan tahu.”

“Kamu lupa apa pura-pura lupa? Bos selalu memantau cctv.”

“Iya, iya, aku tahu itu. Lagipula apa salahnya, sih? Tidak ada hal rahasia apapun ‘kan di dalam sana? Apa aku salah?”

“Ti-tidak ada,” ucap Arga sedikit gugup.

“Tidak ada? Serius? Sepertinya ada sesuatu hal yang sedang kamu tutupi, Ga.”

“Tidak ada, itu hanya perasaan kamu saja.”

‘Aku masih tidak yakin, sepertinya ada yang sedang kamu tutupi, Ga.’

“Ya sudah, aku percaya.”

“Tentunya kamu harus percaya, Vir. Tidak ada alasan aku untuk berbohong.”

Vira menanggapi ucapan Arga dengan sebuah anggukan.

“Jaga-jaga saja, Vir. Aku tidak mau kamu ketahuan bos. Jangan sampai nanti kamu dapat teguran, loh. Kamu tahu sendiri ‘kan bagaiman jika bos sudah marah?”

“Iya, tidak perlu diperjelas juga.”

“Ya sudah, jangan diulangi lagi. Suruh dia ketik dan print saja, jangan menyentuh yang lainnya.”

“Terserah aku,” Vira berlalu pergi dan kembali mendekat kearah Lala.

“Maaf ya, lanjutkan saja ketikanmu itu, La. Setelah itu langsung diprint saja, ya.”

“Baik, Kak.”

Tring!

Selamat siang, maaf mengganggu waktu bapak, saya selaku pimpinan dari Perusahaan Jarxi ingin menawarkan tawaran yang tentunya akan sangat membuat bapak tertarik akan hal ini, mohon ketersediaannya sebentar untuk menanggapi pesan ini jika bapak ingin sekali membantu saya dan perusaaan Jarxi agar kita bisa saling kerja sama ya, Pak. Tolong pikirkan baik-baik tawaran saya ini dan semoga kerja sama kita ini bisa berjalan lama ya.

Tristan telah membaca pesan tersebut tetapi sama sekali tidak direpon olehnya, dia begitu muak dengan orang-orang yang terus-menerus ingin memanfaatkan dirinya dengan cara yang sangat licik.

Belajar dari pengalaman yang lalu, dia berniat menolong tetapi di situ dia malah terjebak dengan mulut manis kliennya itu, kali ini, semenjak kejadian itu, Tristan tidak ingin langsung menerima tawaran begitu saja.

“Aku tidak akan tertarik, jika ingin langsung ke kantor, dong, bukannya melalui pesan yang dikirimkan begitu saja, jika serius maka kamu harus berusaha, tetapi hal itu mengarah ke hal positif.”

30 menit telah berlalu, satu rangkap yang harus diketik oleh Lala pun selesai, yang sudah diketik dimasukkan kedalam kardus yang telah dia letakkan dibawah meja, yang mengagetkan lagi ketika dia ingin menaruh kertas tersebut, ternyata ada Koran yang barusan dia baca tanpa sengaja terbawa olehnya.

“Ah, kok bisa di sini? Sepertinya aku lupa menaruhnya kembali.” Pada akhirnya, dia membawa kembali Koran tersebut dan kembali menuju gudang untuk meletakkan Koran itu pada tempat semula tetapi sayangnya gudang tersebut telah dikunci dan dia tidak mengetahui  siapa yang mengunci gudang tersebut, padahal dia ingin mengembalikan Koran itu pada tempat semula ditemukannya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk kembali ke ruangan Vira.

“Sudah kamu kembalikan?” tanya Vira penasaran.

“Kakak tahu?”

“Aku tidak sengaja melihat kamu, barusan.”

“Bagaimana? Apa sudah kamu urus?”

“Belum, Kak. Ternyata gudang itu dikunci, Kak.”

“Ya sudah, sini korannya, biar aku yang simpan, nanti akan aku kembalikan langsung ke sana, La.”

Lala pun menyodorkan koran tersebut kepada Vira. “Terima kasih, Kak.”

Rasa penasaran Vira mulai muncul, dia kembali membaca koran tersebut, hal apa yang membuat Lala tertarik membaca isi Koran tersebut dan apa ada hubungannya dengan Koran ini yang membuat Arga begitu sensitif?

Vira mulai membaca isi Koran tersebut. ‘Ini, bukannya koran lama? Sudah lama tersimpan di gudang, berisi berita yang sudah lama tenggelam. Memang tidak ada kelanjutan lagi akan kasus ini, dibiarkan lenyap begitu saja, tapi apa yang membuat Lala penasaran akan hal ini? Apa ini penyebabnya? Apa Arga tahu bahwa Lala mengambil Koran ini tanpa meminta izin terlebih dahulu? Kenapa juga Lala begitu berani mengambil ini tanpa izin?’

“Arga, pinjam kunci gudang, dong,” Vira menghampiri Arga yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

“Ambil saja di laci sebelah kiri mejaku ini.”

“Makasih, Ga.” Vira langsung menuju gudang, tetapi saat dia ingin membuka gudang tersebut, kunci itu tidak bisa digunakan, sepertinya dia telah salah mengambil kunci.

Dia kembali mengambil ke ruangan Arga dan menanyakan hal tersebut.

Sebelum dia bertanya, Arga sudah menanyai dirinya terlebih dahulu. “Ada apa lagi, Vira? Kamu salah mengambil kunci?”

Vira seketika terkejut. “Kok, kamu bisa tahu?”

“Kebiasaan kamu, selalu saja teledor.”

“Maaf, aku tidak tahu ternyata kunci yang aku ambil salah, tapi hanya ada satu kunci saja di lacimu ini, apa kamu yang salah memberitahuku?”

“Apa? Tidak. Memangnya tadi kamu buka laci sebelah mana?”

“Sebelah kanan.”

“Salah kamu, tadi aku bilangnya sebelah kiri bukan sebelah kanan.”

“Aku tidak salah dengar, kok.”

“Sudahlah, aku sedang malas berdebat denganmu.”

‘Aku rasa tidak salah dengar. Sepertinya dia mempermainkan aku.’

“Nih, kuncinya,” Arga menyodorkan kunci itu kepada Vira.

“Makasih, Arga. Lain kali jangan kelewatan bercandaanmu, aku tidak salah dengar, kok.” Vira langsung berlari meninggalkan Arga.

“Dasar, si Vira,” gerutu Arga.

Vira mencoba membuka kembali gudang tersebut dan diletakkan kembali Koran tersebut pada tempatnya semula.

Bruk!

Sesuatu telah terjatuh.

“Au!” 

Semua orang dihebohkan dengan teriakan dari Vira yang membuat orang-orang yang mendengar hal tersebut langsung menghampirinya ke gudang.

Daftar Chapter

Chapter 1: Kebencian

1,090 kata

GRATIS

Chapter 2: Memasuki Dunia PKL Tring!

1,137 kata

GRATIS

Chapter 3: Penasaran

1,116 kata

GRATIS
SEDANG DIBACA

Chapter 4: Kehebohan

1,072 kata

GRATIS

Chapter 5: Kepikiran

1,113 kata

GRATIS

Komentar Chapter (0)

Login untuk memberikan komentar

Login

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!